Gita berhenti mengunyah. Tari menahan napas. Di antara mereka bertiga, hanya suara sendok yang menyentuh piring yang masih terdengar.
"Katakan," ucap Tari.
Akbar menatap meja, lalu mengangkat wajah, dan menatap lurus ke mata Tari. "Dalam sebulan ini kita ketemu empat kali. Di jalan, di bank, di kafe ini, dan di festival. Aku gak percaya kebetulan, Tar. Aku pikir itu isyarat dari Allah. Pertemuan ulang kita ini..." Ia menarik napas. "Mungkin memang jalan-Nya buat kita. Mungkin kita memang jodoh, dan perpisahan dulu itu cuma jeda."
Hening.
Tari menaruh ponselnya, alarm yang masih menyala di tengah meja, lalu berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai, tapi bunyinya terdengar sangat keras.
"Jangan bawa nama Allah untuk membenarkan kamu, Bar."
"Aku gak bermaksud..."
"Kamu bermaksud. Kamu duduk di sini, bilang kamu salah, bilang kamu gak bosan, dan aku hampir percaya." Suara Tari tidak naik, tapi dingin dan jelas. "Terus kamu masukkan Allah ke dalamnya, supaya aku gak punya hak bilang tidak. Itu bukan isyarat. Itu cara kamu mengunci pintu dari dalam."
"Empat kali ketemu," lanjut Tari, kini menghitung dengan jari. "Di jalan, karena kamu kebetulan lewat. Di bank, karena kamu sengaja datang jadi nasabah. Di kafe ini, karena kamu maksa aku makan siang. Di festival, karena kebetulan Mas Radit mengajakku dan kamu klien-nya. Dua dari empat itu rencana kamu sendiri, Bar. Itu bukan isyarat. Itu jadwal."
Akbar membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Wajahnya memucat dan memerah bergantian. Ia tidak membela diri.
Gita, yang sejak tadi diam, meletakkan sendoknya dengan wajah sangat serius. "Boleh aku tambahin?"
"Silakan," gumam Akbar, pasrah.
"Kalau sering ketemu itu isyarat," kata Gita pelan, "berarti tukang parkir di depan bank itu juga isyarat. Aku ketemu dia tiap hari."
Tari mendengus. Ia tidak bisa menahannya. Tawa kecil itu keluar sebelum sempat ia hentikan, dan bahkan sudut bibir Akbar ikut terangkat, meski cepat-cepat ia tekan lagi.
"Alarm berbunyi," kata Tari, suaranya melunak sedikit. Ia mengambil ponselnya. "Waktu habis, Bar."
"Aku mengerti." Akbar berdiri, tidak mengejar, tidak memanggil. Ia hanya menunduk sedikit. "Maaf kalau tadi aku salah ngomong. Aku gak akan bilang itu lagi kalau kamu gak mau dengar."
"Bagus."
"Terima kasih sudah datang. Itu cukup buat aku hari ini."
Akbar membayar tagihan mereka di kasir sebelum Tari sempat protes, lalu keluar dari kafe lebih dulu. Dari jendela, Tari melihatnya menyeberang jalan dan menghilang di antara orang-orang yang pulang dari makan siang. Punggungnya tidak setegap biasanya.
"Kamu kejam banget tadi," komentar Gita sambil menyendok suapan terakhir. "Tapi aku suka."
"Aku gak kejam. Aku capek."
"Itu juga bener."
Mereka berjalan menyeberang zebra cross dengan langkah pelan. Di tengah jalan, kaki Tari tiba-tiba terasa lemas, dan Gita refleks menggamit lengannya sampai ke seberang. Di depan pos satpam, Gita membeli sebotol air mineral dari pedagang asongan dan menyodorkannya tanpa bicara.
"Aku hampir percaya, Git," ucap Tari setelah meneguk setengahnya. "Waktu dia bilang gak bosan. Aku hampir lupa empat tahun itu."
"Aku lihat." Gita menatap ke arah kafe. "Tapi kamu juga lihat apa yang dia lakuin pas kamu berdiri. Dia gak maksa, gak ngejar. Orang yang dulu kamu ceritain gak bakal begitu."
"Itu yang bikin takut."
"Takut kenapa?"
"Karena kalau dia masih orang yang dulu, aku gampang benci." Tari menutup botol. "Kalau dia sudah berubah, aku harus mikir."
°°°°
Jumat pagi, Tari menerima pemindahan dana sebesar tiga juta rupiah dari seorang ibu, dan menekan angka nol satu kali terlalu banyak.
Ia baru sadar ketika Pak Fero berdiri di belakang kursinya sambil menunjuk layar dengan ujung pulpen.
"Tar. Itu bukan tiga juta. Itu tiga puluh juta."
Tari menatap layar. Perutnya jatuh. "Astagfirullah. Maaf, Pak. Belum saya proses, Pak, masih di tahap konfirmasi."
"Saya tahu. Makanya saya berdiri di sini." Pak Fero mengangkat bahu dengan wajah tenang, jauh dari biasanya yang usil. "Saya gak marah. Kamu orang paling teliti di cabang ini. Kalau sampai salah dua kali dalam seminggu, berarti ada yang menyita pikiran kamu."
"Dua kali, Pak?"
"Kemarin kamu salah panggil nomor antrean tiga kali. Pak Dirman cerita." Pak Fero mengetuk meja dua kali dengan pulpen. "Saya cuma mau bilang, Tar, kerja itu penting, tapi kamu juga manusia. Kalau lagi ada beban, jangan dipendam sampai angkanya kacau."
Tari tersenyum lemah. "Terima kasih, Pak."
"Oh iya. Satu lagi." Pak Fero berdeham, dan wajah usilnya kembali muncul. "Soal keponakan saya. Saya menyerah."
"Menyerah?"
"Iya. Saya perhatikan, kamu sudah ada yang punya. Saya gak enak mengganggu terus." Pak Fero meringis. "Lagian keponakan saya juga bilang, katanya Om kebanyakan nyomblangin. Saya dimarahi keponakan sendiri, Tar. Memalukan."
Gita, dari meja sebelah, hampir tersedak teh. Ia mengacungkan jempol diam-diam dari balik sekat kaca, dan Tari harus menggigit pipi bagian dalam supaya tidak tertawa di depan atasannya sendiri.
"Jadi kita damai?" tanya Pak Fero penuh harap.
"Kita damai, Pak."
"Bagus. Nanti saya cari cara lain buat bikin keponakan saya berhenti menangis." Pak Fero berbalik pergi, lalu menoleh sekali lagi. "Tapi kalau pacarmu itu ternyata gak serius, kabari saya ya."
"Pak, ini bukan pacar. Ini taaruf."
"Oh. Ya, ya. Taaruf." Pak Fero mengangguk-angguk seolah baru mendengar istilah itu pertama kali, lalu pergi dengan langkah canggung.
°°°°
Sore itu, Tari baru membuka ponsel setelah menutup loket. Satu pesan foto menunggu di layar. Radit mengirim gambar dua meja makan berjajar di sebuah toko mebel, satu persegi panjang dari kayu jati dengan enam kursi, satu lagi bundar dari kayu yang lebih gelap.
Raditya Hermanto: Dapur saya masih kosong. Saya ingin meja yang cocok untuk keluarga. Menurut kamu yang mana?
Tari memperbesar gambar itu dengan dua jari. Di belakang meja jati terlihat sepotong lantai toko yang mengilap dan sebuah kursi yang tampak kosong, seakan menunggu seseorang. Entah kenapa, kursi kosong itu membuat dadanya menghangat sekaligus nyeri.
Tari mengetuk dagu. Ia tidak pernah diminta pendapat tentang meja makan, apalagi oleh orang yang kelak akan memakainya setiap hari. Tapi yang aneh, pilihan itu keluar begitu saja, tanpa ia pikir panjang.
Lestari Ayu: Yang persegi panjang, Mas. Enam kursi. Biar muat kalau Ibu dan Danu mampir. :)
Balasan datang cepat.
Raditya Hermanto: Dicatat. Terima kasih.
Raditya Hermanto: Satu hal lagi. Minggu pagi saya biasa jalan di taman kota bersama Danu. Kalau kamu berkenan, ajaklah Arif. Supaya ada yang mengawasi, seperti aturan Tante Melati.
Tari menatap kalimat itu. Satu sisi dirinya tahu ia harus mengaku, dan tidak bisa menundanya lagi. Sisi lain membisikkan bahwa taman kota di pagi hari, dengan Danu dan Arif yang usil, mungkin tempat yang tepat untuk mengatakannya.
Lestari Ayu: Boleh, Mas. Aku bawa Arif. Ada yang harus aku ceritakan juga.
Ia mengirim pesan itu sebelum sempat takut. Kali ini, tidak ada alasan untuk menunda. Pesan pendek dari Radit masuk tak lama kemudian.
Raditya Hermanto: Baik. Saya akan dengarkan.