Radit sampai di kantor pukul tujuh lewat dua puluh, satu setengah jam sebelum waktu yang ia janjikan kepada Akbar, dan menghabiskan satu setengah jam itu dengan duduk di kursinya tanpa menyalakan komputer.
Berkah Group menempati satu lantai ruko dengan jendela besar yang menghadap jalan. Ruang rapatnya sederhana: meja kayu panjang, delapan kursi, papan tulis yang setengah terhapus coretan angka bulan lalu. Radit duduk di kursi kepala meja, lalu pindah ke kursi samping jendela, lalu pindah lagi ke sisi yang tidak menghadap pintu. Ia tidak ingin terlihat seperti hakim. Ia juga tidak ingin terlihat seperti orang yang takut.
"Pak." Dewi mengetuk kaca pintu dengan dua jari. "Mas Akbar sudah di bawah. Mau saya antar naik?"
"Silakan, Dewi. Dan tolong bawa teh dua gelas. Setelah itu, pintunya jangan ditutup rapat."
"Baik, Pak." Dewi ragu sejenak. "Pak Radit sudah sarapan?"
"Sudah."
Dewi memandangnya sebentar dengan ketenangan yang membuat Radit tahu perempuan itu tidak percaya sepatah pun. Namun ia hanya berkata, "Baik," dan keluar.
Akbar masuk lima menit kemudian dengan kemeja putih yang disetrika rapi dan mata yang kantungnya tebal. Ia membawa map cokelat berisi laporan penjualan, kebiasaan lama untuk memberi tangan sesuatu untuk dipegang, tetapi pada langkah pertama ia sadar tak ada yang menanyakannya, jadi ia menaruh map itu di meja tanpa membukanya.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam. Duduk." Radit menunjuk kursi di seberangnya. Tehnya tiba, diletakkan Dewi dengan sangat pelan, lalu Dewi pergi tanpa menengok. "Kamu pasti tahu kenapa saya panggil."
"Saya tahu."
"Mau kamu yang cerita, atau saya yang tanya?"
Akbar menarik napas, dan Radit memperhatikan caranya melakukan itu: dalam, tertib, seperti orang yang sudah berlatih menghadapi ini di depan cermin semalaman dan tetap tidak yakin.
"Saya yang cerita, Mas. Kalau ada yang kurang, Mas tanya."
"Silakan."
"Saya dan Tari pacaran dua tahun. Kami putus hampir empat tahun lalu, saya yang memutuskan. Sejak itu ia memblokir semua kontak saya, dan saya tidak pernah bertemu dengannya sampai beberapa pekan sebelum festival, di jalan dekat bank tempat ia bekerja. Saya melihat nama di seragamnya." Akbar memandang tangannya sendiri di atas meja. "Saya mengirim buket mawar tanpa nama ke bank. Itu saya. Saya mendatangi ia sebagai nasabah, dan itu saya juga. Saya memaksa makan siang. Saya salah, dan saya sudah minta maaf pada Tari soal itu."
"Lanjutkan."
"Di festival saya bertemu Tari lebih dulu, sebelum Mas datang. Saya sudah curiga, dan dari raut wajahnya saya yakin: dialah calon istri Mas. Tari meminta saya merahasiakan. Saya mengajukan syarat, ia harus membuka blokir nomor saya. Itu syarat dari saya, bukan dari dia. Lalu Mas bertanya apakah kami saling kenal." Suaranya mendatar. "Saya menjawab tidak. Saya tidak mencari alasan, Mas. Saya bisa saja bilang saya melindungi Tari. Itu bohong juga. Sebenarnya saya melindungi diri saya sendiri."
Radit menyesap tehnya. Teh itu manis, terlalu manis, Dewi memang selalu memberi gula lebih bila ia sedang mencemaskan seseorang.
"Kenapa kalian putus?" tanyanya.
Rahang Akbar menegang sedetik. "Saya bilang saya bosan."
"Itu alasanmu?"
"Itu yang saya katakan. Bukan alasan sebenarnya." Ia menatap Radit langsung. "Ada hal yang melatarinya, Mas, dan saya belum menceritakannya pada Tari secara utuh. Saya rasa dia lebih berhak mendengar itu dari saya, atau dari orang tua saya, sebelum Mas mendengarnya. Kalau Mas memaksa, saya akan cerita. Tapi saya mohon, jangan hari ini."
Radit diam. Ia mencatat bahwa laki-laki di depannya baru saja menolak menjawab satu pertanyaan, dengan alasan yang sebenarnya merupakan penghormatan pada Tari, bukan pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu apakah itu membuat ia lebih mudah atau lebih sulit membenci orang ini.
"Saya tidak memaksa," katanya.
"Terima kasih, Mas."
Radit menaruh gelas. Dari lantai bawah terdengar mesin fotokopi menyala dan suara Kino bercerita sesuatu yang membuat orang tertawa. Dunia di bawah mereka terus berjalan.
"Kamu masih punya rasa?"
Pertanyaan itu pendek, dan ia sudah mengucapkannya dengan nada yang tidak naik maupun turun. Tiga hari ia menyusunnya. Dalam semua versi yang ia bayangkan, Akbar menjawab tidak, dan Radit tahu persis cara menanggapi kebohongan seperti itu: dengan tenang, tanpa percaya.
"Masih," kata Akbar.
Radit tidak siap.
Ia tidak siap pada satu kata itu, pada kejujurannya yang polos tanpa embel-embel. Tidak ada pembelaan, tidak ada tapi, tidak ada kalimat seperti saya tahu itu tidak pantas. Hanya satu kata, diucapkan datar.
Ia menunggu rasa panas naik ke dadanya. Yang datang adalah sesuatu yang lain: sunyi yang panjang, dan di dalam sunyi itu ia mendengar suara dirinya sendiri bertanya, bagaimana kalau jawabannya selalu begini, bagaimana kalau semua laki-laki yang jujur kepadanya ternyata adalah orang yang menyakitkan.
Waktu berlalu. Jam dinding berdetak empat puluh kali, mungkin lebih.
"Baik," ujar Radit akhirnya. "Terima kasih sudah menjawab."
"Mas tidak marah?"
"Saya marah. Saya tidak akan pura-pura tidak." Radit memandang lurus. "Tapi saya lebih marah kalau kamu bilang tidak. Kerja sama kita tetap profesional, Akbar. Kamu klien Berkah Group, hasil kerjamu bagus, dan saya tidak akan mencampuradukkan urusan hati dengan urusan kantor. Yang lain di luar jam kerja adalah urusan yang tidak perlu kita bicarakan berdua."
"Saya mengerti."
"Ada satu hal lagi." Radit menggeser gelasnya setengah centi. "Saya ingin tahu apa yang kamu rencanakan."
Akbar tidak langsung menjawab. Ia menegakkan duduknya, dan tampak seperti orang yang akhirnya sampai di bagian yang ia siapkan paling hati-hati.
"Saya tidak akan melamar Tari selama Mas masih dalam proses dengannya. Ini aturan, Mas, bukan kemurahan hati. Orang tidak boleh meminang di atas pinangan saudaranya yang masih berjalan. Selama taaruf Mas belum selesai, itu garis saya." Ia berhenti. "Saya tidak bisa janji saya tidak akan punya rasa. Itu di luar kuasa saya. Tapi saya bisa janji saya tidak akan mengganggu, tidak menunggu di depan bank, tidak mengirim apa pun tanpa izin, dan tidak melangkah satu inci pun di luar aturan itu."
Radit memperhatikan wajah laki-laki itu lama. Mata sipit yang tidak lagi berbinar seperti saat ia memamerkan sampel kain, lesung pipi yang tidak muncul, dan bibir yang pucat. Tidak ada tebar pesona hari ini. Hanya seorang laki-laki yang tahu bahwa ia tidak berhak apa-apa.
"Baik," katanya sekali lagi. "Saya catat."
Akbar berdiri, mengambil mapnya, lalu ragu. "Mas."
"Ya."
"Mas Radit orang baik. Itu bukan basa-basi."
Radit tidak menjawab. Akbar membungkuk hormat, lalu keluar. Langkahnya menuruni tangga terdengar pelan sampai hilang.
°°°°
Radit tinggal sendirian di ruang rapat sampai teh di gelasnya dingin.
Kemudian ia berdiri, kembali ke mejanya, dan membuka laci paling bawah. Di sana, di bawah buku catatan dan kuitansi lama, ada map plastik bening berisi salinan seratus jawaban yang dulu ia tulis tangan. Ia membuat salinan sebelum menyerahkan aslinya pada Tari, kebiasaan orang yang selalu menyimpan jejak pekerjaannya, dan ia tidak pernah membukanya lagi.
Ia membuka secara acak, tepat di lembar kedua.
Nomor 64. Tulisan tangannya sendiri, rapi dan sedikit miring ke kanan: Kalau saya berbohong kepadamu, apa yang akan kamu lakukan? Dan di bawahnya, jawaban yang ia tulis berbulan-bulan lalu, ketika kata berbohong masih terdengar seperti sesuatu yang terjadi pada orang lain.
Saya akan marah, lalu bertanya kenapa.
Radit membaca kalimat itu sekali. Kemudian sekali lagi.
Di halaman parkir restoran empat malam lalu, ia sudah mengatakan banyak hal. Ia mengatakan terluka. Ia mengatakan terlihat bodoh. Ia mengatakan jangan hubungi saya. Tetapi satu pertanyaan, yang ia janjikan sendiri di atas kertas ini, tidak pernah ia ajukan.
Ia tidak pernah bertanya kenapa.