Selasa pagi, ada segelas kopi di meja Tari yang tidak ia pesan.
Gelas kertas itu berdiri di sebelah monitor, uapnya naik pelan, dan di sampingnya tergeletak sebuah sachet gula yang dirobek sedikit seperti ragu-ragu. Tari baru saja meletakkan tasnya di laci ketika bayangan seseorang jatuh di atas komputernya.
"Minum," kata Pak Fero.
Atasan Tari itu berdiri dengan kedua tangan di pinggang, kemeja biru mudanya sedikit keluar dari ikat pinggang, rambutnya masih basah karena buru-buru. Ia tidak menatap mata Tari. Ia menatap gelas.
"Pak, saya tidak..."
"Itu bukan racun, Tar. Saya sudah coba setengahnya. Itu mesin kantor, rasanya memang begitu." Ia berdeham. "Dan hari ini kamu pulang jam lima. Bukan setengah enam, bukan jam enam. Jam lima."
"Tapi tutup buku akhir pekan..."
"Saya yang pimpin cabang ini. Itu perintah, bukan saran." Pak Fero menepuk sekat CS 02 sekali, seperti menepuk punggung kuda yang tak ia kenal. "Saya tidak tanya kenapa. Saya cuma bilang, jam lima. Titik."
Ia berbalik dan berjalan menjauh, lalu berhenti dua langkah dan menoleh. "Kopinya jangan dikasih ke Firdaus. Dia sudah dua gelas."
Firdaus lewat membawa map, berhenti, mengendus udara. "Itu bau kopi dari ruangan Pak Fero. Lho, kok Tari dapat? Gua dua gelas aja diomelin."
"Pergi, Mas Firdaus," kata Gita tanpa menoleh.
"Iya, iya. Pelit." Firdaus menghilang.
Dari meja CS 01 di sebelah, Gita menurunkan layarnya setengah. Matanya merah di pinggir, jejak orang yang semalam menahan diri untuk tidak menelepon. "Aku sudah dengar semuanya, Tar. Kamu mau aku diam atau aku ngomel?"
"Diam."
"Oke. Aku ngomelnya lain kali." Gita kembali menatap layar, tapi tangan kirinya terjulur lewat sekat meja dan menaruh sebutir permen mint di dekat gelas kopi. "Aku masih sayang kamu."
Tari tersenyum, dan itu hampir membuat ia menangis.
°°°°
Pukul dua belas, papan Istirahat berdiri di meja Tari, dan di ruang tunggu yang mulai lengang duduk seorang perempuan berkerudung krem dengan rantang susun di pangkuan.
Tari berhenti beberapa langkah dari kursi itu. Ia sempat berpikir untuk berbalik dan pura-pura mengambil sesuatu di loker, tetapi perempuan itu sudah melihatnya. Nur tersenyum kecil, bukan senyum yang biasa, melainkan senyum seorang ibu yang sedang sangat berhati-hati dengan wajahnya sendiri.
"Ibu ambil nomor antrean tadi, supaya jadi nasabah yang benar," bisiknya. Ia menunjukkan secarik kertas bernomor tiga puluh empat. "Tapi nanti saja urusan nomor ini. Duduk, Nak Tari."
Tari duduk di kursi sebelahnya. Ruang tunggu hanya dihuni dua orang bapak yang asyik dengan ponsel masing-masing, dan Pak Dirman di dekat pintu yang pura-pura membaca pengumuman, padahal kedua telinganya tertuju ke arah mereka.
"Bu, saya..."
"Ibu belum mau dengar kata maaf. Bukan karena Ibu tidak mau memaafkan. Ibu belum tahu apakah Ibu sudah bisa." Nur menaruh rantang di antara mereka. "Dengar Ibu dulu. Boleh?"
"Boleh, Bu."
"Ibu tidak minta kamu dimaafkan cepat. Itu bukan yang Ibu bawa ke sini." Suaranya pelan tetapi lurus. "Ibu minta kamu tidak lari."
Tari menunduk. "Saya tidak akan lari, Bu."
"Kamu bilang begitu sekarang. Tapi Ibu kenal gerak orang yang mau lari. Ibu pernah muda, Nak. Waktu sesuatu terlalu besar, kaki yang pertama bergerak, bukan kepala. Dua pekan lagi mungkin kamu akan berpikir lebih baik kamu menyingkir supaya Radit tenang. Atau menyalahkan diri sendiri sampai habis. Atau diam-diam mengirim lamaran ke kantor lain." Ibu itu mengangkat alis. "Kamu tidak bisa membohongi Ibu soal itu, Nak. Muka orang yang sedang menghitung jalan keluar itu kelihatan dari jauh."
Tari mengerjap. Ia memang pernah menghitungnya, semalam, pukul dua.
"Jadi dengar. Radit marah, dan Radit terluka, dan ia punya hak atas dua-duanya. Ibu tidak akan bilang jangan. Tapi ia juga tidak pernah belajar cara tinggal di tengah rasa seperti itu, karena sepanjang hidup ia berusaha tidak membuat siapa pun marah. Ia akan butuh waktu. Dan Ibu mau kamu ada di tempat yang bisa ditemukan, bukan menghilang."
"Saya ada, Bu. Saya tidak ke mana-mana."
"Bagus." Nur menarik napas, dan ada getar kecil di bibirnya. "Ibu juga sempat curiga waktu Mamamu bilang hujan di telepon, padahal langit di sini cerah. Ibu kira urusan rumah tangga mereka. Ibu tidak bertanya, karena Ibu pikir menghormati. Ternyata Ibu cuma tidak mau tahu. Jadi Ibu juga punya bagian, Nak. Tidak sebesar bagianmu. Tapi ada."
Tari menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Orang tua itu menunjuk rantang dengan dagunya.
"Nasi kuning. Bukan buat Radit, buat kamu dan Gita. Radit tidak makan apa-apa pagi ini kecuali teh, dan Ibu sedang tidak mau memasak untuk anak yang keras kepala. Jadi masaknya Ibu bagikan ke orang yang kurang tidur."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan terima kasih dulu. Habiskan." Nur berdiri, merapikan kerudungnya, dan mengangkat nomor antrean tiga puluh empat ke arah Tari. "Nah, sekarang Ibu betulan mau ke Teller. Ibu mau setor tabungan arisan. Pak Dirman, yang di pintu itu, tolong jangan berpura-pura membaca pengumuman yang sama dari tadi. Ibu bisa lihat bahwa itu pengumuman tentang kartu yang hilang."
Pak Dirman menunduk, bahunya berguncang.
°°°°
Pesan itu masuk menjelang pukul empat, ketika Tari sedang mencatat laporan hari itu dan menghitung mundur sampai jam lima yang diperintahkan Pak Fero.
Akbar Fajriansyah: Tari, boleh kukirim satu pesan, hanya untuk memberi tahu. Tidak perlu dibalas kalau tidak mau.
Lestari Ayu: Boleh. Satu kali.
Akbar Fajriansyah: Pertama, aku minta maaf soal Ibu. Ibu menangis semalaman, tidak mau makan. Beliau bilang beliau ingin minta maaf langsung kalau kamu mau menerima, tetapi aku sudah bilang jangan. Itu keputusanmu nanti.
Lestari Ayu: Sampaikan padanya aku tidak marah. Aku cuma belum bisa bicara.
Akbar Fajriansyah: Kedua. Mas Radit menelepon pagi tadi dan memintaku datang ke kantornya besok, pukul sembilan. Dia tidak bilang untuk apa.
Tari membaca baris itu dua kali. Ruangan di sekitarnya terasa menyusut.
Akbar Fajriansyah: Aku tidak akan menemuinya kalau kamu melarang. Tapi kalau dia bertanya, aku tidak akan berbohong lagi. Aku sudah cukup berbohong.
Jari-jari Tari berhenti di atas layar. Ia ingin mengetik jangan datang. Ia ingin mengetik katakan saja kita tidak ada apa-apa. Dua kalimat itu sudah muncul di kepalanya lengkap dengan tanda baca, jawaban jenis yang hanya melindungi dirinya sendiri.
Lestari Ayu: Aku tidak bisa melarang kejujuran, Bar.
Lestari Ayu: Jawab yang ditanya. Jangan membelaku, jangan menyalahkan dirimu juga. Cukup apa adanya.
Titik tiga muncul, hilang, muncul lagi.
Akbar Fajriansyah: Baik.
Akbar Fajriansyah: Terima kasih. Aku akan ingat kalimat itu.