Tari dan Arif datang pukul tiga lewat empat puluh, dua puluh menit lebih awal dari yang dijanjikan.
Masjid itu hanya sepelemparan batu dari rumah mereka. Catnya hijau pudar, halamannya tersusun dari paving yang sebagian retak, dan di bawah pohon kersen di pojok ada bangku semen tempat bapak-bapak biasa berdebat soal bola setelah Isya. Sore itu bangku kosong. Hanya ada seorang marbot yang menyapu daun kering, dan dua ekor burung gereja yang mematuk remah di depan tangga.
"Kak," kata Arif, memarkir motor dengan sangat pelan. "Kakak sudah makan?"
"Sudah."
"Bohong."
"Setengah roti."
"Itu bukan makan, itu absen." Arif melepas helm, rambutnya mencuat seperti sikat. "Tadi malam Mama cerita ke Papa lagi dan aku nguping dari kamar. Maaf. Aku bukan mau nguping, tapi dindingnya tipis."
"Dindingnya tebal, Rif. Kamu yang menempelkan telinga."
"Itu kebijakan pribadiku." Arif menyeringai sekilas, lalu serius lagi. "Aku nggak bakal ngomong apa-apa, Kak. Cuma duduk di tangga dan lihat dari jauh. Kalau Mas Radit macam-macam, aku..."
"Mas Radit tidak akan macam-macam."
"Aku tahu. Aku cuma mau kelihatan berguna."
Tari menoleh pada adiknya, dan matanya pedih. "Kamu berguna, Rif."
Pukul empat kurang lima, mobil silver itu berhenti di tepi jalan. Radit turun dari kursi pengemudi, Danu dari kursi penumpang. Radit mengenakan kemeja putih polos yang lengan panjangnya digulung dua lipatan, dan wajahnya terlihat lebih tenang daripada dua malam lalu, tenang dengan cara yang membuat Tari takut. Danu tidak menatap siapa pun. Ia berjalan lurus ke tangga masjid dan duduk dengan jarak satu meter dari Arif, lengan terlipat.
"Assalamualaikum," kata Radit.
"Waalaikumsalam."
"Terima kasih sudah datang."
"Aku yang bilang aku datang, Mas."
Radit memandang sekeliling halaman. "Kita bicara di sana." Ia menunjuk bangku semen di bawah pohon kersen, yang terlihat dari tangga mana pun dan dari jalan raya. "Kamu duduk di ujung kiri, saya di ujung kanan. Bangkunya panjang."
Tari duduk. Bangku semen itu dingin menembus gamisnya. Radit duduk di ujung yang lain, dengan jarak yang cukup untuk menaruh dua orang lagi di antara mereka. Di tangga, Arif sudah melirik Danu dan Danu sudah melirik balik, lalu keduanya serempak memalingkan muka.
°°°°
"Saya ingin bertanya satu hal," kata Radit. "Dan saya minta kamu menjawab seperti yang kamu rasakan hari ini, bukan seperti yang kamu pikir saya ingin dengar."
"Iya."
"Apakah masih ada rasa untuk dia?"
Pertanyaan itu jatuh ke bangku semen di antara mereka. Tari memandang ujung sepatunya yang berdebu dan mendengar daun kersen bergesek di atas kepala. Ia bisa saja berkata tidak. Satu kata itu sudah siap di ujung lidahnya, bersih dan cepat, jenis kata yang akan membuat wajah Radit berubah lega. Tetapi ia sudah tahu rasanya kalau kata yang bersih dan cepat ternyata tidak benar.
"Aku tidak tahu," katanya.
Radit menoleh perlahan.
"Aku marah padanya hampir empat tahun, dan marah itu bentuk rasa juga, Mas. Dua pekan terakhir aku tidak tahu apakah yang tersisa itu marah, atau luka, atau kenangan, atau hanya tidak terima karena belum selesai." Suaranya bergetar tapi tidak pecah. "Yang aku tahu pasti, aku tidak ingin kembali padanya. Itu bukan karena aku sudah selesai. Itu karena aku tidak ingin hidup di belakang pintu yang sama. Tapi kalau Mas tanya apakah semuanya sudah mati, aku tidak bisa bilang sudah. Aku tidak mau bohong lagi, bahkan kalau jawabannya menyakitkan."
Radit tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Marbot di kejauhan mengumpulkan daun ke dalam karung. Danu dan Arif di tangga tampak seperti dua patung yang kebetulan sama-sama mendengarkan.
"Itu jawaban jujur pertama yang saya terima dari kamu tentang hal ini," ujar Radit akhirnya.
Tari menggigit bibir.
"Dan ia melukai saya," lanjutnya. "Tapi saya lebih suka luka karena jawaban jujur daripada tenang karena jawaban yang manis. Itu saya ucapkan dengan sadar."
"Mas..."
"Saya belum selesai, ya. Sekarang giliran saya. Ada dua hal." Radit menautkan jemari di antara lutut, memandang tanah. "Pertama, soal salah. Saya juga ikut salah. Pekan lalu kamu bilang ada yang belum diceritakan, dan saya yang memilih menundanya ke Sabtu. Saya mengira saya sedang memberi ruang. Sebenarnya saya sedang menghindar. Kalau saya mau mendengar di warung bakso itu, mungkin ceritanya tidak perlu keluar dari mulut ibu orang lain. Itu bagian saya, dan saya tidak mau kamu memikul semuanya."
Tari menggeleng cepat. "Tapi yang berbohong itu aku."
"Betul. Dan bagian itu tetap bagianmu. Bobotnya tidak sama, saya tidak akan pura-pura sama. Tapi saya ikut salah, dan itu harus terucap." Ia menarik napas. "Kedua, soal kita."
Tari menahan napas.
"Waktu taaruf tiga bulan kita tinggal sekitar lima pekan. Saya minta, sampai batas itu, kita tidak bertemu dan tidak saling menuntut jawaban. Kabar hanya yang perlu, dan lewat Danu atau Arif, atau satu pesan singkat bila sangat mendesak. Saya tidak akan menghubungimu untuk bertanya apa pun. Kamu juga tidak perlu membujuk saya, dan kamu tidak perlu membuktikan apa-apa pada saya dalam lima pekan ini."
"Mas memutuskan selesai?"
"Tidak." Jawaban itu langsung dan pasti. "Saya tidak menyudahi dan saya tidak melanjutkan. Saya hanya berhenti dulu. Saya perlu tahu apa yang saya rasakan kalau tidak ada kamu di depan saya setiap hari. Dan saya perlu tahu apa yang kamu rasakan kalau tidak ada saya." Ia menoleh, dan untuk sesaat matanya sangat lelah dan sangat jujur. "Saya tidak memutuskan dengan marah, Tari. Kalau suatu hari saya memutuskan sesuatu, saya ingin itu keputusan orang yang tenang."
Tari ingin berkata jangan. Ia ingin berkata berikan aku kesempatan membuktikan, ingin berkata beri aku dua minggu saja, ingin berkata apa pun yang bisa membuat jarak itu menyusut. Tetapi ia ingat bahwa semua yang ia bangun sampai hari ini tumbuh dari kata-kata yang terlalu cepat meminta, dan dari rasa takut yang menyamar jadi pembujukan.
"Baik," katanya. "Aku terima."
Radit mengerjap. Ia pasti sudah menyiapkan diri untuk bantahan.
"Hanya satu hal, Mas. Boleh aku tetap melatih Danu untuk wawancara bank? Pekan depan. Itu janji yang aku buat sebelum semua ini."
Dari tangga, Danu menegakkan punggung seperti seseorang yang baru saja disebut namanya dalam doa.
"Itu bukan bagian dari jarak," jawab Radit. "Itu urusan kalian berdua, dan Danu butuh itu. Terima kasih."
Ia berdiri, dan Tari ikut berdiri. Mereka tidak berjabat, tidak berpandangan terlalu lama, tidak mengucapkan apa pun yang melampaui salam. Radit mengatupkan tangan di dada, dan Tari membalas.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mobil silver itu menjauh di jalan raya, dan Danu, yang berdiri di tangga dengan wajah ketus, ternyata menoleh dua kali sebelum masuk ke dalamnya.
°°°°
Arif berjalan menghampiri dengan langkah yang tidak biasa: pelan, seperti ia takut menginjak sesuatu yang rapuh. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di bangku semen, di tempat yang tadi diduduki Radit, dan menyodorkan separuh roti sobek dari kantong jaketnya.
"Makan, Kak."
Tari menerimanya, tapi roti itu tidak sampai ke mulutnya. Ia memandang pohon kersen yang daunnya bergoyang di atas kepala.
"Lima pekan," gumamnya. "Tiga puluh tiga hari kalau dihitung dari hari ini."
"Aku sudah hitung dari tadi." Arif mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layar kalender dengan lingkaran kecil di satu tanggal. "Aku tandai, biar Kakak nggak perlu menghitung sendiri. Kakak cukup makan, tidur, dan kerja. Hitung-hitungan serahkan ke aku."
"Sejak kapan kamu rajin menandai kalender?"
"Sejak tadi, di tangga, waktu nggak ada yang bisa kulakukan selain mendengarkan." Arif menyeringai lemah. "Makan rotinya, Kak. Sebelum burung gereja itu duluan."
Tari menggigit roti itu. Rasanya hambar, dan ia menelannya juga.