Pukul tiga lewat sedikit, Radit sudah dua kali berwudu dan dua kali batal bersujud.
Bukan batal karena hal lain. Ia hanya tidak bisa menyebut apa pun. Sajadahnya terbentang di ruang tengah rumah yang sepi, menghadap tembok putih yang sama seperti tiap malam, dan seperti tiap malam ia sudah berdiri, takbir, rukuk, sujud. Tetapi di rakaat kedua, saat bibirnya seharusnya mengucapkan permintaan yang biasa ia susun rapi sebelum Subuh, kepalanya hanya memutar satu gambar. Tari dalam gamis biru tua, di ambang percakapan yang sudah terlambat, matanya yang tidak menunduk meski semua orang menunggu ia menunduk.
Ia duduk bersila di atas sajadah dan memandang telapak tangannya sendiri.
"Ya Allah," bisiknya. "Saya sedang tidak bisa meminta apa-apa."
Itu satu-satunya doa yang jujur malam ini. Istikharah mestinya dilakukan dengan hati yang netral, bukan hati yang baru saja dibanting. Kalau ia memohon petunjuk sekarang, ia akan membaca jawaban sesuai marahnya, dan itu bukan petunjuk, itu cermin.
Ia bangkit dan berjalan ke dapur tanpa menyalakan lampu. Cahaya dari jendela cukup untuk memperlihatkan siluet meja jati enam kursi yang baru sepekan terpasang. Kursi di sisi kiri itu. Di sanalah Akbar duduk sepekan lalu, makan semangkuk kecil kerupuk dan bercerita tentang sampel kain dengan mata sipit yang berbinar. Dan Radit duduk di seberangnya sambil tertawa, mengira ia sedang menjamu seorang mitra bisnis. Seorang laki-laki yang begitu santun hingga Radit tak sempat bertanya mengapa Tari membeku di ambang pintu hari itu.
Telapak tangannya menekan permukaan meja yang dingin.
Ponselnya tergeletak di sana, layar mati. Ia menyalakannya. Pukul tiga lewat tujuh belas. Tidak ada pesan baru. Tidak satu pun, dari siapa pun.
Ia yang meminta begitu, ia ingat. Jangan hubungi saya malam ini. Tari menurutinya, sampai ke titik koma. Dan justru kepatuhan itu yang menusuk: gadis itu, yang semalam mengaku semuanya dalam satu napas, kini diam di rumahnya sendiri karena ia diminta diam. Radit mengerti bahwa ia sedang membenci sepinya sendiri, dan membenci diri karena membencinya.
°°°°
Pukul lima kurang sepuluh, ia menyeberang jalan ke rumah Ibu.
Lampu dapur sudah menyala. Nur duduk di meja kecil dengan mukena masih terpasang dan dua cangkir di depannya, satu sudah berisi teh yang mengepul, satu kosong dengan sendok teh di dalamnya. Ia tidak menoleh ketika Radit masuk, hanya menggeser cangkir kosong itu lebih dekat ke sisi seberang.
"Ibu belum tidur?" tanya Radit.
"Ibu tahu kamu tidak tidur. Duduk."
Radit duduk. Nur menuang teh, memasukkan dua sendok gula tanpa bertanya, dan mengaduknya dengan bunyi dentingan kecil yang sudah Radit dengar sejak ia kecil, sejak ia masih bisa dicium kepalanya sebelum berangkat sekolah.
Ibunya tidak menasihati. Tidak bilang sabar, tidak bilang istighfar, tidak menyebut Tari. Ia hanya mendorong cangkir itu dan menunggu.
Menit-menit berlalu dengan bunyi sendok, tetesan keran, dan azan yang belum berkumandang.
"Apa yang paling sakit, Dit?"
Pertanyaan itu begitu sederhana hingga Radit hampir tidak percaya ia akan menjawab. Tetapi jawabannya sudah menunggu di dadanya sejak semalam.
"Aku cemburu, Bu."
Nur mengangkat alis sedikit.
"Aku cemburu pada laki-laki yang aku tahu baik, yang makan bersamaku dua kali, yang berjabat tangan denganku dan tersenyum," kata Radit pelan. "Aku tidak tahu cara cemburu. Tiga puluh tahun aku bilang pada diri sendiri itu urusan orang lain, urusan orang yang tidak percaya diri. Semalam di restoran, aku melihat Ibu Akbar memeluk Tari, dan yang aku pikirkan hanya satu: dia punya masa lalu di sana, dan aku hanya punya tiga bulan. Aku bahkan tidak tahu rasa ini harus diapakan. Seperti ada batu yang aku telan."
"Orang bilang cemburu itu tanda tidak percaya," jawab Nur. "Menurut Ibu, itu tanda ada yang sedang dipertaruhkan." Ia menyesap tehnya. "Yang paling sakit itu cemburunya, atau fakta bahwa Tari yang membuatmu cemburu?"
Radit membuka mulut dan menutupnya lagi. Ia memandang teh di depannya, yang uapnya naik tipis dan menghilang sebelum mencapai langit-langit.
"Bukan keduanya," katanya akhirnya. "Yang paling sakit adalah saya tidak bisa bilang saya tidak bersalah juga."
"Maksudmu?"
"Aku yang menunda, Bu. Pekan lalu dia bilang soal Akbar ada yang belum diceritakan. Ia datang, ia mulai bicara, dan aku yang bilang nanti. Aku yang bilang Sabtu, setelah acara. Aku takut mendengarnya terburu-buru, tapi sebenarnya aku takut mendengarnya saja." Suaranya mengecil. "Kalau aku mau mendengar di warung bakso itu, mungkin ia akan bilang di sana. Mungkin ia tidak harus bilang di parkiran, setelah ibu orang lain membuka semuanya di depan Ibu."
Nur meletakkan cangkir. "Jadi dua-duanya salah."
"Dua-duanya. Tapi bobotnya tidak sama, Bu. Dia berbohong berminggu-minggu. Aku menunda seminggu."
"Bobotnya tidak sama," ulang Nur dengan tenang. "Dan kamu boleh tetap marah, Dit. Ibu tidak akan menyuruhmu cepat-cepat memaafkan. Memaafkan yang dipercepat itu cuma menunda sakit, bukan menyembuhkan. Tapi Ibu mau kamu ingat satu hal."
"Apa, Bu?"
"Semalam Ibu lihat wajahnya waktu kamu masuk. Dia tidak takut dihukum. Dia takut kehilangan kamu. Itu dua rasa yang berbeda, dan Ibu sudah cukup lama hidup untuk bisa membedakan keduanya."
Dari masjid di ujung gang terdengar azan Subuh, jernih dan panjang. Radit menyentuh pelipisnya, dan sejak semalam ia baru merasa matanya panas.
°°°°
Sehabis salat, pintu depan terbuka dan Danu masuk dengan kaus basah oleh keringat. Ia pasti berlari mengelilingi kompleks sejak sebelum azan. Ia melihat Radit di meja dapur, berhenti sejenak, lalu melewatinya menuju kulkas tanpa sepatah kata.
"Danu."
"Aku nggak mau bahas, Mas."
"Saya tidak minta kamu bahas."
Danu menuang air dingin ke gelas dengan gerakan yang terlalu keras. "Mbak Tari itu... aku sudah bilang ke dia, aku pegang dia sebagai kakak ipar. Aku bilang di depan Nisa. Aku bela dia di depan Ibu, pas Ibu sempat curiga soal telepon Tante Melati yang bilang hujan. Terus ternyata..." Ia berhenti dan menenggak air.
"Ternyata dia berbohong. Iya." Radit membuka ponselnya. "Dan Mbak Tari yang sama itu mengajarimu deret angka berjam-jam tiap malam sampai kamu lolos tes. Dua-duanya benar, Dan."
Danu menatap kakaknya dengan mata merah. "Mas nggak marah?"
"Saya marah. Besok pun masih. Tapi saya tidak mau memutuskan sesuatu dalam keadaan begini." Radit mengetik, lalu menunjukkan layarnya. "Kamu ikut Senin sore."
Raditya Hermanto: Senin pukul empat sore. Masjid dekat rumahmu. Bawa Arif. Saya bawa Danu. Kita bicara di halaman, bukan di dalam.
"Kenapa aku?" gerutu Danu.
"Supaya ada pengawas. Dan supaya kamu dengar sendiri dari mulut orangnya, bukan dari tafsir kamu."
Pesan itu terkirim. Balasan masuk sebelum Radit sempat meletakkan ponsel di meja.
Lestari Ayu: Aku datang.
Hanya itu. Satu kalimat, tanpa tanda seru, tanpa kata maaf yang bisa ia baca sebagai tuntutan. Radit memandang tiga kata itu lebih lama dari yang diperlukan.
"Cepat banget balasnya," gumam Danu dari balik bahunya. Ia sudah lupa pura-pura tidak peduli. "Mbak Tari nggak tidur."
"Saya tahu."
"Mas juga nggak tidur."
"Saya tahu itu juga, Dan." Radit menaruh ponsel dalam keadaan tertelungkup di meja, dan bahunya turun sedikit. "Habiskan airmu. Nanti kamu masuk angin."