"Kejar," bisik Mama.
Tari menoleh. Ibunya tidak lagi memegang tas besar itu seperti perisai. Tas itu tergeletak di kursi, dan kedua tangan Mama menempel di punggung Tari, mendorongnya pelan seperti mendorong perahu dari tepi sungai.
"Ma, aku..."
"Kamu sudah terlalu lama bilang nanti. Pergi. Mama di belakangmu, dua langkah, tidak lebih."
Akbar setengah bangkit dari kursinya. Matanya mengikuti Tari, dan Tari menatapnya sekali saja, dengan tatapan yang tidak marah dan tidak ramah, hanya tegas.
"Duduk, Bar."
Akbar duduk.
Danu sudah berdiri di dekat pintu sebelum Tari sampai di sana. Wajahnya masih ketus, rahangnya mengeras, dan ia tidak menatap Tari ketika berkata, "Aku ikut. Bukan karena Mbak. Karena Mas Radit sendirian dan aku harus ada di dekatnya."
"Aku tahu, Dan."
"Tapi aku nggak mau dengar."
"Aku tahu," ulang Tari. "Berdiri saja di tempat yang kelihatan."
Dari meja, Nur memandang punggung mereka bertiga yang menjauh. Tak seorang pun melihat ia menutup mata sebentar dan menggerakkan bibir, mengucapkan sesuatu yang bukan untuk manusia.
°°°°
Halaman parkir restoran itu hanya diterangi dua lampu di tiang besi, dan cahayanya jatuh kuning ke aspal yang masih basah bekas hujan sore. Mobil silver itu berdiri di sudut paling gelap. Radit tidak masuk ke dalamnya. Ia berdiri di sisi pengemudi dengan satu telapak menempel di atap, kunci di tangan yang lain, dan kepala sedikit menunduk, seperti orang yang menunggu sesuatu di dalam dirinya reda sebelum ia berani menyalakan mesin.
Tari berhenti tiga langkah di belakangnya. Di belakang itu, jauh di dekat tangga, Mama dan Danu berdiri berdampingan, tidak bicara.
"Mas."
Radit tidak menoleh. "Saya minta kamu tidak mengejar saya."
"Aku tahu. Tapi kalau aku tidak bicara sekarang, aku akan bicara lagi nanti, dan nanti itu sudah terlalu sering aku pakai." Tari menarik napas. Tangannya gemetar, jadi ia mengepalkannya di sisi paha. "Aku tidak minta Mas memaafkan. Aku cuma mau Mas mendengar semuanya dari aku, bukan dari orang lain lagi."
Hening yang lama. Radit memutar tubuh pelan. Matanya sembap, bukan oleh air mata, tetapi oleh enam jam perjalanan dan sesuatu yang lebih berat.
"Bicaralah."
Tari bicara dalam satu napas.
"Akbar pacarku dua tahun. Hampir empat tahun lalu ia memutuskan aku lewat kata bosan, dan aku memblokir semua kontaknya. Waktu Mas membawa ibu Mas ke bank dan kami sepakat taaruf, aku bertemu dia di jalan, dan ia melihat nama bankku. Ia mengirim buket mawar tanpa nama. Aku tahu itu dia sejak hari Akbar datang sebagai nasabah. Hari itu aku sudah bisa bilang ke Mas. Aku tidak bilang. Di festival aku yang minta Akbar merahasiakan semuanya, bukan dia yang minta. Ia yang menetapkan syarat, aku yang setuju. Mas bertanya apakah kami saling kenal, dan aku diam waktu dia menjawab tidak. Setelah itu aku punya banyak kesempatan, di taman, di telepon, di toko meja, di warung bakso. Aku mulai mengaku empat kali, dan empat kali aku mundur. Beberapa kali ada alasan yang nyata. Tapi yang paling sering adalah karena aku takut. Itu saja. Aku takut Mas pergi, dan karena aku takut Mas pergi, aku membiarkan Mas duduk di meja yang sama dengannya."
Ia berhenti karena kehabisan udara. Tidak ada satu pun kalimat yang diawali dengan "tapi".
"Aku tidak minta Mas percaya bahwa aku tidak berniat menipu," tambah Tari cepat, sebelum keberaniannya habis. "Niatku tidak penting. Yang Mas alami itu penipuan, apa pun niatku."
Radit menatapnya lama. Angin membawa bau ikan bakar dari dapur restoran.
"Waktu Akbar menjawab tidak di depan saya," ujarnya perlahan. "Waktu saya bertanya apakah kalian saling kenal. Apa yang kamu rasakan?"
"Lega." Tari memaksa dirinya menjawab jujur. "Sedetik. Lalu mual."
Radit mengangguk satu kali, seperti orang yang mendapat jawaban yang sudah ia duga dan tetap tidak siap menerimanya.
"Minggu lalu kamu bilang ada yang belum diceritakan," katanya akhirnya, dengan suara yang sangat rendah. "Saya bilang Sabtu, setelah acara. Saya memberi kamu satu minggu, dan malam ini saya mendengarnya dari ibu orang lain, di depan Ibu saya, di depan anak buah saya."
"Mas..."
"Saya belum selesai." Tidak ada bentakan. Itulah yang membuat Tari mundur setengah langkah. "Kamu minta saya jawab seratus pertanyaan dengan jujur. Saya duduk berhari-hari menulisnya. Dan kamu tahu dari awal siapa dia."
"Iya."
"Saya sudah bilang kebohongan kecil itu pintu. Kamu sendiri yang duduk di depan pintu itu dan membiarkan saya mengira itu dinding."
"Iya, Mas."
"Saya juga bilang tidak akan berbohong sama kamu. Saya sungguh-sungguh."
"Mas menepatinya," ucap Tari, suaranya pecah. "Akulah yang tidak."
Radit memejamkan mata sebentar. Kunci di tangannya berbunyi pelan karena jarinya gemetar, dan ia menutup kepalan itu dengan telapak yang lain supaya tidak terdengar.
"Saya ingin jelaskan satu hal, supaya kamu tidak salah mengerti." Ia membuka matanya. "Saya tidak marah karena kamu punya masa lalu. Orang boleh punya masa lalu. Saya tidak berhak atas empat tahun yang tidak ada saya di dalamnya. Saya terluka karena kamu membiarkan saya berminggu-minggu duduk semeja dengannya, membuka rumah untuknya, menyerahkan kerja sama pada orang yang kamu kenal, dan saya tidak tahu apa-apa. Saya terlihat bodoh, Tari. Bukan di depan mereka. Di depan diri saya sendiri."
"Mas tidak bodoh. Aku yang..."
"Jangan." Ia mengangkat tangan sedikit, lalu menurunkannya. "Jangan bela saya. Saya tidak sanggup mendengarnya malam ini."
Tari menunduk. Air matanya jatuh ke aspal, dan ia membiarkannya. Ia tidak ingin menutupinya, dan ia tidak ingin menggunakannya.
Radit membuka pintu mobil. Lampu dalam menyala redup, memperlihatkan kursi kosong di sebelah kemudi, kursi yang seharusnya menunggu orang lain suatu hari nanti. Ia menatap kursi itu sejenak sebelum menatap Tari lagi.
"Jangan hubungi saya malam ini," katanya. "Saya tidak mau memutuskan apa-apa saat begini. Kalau saya bicara sekarang, saya akan mengatakan hal yang tidak adil, atau hal yang terlalu cepat memaafkan. Dua-duanya salah."
"Baik."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pintu tertutup. Dari balik kaca yang gelap, wajahnya tidak terlihat. Mesin menyala, lampu depan menyapu pagar dan wajah Tari, dan mobil silver itu keluar dari halaman dengan kecepatan yang sama persis seperti saat ia masuk. Tari berdiri sampai lampu belakangnya menghilang di tikungan, dan baru ketika Mama menyentuh bahunya dari belakang, ia menyadari bahwa tangannya masih terkepal begitu keras hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas.
Danu, yang sedari tadi berdiri kaku di dekat tangga, berbalik tanpa sepatah kata dan masuk kembali ke restoran. Pintu kaca berayun di belakangnya.
"Dia tidak marah, Nak," bisik Mama. "Dia terluka. Itu beda."
"Aku tahu, Ma," jawab Tari. "Itu yang lebih buruk."