"Waalaikumsalam!" Bu Chasanah memutar tubuhnya dengan wajah yang langsung terang. "Ini pasti Nak Radit! Ibu Chasanah, yang telepon pekan lalu itu. Sini, Nak, sini."
Radit melangkah masuk. Ia mengatupkan kedua tangan di dada kepada Bu Chasanah, lalu menunggu sampai Pak Hamdan tiba di ujung meja dengan tongkatnya yang berbunyi tuk, tuk, tuk di lantai kayu. Kepada laki-laki tua itu ia mengulurkan tangan. Pak Hamdan menyambutnya dengan genggaman yang lemah tetapi lama.
"Maaf terlambat, Pak. Keretanya mogok di tengah jalan."
"Tidak apa-apa, Nak. Kami juga baru duduk."
Hanya itu yang dikatakan Pak Hamdan, tetapi matanya sempat singgah pada Tari, lalu pada Radit, lalu kembali pada Tari. Tari melihat laki-laki itu mengerti sesuatu sebelum istrinya.
Bu Chasanah belum mengerti. Ia menepuk tangannya sendiri dengan gembira. "Ya Allah, jadi Nak Tari ini calon istrinya Nak Radit! Pantas, pantas. Pantas tadi Ibu merasa ruangan ini penuh orang baik." Ia menoleh ke Radit. "Jadi sekarang kalian sudah kenal ulang, ya, alhamdulillah. Akbar sudah cerita kan, Nak? Namanya juga anak muda, dulu itu..."
"Cerita apa, Bu?" tanya Radit.
Pertanyaan itu pelan dan sopan. Justru karena itulah Bu Chasanah menutup mulutnya.
"Lho."
Kursi berderit. Akbar berdiri dari ujung meja, kali ini sampai tegak, dengan kedua tangan terlepas dari taplak. Ia tidak menatap ibunya. Ia menatap Radit.
"Ibu tidak salah, Mas. Saya yang salah." Suaranya rendah dan jelas. "Tari dan saya pernah berpacaran dua tahun. Itu sudah lama, hampir empat tahun lalu. Di festival, waktu Mas tanya apakah kami saling kenal, saya bilang tidak. Itu bohong. Saya ikut berbohong, dan saya tahu itu bohong ketika mengucapkannya."
Tidak ada yang bersuara. Kino meletakkan kerupuknya dengan sangat hati-hati, seakan benda itu bisa meledak. Dari dapur terdengar piring beradu, dunia yang masih berjalan seperti biasa.
"Mas." Tari berdiri, dan kakinya hampir tidak menahannya. "Mas Radit, aku..."
Radit mengangkat satu tangan. Tidak keras, hanya setinggi dada, telapaknya menghadap Tari.
"Nanti," katanya. "Bukan di depan Ibu dan Bapak."
"Aku mau menjelaskan..."
"Saya dengar kamu. Saya akan mendengar semuanya." Suaranya tetap datar. "Tapi nanti. Bukan di sini."
Ia menoleh pada Bu Chasanah yang kini menutup mulut dengan kedua telapak, matanya membulat dan berair. "Ibu tidak perlu merasa bersalah. Ibu tidak berbohong kepada siapa pun malam ini."
"Ya Allah, Nak Radit, Ibu tidak tahu. Ibu kira..."
"Ibu mengira yang wajar. Siapa pun akan mengira begitu." Radit mengucapkannya dengan lembut, dan Tari tahu kelembutan itu ia berikan kepada orang lain karena tidak ada yang bisa ia berikan kepada dirinya.
"Nak Tari." Bu Chasanah memutar tubuh, matanya merah. "Maafkan Ibu. Ibu benar-benar tidak tahu. Kalau Ibu tahu..."
"Ibu tidak salah." Tari menggeleng. Ia ingin mengatakan lebih banyak, tetapi tenggorokannya mengerut. "Saya yang meminta Akbar merahasiakannya, Bu."
Mama menarik napas pendek. Nur menatap Mama, dan Mama menatap meja.
"Saya tahu, Bu." Radit menarik kursi di antara Nur dan Dewi, bukan di sebelah Tari, dan duduk. "Mari makan. Ikannya pasti sudah dingin kalau kita tunggu lagi."
°°°°
Ikan bakar datang bersama nasi hangat dan sambal yang dibagi dalam tiga cobek. Pelayan menaruhnya satu per satu tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di meja itu, dan Tari mencintainya untuk itu sesaat.
Azan Maghrib berkumandang dari musala kecil di belakang restoran. Radit meletakkan sendoknya sebelum ada yang memegang apa pun.
"Kita salat dulu."
Mereka bergantian. Laki-laki lebih dulu: Radit, Pak Hamdan yang dituntun Akbar, Danu, Kino, Teguh. Perempuan menyusul setelahnya. Di sajadah yang berbau kapur barus, Tari berdiri di belakang Nur, dan selama dua rakaat ia tidak bisa memikirkan satu pun hal dari doa itu kecuali nama laki-laki yang tadi tidak menoleh padanya. Selesai salam, Nur tidak berpaling. Ia hanya membetulkan mukenanya dengan tangan yang tidak setenang biasanya.
"Nak Tari," katanya akhirnya, tanpa menoleh, sambil melipat sajadah. "Ibu tidak akan bertanya di sini."
"Bu, saya..."
"Ibu bilang tidak akan bertanya di sini. Ibu belum tahu harus marah atau harus menangis. Jadi Ibu lipat sajadah dulu." Suaranya bergetar sedikit, lalu mantap kembali. "Radit itu anak Ibu. Kalau ia bilang nanti, Ibu ikut nanti."
Tari mengangguk, dan menyesali bahwa ia tidak punya satu kata pun yang berguna.
Di meja, makan malam berlanjut, dengan dentingan sendok yang terlalu keras karena tak ada yang berani bicara.
Kino menyikut Teguh. "Kamu mau sambal?" bisiknya, dengan suara seorang pria yang butuh pekerjaan apa saja untuk tangannya.
"Sudah," jawab Teguh, yang jarang sekali berkata lebih dari satu kata.
"Ikannya enak sekali," ucap Radit.
"Terima kasih, Nak." Bu Chasanah menjawab lirih, jauh dari ceria tadi.
"Mas Akbar pandai memilih tempat."
"Terima kasih, Mas."
Tari melihat Radit mengambil nasi, mengambil ikan, membersihkan durinya satu per satu dengan telaten, dan menghabiskan seluruh isi piring tanpa menyisakan sebutir pun. Ia tidak melewatkan satu pun sopan santun. Ia bertanya tentang perjalanan Bandung ke Jakarta kepada Pak Hamdan, tentang tokonya kepada Bu Chasanah, tentang tes bank kepada Danu yang menjawab dengan satu suku kata. Dan kepada Tari, tidak sepatah kata pun, tidak juga sepandang mata.
Mama menyentuh lutut Tari di bawah meja. Isyaratnya sederhana: bernapas.
Ponsel Tari bergetar di pangkuan. Ia melirik layarnya tanpa mengangkat apa pun.
Gita: Tar? Kok sunyi? Kerupuk?
Lestari Ayu: Sudah terlanjur, Git. Bukan kerupuk lagi.
Gita: Aku jalan ke sana sekarang.
Lestari Ayu: Jangan. Kalau kamu datang, aku tidak bisa bilang ini urusanku sendiri.
Ia menaruh ponselnya tertelungkup di lutut, lalu menyadari Bu Chasanah memperhatikannya dari seberang meja dengan tatapan orang yang ingin sekali mengucapkan seribu maaf dan tahu betul sebagian besar sudah tidak berguna.
"Maafkan saya, Nak Radit." Pak Hamdan bicara pelan di tengah keheningan, dan semua kepala menoleh. "Istri saya itu... hatinya terlalu terbuka. Kami tidak ada niat membuat malam ini jadi begini."
"Bapak tidak perlu minta maaf." Radit meletakkan garpunya. "Bapak dan Ibu sudah jauh-jauh datang. Terima kasih. Kalau tidak keberatan, saya mohon pamit lebih dulu. Saya baru pulang dari luar kota dan badan saya perlu istirahat."
Nur membuka mulut. "Dit..."
"Nanti, Bu." Radit berdiri. Ia menatap ibunya dengan lembut, dan kelembutan itu membuat dada Tari ngilu. "Ibu pulang dengan Danu, ya. Danu, kuncinya."
Danu merogoh saku dengan wajah tegang dan menyerahkan kunci mobil. Matanya melirik Tari sekilas, mata yang tadi pagi masih tertawa, dan kini ketus seperti pintu yang dibanting. "Mas..."
"Bareng Kino saja, Dan. Antar Ibu sampai rumah, jangan ngebut." Radit menyimpan kunci, lalu mengatupkan tangan di dada kepada Bu Chasanah. "Terima kasih makan malamnya, Bu."
Ia tidak melihat Tari. Ia mengangguk pada Mama dengan hormat yang utuh, memberi salam pada seluruh meja, dan berjalan menuju pintu kaca dengan langkah yang tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat dari biasanya.
Kursi Tari menjerit di lantai ketika ia berdiri.