Bu Chasanah sudah ada di depan Tari sebelum Tari sempat berdiri.
Pelukan itu datang dari samping, cepat dan hangat, seperti pelukan orang yang sudah lama menyiapkannya. Wangi bedak bayi, lengan yang lembut tapi kuat, dan kacamata yang miring menekan pelipis Tari. Kursinya bergeser ke belakang dengan bunyi kayu yang keras, dan tas kecil di pangkuannya jatuh ke lantai.
Tari tidak membalas. Kedua tangannya menggantung kaku di sisi tubuh, dan satu-satunya yang bisa ia pikirkan adalah gelas es tehnya yang hampir tersenggol.
"Ya Allah, Nak. Ya Allah." Suara perempuan itu bergetar. "Ibu kira Ibu tidak bakal bisa ketemu kamu."
Pelukan itu berhenti sendiri. Mungkin ia merasakan tubuh Tari yang keras seperti papan, karena Bu Chasanah mundur setengah langkah, menyentuh pipinya sendiri dengan malu, dan tertawa kecil yang basah.
"Maaf, maaf. Ibu kebiasaan. Kalau senang, Ibu langsung peluk dulu, tanya belakangan. Bapak bilang itu kebiasaan jelek."
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Tari. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
"Ibunya Akbar." Perempuan itu menunjuk dadanya sendiri. "Chasanah. Kamu pasti tidak tahu nama Ibu, ya? Akbar itu memang kalau cerita..." Ia menggeleng. "Nanti Ibu ceritakan."
"Ibu." Akbar sudah berdiri penuh di ujung meja. Wajahnya pucat, dan tangannya terangkat setengah seperti orang yang ingin menahan sesuatu yang sudah menggelinding. "Ibu, duduk dulu. Nanti kita..."
"Kamu diam dulu, Bar. Ibu sudah lama mau bicara sama gadis ini."
"Besan?" Nur menyentuh lengan Mama. "Ada apa ini?"
"Nur... sebentar ya. Sebentar saja."
Jawaban itu terlalu pendek untuk Mama yang biasanya butuh tiga kalimat hanya untuk menyuruh orang mengambil piring, dan Nur menatapnya sekali lagi, lebih lama.
Dewi menurunkan sendoknya perlahan. Kino berhenti mengunyah. Teguh menatap Tari, lalu Akbar, lalu Tari lagi, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu. Nur yang duduk di sebelah Tari menoleh pelan dengan alis berkerut, bukan marah, hanya bingung.
"Lho, Ibu kenal Mbak Tari?" tanya Danu pada udara.
Tidak seorang pun menjawab.
Dari balik sekat anyaman di dekat dinding, kursi bergeser. Laki-laki berambut putih yang tadi membelakangi pintu berdiri pelan dengan bertumpu pada tongkat, lalu memutar tubuh. Wajahnya kurus dan tenang, dengan garis di sudut mata yang sama dengan garis di sudut mata Akbar. Ia memandang Tari dari seberang ruangan, dan sudut mulut kirinya terangkat lebih lambat dari yang kanan.
"Bu," katanya pelan, sangat pelan, hingga orang harus berhenti bernapas untuk mendengarnya. "Jangan dikerubuti anak orang."
"Siapa yang mengerubuti, Pak? Ibu cuma kangen."
Laki-laki itu tersenyum, sedikit demi sedikit. Lalu ia mengangguk satu kali ke arah Tari, seperti orang yang menyapa dari kejauhan karena kakinya belum sanggup mengantar sapaan itu lebih dekat.
Di bawah meja, jempol Tari sudah menyentuh layar. Satu kata di kolom pesan, kerupuk, tinggal menunggu ditekan. Tetapi Gita tidak bisa menelepon seorang perempuan yang sedang memeluk Tari, dan tidak ada kerupuk di dunia yang bisa menyelamatkan Tari dari kalimat yang belum diucapkan.
Tari merasa lantai restoran bergoyang. Tongkat itu. Kalimat tiga baris di buku harian yang ia tulis hampir empat tahun lalu: Katanya Bapak kurang enak badan. Alasan.
Di sampingnya, Mama sudah berdiri. Tas besar yang tadi ia peluk sebagai perisai kini menggantung di bahunya, dan tangannya mencengkeram siku Tari, dingin dan kuat. Wajah Mama tidak terkejut. Mama sudah tahu, dan hanya menunggu bunyinya.
"Kamu sehat, Nak? Kurusan. Dulu pipimu penuh, Ibu ingat." Bu Chasanah mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Sekarang kerja di mana? Akbar bilang..."
"Ibu!"
"Bilang apa, Bar? Ibu cuma tanya kabar. Masa tanya kabar tidak boleh?"
Akbar mengerjap dan menutup mulut. Tari melihat sekilas wajah laki-laki yang dulu bisa berdebat dua jam tentang apa pun itu, sekarang kehabisan kata seperti anak yang ketahuan membuka kado sebelum waktunya.
"Mari duduk dulu, Bu," kata Mama dengan senyum yang terlalu rapi. "Ikannya sebentar lagi datang. Kita makan dulu, baru..."
"Sebentar, Bu, sebentar." Bu Chasanah menepuk tangan Mama dengan ramah. "Ini penting. Penting sekali buat Ibu." Lalu ia menarik napas dalam untuk bicara lagi.
Tari tahu kalimat berikutnya tidak akan bisa ditarik kembali.
°°°°
Di kereta tadi ia sudah menyusun kalimat pembukanya untuk nanti malam, sesudah acara, saat hanya ada ia dan Tari dan Arif di ujung ruangan. Saya sudah siap mendengar. Lalu ia menggantinya, karena siap terdengar seperti orang yang menyiapkan tameng. Saya mau mendengar. Ceritakan pelan-pelan. Kalimat itu ia ulang sampai gerbong berhenti di stasiun, dan ia masih belum yakin tangannya tidak akan gemetar saat mengucapkannya.
Di lampu merah pertama, ia mengetik satu pesan dengan ibu jari yang kaku.
Raditya Hermanto: Saya hampir sampai. Lima menit.
Lestari Ayu: Hati-hati di jalan, Mas.
Balasan itu masuk begitu cepat, seakan Tari sudah memegang ponsel sejak tadi. Radit menatapnya agak lama sebelum lampu berubah hijau.
"Buru-buru banget, Mas," kata pengemudi ojek itu sambil membelokkan motornya ke halaman restoran. "Acara lamaran ya?"
"Bukan, Pak. Makan malam kantor." Radit turun dengan ransel di satu bahu dan kemeja yang kusut karena enam jam duduk di kereta yang berhenti di tiap sinyal. "Kembaliannya ambil saja, Pak. Terima kasih sudah ngebut."
"Wah, kantornya royal." Pengemudi itu terkekeh. "Calon mertua ikut, Mas? Dari tadi Mas lihat hape terus."
"Calon mertuanya belum ketemu, Pak. Doakan saja."
"Doa saya paling cepat, Mas. Sudah, masuk sana. Jangan lupa baca bismillah dulu."
Radit tersenyum dan melepas helm. Hari ini ia sudah minta maaf pada terlalu banyak orang untuk keterlambatan yang bukan salahnya. Di halaman, mobilnya sendiri terparkir miring. Danu yang membawanya, dan seperti biasa ia memarkir seakan lahan itu miliknya seorang. Radit menyentuh kap yang masih hangat, merasa sedikit lega, lalu masuk lewat pintu kaca.
Lampu kuning, atap rumbia, bau ikan bakar. Dan suara perempuan yang ia kenal dari telepon pekan lalu, suara yang riang dan tak pernah mengecilkan volume, memenuhi seluruh ruang makan.
"...Ya Allah, kamu yang di foto itu! Akbar dulu sampai nangis berhari-hari, Ibu ikut sedih."
Radit berhenti di ambang pintu dengan satu kaki masih terangkat.
Ia melihat meja panjang itu dari jauh, seperti melihat foto yang disodorkan terbalik. Dewi dengan sendok di tangan. Kino dengan mulut setengah terbuka. Ibunya dengan telapak di dada. Danu yang berdiri setengah. Mama Tari dengan wajah putih. Akbar di ujung meja dengan kedua tangan terkepal di atas taplak. Dan Tari, dalam gamis biru tua yang belum pernah ia lihat, menatap lurus ke arahnya melewati bahu perempuan berjilbab hijau itu.
Mata mereka bertemu. Tari tidak menunduk. Ia hanya terlihat sangat kecil, dan sangat takut.
"Mas Radit!" Danu setengah berseru, lalu menutup mulutnya sendiri karena tidak ada yang tersenyum.
Dewi setengah bangkit dari kursinya. "Pak..." bisiknya, lalu tidak melanjutkan, karena tidak ada kata yang pas untuk malam seperti ini.
Radit mengenali kalimat tadi pada detik ketiga. Bukan dari artinya, melainkan dari cara semua orang di ruangan itu berhenti bernapas sekaligus.
Ia menurunkan kakinya dengan hati-hati. Ia menarik tali ransel dari bahu. Ia menyentuh dadanya. Rasanya dingin dan berat di sana.
"Assalamualaikum," katanya.
Suaranya datar dan sopan.