Gita mengirim tangkapan layar itu pukul sembilan pagi, tepat ketika Tari sedang berdiri di depan lemari dengan dua gamis di tangan dan satu pertanyaan yang tidak punya jawaban: pakaian apa yang pantas dipakai orang yang akan makan malam bersama kebohongannya sendiri.
Gita: Akbar nitip ini ke aku. Dia bilang kamu mungkin gak mau terima langsung dari dia, jadi lewat aku saja. Baca.
Di bawah pesan itu ada gambar percakapan. Tari memperbesarnya dengan dua jari.
Akbar Fajriansyah: Mbak Gita, tolong sampaikan ke Tari. Ibu dan Bapak berangkat dari Bandung naik mobil subuh tadi, langsung ke restoran, tidak mampir ke penginapan. Ponsel Ibu tidak diangkat sejak pukul tujuh. Aku sudah mengingatkan dua kali kemarin supaya Ibu menjaga mulut, tapi aku tidak bisa menjamin. Maaf. Kalau Tari memutuskan tidak datang, aku akan paham dan aku yang akan mengatur alasannya.
Tari duduk di tepi kasur dan menatap kalimat terakhir cukup lama. Kalau Tari memutuskan tidak datang, aku akan paham. Orang yang dulu menghindar tanpa penjelasan kini menawarkan perlindungan tanpa meminta apa pun, dan hal itu membuat dadanya aneh, bukan hangat, bukan dingin, tetapi seperti memegang gelas retak yang tidak ia tahu akan pecah kapan.
Lestari Ayu: Aku tetap datang. Radit minta aku ada, dan kalau aku absen justru semua akan bertanya.
Gita: Aku sudah duga. Kuat ya. Aku di rumah tunangan, tapi hapeku aktif sampai selesai. Kalau butuh kabur, kirim satu kata: kerupuk. Aku telepon dan pura-pura darurat.
Lestari Ayu: Kenapa kerupuk?
Gita: Karena gak ada yang curiga sama kerupuk.
Tari tertawa pendek dan hampir terisak di saat yang sama. Dari ruang tengah, suara Mama memanggil bahwa mobil taksi daring sudah di depan pagar, dan Tari memasukkan gamis berwarna biru tua ke tas kecil tanpa memikirkan yang lain.
°°°°
Restoran ikan bakar itu berdiri di tepi jalan besar, dengan atap rumbia dan lampu gantung kuning yang memberi bayangan hangat di dinding bambu. Pukul lima sore, sebagian besar kursinya masih kosong, kecuali sebuah meja panjang di bagian tengah yang sudah ditata rapi untuk sepuluh orang.
Nur melambai dari sana begitu melihat Tari dan Mama masuk. "Besan! Nak Tari! Sini, sini!"
"Dia datang lebih dulu dari saya," bisik Mama di telinga Tari, dengan tas tangan besar yang ia peluk erat di dada. "Mama bawa tas gede. Kalau ibunya keceplosan, Mama jejalkan gorengan."
"Ma!"
"Bercanda. Setengah."
Danu duduk di ujung meja dengan kemeja batik yang kelihatan baru disetrika dua kali. Di sisi lain, Dewi, Kino, dan Teguh sudah lengkap dengan senyum canggung yang biasa muncul pada karyawan yang hadir di acara kantor di luar jam kerja. Dewi berdiri dan menyalami Mama dengan mengatupkan tangan.
"Tante Melati, Mbak Tari, selamat sore. Saya Dewi, staf Pak Radit. Pak Radit tadi mengabari masih di perjalanan. Kereta terlambat, tapi beliau berpesan kita mulai tanpa menunggu."
"Dia bilang begitu?" Nur tertawa. "Radit itu, kalau terlambat lima menit dia sudah minta maaf lima kali."
Tari menarik kursi di sebelah Nur, dan Mama duduk di sebelahnya, menaruh tas besar itu di pangkuan seperti perisai. Pelayan mulai membawa baki es teh dan sambal. Kino sudah membuka cerita panjang tentang lokasi restoran yang hampir salah ia belokkan dan bagaimana Teguh menegurnya dengan satu kalimat saja, "Kiri, Kin." Tari mendengarkan dengan separuh telinga. Separuh yang lain tertuju ke pintu, ke jalan, ke setiap langkah di lantai kayu.
Akbar sudah ada di meja. Ia duduk di kursi paling ujung, dekat dinding, mengenakan kemeja batik cokelat tua dengan lengan digulung rapi. Begitu Tari melangkah masuk, matanya bertemu dengan matanya, hanya sepersekian detik, lalu ia menggeleng. Gelengan itu halus sekali, hampir tak terlihat. Gelengan seseorang yang berkata, aku sudah berusaha, tapi ini di luar kendaliku.
Tari memalingkan muka.
Di dekat dinding belakang, tersembunyi di balik sekat anyaman, ada satu kursi dengan sebatang tongkat bersandar di sisi, dan seorang laki-laki berambut putih yang duduk membelakangi pintu. Tari tidak melihat wajahnya. Namun ia melihat tongkat itu.
Tenggorokannya mengering. Ia meraih es tehnya dan meneguk setengah gelas.
"Pelan-pelan, Nak," kata Nur, menepuk punggung tangannya sekilas. "Pasti haus. Jalanan macet?"
"Macet, Bu."
Mama menyikut lengan Tari pelan di bawah meja. Isyaratnya jelas: lihat, itu mereka. Tari mengangguk kecil, tanpa bicara, dan menyalakan layar ponselnya hanya untuk memastikan jarinya masih bisa menggerakkan benda itu. Pukul lima lewat sepuluh. Radit belum datang. Satu kata, kerupuk, sudah ada di ujung kolom pesan, siap dikirim.
°°°°
Pembicaraan di meja berjalan seperti kereta di jalur licin.
"Jadi tesnya itu isinya apa saja, Dan?" tanya Kino sambil mencomot kerupuk.
"Deret angka, logika, sama bahasa Inggris dasar. Aku diajar Mbak Tari latihan deretnya. Rahasianya jangan dihafal, cari pola!"
"Pola itu apa?" tanya Teguh datar.
"Pola itu ya... pola, Mas Teguh."
"Oh."
Dewi tertawa sampai menutup mulut. Nur menimpali bahwa waktu Danu kecil, ia selalu menghitung biji nasi di piringnya sebelum makan, dan Danu protes bahwa itu fitnah. Mama ikut tertawa tapi tawanya terlalu keras dan berhenti terlalu cepat, seperti orang yang sadar sedang diperhatikan.
"Tante Melati kelihatan capek," ujar Dewi lembut. "Mau saya pesankan teh hangat?"
"Tidak usah, Nak. Tante sehat. Tante cuma..." Mama melirik Tari. "Tante cuma lapar."
"Sebentar lagi ikannya datang, Bu," ucap Akbar dari ujung meja, tersenyum sopan ke arah Mama.
"Terima kasih, Nak Akbar." Jawaban Mama datar, tetapi sopan, dan Tari tahu ibunya menahan sesuatu yang sangat besar di balik gigi.
"Mas Akbar sering ke sini?" tanya Kino.
"Baru dua kali, Mas. Yang pertama waktu survei tempat." Akbar menunduk pada gelasnya. "Saya suka ikan bakar. Yang penting sambalnya."
"Sambalnya pedas?" tanya Nur. "Radit tidak bisa makan pedas, meskipun dia selalu pura-pura."
Seisi meja terkekeh, dan Tari ikut tersenyum karena ingat wajah merah Radit di warung bakso. Untuk sesaat, hanya sesaat, suasana terasa hampir biasa.
Lalu Tari melirik pintu untuk ketiga kalinya. Pukul lima lewat dua puluh. Belum ada Radit.
"Nak Tari," bisik Nur, "Radit kirim pesan ke kamu?"
"Sudah, Bu. Katanya keretanya terlambat."
"Ya sudah. Kita tunggu. Ikannya biar anget dulu." Nur menepuk punggung tangan Tari lagi. "Kamu kelihatan tegang. Gak apa-apa, Nak. Orang tua Nak Akbar sudah datang dari tadi, Ibu sudah bersalaman. Bapaknya duduk di dekat dinding sana, kakinya kurang kuat, jadi tidak ikut ke meja besar. Ibunya katanya sedang ke belakang sebentar."
Tari menatap Nur dan merasa meja di depannya bergeser setengah senti. "Ibunya Akbar... sedang ke belakang?"
"Iya, ke toilet. Orangnya hangat sekali, Nak. Nanti kamu juga suka."
Kata toilet itu berdengung di telinga Tari. Ia menatap lorong sempit di dekat sekat bambu, tempat tadi ia melihat tongkat dan laki-laki berambut putih. Lalu dari arah lorong itu, tepat ketika Danu bertanya apakah ikannya bisa dibuatkan sambal terpisah, muncul seorang perempuan paruh baya berjilbab hijau lumut. Ia melangkah sambil mengelap tangan dengan tisu, dengan kacamata yang bergeser di hidung dan senyum yang seolah sudah siap dibagikan kepada siapa pun yang pertama ia temui. Wajahnya bulat dan hangat, dan matanya yang kecil menyipit bulan sabit ketika tersenyum. Mata yang Tari kenal dari laki-laki yang duduk di ujung meja.
Akbar sudah setengah berdiri.
"Ibu..."
Perempuan itu tidak mendengar. Ia melangkah ke arah meja, matanya menyapu satu per satu wajah di sekelilingnya, lalu berhenti pada seseorang yang mengenakan gamis biru tua dan kerudung abu-abu. Tisu di tangannya terjatuh. Mulutnya terbuka sedikit.
"Tari?" bisiknya, lalu lebih keras dan lebih gemetar, "Ya Allah, Tari!"