Senin sore, Tari pulang dari bank lebih cepat dari biasa, dan Mama sedang menjemur handuk di teras belakang ketika ia menarik lengan ibunya masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Tari, handuknya belum..."
"Ma, duduk."
Mama menatap wajah anaknya, membaca sesuatu di sana yang membuat senyum jahilnya padam, lalu menaruh keranjang jemuran di lantai dengan gerakan yang jauh lebih pelan dari biasanya. Ia duduk di tepi kasur. Tari duduk di sebelahnya, sambil meremas ujung kerudung yang belum sempat dilepas.
"Ma. Aku mau cerita semuanya. Dari awal. Tolong jangan potong dulu sampai selesai."
"Mama gak potong."
"Ma."
"Iya, iya. Mama diam."
Tari bercerita. Tentang Akbar yang bukan sekadar mantan, melainkan laki-laki yang dua tahun menemaninya, yang dulu menjemputnya di depan kos dengan helm cadangan berstiker kartun. Tentang pemutusan hampir empat tahun lalu, tentang kata bosan, tentang blokir. Tentang festival yang ternyata dihadiri Akbar sebagai pemilik Chasanah Batik, tentang negosiasi di stand, tentang kalimat "kami tidak pernah kenal" yang keluar dari dua mulut di depan Radit. Tentang empat pertemuan yang Akbar sebut isyarat. Tentang buku harian dan kalimat tiga baris di tengah halaman.
Ia tidak menyisipkan pembelaan. Ia menceritakan bagian yang memalukan, seperti saat ia sendiri yang meminta Akbar merahasiakan semuanya. Ia bercerita sampai tenggorokannya kering, dan sepanjang itu Mama tidak sekali pun memotong. Wajahnya perlahan berubah. Bukan marah, bukan membelalak, melainkan seperti perempuan yang melihat air naik pelan di lantai dan baru sadar rumahnya sudah tergenang sejak tadi.
"Jadi," Mama bersuara akhirnya, hampir tak terdengar. "Yang duduk di meja baru hari Sabtu itu. Yang Mama kasih ayam goreng."
"Iya, Ma."
"Yang Mama bilang batiknya luntur."
"Iya."
"Ya Allah, Tari." Mama menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Mama ngasih ayam ke mantan kamu."
"Ma, bukan itu intinya."
"Terus, Radit tahu?" Mama menurunkan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi Tari sadar itu bukan karena marah. "Belum? Ya Allah. Nak, Mama takut. Bukan Mama marah, Mama takut. Dari kemarin Mama bilang calon suami, calon menantu, Mama sudah telepon Nur lima kali, Mama sudah bilang sama tetangga. Kalau Radit pergi..." Suaranya pecah. "Mama yang bikin semua ini, Tari. Mama yang telepon Nur pertama kali setelah lima belas tahun."
"Ma, bukan salah Mama."
"Mama gak sedang mencari siapa yang salah. Mama ingat waktu kamu pulang dulu, kamu diam dua hari di kamar, Mama ketuk gak dibuka, Mama taruh nasi di depan pintu dan nasinya masih utuh." Mama menarik kepala Tari ke bahunya, jemari yang kasar karena cucian mengusap kerudung putrinya perlahan. "Mama cuma takut anak Mama kehilangan orang baik karena takut."
Tari menahan tangis. Ia sudah menahan sejak Minggu, dan bahu Mama yang berbau deterjen dan minyak kayu putih terasa seperti satu-satunya tempat di dunia yang tidak menuntut apa pun.
°°°°
Papa pulang pukul tujuh malam dan mendapati ruang tengah yang aneh. Mama duduk di sofa dengan teh yang sudah dingin, Arif berdiri di pintu dapur dengan wajah kebingungan, dan Tari duduk di karpet sambil memeluk bantal.
"Ada apa ini? Siapa yang meninggal?"
"Belum ada, Pa," jawab Arif cepat. "Tapi suasananya sudah mirip."
"Arif, ke kamar."
"Tapi aku..."
"Kamar."
Arif menghilang. Papa melepas jaketnya, menggantungnya dengan tenang, dan duduk di kursi dekat jendela. "Tari. Papa sudah dengar separuhnya di teras waktu itu. Mau Papa dengar sisanya sekarang?"
Tari bercerita untuk kedua kalinya, lebih ringkas. Papa mendengarkan dengan tangan terlipat, sesekali mengusap dagu. Ketika ia sampai pada bagian buku harian, Papa menoleh kepada Mama, lalu kembali pada Tari. Pada bagian kebohongan di festival, ia hanya memejamkan mata, sebentar, seperti orang yang menerima kabar buruk yang sudah ia duga.
"Radit minta bicara Sabtu, tatap muka," kata Tari menutup ceritanya. "Dia bilang mau dengar dengan telinga penuh. Aku ingin kirim semuanya sekarang lewat pesan, Pa. Biar dia sempat memikirkan..."
"Jangan." Suara Papa tidak keras, tapi jelas. "Hormati permintaannya. Orang yang berkata mau mendengar dengan telinga penuh sedang memberimu sesuatu, bukan menolakmu. Kalau kamu menumpahkan semuanya lewat layar sementara dia di luar kota dengan ponsel yang dititipkan, kamu bukan menolong dia. Kamu menolong dirimu supaya cepat lega."
Kata-kata itu menusuk, tapi Tari tahu Papa benar.
"Tapi," Papa melanjutkan, melunak, "kabari dia bahwa Sabtu kamu siap. Satu kalimat. Supaya dia tidak membawa pertanyaan itu sendirian selama di perjalanan."
Tari mengangguk. Tangannya sudah merogoh ponsel di saku. Dengan jari yang agak gemetar, ia mengetik di bawah tatapan Papa dan Mama.
Lestari Ayu: Mas, Sabtu aku cerita semuanya, lengkap. Aku janji.
"Kirim," kata Papa.
Ia menekan tombol. Di bawah pesan itu muncul tanda centang abu-abu. Satu.
°°°°
Selasa pagi, centang itu masih satu. Tari memeriksanya di lampu merah, di kamar mandi bank, dan di musala sambil berpura-pura membaca doa. Rabu, masih satu. Ia mengingatkan dirinya bahwa Radit sudah bilang ponselnya dititipkan selama rapat berturut-turut, dan menjelaskan dua kali kepada Gita yang menatapnya dengan alis terangkat.
"Dia gak marah, Mbak. Dia lagi di luar kota."
"Aku gak bilang dia marah."
"Mbak lihatin hapeku."
"Karena kamu lihatin hapeku sendiri tiap sepuluh menit." Gita menyodorkan sepotong kue lapis dari kotaknya. "Makan. Sabtu masih jauh."
Selasa malam, ponsel Mama berbunyi di meja makan dan layarnya menampilkan satu nama: Besan. Mama menatap benda itu seperti menatap ular yang tiba-tiba muncul di bawah kursi.
"Ma," bisik Tari, "jangan bilang apa-apa."
"Mama gak bakal bilang."
"Ma, Mama itu kalau bohong telinganya gerak."
"Telinga Mama gak gerak."
"Gerak, Ma. Sekarang."
Mama memegangi kedua telinganya dengan tangan kiri, mengambil ponsel dengan tangan kanan, dan mengangkatnya dengan suara satu oktaf lebih tinggi. "Halo, Besan! Iya, iya, sehat. Gak, gak ada apa-apa. Gimana, mejanya? Iya, bagus ya. Hah? Radit di luar kota? Oh, iya, Tari bilang. Hujan di sini, Besan. Deras sekali. Iya, hujan." Ia menoleh ke jendela, tempat langit sedang cerah sekali. "Eh, sudah dulu ya, kompor Mama... maksudnya, Mama harus cuci piring. Assalamualaikum!"
Ia menutup telepon, menaruhnya terbalik di meja, dan menatap Tari dengan wajah pucat penuh kemenangan. "Mama hebat, kan?"
"Hujan, Ma?"
"Namanya juga strategi."
Arif, yang mengintip dari pintu, mengangkat jempol tanpa suara, dan Papa menutup koran dengan tenang seolah tidak ingin berkomentar.
Rabu malam, Tari tidur dengan ponsel di bawah bantal. Ia terbangun pukul tiga lewat sepuluh, sebelum alarm tahajud yang biasa ia pasang, dengan perasaan seperti seseorang membangunkannya dengan menepuk bahu. Lampu kamar masih padam. Ponselnya bergetar sekali, pelan.
Raditya Hermanto: Maaf baru terbalas. Ponsel baru kembali ke saya dini hari ini, lokasi rapat tanpa sinyal dan staf menyimpannya.
Pesan kedua masuk sebelum ia sempat menarik napas.
Raditya Hermanto: Sabtu. Setelah acara.
Tari membaca dua baris itu berulang-ulang dalam gelap, dengan cahaya layar menerangi wajahnya yang basah. Ia tidak tahu kapan air matanya mulai jatuh. Lalu ia bangkit, mengambil wudu, dan menggelar sajadah.