Pesan Radit masuk Minggu sore, ketika Tari sedang melipat mukena dan Mama sedang menceritakan untuk keenam kalinya bagaimana wajah Nur berubah merah saat ia berteriak "lamaran" di dapur.
Raditya Hermanto: Malam ini, pukul tujuh, warung bakso dekat rumah Ibu. Danu dan Arif ikut. Kita bicara di sana, di meja yang terbuka.
Lestari Ayu: Warung bakso?
Raditya Hermanto: Supaya tidak ada yang bisa bilang kita berdua saja. Dan supaya saya punya alasan menghabiskan satu mangkuk bakso sebelum mendengar apa pun.
Tari menatap pesan terakhir itu dan tersenyum, sebelum ingat apa yang akan ia ceritakan. Ia mengetik, Insyaallah, lalu mengirim.
Mama menyadari sesuatu dari balik pintu kamar. "Kamu pakai bedak? Ke warung bakso?"
"Cuma bedak tipis, Ma."
"Tipis atau tebal, kalau orang pakai bedak ke warung bakso, itu namanya niat."
"Ada Arif sama Danu, Ma."
"Mama tahu. Mama cuma mau bilang, kalau nanti Radit pegang tangan kamu pas bayar, jangan kaget. Itu normal." Mama melirik Papa yang tersenyum dari sofa. "Eh, tidak boleh, ya. Belum. Pegang kantong saja."
"Ma!"
Warung itu kecil, hanya tujuh meja plastik di bawah tenda terpal biru, dengan lampu neon yang berdengung dan penjual yang memukul mangkuk dengan irama seperti drum. Danu dan Arif sudah duduk di meja sebelah dengan dua mangkuk di depan mereka, dan begitu melihat Tari, mereka langsung mengangkat sendok seperti dua pendukung tim yang menyambut pemain.
"Mbak Tari! Kita duduk di sini aja, biar jelas siapa yang jadi saksi!"
"Danu, kamu itu pengawas, bukan wasit," tegur Radit, yang sudah duduk di meja ujung dengan punggung lurus. Di depannya sudah ada dua mangkuk bakso dan sebotol sambal merah.
Tari duduk di seberangnya, memilih bangku yang menghadap Danu dan Arif supaya ada dua pasang mata yang bisa ia tuduh kalau terjadi sesuatu. Radit mengatupkan tangan sebentar sebagai sapaan, lalu mengambil sendok.
"Saya pesan yang biasa. Kamu mau tambah kuah?"
"Cukup, Mas."
Mereka makan beberapa suap dalam diam. Dari meja sebelah terdengar bisikan Arif yang tidak bisa disebut bisikan: "Mas Radit gak ngomong apa-apa, Nu. Mukanya kayak orang mau sidang."
"Diam, nanti kita diusir."
Radit menuang sambal ke mangkuknya. Satu sendok, lalu dua, lalu tiga. Tari memperhatikan dengan mata menyipit.
"Mas, itu banyak sekali."
"Saya suka pedas."
"Mas, itu bukan suka pedas. Itu mau menghukum diri."
"Tidak." Radit menyuap kuah dengan sendok penuh. Dua detik kemudian wajahnya berubah merah, lalu merah tua, lalu matanya berair, dan dengan gerakan kaku ia menaruh sendok. "Saya... baik-baik saja."
"Mas Radit nangis!" seru Danu dengan suara yang bisa terdengar sampai tukang parkir.
"Saya tidak menangis. Mata saya hanya... bereaksi."
Arif terbahak sampai kursi plastiknya berderit. Tari menutup mulut dengan tangan, bahunya terguncang. Penjual bakso menyodorkan segelas teh es dengan wajah iba, dan Radit menenggaknya setengah, lalu mengelap mata dengan tisu sambil menatap sambal dengan dendam pribadi.
"Maaf," katanya akhirnya. "Saya hanya ingin terlihat lebih tangguh daripada kenyataannya."
"Mas tidak perlu tangguh di depan Tari," ucap Tari tanpa pikir, dan ia sendiri kaget mendengarnya.
Radit membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menunduk pada mangkuknya yang sudah dingin. Telinganya merah, kali ini bukan karena sambal. "Terima kasih," katanya, nyaris tak terdengar. Lalu, seperti orang yang mencari pijakan di tanah licin, ia menambahkan, "Oh iya. Ibu Mas Akbar menelepon saya kemarin sore. Orangnya hangat sekali, suaranya seperti Ibu saya kalau sedang senang. Beliau bilang sudah lama ingin mengucapkan terima kasih langsung, jadi Sabtu depan itu tidak bisa ditawar."
Sendok di tangan Tari terasa lebih berat dari semestinya. Ibu Akbar. Ibu yang entah bagaimana tahu begitu banyak, dan sebentar lagi akan bertatap muka dengan Radit, dengan Tari.
"Kamu kenapa?" tanya Radit.
"Gak apa-apa, Mas. Kuahnya panas."
Radit menatapnya. Matanya masih merah, tetapi sorotnya jernih, dan ada yang lembut di sana.
°°°°
Tari menunggu sampai teh es kedua tiba dan Danu serta Arif kembali sibuk berebut kerupuk. Lalu ia mengatur napas.
"Mas. Boleh aku tanya sesuatu? Pengandaian saja."
"Silakan."
"Kalau seseorang berbohong. Kecil. Bukan karena mau menyakiti, tapi karena takut. Dan waktu itu dia pikir lebih mudah diam." Tari memainkan sendok di mangkuknya. "Apakah itu bisa dimaafkan?"
Radit tidak langsung menjawab. Ia menaruh sendok, melipat tangan di atas meja, dan memandang kuah bakso yang tinggal separuh seolah jawabannya ada di sana.
"Bisa," ujarnya akhirnya. "Tapi kebohongan kecil itu pintu, Tari. Kecil, lalu menjadi alasan untuk berbohong lagi, lalu lagi. Saya tidak takut pada kesalahan. Saya takut pada pintu yang dibiarkan terbuka." Ia memandangnya lurus. "Saya lebih suka diberi tahu sambil takut daripada menemukan sendiri."
Kalimat itu mendarat di dada Tari seperti paku yang ditancapkan perlahan. Ia mengangguk tanpa suara. Lalu, sebelum rasa takutnya sempat mengambil alih mulutnya lagi, ia berkata,
"Mas, soal Akbar. Ada yang belum kuceritakan."
Sendok di meja sebelah berhenti berbunyi. Danu dan Arif mendadak diam seolah ada yang menekan tombol jeda.
Radit tidak bergerak. Ia hanya memandang Tari, dan untuk sesaat Tari melihat sesuatu melintas di wajahnya, bukan marah, bukan curiga, tetapi seperti orang yang menyiapkan diri sebelum menerima paket yang tidak ia tahu isinya.
"Tari." Suaranya rendah, hati-hati. "Saya senang kamu mengatakannya. Sungguh. Tapi izinkan saya menunda."
"Menunda?"
"Saya mau mendengar semuanya dengan telinga penuh, bukan sambil makan bakso dengan dua adik menguping." Ia melirik meja sebelah, dan Danu cepat-cepat menjejalkan kerupuk ke mulut. "Dan jujur, saya takut. Saya takut mendengarnya terburu-buru, lalu menjawab dengan kalimat yang saya sesali."
"Mas takut?"
"Iya. Saya takut mendengarnya sambil terburu-buru, lalu salah menanggapi." Ia tersenyum tipis, matanya masih sedikit basah. "Sekarang saya bilang."
Tari memejamkan mata sebentar. Ada lega dan rasa bersalah yang menggulung bersamaan, seperti ombak yang tidak mau memilih arah.
"Kapan, Mas?"
"Ada satu hal yang harus saya katakan lebih dulu." Radit menegakkan punggung. "Besok subuh saya berangkat ke luar kota. Klien lain di luar Berkah, sudah dijadwalkan sebelum kabar luntur. Saya baru pulang Sabtu pagi."
"Sabtu... acara traktiran."
"Ya. Saya minta kita bicara Sabtu, setelah acara. Hanya kita berdua, dengan Arif duduk di ujung ruangan. Pintu terbuka, tidak ada yang bisa mengganggu." Ia menatapnya. "Apakah itu bisa, Tari?"
Lima hari. Tari menghitung dalam hati, dan hitungan itu terdengar seperti jarak yang sangat panjang. Namun ia juga tahu yang meminta penundaan kali ini bukan dirinya.
"Bisa, Mas."
"Terima kasih." Radit menarik napas lega. "Satu hal lagi, supaya jelas. Selama saya pergi, ponsel saya sering dititipkan ke staf selama rapat. Kalau pesan kamu terlambat saya balas, itu bukan karena marah. Itu karena rapat."
"Aku mengerti."
"Saya ingin kamu percaya itu."
"Aku akan percaya," jawab Tari pelan, dan kata itu terasa seperti sesuatu yang ia pinjam dari orang lain.
°°°°
Perjalanan pulang naik motor terasa panjang. Arif tidak berkata apa-apa sampai lampu merah pertama, dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya tidak seusil biasanya.
"Kak. Aku gak tahu Kakak mau cerita apa. Tapi tadi waktu Mas Radit bilang 'saya takut', aku pikir itu orang paling jujur yang pernah aku temui."
"Iya, Rif."
"Jadi Kakak harus lebih jujur lagi."
Tari tidak menjawab. Lampu berubah hijau, dan ia menarik gas pelan.
"Sebelum Sabtu, Kak," tambah Arif dari belakang, lebih keras karena angin. "Bukan sesudahnya."