Truk kecil itu masuk ke gang perumahan pukul sebelas kurang lima, dan Danu, yang sudah berdiri di gerbang sejak sepuluh pagi dengan alasan mengawasi lalu lintas, berlari ke dalam rumah sambil berteriak seperti orang yang baru melihat kapal selam muncul.
"Mas! Mejanya datang! Tiga orang bawa, satu orang ngomel!"
"Yang ngomel itu pasti sopirnya," sahut Arif dari ruang tamu, tempat ia duduk bersila di lantai sambil menyisir foto-foto di ponsel. "Mas Radit, aku catat jam datangnya. Buat bukti."
"Bukti untuk apa?" tanya Radit dari dapur.
"Buat Mama. Mama bilang kalau meja telat, aku suruh minta diskon."
Tari berdiri di ambang pintu depan, menunggu pintu ruang tamu agar tetap terbuka seperti perintah Papa. Pagi itu rumah Radit terasa berbeda dari pertama kali ia melihatnya lewat foto. Cat putih bersihnya baru, lantai keramiknya mengilap, dan wangi pel pinus masih tersisa di sudut-sudut. Rumah itu bukan lagi gambar di layar, melainkan tempat nyata dengan jendela besar dan halaman kecil yang rumputnya dipotong terlalu pendek, seperti baru disiapkan untuk ujian.
Tiga orang pengantar mengangkat meja jati itu melewati pintu miring, dengan Radit memberi aba-aba seperti dirigen dan Danu membawa selembar kain pelindung kaki meja. Nur berdiri di tengah ruangan dengan celemek, memandang perabot itu masuk seperti memandang cucu pertama masuk ke rumah. Mama, yang datang bersama Tari dan Arif naik taksi daring, sudah mengambil alih posisi di dapur dengan kecepatan yang mengesankan.
"Pelan-pelan, Mas! Itu kayu jati, bukan karung beras!"
"Siap, Bu!"
"Jangan panggil saya Bu, saya masih muda."
"Siap, Tante!"
"Tante juga belum!"
Meja itu akhirnya mendarat di sudut dapur yang selama ini kosong, di bawah jendela yang menghadap halaman belakang. Keenam kursinya dijajarkan rapi. Radit berdiri di sampingnya dengan tangan di pinggang dan napas tersengal, memandang meja itu sebentar. Bibirnya bergerak, tapi tak ada suara.
"Mas?" Tari mendekat sampai batas pintu dapur, tidak melewatinya. "Mas baik-baik saja?"
"Saya baik." Radit mengusap wajahnya dengan punggung tangan. "Saya cuma... ini rumah yang saya beli dengan harapan. Sudah lama dapurnya kosong dan sunyi, dan sekarang..." Ia mengelus permukaan meja dengan hati-hati, seperti menyentuh kulit bayi. "Sekarang ada yang akan makan di sini."
"Siapa?" tanya Danu polos.
"Kita semua," sahut Radit cepat. "Pertama-tama kita."
Mama dan Nur bertukar pandang dengan senyum bersekongkol.
Sambil menunggu masakan matang, Radit mengajak semua berkeliling sebentar, dengan Arif dan Danu berjalan di depan sebagai pemandu tidak resmi. Ruang tamunya hanya berisi sofa abu dan satu rak buku yang separuh kosong. Teras belakangnya menghadap sepetak halaman dengan pohon jambu muda yang masih ditopang bambu. Pintu-pintu kamar tetap tertutup, dan Radit tidak membuka satu pun, hanya berkata pelan bahwa yang lain "belum siap dilihat siapa-siapa". Tari merasa lega dengan kalimat itu tanpa tahu mengapa.
"Ini jambu apa, Mas?" tanya Arif.
"Jambu kristal. Penjual bibitnya bilang berbuah dalam setahun."
"Setahun? Mas udah rencana setahun di sini?"
"Saya rencana seumur hidup," sahut Radit datar, dan menyadari kalimatnya telat dua detik. "Maksud saya, rumahnya. Bukan jambunya."
Danu tertawa begitu keras sampai burung di pohon sebelah terbang.
°°°°
Pukul dua belas kurang, ketika nasi liwet buatan Nur sudah mengepul dan Mama sedang sibuk mengatur piring, terdengar suara mobil berhenti di depan pagar. Tari sedang mengambil serbet dari lemari ketika ia mendengar suara yang langsung membuat tangannya membeku.
"Assalamualaikum. Mas Radit?"
Radit keluar dari dapur sambil mengelap tangan. "Waalaikumsalam. Mas Akbar, masuk, masuk. Maaf, saya merepotkan di hari Sabtu."
"Tidak apa-apa, Mas. Saya cuma mengantar sampel kainnya." Akbar melangkah ke ruang tamu dengan tas kertas besar di tangan. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana kain gelap, rambutnya rapi, dan wajahnya tersenyum sopan. Hanya tubuhnya yang terlambat memperlihatkan keterkejutan. Ketika matanya menemukan Tari yang berdiri di ujung lorong dapur, langkahnya berhenti setengah ketukan.
Hanya setengah ketukan. Lalu ia menunduk sedikit ke arah semua perempuan di ruangan, termasuk Tari, dengan tatapan yang tidak singgah lama. "Maaf, saya tidak tahu sedang ada acara keluarga."
"Bukan acara, hanya menata meja," ujar Radit. "Ibu, Tante Melati, ini Mas Akbar. Klien kami dari Chasanah Batik."
"Oh, yang batiknya luntur itu?" Mama menoleh dengan serbet di bahu. Nur langsung menyikut lengan sahabat lamanya itu, dan Mama buru-buru menambahkan, "Eh, maksud saya, aduh, saya tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa, Tante." Akbar tertawa pendek, dan tawa itu terdengar hampir tulus. "Memang batik saya yang luntur. Sudah saya perbaiki."
"Mas Akbar, duduk dulu," ajak Radit, menunjuk meja baru. "Meja ini belum ada yang memakai sama sekali. Anggap saja Mas tamu pertamanya."
Tari merasakan lantai di bawah kakinya seperti turun beberapa senti.
"Saya cuma sebentar, Mas..."
"Nasi liwet Ibu belum ada tandingannya. Silakan." Radit menarik kursi dengan tangannya sendiri.
Akbar memandang kursi itu sebentar, lalu duduk, dengan punggung tegak dan tangan terlipat di pangkuan seperti anak sekolah yang dipanggil kepala sekolah. Ia tidak sekali pun menoleh ke Tari. Tangannya menyendok nasi seperlunya, dan ketika Nur menawarkan tambahan, ia menjawab, "Cukup, Bu, terima kasih," dengan nada yang terlalu sopan untuk seorang laki-laki yang biasanya paling ribut di setiap ruangan. Dan justru karena itulah Tari tahu ia sedang menahan diri sekeras mungkin. Ia memegang serbet itu begitu erat sampai ujung kainnya kusut.
Danu meletakkan sepiring nasi liwet di depan Akbar. "Silakan, Mas. Ayam gorengnya Ibu spesial."
"Terima kasih, Dik."
Radit tidak ikut duduk. Ia berdiri di dekat kepala meja, memandang semua orang di dapur, lalu berdeham seperti hendak menyampaikan pengumuman sidang.
"Mumpung semua ada," ujarnya. "Mas Akbar, saya ingin menyampaikan undangan. Sabtu depan, Mas bilang ingin mentraktir tim di restoran ikan bakar. Ibu Mas Akbar ingin bertemu keluarga Berkah." Ia memandang Tari sekilas. "Dan calon istri saya. Saya sudah menyanggupi atas nama kami berdua, kalau Tari bersedia."
"Bersedia," jawab Tari reflek. Suaranya hampir tak keluar.
"Alhamdulillah!" Mama bertepuk tangan. "Calon istri! Nur, dia bilang calon istri!"
"Aku dengar, Besan."
Akbar menatap piringnya. "Terima kasih, Mas. Ibu pasti senang."
Radit tersenyum, lalu menoleh pada Tari dengan alis sedikit terangkat. "Tadi kamu mau cerita apa, Tari? Teh-nya sudah siap."
Semua mata di dapur berpindah kepadanya. Mama, Nur, Danu, Arif. Dan satu pasang mata yang tidak mengangkat kepala dari piring, tetapi telinganya tahu.
"Mas." Tari menelan ludah. "Bukan di depan semua orang."
Wajah Radit sempat berubah, tidak kecewa, hanya paham. "Baik."
"Besok. Aku janji."
"Besok?" Mama mengangkat kepala seperti anjing pelacak mencium bau. "Ada apa besok? Kenapa besok? Tari, ada acara besok yang Mama tidak tahu? Lamaran?"
"Ma..."
"Lamaran?" Nur ikut berseru, dengan mata berbinar.
Radit menutup mata sejenak. Di ujung meja, Danu terbahak sampai harus memegang kursi, sedangkan Akbar, yang sejak tadi tidak mengangkat wajah, mendadak berdiri dan membawa piringnya yang masih penuh ke bak cuci.
"Maaf, Mas. Saya pamit, tolong sampel di tas itu diperiksa sebelum Senin." Ia menunduk kepada Nur dan Mama. "Terima kasih makanannya, Ibu-Ibu. Maaf mengganggu."
Ia lewat di dekat pintu dapur tanpa berhenti, tanpa melirik, dan jarak antara kakinya dan sepatu Tari tetap lebih dari semeter. Tari baru sadar napasnya tertahan ketika bunyi mobil di luar sudah menjauh.