Pak Dirman adalah orang pertama di bank yang melihat Akbar masuk Selasa pagi itu, dan ia langsung berdiri dari kursinya seperti kucing yang mencium tamu tak diundang.
"Selamat pagi, Pak," sapa Pak Dirman dengan nada yang lebih rendah dua tingkat dari biasanya. "Mau ke mana?"
"Teller, Pak. Mau menyetor." Akbar mengangkat tas kertas cokelat yang dibawanya, lalu membukanya sedikit supaya terlihat bundelan uang di dalam dan slip setoran yang sudah diisi. "Hasil penjualan akhir pekan. Saya tidak ke bagian lain."
Pak Dirman memeriksa isi tas itu, memeriksa wajah Akbar, lalu memeriksa tas itu lagi. "Silakan. Antre di sana, Pak."
Tari sudah bersiap sejak membuka loket. Kemarin malam ia menyiapkan diri jika Akbar mengirim pesan lagi, dan hasil persiapannya hanya satu kalimat yang terus diulang di kepala: jangan lebih dari yang perlu. Dari meja CS 02, ia menyaksikan semuanya lewat sudut matanya. Akbar mengambil nomor antrean, duduk di kursi paling dekat pintu, dan tidak menoleh sekali pun ke arah mejanya. Tangannya bertumpu di lutut. Kacamata hitam yang biasa nongol di saku kemejanya kini absen, dan senyum yang dibentuk untuk ditonton pun tak kelihatan. Ia terlihat seperti orang yang baru belajar menjadi biasa.
"Dia bener-bener antre," bisik Gita dari meja sebelah. "Aku sampai kecewa. Aku sudah siap marah."
"Mbak Gita."
"Aku diam."
Namun diam Gita hanya bertahan sampai nomor antrean Akbar dipanggil. Pria itu menyetor, menerima struk, mengucapkan terima kasih kepada petugas Teller dengan sopan, lalu berdiri di dekat tiang tanpa bergerak lebih jauh. Ponsel Tari bergetar di dalam laci beberapa detik kemudian.
Akbar Fajriansyah: Tar, boleh lima menit? Di ruang tunggu saja, yang ramai. Kalau tidak mau, aku langsung pulang dan tidak akan mengirim apa pun lagi hari ini.
Tari membaca pesan itu dua kali, dan menyadari ia sudah menahan napas sejak kata pertama. Gita sedang pura-pura mengisi formulir, tapi telinganya miring ke arah Tari seperti antena.
"Mbak," kata Tari pelan, "kalau aku ke ruang tunggu, Mbak lihat dari sini, ya?"
"Aku bakal lihat dari tiga meter kalau perlu." Gita menggeser kursinya. "Lima menit. Aku hitung."
°°°°
Ruang tunggu Selasa pagi hampir penuh, dengan kipas angin yang berputar malas di langit-langit dan televisi yang menayangkan berita harga cabai. Seorang bapak sedang membaca koran dengan suara napas yang terdengar, dua ibu membahas harga beras, dan seorang anak laki-laki duduk di lantai bermain mobil-mobilan. Tari memilih kursi di ujung baris, dengan satu kursi kosong di sebelahnya. Akbar tidak menempatinya. Ia berdiri dua langkah dari situ, dengan tangan di saku.
"Terima kasih sudah mau, Tar."
"Lima menit, Bar."
"Siap." Akbar mengangguk, lalu menarik napas. "Dua hal. Yang pertama, kabar dari Bandung. Hasil laboratorium keluar kemarin sore. Pewarnanya memang penyebabnya, dan Mas Radit menolak semua tawaran saya untuk membayar uji lab itu. Katanya perhitungan akhir nanti. Aku gak tahu harus bilang apa. Bapak sampai berkata, kenapa ada orang sebaik itu mau repot-repot dengan kain orang lain."
"Bilang saja ke dia."
"Sudah. Tapi dia cuma bilang, 'Perbaiki dulu, baru kita bicara.'" Akbar tertawa pendek, serak. "Orang itu... Aku pikir dulu aku orang yang keras kepala. Ternyata ada yang lebih keras, tapi pakai kemeja rapi."
Kata Bapak itu menggantung di udara, dan Tari memilih tidak menyentuhnya. Ia tidak tertawa. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit, dan ia membenci hal itu.
"Yang kedua?"
"Sabtu depannya lagi," ucap Akbar, memilih kata dengan hati-hati. "Aku mau mentraktir tim Berkah dan Mas Radit di sebuah restoran ikan bakar. Sebagai terima kasih. Dan ibuku datang dari Bandung untuk bertemu mereka."
Napas Tari tersangkut di tengah. "Ibumu..."
"Dan Bapak. Mereka mau mengucapkan terima kasih langsung. Aku sudah bilang ini bukan acara untukmu. Tapi Radit pasti akan mengajakmu, karena dia baik, dan dia ingin kamu ada." Akbar menatap lantai. "Aku tidak ingin kamu terkejut di sana."
"Aku tidak akan terkejut." Suara Tari keluar lebih tegas dari yang ia kira. "Aku sendiri yang akan bilang ke Radit, sebelum acara itu."
Untuk beberapa saat, Akbar hanya memandangnya. Kilat tebar pesona itu hilang, begitu pula lesung pipi yang disengaja.
"Itu hakmu," ujarnya akhirnya. "Aku bukan orang yang berhak menyuruhmu kapan. Cuma satu hal yang bisa kulakukan, aku akan mengingatkan Ibu untuk menjaga mulutnya. Dia orang yang hangat, Tar. Terlalu hangat. Kalau lagi senang, apa pun keluar."
"Tolong betul-betul diingatkan."
"Dua kali. Tiga kali kalau perlu."
"Satu hal lagi." Tari menyatukan kedua tangannya di pangkuan supaya tidak terlihat gemetar. "Kalau mau menyampaikan sesuatu, lewat pesan, Bar. Kamu datang ke sini cuma boleh buat transaksi. Aku gak mau Pak Dirman ikut jadi saksi tiap Selasa."
"Aku memang harus menyetor tiap pekan, Tar, itu urusan Berkah dan Chasanah." Akbar menggaruk tengkuk, lalu buru-buru menurunkan tangan seolah takut gerakan itu terbaca sebagai gaya. "Tapi baik. Hanya pesan, dan hanya kalau penting. Kalau kamu tidak membalas, aku anggap tidak."
"Terima kasih."
"Jangan terima kasih. Itu cuma yang seharusnya sejak dulu."
Kalimat itu membuat Tari menatapnya lebih lama daripada niatnya.
Tari mengangguk sekali. Ia mengira percakapan sudah selesai, dan separuh dirinya bahkan bersiap berdiri, ketika Akbar menambahkan dengan nada sangat pelan.
"Ibu juga menitip salam. Beliau selalu menanyakan kabarmu."
Kalimat itu menusuk dengan cara yang tidak disangka. Tari teringat halaman buku harian, teringat cerita Akbar di kafe tentang Bapak dan Ibu dan rumah di Bandung yang tidak pernah ia lihat, dan teringat bahwa ada dua orang yang menyebut namanya di rumah yang jauh itu, entah dengan senyum, entah dengan rasa kasihan. Ia hampir bertanya, bagaimana kabar Bapak. Pertanyaan itu sudah sampai di ujung lidah.
Tapi ia tahu, begitu ia mengucapkannya, pintu yang selama ini ia kunci akan terbuka sendirian.
"Cukup, Bar."
Akbar langsung terdiam. Ia tidak membantah dan tidak meminta maaf berbelit-belit. Ia mengangguk kecil, mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi.
"Baik. Terima kasih sudah memberi lima menit." Ia menunduk sedikit. "Aku pergi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Akbar berjalan ke pintu kaca tanpa menoleh. Pak Dirman membukakan pintu dengan pandangan yang masih curiga, dan sosok itu hilang di tengah cahaya pagi yang menyilaukan.
°°°°
"Tiga menit empat puluh detik," lapor Gita begitu Tari kembali ke meja CS. "Kurang sedikit dari jatah. Itu menurutku nilai plus."
"Mbak..."
"Aku juga lihat tadi kamu hampir nanya sesuatu." Gita menyorongkan segelas air putih dari mejanya. "Aku gak tahu kamu mau nanya apa. Tapi kamu menahannya. Aku cuma mau bilang, itu keputusan yang sah."
Tari menenggak air itu sampai habis, lalu menaruh gelasnya terlalu keras di meja. Dari lima menit tadi, yang paling ia ingat justru kalimat Akbar tentang Bapak dan orang sebaik Radit, dan itu tidak ia sukai sama sekali. Tangannya agak gemetar, dan ia berharap Gita tidak memperhatikan hal yang satu itu.
Pak Fero lewat sebentar dengan map di tangan dan alis terangkat. "Tari, tadi nasabah yang bicara di ruang tunggu itu ada masalah dengan produk kita?"
"Bukan, Pak. Urusan teman dari rekan."
"Oh, sudah selesai?"
"Sudah, Pak. Selesai." Tari tersenyum, dan Pak Fero, yang tahu kapan harus tidak bertanya lebih jauh, pergi sambil bersiul pelan.
Menjelang makan siang, ponselnya bergetar lagi. Kali ini namanya benar.
Raditya Hermanto: Meja kita sampai Sabtu pukul sebelas. Alamat sudah saya kirim. Ibu dan Danu akan ada. Saya menyiapkan teh, bukan kopi.
Lestari Ayu: Kenapa teh?
Raditya Hermanto: Karena kopi membuat orang berbicara terlalu cepat. Saya mau mendengar pelan-pelan.
Tari menaruh ponselnya di laci, lalu menekan tombol antrean. Nasabah berikutnya sudah menunggu, dan ia memanggilnya dengan suara yang hampir terlalu ceria.