Rumah Nur berdiri tepat di seberang rumah Radit, hanya terpisah jalan perumahan yang lebar dan satu pohon mangga yang daunnya berguguran sembarangan. Tari memarkir motor di depan pagar, dan tidak sempat melepas helm ketika Arif berbisik dari boncengan.
"Kak, motor bebek hijau itu motor Ibu Nur, kan? Yang Mas Radit bersihin tiap Jumat?"
"Rif, jangan nunjuk-nunjuk."
"Aku cuma konfirmasi. Namanya wawasan."
Dari halaman, terdengar bunyi air dan busa sabun. Radit berjongkok di samping motor itu, memakai kaus lengan pendek yang sudah basah di bagian depan, menggosok roda dengan sikat gigi bekas. Ia mendongak begitu mendengar suara mesin berhenti, lalu berdiri cepat dan mengelap tangannya pada celana.
"Assalamualaikum. Maaf, saya kotor. Jumat kemarin saya masih mengurus hasil dari Bandung, jadi jatah mencuci motor Ibu tertunda." Ia mengatupkan tangan dengan wajah malu. "Silakan masuk. Danu di dalam sedang pura-pura membantu."
"Aku bantu cuci, Mas!" Arif sudah melesat mengambil sikat sebelum dijawab. Radit hanya mengibaskan tangan, dan dari pintu yang terbuka lebar, Tari melihat keduanya berjongkok berdampingan di sisi motor, seperti dua tukang bengkel yang mendadak jadi akrab.
Di dalam, meja makan sudah penuh. Ada sayur lodeh, ayam goreng, tempe mendoan, sambal terasi, dan semangkuk besar kerupuk yang sudah dicomot separuh oleh Danu. Nur menarik kursi di sebelah kanannya untuk Tari, lalu memperkenalkan seorang perempuan yang berdiri bersedekap di dekat dapur.
"Nak Tari, ini Nisa. Nisa, ini Tari."
Perempuan itu sebaya dengan Tari, mungkin sedikit lebih muda, dengan wajah yang jelas-jelas adik Radit: mata belo, hidung mancung, dan sudut bibir yang sama. Bedanya, bila Radit tersenyum ragu-ragu, Nisa menatap lurus seperti penguji skripsi. Kerudungnya sederhana, rambut kecil di dahi diselipkan rapi, dan kedua tangannya bersedekap rapat.
"Assalamualaikum, Mbak Tari." Nisa mengatupkan tangan sedikit, sopan, tak lebih. "Maaf saya baru bisa menyapa. Kemarin saya sampai malam."
"Waalaikumsalam, Nisa. Kata Ibu kamu pulang dari luar kota?"
"Iya. Saya dengar banyak soal Mbak dari Ibu. Dan dari Danu. Danu bilang Mbak suka mengajukan seratus pertanyaan." Nisa menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Tari. "Boleh saya mengajukan satu?"
"Nisa," tegur Nur.
"Satu saja, Bu."
"Silakan," jawab Tari, dan ia sendiri heran suaranya terdengar tenang.
Nisa menyendok nasi tanpa menoleh. "Kenapa Mbak mau lanjut dengan Mas saya?"
Meja mendadak sunyi. Danu berhenti mengunyah kerupuk, dan di luar, bunyi sikat berhenti sebentar.
Tari menaruh sendoknya pelan. Ia memikirkan jawaban yang aman, tetapi di benaknya yang muncul justru Radit berjongkok di depan roda motor dengan sikat gigi bekas, dan Radit di sofa toko mebel yang berbisik, saya lebih suka mendengarnya dari kamu.
"Karena dia bilang 'saya salah' tanpa disuruh," katanya. "Dan karena dia tidak berpura-pura tahu semua jawaban."
Nisa mengangkat satu alis, lalu memiringkan kepala sedikit. Hanya sedikit. "Jawaban yang tidak buruk."
"Itu pujian," bisik Danu.
"Itu data," koreksi Nisa.
°°°°
Danu baru bisa memegang panggung setelah semua selesai makan. Ia berdiri di sisi meja, mengacungkan ponsel seperti memegang trofi.
"Pengumuman! Aku lolos tes tertulis. Bank yang minggu lalu itu. Nilainya di atas batas!"
"Alhamdulillah!" Nur langsung berdiri dan memeluk bungsunya dengan erat, sampai Danu mengaduh karena rangkulannya terlalu kuat. "Kamu ini... Ya Allah, Ibu pikir kamu cuma pintar bikin kopi."
"Itu juga pintar, Bu. Tapi ini berkat Mbak Tari." Danu menoleh pada Tari dengan mata berbinar. "Soal-soal deret yang Mbak bilang jangan dihafal, tapi dicari polanya, itu keluar tiga! Aku tinggal jawab sambil senyum. Peserta sebelahku sampai nengok-nengok kertasku."
"Kamu jangan sombong," tegur Nisa.
"Kan cuma lapor, Mbak Nisa."
Tari tersenyum, hangat sampai ke ujung mata. "Selamat, Danu. Itu karena kamu yang kerja keras. Aku cuma ngasih arah."
"Wawancaranya minggu depan. Mbak bantu latihan lagi, ya?"
"Tentu."
Nur menyeka sudut matanya dengan ujung kerudung. "Terima kasih, Nak Tari. Ibu tidak tahu harus membalas apa."
"Itu bukan apa-apa, Bu."
Tapi ucapan itu terasa seperti kerikil di sepatu. Setiap kali keluarga ini berterima kasih, ia merasa seperti sedang menerima sesuatu yang bukan miliknya.
°°°°
Sesudah makan, Tari membantu mencuci piring, meskipun Nur menolak dua kali. Dapur Nur sempit tapi hangat, dengan jendela yang menghadap halaman dan langsung menampakkan Radit dan Arif yang sedang membilas ban dengan selang. Pintu belakang terbuka, jadi tidak ada yang bisa berkata mereka berdua saja.
"Radit itu sejak kecil begini," kata Nur sambil mengelap piring. Suaranya lebih pelan, tapi tidak muram. "Terlalu rapi, terlalu jujur, kadang kaku. Dulu waktu ayahnya meninggal, Ibu pikir anak ini akan jadi pendiam seumur hidup. Ternyata ia memilih jadi orang yang menjaga."
Tari membilas gelas tanpa menyela.
"Kamu tahu, Nak, Radit itu bisa memaafkan hampir apa pun. Dibentak, ditunda bayarannya, dikecewakan, semuanya ia maafkan dengan sabar." Nur berhenti sebentar, menatap lap di tangannya. "Kecuali kalau dibohongi. Itu satu-satunya yang membuat dia diam."
Air keran terus mengalir, tetapi Tari merasa telinganya penuh sesuatu yang bukan suara air.
"Kenapa, Bu?"
"Almarhum ayahnya dulu dikhianati sahabat yang paling ia percaya. Radit masih kecil waktu itu, tapi ia melihat bapaknya pulang dengan wajah yang lain." Nur menarik napas. "Ibu tidak akan cerita semuanya. Itu bukan cerita Ibu untuk dibagi sembarangan. Tapi Ibu mau kamu tahu, supaya kamu mengerti kenapa anak Ibu menimbang kata sebelum bicara. Ia tidak ingin ada yang dibohongi, dan tidak mau jadi orang yang membohongi."
"Insyaallah, Tari ngerti, Bu."
Piring di tangannya hampir tergelincir. Ia menggenggamnya lebih erat dan melihat bayangannya sendiri di permukaan putih itu, wajah yang tersenyum rapi dengan mata yang tidak ikut tersenyum.
°°°°
Waktu pamit, Nur memeluk Tari lama, dan Tari menahan napas karena pelukan itu hangat dan bau minyak kayu putih, mengingatkannya pada Mama. Ibu itu menyelipkan bungkusan lodeh untuk Mama ke tangan Tari, dan berpesan agar jangan lupa bilang pada Mama bahwa lodeh itu jangan dihangatkan dua kali. Danu berjanji akan menelepon begitu ada kabar wawancara. Radit mengantar sampai gerbang sambil membawa handuk di bahu, mengucap terima kasih singkat kepada Arif yang kini bau sabun motor, lalu kembali ke halaman untuk membantu Nur menutup pintu garasi.
Arif sudah menunggu di boncengan, sambil memeluk bungkusan lodeh seperti memeluk bayi. Ia berbisik, "Kak, tadi Mbak Nisa lihatin Kakak kayak lagi baca kontrak." Tari menyuruhnya diam dan menaruh kunci di lubang motor, tetapi baru sempat memakai helm ketika langkah pelan terdengar di belakangnya.
"Mbak Tari."
Nisa berdiri di bawah pohon mangga, bersedekap seperti tadi, tapi sorot matanya sedikit berbeda, tidak lagi menguji. Lebih menimbang.
"Saya bukan orang yang pandai basa-basi," ucapnya. "Mas Radit itu kakak saya, dan dia gampang percaya sama orang yang dia sayang. Jadi saya hanya mau bilang satu hal."
"Iya, Nisa."
"Jangan sakiti Mas saya."
Tari menatap mata yang sama dengan mata Radit, hanya tanpa keraguan di dalamnya. Ia tahu seharusnya ia menjawab lebih panjang, lebih jujur, lebih apa pun. Tetapi bibirnya hanya mengeluarkan dua kata.
"Nggak akan."
Nisa memandangnya lama sekali. Lalu ia mengangguk satu kali.
"Kalimat itu saya simpan, Mbak."