Pukul tujuh pagi, Tari sudah berdiri di depan cermin lemari dan mengucapkan kalimat yang sama untuk kesebelas kalinya.
"Mas, soal Akbar. Dia mantan pacarku. Aku bohong waktu di festival."
Kalimat itu pendek, tidak berbelit, dan terdengar seperti pengakuan seorang saksi di pengadilan. Setiap kali ia mengucapkannya, bayangan di cermin menunduk lebih dulu.
"Tari!" Mama muncul di pintu kamar dengan sendok sayur di tangan, entah kenapa selalu membawa senjata dapur setiap kali memasuki wilayah anak gadisnya. "Kamu ngomong sama siapa?"
"Sama cermin, Ma."
"Bagus. Cerminnya lebih sabar dari Mama." Mama menyipit melihat gamis krem yang ia pilih. "Itu gamis baru?"
"Itu yang bulan lalu, Ma."
"Berarti belum pernah dilihat Radit. Aman." Mama mengacungkan sendok. "Jangan duduk dekat-dekat. Jangan berdua. Kalau Nur nawarin makan, jawab 'terima kasih, Bu' bukan 'gak usah, Bu', soalnya orang tua gak suka ditolak makan."
"Ma, aku bukan mau perang."
"Pernikahan itu lebih berat dari perang. Peperangan ada gencatan senjatanya."
Klakson mobil terdengar pelan di depan rumah sebelum Tari sempat membalas. Dari jendela, ia melihat mobil silver itu berhenti rapi, dan Radit turun lebih dulu untuk membukakan pintu pagar bagi Papa yang sudah menunggu di teras. Kedua lelaki itu berjabat tangan, saling mengangguk, dan berbicara dengan nada rendah selama beberapa detik. Dari jarak sejauh itu pun Tari tahu Papa sedang menyampaikan syarat: pintu terbuka, tidak berdua, pulang sebelum magrib.
Ketika ia keluar, Nur sudah melambai dari jendela belakang. "Nak Tari, sini, duduk sama Ibu! Danu, geser!"
"Aku di mana, Bu?" tanya Danu dari kursi belakang sebelah kiri.
"Di situ, Nak. Kamu itu kelihatannya paling lebar."
"Boleh aku pindah ke depan, Mas?" Danu menjulurkan kepala ke kursi pengemudi.
Radit menatap kursi di sebelahnya, kursi penumpang depan yang kosong dengan bantal kecil berwarna abu. "Tidak."
"Kenapa? Kursi kosong kok dianggurin."
"Kursi itu sudah ada yang menunggu." Radit menyalakan mesin, dan baru sadar kalimatnya terdengar lebih jelas daripada yang ia niatkan. Telinganya pelan-pelan memerah. "Maksud saya... belum ada pemiliknya. Nanti. Kelak."
"Wah, Mas." Danu berseri. "Ini sih belum ijab tapi udah reservasi."
"Danu."
"Aku diam."
Nur terkekeh di sebelah Tari, sementara Tari membuang muka ke jendela dan mati-matian menahan senyum. Di spion kecil, ia melihat Arif sudah menyalakan motor di belakang mobil dengan helm ala pembalap, siap mengikuti seperti kawal presiden.
°°°°
Toko mebel itu sebesar gudang, dengan ruang pamer berlantai kayu dan wangi pernis yang menyentuh hidung begitu pintu kaca terbuka. Seorang pelayan perempuan menyambut mereka dengan ramah. Meja jati persegi panjang yang dilihat Tari lewat foto ternyata lebih besar dan lebih pucat warnanya, dengan serat kayu berbentuk gelombang yang seolah bergerak ketika disentuh.
"Cantik," gumam Tari tanpa sadar, jarinya menyusuri permukaan meja.
"Itu jati tua, Mbak. Tidak akan bengkok," jelas pelayan itu. "Enam kursinya sepaket."
"Berapa tinggi mejanya?" Radit mengukur dengan telapak tangan, lalu menatap Tari. "Kamu yang akan lebih sering memakainya. Sekiranya terlalu tinggi, saya bisa minta potong."
"Aku?"
"Kita." Radit mengoreksi dirinya. "Keluarga kita. Maksud saya, nanti, siapa pun yang duduk."
Nur memandang putranya, lalu memandang Tari, dengan senyum yang tidak ia sembunyikan sedikit pun. Ia menggandeng lengan Tari, dan Tari terkejut karena tangan itu begitu hangat dan kering, seperti tangan Mama sebelum pekerjaan rumah merebut kelembutannya.
"Nak Tari, coba duduk. Biar tahu rasanya."
Tari menarik kursi dan duduk. Kursi itu kokoh, bersandaran tinggi, dan anehnya membuat bahunya turun, seolah tubuhnya baru sadar sudah lama tegang.
"Gimana, nak?"
"Enak, Bu."
"Nah, itu." Nur duduk di kursi sebelah sambil menepuk meja. "Ibu dulu punya meja makan kecil, empat kursi, dibeli sama almarhum Bapaknya Radit dengan cicilan. Setelah Bapak tidak ada, meja itu jadi tempat Radit belajar sampai larut. Ia makan sambil menulis PR, dan Ibu selalu marah karena nasi jatuh ke buku. Sekarang..." Mata Nur berkaca-kaca sebentar, lalu ia menepuk tangan seolah mengusir air matanya sendiri. "Sekarang Ibu senang kursinya ada enam. Pas."
"Pas untuk siapa, Bu?" tanya Tari pelan.
"Untuk yang duduk." Nur mengedipkan sebelah mata.
Di ujung ruangan, Danu dan Arif sudah berdiri di depan etalase dengan wajah kompak seperti penawar profesional. Pelayan toko mencatat harga di lembar, dan Danu menyilangkan tangan dengan gaya pedagang pasar.
"Kalau tunai, Mbak, diskon berapa?"
"Mas, harga di sini sudah pas."
"Kalau kami bawa Ibu?" Arif menimpali, menunjuk Nur. "Ibu ini pelanggan setia, loh."
"Saya baru datang pertama kali, Nak," ujar Nur tenang.
"Pelanggan setia di hati," ralat Arif tanpa malu.
Radit memijat pangkal hidungnya, lalu tersenyum kepada pelayan. "Maaf, Mbak. Adik-adik kami sedang magang menawar. Harganya cukup, saya ambil."
°°°°
Urusan administrasi memakan waktu. Radit meminta Tari menunggu di sofa panjang tak jauh dari kasir, di area terbuka yang dikelilingi lemari pajangan, sedangkan Nur pergi ke toilet dan menyuruh Danu dan Arif menjaga mobil dari jauh, yang berarti mereka mengintip dari balik tiang. Radit duduk di ujung sofa satunya, jarak satu bantal besar di antara mereka.
"Terima kasih sudah ikut," ucap Radit. "Saya tahu ini bukan acara seru."
"Seru, Mas. Aku belum pernah lihat Danu menawar pakai drama."
Radit tertawa, dan tawa itu mengendurkan sesuatu di dada Tari. Ini saatnya. Ia menarik napas, dan merasakan kalimat dari depan cermin tadi naik ke ujung lidah.
"Mas." Suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia rencanakan. "Soal yang Mas bilang mau dengar hari Kamis. Soal Akb..."
"Tari, Radit!" Nur muncul dari lorong dengan tas tangan terayun, wajahnya bersinar seperti orang yang membawa kabar menang undian. "Ibu baru dikabari Nisa! Dia pulang dari luar kota, nanti malam sudah sampai di rumah. Dia bilang ingin ketemu Nak Tari, besok makan siang di rumah Ibu, ya! Wah, Ibu senang sekali, Nisa itu pemilih orangnya, tapi kalau dia bilang mau ketemu, berarti penasaran. Penasaran itu tanda suka."
"Nisa pulang?" Radit berdiri refleks. "Kabar dari mana, Bu?"
"Telepon barusan, waktu Ibu di toilet. Ibu sampai lupa cuci tangan, terus balik lagi." Nur menepuk dadanya, lalu menoleh pada Tari. "Eh, maaf, Nak Tari, tadi kamu bilang apa? Ibu motong ya?"
"Tidak, Bu," jawab Tari. "Tidak apa-apa. Insyaallah, besok Tari datang."
Nur kembali sibuk menelepon Mama, dan Radit tinggal berdiri sendiri di dekat sofa dengan wajah yang sulit dibaca. Ketika Nur sudah beberapa langkah menjauh, ia membungkuk sedikit, tidak mendekat, hanya merendahkan suara.
"Tari. Saya tahu kamu tadi mau cerita. Kapan pun kamu mau, saya lebih suka mendengarnya dari kamu, apa pun isinya."
Dada Tari terasa penuh sampai nyaris tak bisa bernapas. Orang di depannya tidak tahu isi cerita itu, tetapi sudah menyiapkan tempat untuknya.
"Mejanya datang Sabtu depan, kan, Mas? Ke rumah Mas?"
"Iya. Sekitar tengah hari."
"Kalau begitu..." Tari berdiri, meremas tali tasnya. "Sabtu depan, di rumah Mas, waktu mejanya sampai. Aku janji aku cerita di situ."
Radit menatapnya agak lama, lalu mengangguk.
"Baik. Dan sekarang, tolong bantu saya, Tari." Ia menunjuk ke arah kasir, tempat Danu sedang merayu pelayan dengan senyum paling polos. "Adik saya sedang mencoba menawar meja yang sudah kami bayar."