Pak Dirman mendatangi meja CS 02 dengan langkah seorang pengawal yang sedang membawa surat dari negara lain.
"Mbak Tari, ada tamu di depan. Laki-laki. Bawa rantang susun tiga."
"Rantang?" Tari mengangkat kepala dari layar. "Namanya siapa, Pak?"
"Pak Radit. Sudah saya periksa." Pak Dirman menepuk dadanya bangga. "Saya buka tutupnya satu-satu. Isinya nasi kuning, ayam suwir, telur dadar iris, dan kerupuk. Saya cium, aman. Saya tidak minta sedikit pun, Mbak, sumpah."
"Pak, itu bukan barang bukti."
"Dalam pengamanan, semua mencurigakan sebelum terbukti enak."
Dari balik bahu Pak Dirman, Tari melihat Radit berdiri di dekat pintu kaca, memakai kemeja biru tua dan celana bahan, dengan rantang bertingkat tiga di tangan kiri dan kantong plastik kecil di tangan kanan. Wajahnya terlihat lebih kurus dari hari Minggu, dan ada bayang gelap tipis di bawah matanya. Tapi ia berdiri tegak, dengan sikap orang yang sudah terlatih menunggu.
Tari mengunci layar komputernya, berdiri, dan merapikan kerudungnya, ketika Gita sudah lebih dulu melesat dari meja sebelah dengan senyum paling lebar yang pernah Tari lihat dipakai di jam kerja.
"Selamat siang, Mas Radit! Wah, rantang. Saya Gita."
Radit mengatupkan tangan di dada dan menunduk sedikit. "Selamat siang, Mbak Gita. Ibu saya menitipkan ini untuk Tari dan teman-teman. Katanya jangan sampai kurang."
"Aduh. Ibu Mas Radit ini..." Gita menoleh pada Tari dengan alis naik-turun. "Pantas Tari cerita terus soal Ibu Mas Radit."
"Mbak Gita."
"Aku diam." Gita berbisik tanpa menggerakkan bibir, seperti ahli perut, "Tapi ganteng beneran, Tar, aku gak lebay. Aku cuma gak bilang waktu itu karena kamu lagi galau."
"Aku dengar, Mbak."
"Bagus. Berarti pendengaranmu sehat."
Firdaus muncul dari pintu ruang belakang sambil menarik lengan kemeja, mencondongkan kepala dari jarak aman. "Gua dengar ada nasi kuning. Gua Firdaus, Mas, back office. Gua gak bermaksud ganggu, cuma mau pastiin ayamnya beneran ayam."
"Silakan dicek, Mas Firdaus."
Radit berjabat tangan dengan Firdaus, tanpa kikuk. Begitu pula ketika Pak Fero keluar dari ruangannya dengan kancing jas yang baru dikancingkan. Atasan Tari itu menjulurkan tangan lebih cepat dari biasanya.
"Pak Radit! Saya Fero. Sering dengar dari Tari, eh, dari Mbak Gita, eh, dari seluruh kantor." Ia mengguncang tangan Radit seperti hendak menimba air. "Mari, mari. Duduk dulu, silakan. Kalau mau dibikinkan teh..."
"Terima kasih, Pak. Saya hanya sebentar. Saya datang menjelang jam istirahat Tari, supaya tidak mengganggu pekerjaan."
"Tentu, tentu!" Pak Fero menepuk lengan Radit, lalu menyadari tepukannya agak terlalu akrab, lalu mundur setengah langkah. "Silakan, silakan. Tari, istirahatnya mulai sekarang saja."
Tari menahan tawa. Pak Fero, yang belum lama ini dengan gigih menjodohkan keponakannya dengan Tari, sekarang bersikap seperti seseorang yang baru kalah lomba dan memutuskan menjadi panitia saja.
°°°°
Ruang tunggu siang itu setengah kosong, dengan dua nasabah yang sibuk dengan ponsel masing-masing dan televisi kecil yang memutar iklan tabungan tanpa suara. Mereka duduk di sofa panjang, terpisah satu sofa kosong di antaranya. Gita berpura-pura merapikan brosur di rak tidak jauh dari situ, dengan gerakan yang terlalu lambat untuk disebut kerja. Rantang dibuka di pangkuan Tari. Aroma kunyit dan daun jeruk naik, dan perutnya, tanpa persetujuan siapa pun, berbunyi.
Radit tersenyum tipis. "Saya sudah curiga kamu belum makan."
"Aku makan roti tadi pagi."
"Itu bukan makan, itu mampir." Radit menyodorkan kantong plastik berisi sendok dan garpu dalam bungkus tisu. "Ibu bilang kamu pantang makan lewat jam enam. Ini masih siang, jadi tidak ada alasan."
Ia ingat itu. Tari menunduk ke nasi kuning supaya senyumnya tidak terlalu jelas. Ia menyuap satu sendok, dan rasa gurih santan menyentuh lidahnya, hangat seperti pelukan yang tidak meminta apa-apa.
"Enak, Mas."
"Nanti saya sampaikan. Ibu pasti senang, beliau bangun jam tiga pagi untuk ini. Danu yang membantu mengupas telur, tapi mengeluh sepanjang pagi karena disuruh belajar soal tes bank sambil mengupas."
"Latihan soalnya sudah sampai mana?"
"Sampai soal deret angka. Ia bilang deret itu bikin pusing, tapi tetap dikerjakan." Radit tersenyum bangga yang ia sembunyikan di balik batuk kecil. Lalu ia menyandarkan punggung. "Bandung itu panas, tapi saya senang pergi. Penyebab lunturnya ketemu. Pemasok baru melewati tahap pengunci warna supaya kain bisa keluar lebih cepat dan murah. Tidak semua kain, hanya satu sif. Untung Mas Akbar tidak mencari kambing hitam. Ia langsung bawa saya ke bagian pencelupan dan bilang, 'Ini, Mas, lihat sendiri'."
"Terus... bagaimana?"
"Hasil laboratorium keluar Senin. Tapi saya sudah bicara dengan empat toko, dan tiga bersedia menunggu. Yang satu masih kesal, tapi saya bisa mengerti." Radit menarik napas. "Mas Akbar tidur di gudang dua malam. Saya yang suruh pulang."
Tari mengunyah pelan. Ia ingin bertanya apakah Akbar baik-baik saja, tetapi pertanyaan itu terlalu dekat dengan rahasia. Ia menelan nasi dan memilih yang aman.
"Keluarga Akbar... ketemu?"
"Ketemu. Ibunya hangat sekali, cerewet, mengingatkan saya pada ibu saya." Radit tertawa kecil. "Ayahnya, Pak Hamdan, menyambut kami di teras. Bicaranya pelan, dan beliau berjalan dengan tongkat, tapi begitu memegang kain, beliau langsung tahu mana yang salah celup, bahkan sebelum hasil lab. Saya bertanya sudah berapa lama beliau bertongkat, tapi Akbar menggeleng kecil, jadi saya tidak lanjut."
Sendok di tangan Tari berhenti di udara.
Bapak kurang enak badan. Alasan.
Tulisan di buku harian itu muncul begitu jelas di kepalanya, sampai ia hampir bisa melihat gambar gadis kecil yang cemberut di bawahnya. Tongkat. Bicara pelan. Seminggu sebelum wisuda, Akbar menghilang ke Bandung.
Wajahnya terasa dingin.
"Tari." Suara Radit lebih rendah. "Kamu pucat. Mau minum?"
"Gak, Mas. Aku..." Ia mencari kata. Di tasnya, di bawah meja CS, ada dua lembar kertas folio yang sama sekali tidak berguna sekarang. "Aku cuma kaget, Pak Hamdan sudah..." Ia berhenti tepat sebelum nama itu menjadi pengakuan. "Beliau bertongkat."
"Iya. Tapi tegar." Radit memperhatikan wajahnya. Matanya tidak menuduh, hanya membaca. "Kamu memikirkan sesuatu. Dari hari Minggu. Saya tidak akan menanyakannya di sini, ada Pak Dirman yang mengintip dari pintu dan Mbak Gita yang menyusun brosur sebelas kali. Tapi Sabtu, setelah kita memilih meja, saya mau mendengarnya."
"Iya, Mas."
"Janji bukan paksaan, Tari. Kamu boleh bilang belum siap."
"Aku siap," jawab Tari, dan setengah mati berharap itu benar.
°°°°
Radit pamit sepuluh menit kemudian, setelah menyalami Pak Fero lagi, Firdaus, dan Pak Dirman, yang menerima jabat tangan itu sambil berdiri tegak seperti tentara dilantik. Mobil silver itu menghilang di tikungan. Tari tinggal di pintu kaca dengan rantang di tangan, menatap jalan yang kosong.
Ia tidak tahu berapa lama berdiri di situ. Rantang di tangannya masih hangat, dan ingatannya mengulang kalimat Radit seperti kaset yang tersangkut: Saya bertanya, tapi Akbar menggeleng kecil. Ia ingat betul dulu Akbar menggeleng persis seperti itu setiap kali ada hal yang tidak mau dibicarakan.
Gita datang dari belakang dan berdiri di sampingnya, sama-sama memandang jalan.
"Dia bilang Sabtu," kata Gita pelan. "Kamu bilang siap. Aku catat, Tar."
"Mbak..."
"Aku bukan mau menakut-nakuti." Gita mencomot sepotong telur dadar dari rantang tanpa izin. "Tapi kali ini tidak ada telepon yang bisa menyelamatkan kamu."