Antrean nasabah Selasa pagi itu panjangnya sampai pintu kaca, dan pulpen Tari sudah dua kali jatuh ke lantai.
"Maaf, Bu," ucapnya sambil memungut pulpen itu. Seorang ibu berdiri dengan tas belanja di bahu, menatap layar yang baru saja Tari ketik, lalu menatap Tari.
"Namanya Suminah, Mbak. Bukan Suminar."
"Maaf, Bu. Suminah." Tari menghapus hurufnya dan tersenyum, dan senyum itu terasa seperti topeng yang dipakai miring.
Ibu itu duduk, menaruh tas belanjanya di pangkuan, dan memperhatikan wajah Tari lebih lama daripada keperluan mengurus buku tabungan.
"Mbak lagi mikirin calon, ya?"
"Eh... Ibu mau buka tabungan, kan?"
"Iya, tapi itu muka orang yang lagi mikirin calon. Saya dulu juga begitu, waktu mau dilamar. Salah masukin garam ke kopi suami saya, sampai sekarang diceritain terus." Ibu itu terkekeh puas. "Tenang, Mbak. Yang penting jujur."
Tari hampir menjatuhkan pulpennya. Ia mengurus berkas ibu itu dengan tangan yang sedikit terlalu hati-hati, dan baru bisa bernapas lega setelah buku tabungan biru itu berpindah tangan.
Setelah ibu itu pergi, meja CS sebelah bergeser. Gita menyorongkan kursinya sampai bahunya hampir menyentuh sekat kaca di antara kedua meja, lalu bicara tanpa menoleh, seperti orang yang sedang membaca layar.
"Semalam kamu tidur berapa jam?"
"Cukup."
"Kantong matamu bilang tiga."
"Mbak Gita, ini jam kerja."
"Justru karena jam kerja aku bisa ngomong tanpa kamu kabur." Gita mengetik sesuatu, pura-pura serius. "Radit nelepon kamu, kan, kemarin malam? Muka kamu sejak buka loket kayak orang abis dikasih amplop sama tukang tagih."
Tari menutup layar komputernya sedikit. "Dia minta aku mendoakan Akbar. Katanya Akbar lagi jatuh, usahanya bermasalah."
Tangan Gita berhenti di atas papan ketik. Beberapa detik ia diam, lalu mengembuskan napas panjang.
"Jadi orang yang kamu bohongi minta kamu mendoakan orang yang kamu bohongi bareng." Ia mengangguk-angguk. "Kalau ini sinetron, aku udah ganti channel."
"Mbak!"
"Aku serius, Tar. Kamu bukan sedang melindungi Radit dari rasa sakit. Kamu ketakutan, makanya ngumpet." Gita menoleh sekarang, dan suaranya turun jadi hampir bisikan. "Aku lihat kamu makan siang di musala dua hari berturut-turut. Orang jujur gak perlu cari musala buat makan nasi bungkus."
Seorang nasabah baru menghampiri meja Gita sebelum Tari sempat membela diri. Ia hanya menatap lembar teks di layar, yang berisi tulisan "kebijakan kartu hilang" dan tidak satu pun huruf yang ia baca.
°°°°
Pukul dua belas ia memang masuk musala lagi, tetapi kali ini membawa selembar kertas folio dari map arsip dan pulpen dari laci.
Di pojok yang sepi, di antara sajadah yang tergulung, ia menulis.
Mas Radit, saya tidak tahu harus mulai dari mana, jadi saya mulai dari yang paling benar. Akbar dulu pacar saya.
Ia membaca kalimat itu, merasakan tenggorokannya mengencang, lalu melanjutkan. Satu paragraf, dua paragraf. Tentang festival, tentang syarat blokir, tentang kata "beda fakultas" yang keluar begitu mudah dari mulut dua orang dewasa. Ia menulis bahwa ia takut. Ia menulis bahwa ia salah. Ia menulis kata maaf sampai empat kali, lalu menyadari semua itu terdengar seperti orang yang meminta dikasihani, dan ia mencoretnya dengan garis tebal.
Ponselnya bergetar di samping lutut. Bukan Radit.
Akbar Fajriansyah: Aku di Bandung bersama Mas Radit. Tidak perlu dibalas. Satu hal saja: dia orang baik. Jangan bohongi dia lama-lama.
Tari membaca pesan itu tanpa bernapas. Ada sesuatu yang membara di dada, bukan karena isinya salah, melainkan karena isinya benar dan datang dari orang itu.
Lestari Ayu: Itu bukan urusanmu.
Ia menekan kirim lebih keras dari yang perlu. Tidak ada balasan. Akbar menepati isi pesannya sendiri, tidak membalas, tidak menambah satu huruf pun, dan keheningan itu entah kenapa lebih menyebalkan daripada bantahan.
Pintu musala berderit. Pak Dirman menjulurkan kepala dengan topi satpam di tangan, matanya langsung membulat melihat Tari bersila dengan kertas dan pulpen.
"Waduh, Mbak Tari lagi ngerjain apa? Laporan bulanan?"
"Iya, Pak. Laporan." Tari menyembunyikan kertas itu di bawah map. "Laporan yang gak kelar-kelar."
"Jangan lupa makan, Mbak. Kalau pikiran penuh, perut harus diisi biar adil." Pak Dirman menaruh sebungkus kacang rebus di ujung sajadah dengan gaya orang menyerahkan barang bukti, lalu mundur sambil berbisik, "Gratis, dari istri saya."
Setelah pintu menutup, Tari menatap kacang rebus itu dan hampir tertawa. Kejujuran memang tidak bisa dibuat kenyang dengan kacang, tetapi hari itu hanya itu yang ada.
Ia melirik surat di pangkuannya. Kata-kata yang baru ia coret terlihat seperti luka yang ditutup sembarang. Surat itu sama sekali tidak menyebut Akbar sebagai orang jahat, dan itu pun membuatnya jengkel, karena ia tidak punya lagi tokoh jahat untuk disalahkan. Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke saku rok, dan keluar sebelum azan Zuhur selesai.
°°°°
Malamnya, makan malam di rumah berlangsung lebih ramai dari biasa karena Mama sedang dalam mode pembawa acara.
"Sabtu itu, kata Nur, kalian ke toko mebel. Mama bilang jangan sampai Tari pakai gamis yang kemarin, sudah dua kali dipakai di depan Radit."
"Ma, Mas Radit gak ngitung gamis."
"Laki-laki menghitung semuanya, cuma gak ngomong." Mama menyendok sayur ke piring Papa. "Arif, kamu jangan ikut-ikut kalau gak diajak."
"Aku pengawal resmi, Ma. Ada surat tugas."
"Surat tugas dari siapa?"
"Dari Danu."
Papa tersenyum ke piringnya. Tari mengaduk nasi tanpa nafsu. Dari seberang meja, ia merasakan mata Papa menimbang-nimbang, tapi lelaki itu hanya mengambil tempe lagi dan berkata, "Tari, kalau mau sambal, ambil. Muka kamu butuh sesuatu yang pedas."
Setelah piring-piring dicuci dan Mama puas mengirim terima kasih lewat pesan suara kepada Nur sebanyak dua kali, Tari menutup pintu kamar dan menyalakan lampu belajar. Di depannya ada kertas folio baru, putih bersih. Ia menulis ulang dari awal, dua halaman penuh, kali ini tanpa kata maaf berulang. Hanya fakta: pacaran dua tahun, putus hampir empat tahun lalu, blokir, festival, kebohongan. Dan satu kalimat terakhir yang ia tulis perlahan.
Saya tahu apa yang paling Mas benci, dan saya tetap melakukannya.
Ia membaca surat itu dari atas sampai bawah, dan sampai di baris terakhir tangannya sudah merobeknya menjadi dua. Lalu empat. Ia menatap serpihan putih di atas meja belajar, takut bahwa begitu kertas itu sampai di tangan Radit, yang akan dilihat laki-laki itu bukan penyesalan, melainkan pembenaran yang ditulis dengan rapi.
Ia belum memutuskan apakah akan menulis versi ketiga ketika ponselnya berdering. Nama di layar membuat jantungnya melompat.
"Assalamualaikum, Tari."
"Waalaikumsalam, Mas." Ia buru-buru menyapu serpihan kertas ke telapak tangan, seolah Radit bisa melihatnya lewat telepon.
"Saya cuma mau mengabari. Penyebab luntur sudah kelihatan di tempat pencelupan. Hasil laboratoriumnya belum keluar, tapi besok saya pulang."
"Syukurlah, Mas."
"Masih pegal-pegal. Gudangnya lebih panas dari dugaan." Suaranya terdengar lelah tapi hangat. "Sabtu tetap jadi memilih meja makan, kalau kamu masih bersedia. Ibu sudah menelepon toko mebel dua kali sejak kemarin. Saya takut Ibu lebih bersemangat daripada saya."
Tari tertawa pendek, tawa yang terasa seperti ditarik keluar dengan tang. "Masih, Mas."
"Satu lagi. Kamis saya mampir ke bank, kalau Pak Fero mengizinkan. Ibu menitipkan sesuatu untuk kamu, dan beliau melarang saya mengirimkannya lewat ojek."
"Mas Radit datang ke bank?"
"Boleh?"
Tari memandang serpihan surat di telapak tangannya, lalu pada tas kerja yang bersandar di kaki meja. Kamis, dua hari lagi, dan ia belum punya satu pun kata yang cukup berani untuk diucapkan.
"Boleh, Mas," jawabnya.
Setelah telepon ditutup, ia mengambil selembar kertas folio ketiga dan menulis di bagian atas, dengan huruf yang sedikit lebih tenang dari sebelumnya, Mas Radit.