Radit sudah dua kali membaca pesan itu sebelum sempat menyeduh teh. Layar ponselnya masih menampilkan kalimatnya sendiri dari semalam, tanpa centang biru di bawahnya.
Ia sendiri yang mengetiknya semalam, pendek dan rapi, dan sekarang kalimat itu terasa terlalu rapi untuk sebuah permintaan maaf.
Besok sudah datang. Pesan itu belum dibalas.
Ia duduk di meja makan rumah Nur, tempat ia biasa sarapan karena dapur rumahnya sendiri belum punya meja. Ibunya meletakkan sepiring nasi uduk di depannya sambil memperhatikan wajahnya dengan mata menyipit.
"Kamu dari tadi menatap hape seperti menatap laporan rugi."
"Tidak, Bu."
"Telinga kamu merah."
"Itu karena teh panas." Radit menyentuh telinganya, lalu cepat-cepat menurunkan tangan. Nur sudah terkekeh di depan kompor. Kan Radit jadi tengsin pagi-pagi.
Danu muncul dari kamar dengan rambut yang masih basah, menyambar sebutir telur dadar dari piring Radit tanpa permisi.
"Mas nunggu balasan Mbak Tari, ya?"
"Saya nunggu sarapan saya, sebelum diambil adik saya."
"Kalau mau tahu pendapat Danu," kata Danu dengan mulut penuh, "Mbak Tari itu bukan tipe yang lupa bales. Dia tipe yang mikir tiga kali dulu. Kemarin di taman mukanya kayak orang mau pidato, terus kepotong."
"Danu, telur."
"Iya, Bu, aku ngomong sama Mas, bukan sama telurnya."
Radit tidak menjawab, tetapi ia menyimpan kalimat itu dalam kepalanya, di rak yang sama dengan ucapan Tari kemarin: lain kali. Ia mengetik pelan, menghapus dua kalimat, lalu mengetik yang paling pendek dan paling jujur.
Raditya Hermanto: Saya tunggu kapan pun. Hari ini saya rapat, jadi mungkin lambat membalas.
Sengaja ia tulis sebab itu. Ia tidak mau Tari menatap layar yang diam tanpa tahu sebabnya.
Kemarin sore, sepulang dari taman, ia dan Danu langsung ke kantor. Dewi sudah menunggu di depan pintu dengan tablet di dekapan, wajahnya tenang seperti biasa, tetapi tangannya memutar-mutar pena. Itu tandanya urusan ini bukan urusan kecil. Sampai magrib mereka menghitung kardus di gudang kecil di belakang, dan angkanya tidak berubah sekeras apa pun Radit berharap salah hitung. Tiga ratus potong batik Chasanah, kiriman seminggu lalu, dikembalikan sebuah toko besar. Alasannya satu kata di lembar retur: luntur.
°°°°
Ruang rapat Berkah Group hanya sebesar ruang tamu rumah tipe sedang, dengan papan tulis putih yang separuhnya penuh coretan Teguh. Pukul sembilan semua sudah duduk. Kino membuka dengan suara yang bergerak lebih cepat dari napasnya.
"Pak, ini bukan kejadian pertama di industri. Kalau pewarnanya bermasalah, kita harus lindungi nama kita dulu. Toko ini pelanggan kita yang paling besar. Satu kata dari mereka di grup distributor, selesai semua. Kita tahan dulu kerja sama sampai jelas."
"Maksud kamu putus kontrak?" tanya Radit.
"Bukan putus, Pak. Menahan. Itu beda."
"Dalam tulisan mungkin beda." Radit menggeser gelas airnya. "Bagi yang menerima kabarnya, apa bedanya?"
Kino membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Teguh, yang sejak tadi menggambar kotak kecil di pinggir kertas, akhirnya bicara dengan suara datar.
"Kalau mereka luntur, label kita yang menempel di toko."
"Betul," sahut Dewi pelan. "Foto retur dari toko sudah masuk. Warna merah di bagian kerah memudar ke kain putih setelah satu kali cuci. Bukan cuma satu dua potong."
Pintu terbuka sebelum Radit sempat menjawab. Akbar berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang kancing kedua dari atasnya salah masuk lubang. Rambutnya tidak serapi biasa. Tidak ada senyum tebar pesona, tidak ada kacamata hitam yang biasanya ia selipkan di saku. Wajahnya pucat, dan matanya yang sipit seperti bulan sabit itu kali ini tampak seperti sabit yang kelelahan.
"Maaf saya telat, Mas. Saya naik kereta pagi dari Bandung." Ia menarik kursi di ujung meja dan tidak langsung duduk. "Saya sudah lihat fotonya. Boleh saya bicara dulu sebelum Mas memutuskan apa pun?"
"Silakan," jawab Radit. Ia menyodorkan segelas air, dan Akbar menerimanya dengan dua tangan yang sedikit bergetar.
"Pewarnanya dari pemasok baru." Akbar menegakkan punggung, menatap Radit, bukan siapa-siapa lagi. "Dua bulan lalu pemasok lama menaikkan harga, dan saya pindah ke yang lebih murah tanpa uji ulang. Itu keputusan saya. Salah saya, bukan salah toko, bukan salah Berkah. Semua potong yang bermasalah saya ganti, saya tanggung ongkos kirim balik, dan saya siap kalau Mas mau memutus kerja sama. Saya tidak akan menyalahkan siapa pun."
Radit memperhatikan orang di seberang meja itu. Seminggu lalu Akbar masih menceritakan target penjualannya dengan gaya penyiar radio, lengkap dengan lelucon tentang kain yang "lebih setia daripada pelanggan". Pagi ini tidak ada lelucon sama sekali. Hanya laki-laki yang memegang gelas seolah gelas itu satu-satunya benda yang masih bisa ia kendalikan.
Ruangan hening. Kino melirik Radit dengan wajah berkata, kan, saya sudah bilang.
Radit mengetuk meja dua kali dengan buku jarinya, kebiasaan lama kalau sedang menimbang.
"Mas Akbar. Tiga ratus potong ini yang ketahuan hari ini. Berapa kiriman lain yang memakai pewarna yang sama?"
"Sekitar lima ratus potong lagi sudah beredar ke empat toko. Ada yang di stok saya, belum dikirim."
"Hentikan semua pengiriman yang memakai pewarna itu mulai sekarang," ucap Radit. "Dewi, hubungi empat toko itu hari ini. Jangan menunggu mereka menelepon kita. Kino, buat pesan penjelasan yang jujur, tanpa kata 'kendala teknis'. Teguh, siapkan label peringatan sementara untuk stok yang masih di gudang."
"Pak..." Kino setengah berdiri. "Kita tidak putus kerja sama?"
"Tidak." Radit memandang Akbar. "Saya tidak bisa memutus orang yang datang pertama dengan mengaku salah, sebelum ada yang menuduhnya. Berkah yang menanggung biaya uji laboratorium untuk sampel dari kedua pemasok. Hasilnya yang akan menjawab siapa yang harus membayar apa. Besok saya ikut ke Bandung, melihat sendiri gudang dan tempat pencelupannya."
Akbar memandangnya lama. Bibirnya bergerak, tetapi suaranya tidak keluar sampai ia menelan ludah.
"Mas tidak perlu..."
"Perlu. Kita bukan cuma rekan dagang. Kita satu almamater." Radit sempat tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah, "Kita bisa mulai hitung ulang sekarang, atau kamu mau duduk dulu?"
Akbar duduk. Tangannya baru berhenti gemetar setelah ia menghabiskan setengah gelas air.
°°°°
Sampai pukul delapan malam Radit baru bisa memegang ponselnya lagi. Kantor sudah sepi, hanya lampu meja dan bunyi pendingin ruangan yang tersisa. Ia melihat layar. Pesan Tari tetap tidak ada, dan ia teringat bahwa ia sendiri yang bilang akan lambat membalas, jadi tidak adil kalau berharap lebih. Ia menekan nama itu.
Ia sempat mengecek ulang kalimat pembukanya, seperti membaca ulang naskah pidato, lalu menertawakan dirinya sendiri. Telepon ke calon istri saja butuh catatan. Untung tidak ada Danu di ruangan.
Sambungan terdengar dua kali sebelum diangkat.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam. Maaf menelepon malam, Tari. Dari tadi pagi saya cuma membalas satu kalimat."
"Gak apa-apa, Mas. Aku juga..." Suara di seberang berhenti sebentar. "Aku juga belum membalas."
"Saya tidak menagih." Radit menyandarkan punggung ke kursi. "Saya cuma mau mengabari sebelum kamu mendengar dari orang lain. Ada kiriman batik tiga ratus potong yang luntur dan dikembalikan toko. Besok pagi saya berangkat ke Bandung, mungkin dua hari."
"Batik... Chasanah?"
"Iya. Kamu ingat stand-nya di festival." Radit mendengar napas Tari tersendat sesaat, mungkin karena sinyal. "Pemiliknya, Mas Akbar, datang tadi pagi dan mengaku salah di depan semua orang. Itu tidak mudah."
"Terus... Mas bilang apa?"
"Tidak memutus kerja sama. Saya mau lihat sendiri ke Bandung." Ia menarik napas. "Tari, saya mau minta tolong, kalau tidak keberatan."
"Apa itu?"
"Tolong doakan Mas Akbar. Orang itu sedang jatuh."
Di seberang, sunyi. Radit memandang jam di dinding dan mengira sambungannya terputus, tetapi bunyi napas Tari masih terdengar, pendek dan hati-hati.
"Hati-hati, Mas," kata Tari akhirnya. Suaranya mengecil pada kata terakhir, seperti ada kalimat lain yang ditelannya di tengah jalan.
Radit mendengarnya. Ia hampir bertanya, tetapi malam ini ia sudah terlalu lelah untuk mengorek, dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menunggu.
"Insyaallah. Istirahat, ya."