Arif baru membuka mulut ketika motor mereka berhenti di lampu merah kedua dari taman. Tari tahu itu dari cara adiknya menarik napas, seperti orang yang menimbang-nimbang apakah sebuah pertanyaan layak dilontarkan.
"Kak."
"Hm?"
"Tadi di bangku, Kakak mau ngomong apa ke Mas Radit?"
Tari memperhatikan lampu yang masih merah, menghitung detik mundur di tiangnya. "Soal kerjaan."
"Kerjaan apa yang bikin muka Kakak pucat kayak mau dipanggil BK?"
"Rif."
"Aku gak maksa. Cuma..." Arif menepuk pundak kakaknya dari belakang, pelan sekali. "Pas Mas Radit angkat telepon terus pergi, muka Kakak itu kayak orang yang lega banget karena gak jadi ke dokter gigi. Padahal biasanya Kakak sedih kalau Mas Radit pergi."
Lampu berubah hijau. Tari menarik gas, lebih keras dari yang diperlukan.
"Aku gak bakal bilang Mama," tambah Arif, setengah berteriak mengalahkan suara knalpot.
"Gak ada yang perlu dibilang!"
"Oke!"
Di belakangnya, Arif bersenandung kecil, lagu yang sama dengan yang diputar ibu-ibu senam tadi. Tari nyaris tertawa. Nyaris.
Sisa perjalanan mereka lalui tanpa suara. Tapi Tari menyadari, adiknya yang selalu terlihat ceroboh itu ternyata melihat lebih banyak dari yang ia kira.
°°°°
Malam harinya, setelah Mama selesai mengulang cerita pertemuan dengan Nur untuk ketiga kalinya dan Papa sudah pura-pura tertidur di sofa, Tari duduk di lantai kamarnya dengan sebuah kardus di depan lutut. Kardus itu lama tidak ia sentuh, penuh majalah kampus, tiket bioskop, dan sebuah buku bersampul biru tua.
Buku harian.
Ia tidak berniat membukanya. Ia hanya ingin mencari satu hal, yaitu catatan tentang hari-hari terakhir sebelum wisuda. Sejak di kafe, kata "bosan" dan kata "gengsi" terus berkelahi di kepalanya, dan ia ingin tahu apa yang dulu ia tulis sendiri, sebelum ingatannya sempat dipoles oleh kemarahan.
Halaman-halamannya bergaris, tulisan tangannya lebih bulat dan lebih polos daripada sekarang. Ia membalik cepat melewati catatan tentang tugas akhir, tentang Nida yang marah-marah soal sidang, tentang pesta kecil di kos. Beberapa halaman sebelum itu, ia menemukan catatan yang lebih ringan, dan senyumnya muncul tanpa diminta.
Akbar ngajak ke Bandung, mau kenalin ke Bapak sama Ibu. Aku bilang nanti, setelah aku dapat kerja. Mukanya cemberut lima menit. Lucu.
Tari mengusap tulisan itu dengan ibu jarinya. Tulisan itu membuktikan satu hal yang selama ini ia kubur, bahwa pernah ada masa ketika Akbar mengajaknya masuk ke rumahnya dengan wajah penuh harap, dan bahwa ia sendiri yang bilang nanti.
Ia membalik lagi, dan akhirnya jarinya berhenti di sebuah halaman yang tintanya tampak ditekan terlalu dalam.
Batal jemput lagi. Katanya Bapak kurang enak badan. Alasan.
Hanya itu. Tiga kalimat di tengah halaman putih, tanpa tanggal, tanpa kelanjutan. Di bawahnya, ada gambar kecil seorang gadis yang mengerucutkan bibir dengan alis menukik marah. Gambar itu dibuat dengan pulpen yang sama.
Tari menatap kalimat itu lama sekali. Telapak tangannya berkeringat, dan ia mengelapnya pada ujung rok supaya kertas tidak basah.
Bapak. Ia dulu menyebut ayah Akbar dengan sebutan itu di buku hariannya, karena Akbar selalu menyebut begitu. Ia belum pernah bertemu langsung, belum pernah dikenalkan, tapi nama itu hidup dalam cerita-cerita Akbar. Bapak yang suka batik, Bapak yang tegas, Bapak yang selalu bilang usaha itu amanah. Dan seminggu sebelum hari yang mengubah semuanya, Akbar bilang Bapak kurang enak badan.
Kurang enak badan. Ia menulis alasan.
Tangan Tari mulai dingin. Tiga hari lalu, di kafe, Akbar bilang ada urusan keluarga yang ia sembunyikan. Urusan keluarga. Ia sudah mendengarnya, tapi saat itu ia terlalu sibuk menjaga dinding, jadi kalimat itu hanya lewat seperti angin.
Ponselnya bergetar di lantai. Nida.
"Tar, kamu belum tidur?" Wajah Nida muncul di layar, masih memakai mukena. "Aku baru selesai isya, terus tiba-tiba ingat sesuatu. Gak penting sih, mungkin."
"Apa?"
"Aku inget, seminggu sebelum wisuda, Akbar sempat hilang. Gak bisa dihubungi. Waktu itu kamu cerita dia gak bales pesanmu dua hari, terus ada yang bilang dia pulang ke Bandung mendadak. Kita kira dia lagi ngurus sesuatu buat pindah." Nida menggaruk hidung. "Terus pas wisuda, ya... kejadian itu. Kamu tahu sendiri."
"Nida." Suara Tari agak serak. "Waktu itu, apa Akbar bilang kenapa pulang?"
"Gak tau, Tar. Kamu langsung blokir dia, aku mau tanya juga gak enak." Nida menyipitkan mata. "Kamu kenapa? Kok kayak habis lihat hantu?"
"Aku lagi baca buku harianku." Tari menggigit bibir. "Aku gak tahu kenapa aku buka itu malam ini."
"Karena kamu mulai penasaran," sahut Nida cepat, lalu menutup mulutnya sendiri, seakan baru sadar ia keceplosan membela lawan. "Maksudku bukan gitu."
"Kamu barusan setuju sama Esti."
"Enggak. Aku cuma lagi ngomong."
"Oh." Nida diam. Lalu, lebih pelan, "Oh. Dan?"
"Ada catatan. Dia batal jemput karena bapaknya kurang enak badan." Tari mengusap ujung matanya, tiba-tiba basah tanpa ia sadari. "Aku nulis 'alasan'."
Keheningan di seberang terasa panjang. Nida tidak lagi berpura-pura galak.
"Tar, aku gak bilang dia benar," ucapnya akhirnya. "Aku tetap gak setuju sama caranya. Tapi mungkin kamu perlu nanya ke diri kamu sendiri, kamu marah karena apa yang dia lakukan, atau karena apa yang kamu kira dia lakukan."
Sesudah panggilan berakhir, Tari masih duduk dengan buku itu di pangkuan. Selama hampir empat tahun, kemarahan adalah satu-satunya hal yang membuatnya bisa berdiri. Sekarang, di bawah lampu kamar, kemarahan itu terasa seperti bangunan yang diam-diam retak pada salah satu pondasinya.
°°°°
Ia menunaikan salat sunah dua rakaat, lebih lama dari biasanya, dan di sujud terakhir ia tidak meminta apa-apa selain petunjuk. Bukan jawaban. Petunjuk saja, seperti seseorang di tengah kabut yang tidak butuh peta, hanya butuh tahu ke mana kakinya harus melangkah.
Pukul sembilan lewat, ponselnya bergetar sekali lagi. Ia nyaris menjatuhkannya.
Raditya Hermanto: Maaf pergi mendadak. Ceritanya besok saja, kamu istirahat.
Tari membacanya dua kali, lalu menyadari sesuatu yang aneh. Radit tidak bertanya cerita apa yang tertunda tadi. Ia tidak menebak, tidak mendesak, tidak menyiratkan bahwa ia tahu sesuatu sedang disembunyikan. Ia hanya menunggu, dan menunggu terasa jauh lebih berat daripada ditagih.
Pesan itu pendek, datar, dan penuh perhatian, seperti Radit sendiri. Tidak ada marah, tidak ada nada kecewa karena hari Minggu mereka terpotong. Hanya satu tawaran untuk besok, seolah ia yakin cerita Tari akan tetap ada ketika matahari terbit.
Tari menutup buku harian dan menyimpannya kembali ke kardus. Ia naik ke atas kasur, bersandar pada tembok, lalu mengetik dengan dua jempol.
Besok.
Satu kata, dan sebuah tanda baca yang belum sempat ditambahkan. Ia menatapnya sebentar. Lalu jarinya menekan tombol hapus, huruf demi huruf, sampai kotak pesan itu kosong dan kursor kecil berkedip sendirian di sana.