Andrian terlambat mengangkat mikrofon. Lagu yang dipilih Aline sudah berjalan, sementara ia masih mencari tempat masuk di antara suara yang tidak dikenalnya. Ketika akhirnya mencoba, nadanya bertabrakan dengan suara istrinya. Aline tertawa sampai lupa baris berikutnya.
“Kau memang tidak berbohong waktu bilang tidak bisa.”
“Saya sudah memperingatkan.”
“Kalau begitu, jangan kelihatan seperti sedang gagal rapat. Di sini tidak ada notulen.”
Pada lagu kedua yang lebih pelan, Andrian berani ikut bersenandung. Ia tetap tidak menjadi penyanyi yang bagus. Namun Aline menyelesaikan lagu sambil tertawa, dan ia tidak lagi merasa harus mencari penjelasan setiap kali salah nada.
Mereka keluar ketika waktu bilik habis, mengambil barang titipan, lalu menuju parkir. Pegawai sempat tidak menemukan satu kantong kecil yang hampir tertukar. Andrian meminta mereka memeriksa nomor dan isi bersama sebelum pergi. Aline sudah hendak melewati pembatas ketika diingatkan bahwa ruang belakang milik pegawai. Ia berhenti, meskipun masih mengetukkan kaki sampai barangnya ditemukan.
Dalam mobil, ia menoleh kepada Andrian.
“Aku senang hari ini. Tapi jangan pulang membawa cerita bahwa aku sudah melupakan Romi.”
Andrian memegang setir lebih erat sebelum melonggarkannya. “Saya tidak boleh menyimpulkan itu.”
“Kau boleh senang. Aku juga. Hanya saja, senang berjalan-jalan bukan jawaban tentang pernikahan.”
Ia mengangguk. Di rumah mereka menyimpan kantong belanja tanpa membicarakan apa yang akan dikatakan kepada keluarga. Malam itu kamar tetap terpisah, seperti sebelumnya. Usia pernikahan mereka lima bulan, dan kesepakatan berpisah pada bulan kedelapan belum berubah.
Keesokan paginya Aline membawa satu kantong lain dari lemarinya. Ada kaus cokelat, merah, biru langit, serta pakaian formal yang belum pernah diterima Andrian. Barang itu dibelinya ketika pergi sendiri dan melihat Romi di foodcourt.
“Aku tidak memberikannya waktu itu,” katanya. “Aku pulang dengan pikiran berantakan. Kau boleh mencobanya sekarang, kalau mau.”
Andrian mencoba di kamar sementara Aline menunggu di lorong. Kaus cokelat disukainya. Yang merah membuatnya lama berdiri di depan cermin sebelum keluar.
“Yang ini terlalu mencolok untuk saya.”
Aline sempat ingin membantah karena ia menyukai warnanya. Lalu ia melihat betapa sungguh-sungguh Andrian menunggu kemarahannya.
“Baik. Jangan dipakai ke luar kalau tidak nyaman. Aku memilih baju, bukan memilih kulit baru untukmu.”
Jawaban itu membuat bahu Andrian turun. Aline ikut tertawa, kemudian menanyakan mengapa pria yang berani memimpin perusahaan begitu takut mengatakan tidak menyukai kaus.
Pembicaraan mereka berlanjut di meja makan. Andrian akhirnya mengakui rasa sarapan yang pernah dibuatnya: omelet hambar atau terlalu asin, sosis sedikit gosong. Ia memakannya karena senang diperhatikan dan takut Aline berhenti mencoba.
“Jadi aku mengulangi kesalahan karena kau bilang enak?”
“Saya salah menjawab. Kamu sudah bertanya.”
Wajah Aline memanas. Ia ingat betapa bangganya ia ketika menjanjikan menu yang sama setiap hari. “Lain kali bilang bagian mana yang tidak enak. Aku mungkin kesal, tapi jangan biarkan aku terus memberi orang makanan asin sambil merasa berjasa.”
Mereka menyepakati hal sederhana: sampaikan keberatan kepada orangnya sebelum berubah menjadi dugaan. Aline juga harus berhenti menganggap diam Andrian selalu berarti senang. Kesepakatan itu diuji ketika ia ingin menyiapkan seluruh pakaian lagi dan Andrian mengatakan dapat melakukannya sendiri.
“Kau tidak akan mengubah janji karena aku tidak melayani?”
Andrian terdiam. Pertanyaan yang dulu pernah membuatnya sedih kini terdengar lebih jelas. Aline memasak dan menyiapkan pakaian karena takut kehilangan jalan keluar.
“Tidak,” jawabnya. “Dan syarat itu seharusnya tidak ada. Aku yang memintanya. Aku ingin merasakan rumah tangga yang kamu tidak inginkan, lalu membuatnya seperti harga kebebasanmu.”
Aline duduk kembali. Mereka membicarakannya sampai tidak ada kalimat yang masih dapat berarti bahwa satu sarapan akan menunda perpisahan. Syarat pelayanan dicabut. Bulan kedelapan tetap menjadi waktu untuk menghadapi keputusan mereka, tanpa kewajiban memasak atau menjadi istri yang lebih manis dahulu.
Pakaian Andrian mulai disiapkannya sendiri. Bu Dewi tetap bekerja dengan tugas yang sama. Ketika Aline belajar memotong sayur sesudahnya, ia meminta waktu setengah jam dan berhenti ketika waktu itu habis. Ia tidak perlu melukai tangan untuk membuktikan kesungguhannya.
Beberapa hari kemudian kedua keluarga mengundang mereka makan di rumah orang tua Aline. Aline sudah menduga pertanyaan yang akan datang. Ia tetap menegang ketika Papa meletakkan sendok dan menanyakan kabar cucu.
“Aline belum ingin hamil, Pa.”
Papa menatapnya. “Kalian sudah lima bulan menikah.”
“Itu tidak membuat pertanyaan tentang anak harus dijawab sekarang.”
Andrian tidak menutupi jawabannya dengan pekerjaan yang terlalu sibuk. Ketika Papa bertanya kepadanya, ia mengatakan mendukung keputusan Aline untuk tidak mempunyai anak sekarang. Kehamilan tidak akan dipakai agar orang tua berhenti bertanya.
Papa menyebut harapan keluarga dan Aline sebagai anak tunggal. Percakapan berpindah ke ruang tamu setelah Aline menolak membahasnya di sela makan. Ia mendengarkan kekecewaan orang tuanya, tetapi tidak mengubah jawaban. Amira akhirnya mengatakan akan berhenti menanyakan malam itu. Mama Aline belum dapat menyatakan setuju, hanya berjanji tidak mengulang desakan.
Mereka pulang tanpa minum kopi. Di mobil, Aline melepaskan napas panjang.
“Aku tidak marah kau diam ketika aku bicara.”
“Aku mendengarkan.”
“Aku tahu. Kali ini aku tahu bedanya.”
Di rumah ia tidak menyiapkan makanan sebagai terima kasih. Ia duduk di dapur dan mengakui bahwa hari-harinya kosong sejak Papa menyuruhnya berhenti bekerja. Memasak sekali-sekali tidak dapat menggantikan semua yang hilang itu. Andrian menawarkan mendengar sebelum menawarkan cara menghiburnya.
“Aku ingin memikirkan pekerjaan lagi,” katanya. “Bukan supaya kau lebih senang pulang. Aku sendiri yang ingin punya sesuatu untuk dikerjakan.”
***
Aline mencari buku lama yang dahulu dipakainya mencatat jadwal pengiriman. Ada nomor gudang, catatan pemasok, dan koreksi yang membuatnya mengingat betapa ia pernah kesal pada pekerjaan itu. Kini ia justru merindukan persoalan yang dapat diselesaikan tanpa harus membicarakan statusnya sebagai istri.
Ia pernah mencocokkan pesanan dengan nota, mengatur jadwal kiriman, dan menghubungi bagian gudang jika jumlah tidak sesuai. Bukan jabatan tinggi. Ia tahu ada banyak hal yang belum dikuasainya, tetapi Papa menyuruhnya berhenti bukan karena pekerjaannya buruk.
Aline menulis usul kembali tiga hari seminggu, pukul sembilan sampai empat. Ia tidak ingin meminta seluruh pekerjaannya dahulu sekaligus sebelum mengetahui keadaan bagian tersebut. Ia menelepon kantor dan memperoleh waktu sepuluh menit untuk berbicara dengan Papa.
Malam sebelum pertemuan ia hampir meminta Andrian berbicara menggantikannya. Ketakutan yang dulu membuatnya menerima perjodohan muncul ketika membayangkan wajah Papa di balik meja.
“Kalau kau ikut, dia mungkin lebih mau mendengar.”
Andrian menutup laptop. “Aku boleh menemani kalau kamu memang ingin ditemani. Tapi kita perlu jelas bahwa kehadiranku bukan surat izin bekerja.”
Aline duduk di kursi dekat pintu. Ia tidak segera menjawab. Sebagian dirinya memang ingin meminjam kedudukan Andrian agar penolakan lebih sulit diucapkan.
“Aku ingin dia mendengar pekerjaanku, bukan melihat suami yang mengantar istri.”
“Kalau begitu, kamu bisa mulai sendiri. Kalau nanti ingin pendamping, kamu tetap boleh memintanya. Aku tidak menganggap itu membuatmu gagal.”
Setelah berpikir, Aline memilih berangkat sendiri. Ia meminta Andrian berada di rumah pada malam hari jika ia ingin bercerita. Itu bantuan yang masih diinginkannya, tanpa menjadikan pria itu wakil bagi keputusan yang hendak disampaikannya.
Kantor Papa tidak banyak berubah. Resepsionis mengenalinya dan menunjukkan tempat menunggu. Aline sempat ingin berjalan langsung seperti ketika masih bekerja di sana, lalu berhenti. Hari itu ia datang meminta pekerjaan yang tidak lagi dipegangnya, bukan mengambil meja sesuka hati.
Papa mempersilakannya masuk setelah pemasok terakhir keluar. Aline menyampaikan usul tiga hari beserta tugas yang masih dapat dikerjakannya.
“Kamu sekarang istri. Rumahmu bukan di sini.”
“Aline tahu sudah menikah. Itu tidak membuat Aline kehilangan kemampuan mencocokkan nota.”
Papa tidak membuka jadwal. Ia bertanya apakah Andrian merasa tidak sanggup menghidupi istrinya sampai Aline harus kembali bekerja. Aline menjelaskan dirinya tidak datang membawa keluhan tentang uang belanja atau permintaan Andrian.
“Pekerjaannya masih ada, Pa?”
“Ada. Tapi bukan untuk membuat orang bertanya mengapa anak Papa yang baru menikah kembali duduk di kantor.”
Aline menatap buku di pangkuannya. Jawaban itu menyakitkan justru karena jelas. Ia tidak ditolak setelah pekerjaannya diperiksa. Ia ditolak karena Papa ingin mempertahankan gambaran tentang rumah tangga putrinya.
Ia bertanya sekali lagi apakah penolakan itu akan berubah jika jamnya disusun lebih terperinci. Papa mengatakan tidak. Aline kemudian berpamitan tanpa merobek usul atau menyebut Andrian akan datang menyelesaikannya.
Di mobil ia minum air sampai tangannya cukup tenang untuk menyetir. Ia mengirim kabar telah selesai, lalu pulang. Ketika Andrian mendengar ceritanya malam itu, ia tidak menelepon Papa untuk membela diri sebagai suami yang mampu. Ia bertanya apakah Aline ingin didengarkan atau dibantu memikirkan pilihan berikutnya.
“Dengarkan dulu. Aku belum ingin membuat lamaran lain malam ini.”
Mama menelepon tak lama kemudian. Ia sudah menerima kabar bahwa Aline membuat keributan di kantor. Aline mengulang pembicaraan dari awal, termasuk pekerjaan yang dimintanya dan alasan Papa menolak.
Kali ini Mama tidak segera mengatakan Papa tahu yang terbaik. Ia menanyakan jam, tugas, dan apakah Aline memang ingin kembali pada bagian yang sama. Setelah mendengar jawaban, ia mengaku belum dapat membuat Papa berubah pikiran, tetapi tidak menganggap bekerja sama dengan meninggalkan perkawinan.
“Mama simpan usulmu. Kalau Papa bilang kamu tidak punya rencana, Mama akan mengatakan Mama sudah membacanya.”
Aline mengirim salinan setelah memeriksa isinya. Ia tidak menuliskan Andrian setuju di bagian bawah. Jam yang diusulkan juga tidak diubah diam-diam agar terlihat lebih sedikit daripada yang sebenarnya diinginkannya.
Pada Jumat ia menghubungi Papa lagi sesuai waktu yang disepakati. Penolakan belum berubah. Aline mendengarnya, lalu mengatakan ia tidak akan masuk bekerja sebelum ada kesepakatan. Ia juga tidak akan berhenti mempertimbangkan pekerjaan hanya karena satu perusahaan menutup pintu.
Sesudah panggilan selesai, ia hampir melempar buku ke sofa. Ia meletakkannya dengan keras, kemudian duduk dan mengusap wajah. Menjadi lebih berani ternyata tidak membuat setiap jawaban berubah menjadi ya.
Andrian yang baru pulang bertanya apakah ia ingin pergi makan. Aline menggeleng.
“Aku mau marah sebentar di sini.”
“Baik.”
“Kau tidak harus ikut marah. Tapi jangan bilang aku seharusnya tidak pergi.”
Andrian duduk di kursi lain. “Kamu punya alasan datang. Jawaban Papa tidak menghapusnya.”
Aline akhirnya membuka buku lagi. Ia menandai bagian yang masih benar mengenai kemampuannya, lalu menuliskan hal yang perlu dipelajari kembali. Ia belum mengirim lamaran malam itu. Setidaknya kini ada sesuatu yang dapat diperbaiki dan dibawa ke tempat lain, bukan hanya satu penolakan yang berputar tanpa akhir di kepalanya.