Pada kunjungan berikutnya ke rumah orang tua Andrian, Tika kembali menyebut malam pertama dengan senyum yang membuat Aline ingin berdiri. Kali ini ia tidak membalas dengan cerita bahwa Andrian memujinya di ranjang. Kebohongan itu pernah diucapkannya untuk menang, dan ia tidak ingin memakainya lagi.
“Aku tidak membahas kamar kami di meja ini.”
Arian menegur istrinya. Tika mengatakan hanya bercanda, lalu menyebut latihan malam sebagai alasan orang tampak letih dan berantakan. Aline menoleh kepada Andrian. Ia ingat apa yang dilihatnya ketika turun mengambil air di rumah ini.
Andrian meminta Tika berhenti. Namun Aline tidak lagi ingin membawa pulang pertanyaan yang tidak pernah diucapkannya secara langsung. Setelah mereka berpisah dari keluarga, ia menjelaskan apa yang dilihat malam itu: Andrian keluar dari gym, kemudian Tika menyusul dengan wajah merah dan pakaian tidak rapi.
“Aku mengira kalian berselingkuh,” katanya. “Aku tidak bertanya. Sekarang aku bertanya.”
Andrian mengusulkan membicarakannya setelah sampai rumah agar ia tidak menjawab sambil menyetir. Aline setuju, dengan satu permintaan: jangan menghubungi Tika lebih dahulu untuk menyamakan cerita.
Di dapur, Andrian menjelaskan bahwa ia menggunakan gym di rumah orang tuanya untuk berolahraga. Tika sudah berada di sana ketika ia datang. Ia membantunya membetulkan posisi siku ketika berlatih, kemudian kembali mengurus latihannya sendiri. Tidak ada hubungan romantis atau seksual di antara mereka. Andrian keluar lebih dahulu; Tika masih merapikan alat serta sarung tangannya. Pakaian dan wajah yang dilihat Aline berasal dari kegiatan tersebut.
Aline menanyakan bagian yang belum jelas tanpa menerimanya hanya karena ingin percaya. Andrian menjawab, termasuk kenyataan bahwa tidak ada orang lain di ruangan itu untuk menjadi saksi seluruh kejadian. Ia menunjukkan percakapan yang relevan ketika diminta, tetapi tidak menyebut tidak adanya pesan sebagai bukti yang dapat menjawab segala hal.
“Yang salah, aku membiarkan sindiran sesudahnya,” lanjutnya. “Aku menegur sebentar, lalu diam supaya keluarga tidak ribut. Aku tidak tahu kamu melihat malam itu, tetapi aku tahu Tika mengorek hal yang bukan urusannya.”
Mereka mengundang Arian dan Tika untuk membicarakannya langsung beberapa hari kemudian. Pertemuan itu tidak disamarkan menjadi jamuan makan. Andrian mengulangi penjelasan gym di depan mereka. Tika tidak menyatakan ada perselingkuhan. Ketika ditanya dengan tegas, ia membenarkan bahwa mereka berolahraga dan tidak mempunyai hubungan lain.
“Lalu kenapa terus menyindir?” tanya Aline.
Tika tidak mempunyai jawaban yang membuatnya terlihat baik. Ia merasa terganggu melihat Andrian berubah sejak menikah, lalu memakai ketidaknyamanan Aline sebagai hiburan. Arian tidak membelanya dengan mengatakan Aline terlalu mudah marah.
“Aku tidak meminta kau menyukaiku,” ujar Aline. “Aku meminta kau berhenti memakai rumah tangga kami sebagai bahan.”
Tika mengungkit kebohongan Aline pada sarapan sesudah pernikahan. Aline mengakuinya tanpa membuka rincian kamar. Ia salah membalas hinaan dengan kebohongan; hal itu tidak memberi Tika izin menyindir selamanya.
Pada akhir pertemuan, Tika berjanji menghentikan sindiran tentang malam pertama dan gym. Sikapnya masih kaku. Aline tidak menganggap mereka mendadak berteman, hanya menerima batas yang kini telah diucapkan di depan orang-orang yang terlibat.
Sesudah tamu pulang, ia mengatakan kepada Andrian bahwa dugaan perselingkuhan itu tidak akan dipakainya lagi sebagai fakta. Andrian tetap perlu bertanggung jawab atas diamnya, sementara Aline perlu bertanggung jawab karena menyimpulkan tanpa bertanya.
Persoalan itu membuatnya mengingat hal lain yang selama ini hanya dilihat dari jauh. Romi masih berada di foodcourt, bekerja dalam kehidupan yang tidak diketahuinya. Ia belum pernah bertanya langsung mengapa pria itu meninggalkan bengkel.
***
Aline memberitahu Andrian sebelum pergi. Ia ingin meminta waktu Romi pada jam istirahat, bukan menyelinap untuk memulai hubungan kembali. Ia masih menikah dan tidak hendak menjanjikan masa depan yang belum dipilihnya.
Andrian mengaku cemburu. Ia tidak meminta membaca ponsel atau menawarkan uang untuk diserahkan kepada Romi. Mereka menyepakati kabar setelah pertemuan selesai agar Aline tidak ditunggu tanpa mengetahui waktunya, lalu ia berangkat sendiri.
Romi sedang mengangkat baki ketika melihatnya. Wajahnya menegang. Aline meminta waktu setelah pekerjaannya memungkinkan, dan Romi menyebut jam istirahatnya. Ia menunggu sambil memesan minuman sendiri, tanpa mengganggu orang yang mengantre.
Ketika akhirnya duduk berhadapan, Romi lebih kurus daripada dalam ingatan dekatnya. Aline hampir mengatakan ia terlihat menderita, lalu menahan diri. Ia sudah cukup lama membuat kesimpulan dari kejauhan.
“Kenapa tidak bekerja di bengkel lagi?”
Romi menjelaskan pergantian pengelola dan jam kerja yang sulit diperkirakan. Ibunya perlu ditemani memeriksakan kesehatan pada waktu yang tidak selalu sama. Pekerjaan sekarang memberinya jadwal yang lebih jelas. Ia makan tidak teratur pada masa penyesuaian, tetapi bukan berarti hidupnya berhenti sambil menunggu Aline kembali.
Aline mendengarkan. Ia mengaku pernah melihatnya di tempat itu dan memilih menunduk. Ia takut menyapa lalu terbawa keinginan kabur tanpa menyelesaikan apa yang telah dijalaninya.
“Jadi aku masih harus mengerti mengapa kau pergi dan mengapa kau tidak menyapa sesudah melihatku?”
“Tidak. Aku datang untuk mengakuinya, bukan meminta kau terus mengerti.”
Romi meremas gelasnya, kemudian melonggarkan tangan. Ia menyebut sumpah lama untuk membuat orang tua Aline menyesal. Kalimat itu diucapkannya ketika marah. Ia tidak menjalankan rencana pembalasan, tidak mengirim orang, dan tidak bermaksud mendatangi rumah keluarga Aline sekarang.
Penjelasan itu tidak membuat percakapan mudah. Ketika ditanya mengenai perasaannya, Aline menjawab dirinya masih membawa cinta serta rasa bersalah, tetapi tetap istri Andrian. Ia tidak menjanjikan akan kembali setelah delapan bulan pernikahannya.
“Itu keadaanmu,” kata Romi. “Aku tidak bisa hidup dari keadaan yang kau ceritakan lalu kau tinggalkan di meja ini.”
Aline terdiam. Jam istirahat Romi hampir habis. Ia berdiri setelah mengatakan tidak akan membuat janji saat belum mampu menepatinya. Romi kembali bekerja tanpa pelukan atau permintaan agar Aline menunggu di luar kedai.
Di rumah ia mengulang percakapan kepada Andrian, termasuk bagian yang membuatnya tidak tampak baik. Romi bukan orang yang hidupnya telah dihancurkan hanya karena ditinggalkan olehnya. Ia juga bukan kenangan yang dapat disimpan sebagai pilihan cadangan selama kehidupan Aline mulai membaik.
“Aku masih cemburu,” kata Andrian setelah mendengar. “Tapi aku tidak akan membuat keputusanmu dengan menawarkan sesuatu yang dia tidak punya.”
“Aku tidak mau kau melakukan itu.”
“Tidak akan.”
Aline merasa lega, lalu menyadari perasaan lega itu belum merupakan jawaban bagi Romi. Pada kedatangan berikutnya ia mengaku bahwa ia telah meninggalkan pria itu dengan ketidakjelasan. Ia tidak datang untuk meminta Romi menunggu sampai dirinya mengetahui apakah ingin mempertahankan pernikahan.
Romi bertanya apakah ia baru berani mendatanginya karena hubungan dengan Andrian sudah lebih tenang. Aline tidak menolak seluruh tuduhan itu. Ia memang baru sanggup berbicara setelah tidak lagi menghabiskan hari hanya dengan marah. Namun keberanian yang terlambat tidak boleh menjadi alasan memperpanjang harapan orang lain.
“Aku mau bertemu sekali lagi untuk jawaban yang selesai,” kata Romi. “Kalau kau memang tidak akan kembali, ucapkan. Jangan datang setiap kali ingin memastikan aku masih ada.”
Mereka menyepakati empat hari kemudian, pada jam istirahat yang sama. Aline pulang dengan janji untuk datang dan berbicara jujur. Tidak ada persetujuan rujuk di dalamnya.
Selama jeda itu ia tidak berlatih bersama Andrian sampai setiap kata berubah menjadi kata suaminya. Ia memikirkan sendiri kehidupan yang dulu dibayangkan bersama Romi. Tabungan dan rencana pernikahan mereka pernah nyata. Tetapi orang yang kini ditemuinya telah mempunyai hari, kewajiban, serta kemarahan sendiri. Ia tidak dapat meminta pria itu tinggal di dalam gambaran lama hanya agar dirinya tidak merasa bersalah.
Malam sebelum pertemuan terakhir, ia mengatakan kepada Andrian bahwa penutupan dengan Romi belum otomatis berarti memilih bertahan. Andrian mengerti. Jawaban tentang perkawinan masih perlu diberikan kepada satu sama lain, tanpa menjadikan luka Romi alasan untuk mempercepatnya.