Pada pagi hari pertemuan terakhir dengan Romi, Papa menelepon. Ia tetap tidak membuka pekerjaan di perusahaannya untuk Aline. Mama sudah menunjukkan rencana jam, dan jawabannya belum berubah.
Aline mendengarnya tanpa menyebut nama Andrian sebagai pembela. Ia mengatakan tidak akan masuk bekerja tanpa kesepakatan, kemudian menutup telepon. Penolakan itu membuatnya sakit hati, tetapi ia tidak akan membawanya kepada Romi sebagai alasan mengetuk pintu lama.
Ia tiba sebelum jam istirahat. Kali ini ia tidak menunggu sampai percakapan dipenuhi kenangan sebelum mengatakan tujuannya.
“Aku tidak akan kembali menjalin hubungan denganmu,” katanya ketika Romi duduk. “Bukan sekarang, dan bukan sebagai janji kalau perkawinanku berakhir. Aku salah membiarkanmu menghadapi ketidakjelasanku. Aku tidak ingin kau menunggu.”
Romi diam lama. Di belakangnya seseorang memanggil nomor pesanan. Ia memandang ke arah kedai, lalu kembali menatap Aline.
“Kau masih bilang perasaanmu belum hilang.”
“Benar. Tapi perasaan itu harus kuurus tanpa membuatmu menjaganya. Aku tidak berhak meminta kau menunggu hanya karena aku belum bisa melupakan semuanya.”
“Dan kalau nanti kau menyesal?”
Aline menahan air mata yang membuat kalimatnya hampir berhenti. “Aku harus menanggung penyesalanku. Bukan datang lagi untuk memastikan kau masih mau menerimaku.”
Romi mengusap wajah. Ia kecewa, dan ia tidak berusaha tampak tenang demi membuat Aline lebih mudah pulang. Ia mengatakan tidak mau menerima pesan minggu berikutnya yang menghidupkan kembali kata mungkin. Ia juga tidak ingin Andrian menawarkan uang, pekerjaan, atau mengirim orang untuk menyelesaikan perpisahan mereka.
“Tidak ada pesan atau uang darinya,” jawab Aline. “Keputusan ini milikku.”
Romi mengangguk kaku. Ia tidak memberi maaf yang panjang atau meminta mereka tetap berteman. Setelah mengatakan tidak akan mengganggu keluarga Aline, ia berdiri untuk kembali bekerja. Aline berpamitan dan meninggalkan meja tanpa memeluknya untuk memperkecil rasa bersalah.
Di parkiran tangannya gemetar. Ia duduk sampai cukup tenang untuk pulang. Tidak ada rasa menang. Ia telah melukai orang yang pernah dicintainya dan tidak dapat mengubah sakit itu menjadi sesuatu yang indah hanya dengan memilih kalimat yang benar.
Andrian menemuinya di rumah. Aline menyampaikan apa yang telah dikatakan, lalu menegaskan satu hal sebelum pria itu bertanya: ia menutup harapan Romi, belum memberi keputusan akhir tentang perkawinan.
Andrian sempat hendak menanyakan apakah itu berarti ia memilih tinggal. Ia berhenti, mengakui pertanyaannya terlalu cepat, kemudian mendengarkan sampai selesai.
Hari-hari setelahnya tidak selalu ringan. Aline masih teringat kedai dekat bengkel dan rencana yang pernah mereka tabung. Ketika membeli keperluan rumah, ia dapat memilih jalan menuju foodcourt, tetapi tidak singgah untuk melihat apakah Romi sudah tidak marah. Keadaan Romi tidak lagi menjadi sesuatu yang boleh diperiksanya demi menenangkan diri.
Ia berjalan pagi, membaca kembali catatan kerja, dan membiarkan kesedihan ada tanpa menjadikannya alasan menolak semua percakapan. Andrian tidak menanyakan setiap malam apakah rasa itu sudah hilang. Ia tetap bekerja, tetap mengambil pakaiannya sendiri, dan tidak meminta penghargaan karena menunggu.
***
Beberapa minggu kemudian, ketika usia perkawinan mereka sudah melewati enam bulan, Amira datang berkunjung. Ia hampir memberi tahu saudara bahwa pasangan itu semakin rukun, lalu memilih bertanya lebih dahulu. Andrian pulang setelah Aline mengabarinya, dan mereka menjelaskan kesepakatan delapan bulan yang belum dicabut.
Amira terkejut. Ia tidak pernah mengetahui bahwa tawa di meja keluarga dapat berlangsung bersamaan dengan rencana untuk berpisah. Aline mengatakan belum ingin hamil dan belum mengambil keputusan untuk tetap bersama Andrian. Senyum tidak dapat dipakai sebagai pengganti jawabannya.
“Mama tidak akan mengumumkan apa pun,” kata Amira akhirnya. “Mama perlu menerima bahwa yang Mama lihat hanya sebagian.”
Kepada ayahnya, Andrian menyampaikan batas yang sama. Mereka boleh ditanyai kabar, tetapi tidak lagi diberi desakan cucu atau diminta mempertontonkan keharmonisan. Percakapan itu tidak membuat semua mertua senang. Setidaknya kini mereka mengetahui apa yang tidak boleh dijadikan cerita di antara saudara.
Aline kemudian meminta waktu bertemu kedua orang tuanya. Kali ini ia mengajak Andrian karena ingin pria itu mendengar langsung, tanpa menjadi orang yang membuka pembicaraan.
Di ruang tamu ia mengulang ancaman yang dahulu diucapkan Papa, lalu diteruskan Mama: menikah dengan pilihan mereka atau pergi dan tidak lagi menganggap mereka orang tua. Ia telah menyebutnya bakti karena takut kehilangan keduanya. Ketakutan itu membuatnya menerima perkawinan yang tidak dipilihnya.
“Papa menginginkan yang terbaik,” jawab ayahnya.
“Keinginan yang baik tidak membuat ancaman itu tidak menyakitkan, Pa.”
Mama lebih dahulu mengakui bagiannya. Ia pernah memakai biaya membesarkan anak sebagai alasan menagih kepatuhan. Ia tidak akan mengatakan kalimat itu hanya bentuk kasih sayang.
Papa belum memberikan permintaan maaf yang utuh. Ia tetap tidak suka mendengar kata paksaan. Namun setelah cukup lama diam, ia berjanji tidak lagi menyebut Aline durhaka karena bekerja atau belum memberi cucu.
Aline menerima janji yang benar-benar diucapkan itu tanpa mengubahnya menjadi pengampunan untuk semuanya. Ia tidak menukar percakapan tentang ancaman dengan permintaan pekerjaan yang kembali ditolak. Keduanya pulang sebelum pembicaraan bergeser menjadi tuntutan agar ia segera terlihat bahagia.
Pada suatu malam sesudah kunjungan tersebut, Andrian meminta waktu berbicara di dapur.
“Aku mencintaimu sejak makan malam pertama sebelum kita menikah,” katanya. “Aku tidak ingin kamu mengira itu baru muncul setelah kamu lebih ramah.”
Aline mendengarkannya tanpa menjawab bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama. Ia mengingat malam pertemuan itu sebagai jalan yang ditutup orang tua. Andrian mengingatnya sebagai awal jatuh hati. Kedua ingatan tersebut tidak dapat disamakan hanya agar perkawinan mereka terdengar lebih pantas.
Andrian mengakui bahwa ia senang ketika Aline dahulu meminta melanjutkan sampai bulan kedelapan. Ia masih memperoleh waktu bersama, meskipun mengetahui Aline belum mencintainya. Ia takut perasaannya dipakai sebagai alasan menahan, dan ingin menyatakannya sebelum ketakutan tersebut berubah menjadi perintah yang halus.
“Kalau kamu memilih berpisah, tidak ada syarat pelayanan,” lanjutnya. “Tidak ada tagihan barang atau makan. Kita membicarakan langkahnya dengan baik. Aku tidak akan mempermalukanmu kepada keluarga atau memakai Romi sebagai cela.”
Belum ada pengajuan perceraian atau proses hukum yang dimulai. Mereka sedang membicarakan kesediaan menghadapi pilihan, bukan mengumumkan bahwa status perkawinan dapat berakhir otomatis ketika kalender mencapai tanggal tertentu.
Aline pun meminta maaf atas cara ia melukai Andrian: tuduhan makanan diracuni tanpa dasar, kata-kata yang sengaja menyakitkan, dan anggapan bahwa semua kekacauan berasal dari pria yang menjadi suaminya. Ia tetap tidak mencabut kenyataan dirinya pernah dipaksa. Ia hanya berhenti menggunakan luka itu untuk membenarkan setiap serangan kepada Andrian.
Andrian menerima tanpa mengatakan semua sudah lunas karena cinta. Mereka tidak berpelukan untuk menutup percakapan. Ketika Aline ingin memikirkan keinginannya sendiri pada waktu yang tersisa, ia dapat melakukannya dengan mengetahui bahwa rasa bersalah bukan satu-satunya alasan yang tersedia untuk tinggal.