Memasuki bulan ketujuh perkawinan, Mama datang bersama Papa ke rumah mereka. Aline tidak menduga ayahnya membawa map berisi usul pekerjaan. Ia membukanya sambil duduk di seberang, tanpa meminta Andrian membacakan lebih dahulu.
Papa menawarkan percobaan tiga pagi: Selasa, Rabu, dan Kamis, pukul sembilan sampai dua belas. Pekerjaannya mencatat tamu serta jadwal kiriman, dengan bagian administrasi lama yang masih berkaitan. Jamnya lebih singkat daripada usul Aline. Papa belum menyukai gagasan putrinya bekerja lagi, tetapi Mama telah memintanya menilai jadwal tanpa menghubungkannya dengan cucu.
“Kalau ingin pekerjaan yang ini, datang sebagai orang yang bekerja,” katanya. “Bukan membawa masalah rumah ke meja kantor.”
Aline menanyakan lingkup tugas dan upah percobaan. Setelah jelas, ia mengatakan bersedia. Ia tidak menyebut tawaran itu permintaan maaf yang cukup untuk seluruh tekanan dahulu. Mereka sedang membuat kesepakatan kerja yang perlu dijalani dan dievaluasi.
Malam sebelum mulai, Aline menyiapkan pakaian serta bukunya. Ia gugup menemukan dirinya tidak ingat letak beberapa arsip. Andrian bertanya apakah ia ingin menceritakan kegugupannya. Ia menjawab iya, lalu menertawakan kekhawatiran akan salah menyebut nama orang yang mungkin sudah pindah bagian.
“Kalau tidak ingat, tanyakan,” kata Andrian.
“Aku tahu. Masalahnya mulutku suka lebih cepat daripada pertanyaanku.”
Pada Selasa, ia benar-benar harus bertanya. Tata cara mencatat kiriman telah berubah. Seorang pegawai menunjukkan format baru, dan Aline mengikutinya tanpa mengatakan dahulu ia mengerjakan semuanya lebih mudah.
Menjelang pukul sepuluh, ia menyadari dirinya salah memasukkan jam satu kiriman. Ia membetulkan catatan dan mengabari bagian yang terpengaruh sebelum kekeliruan itu membuat tamu berikutnya menunggu. Papa lewat ketika ia sedang mencoret, tetapi tidak menegur di depan orang lain.
Ia pulang setelah pekerjaan paginya diserahkan dengan jelas. Bu Dewi sedang menyapu dan menanyakan makan siang, tanpa menagih cerita mengenai tamu. Aline mengambil makanan, kemudian duduk dengan letih yang berbeda dari kebosanan.
Ketika Andrian pulang, ia menceritakan satu kesalahan itu karena ingin bercerita, bukan karena harus memberikan seluruh catatan kantor. Ia juga mengaku senang dapat mengetahui apa yang perlu dilakukan esok hari.
“Aku mau lanjut Rabu dan Kamis,” katanya. “Walaupun tadi sempat ingin menyalahkan kolom baru.”
Pada Kamis, Papa meminta ia menggantikan seorang pegawai lain sampai sore. Aline menjelaskan dirinya telah membuat rencana di luar jam percobaan dan tidak bisa menambah hari itu. Ia bersedia membicarakan perubahan tugas terlebih dahulu untuk waktu berikutnya. Papa tidak senang, tetapi tidak menyebutnya durhaka atau menyeret nama Andrian.
Pekerjaannya tetap ada pada pekan berikutnya. Pada akhir minggu pertama ia menerima upah sesuai percobaan dan menyisihkannya untuk ongkos serta keperluan pribadi. Pengeluaran rumah tidak diubah menjadi perlombaan membandingkan penghasilannya dengan Andrian.
Selama beberapa minggu, mereka menyesuaikan jadwal rumah. Tiga malam dipilih untuk makan bersama jika tidak ada perubahan yang diberitahukan. Malam lain dapat berjalan sendiri-sendiri tanpa harus menjadi tanda sedang bertengkar. Bu Dewi tetap pulang pada jamnya; jika pasangan itu terlambat, mereka tidak memanggilnya kembali hanya untuk membuat rumah terlihat terurus.
Ketika Papa mengeluhkan pertanyaan saudara mengenai Aline yang kembali bekerja, Mama menyampaikan di depannya bahwa pekerjaan tiga pagi tidak mengancam perkawinan. Papa belum setuju dengan semua yang dikatakan istrinya. Namun ia tidak mencabut percobaan atau menjadikan ketidaksukaannya alasan menghapus pekerjaan putrinya.
Aline mendengar perubahan kecil itu tanpa menukar rasa terima kasih kepada Mama dengan janji akan bertahan. Pada sore biasa, setelah bekerja dan pulang, ia justru dapat menilai apa yang diinginkannya tanpa terus merasa sedang membayar sesuatu.
***
Ketika tanggal bulan kedelapan mendekat, Andrian membicarakannya langsung. Mereka tidak akan melewati hari tersebut dengan berpura-pura lupa. Aline memilih berbicara di rumah, tanpa kedua keluarga menjadi penonton.
Tanggal itu jatuh pada Selasa. Ia mengatur izin untuk satu pagi, sementara Andrian mengambil cuti setengah hari. Pekerjaan pada hari lain tetap berjalan. Tidak ada pengacara atau berkas perceraian yang disiapkan diam-diam; jika berpisah yang dipilih, mereka perlu membicarakan dan menjalani langkah selanjutnya dengan benar.
Pagi itu Aline mengisi tas kecil dengan pakaian dua hari, keperluan pribadi, dokumen, serta uang miliknya. Andrian tidak mengambil tas atau bertanya apakah ia sudah benar-benar akan pergi.
“Aku ingin membawanya sampai pagar,” katanya.
Andrian membuka pintu setelah diminta. Aline berjalan melewati teras. Tasnya tidak berat, tetapi tangannya menggenggam tali terlalu kuat. Di pagar ia berhenti dan memandang jalan yang biasa dilalui ketika berangkat kerja.
Tidak ada Papa di sana yang mengancam mencabut hubungan keluarga. Tidak ada Romi yang menunggu di ujung jalan sebagai jawaban yang sudah disediakan. Andrian tetap di teras, tidak memanggil, dan tidak menyuruh seseorang menjemputnya kembali.
Ia dapat pergi. Mengetahui itu berbeda dari hanya mendengar janji bahwa dirinya bebas. Setelah beberapa saat, Aline berbalik dan masuk ke rumah dengan tas yang sama.
“Aku belum menjawab hanya dengan kembali,” katanya. “Aku ingin duduk.”
Mereka duduk di dapur. Andrian memberinya waktu minum dan makan sebelum berbicara. Ia sendiri kesulitan menelan karena takut berharap terlalu cepat. Aline dapat melihatnya, dan untuk kali ini ia tidak menuntut pria itu menyembunyikan semua kegelisahan.
“Aku memilih tinggal bersamamu,” katanya akhirnya.
Andrian menatapnya. Aline mengusap tangan pada lutut, lalu melanjutkan sebelum ia menjawab.
“Bukan untuk membalas kebaikanmu atau karena Papa menunggu hasil. Aku ingin meneruskan hidup yang mulai kita jalani. Aku bisa keberatan tanpa harus menunggu kita bertengkar. Aku bisa bekerja, pulang, dan tidak langsung menjadi orang yang harus melayanimu. Aku juga ingin kau ada di dalam hari-hari itu.”
Andrian menarik napas panjang. “Aku ingin tetap bersama kamu. Tapi aku perlu tahu kamu tidak merasa harus mengatakan itu karena aku sudah menunggu.”
“Aku tidak membayar penantianmu.”
“Baik.”
“Dan kau jangan menerima hanya karena tidak tega membiarkanku pergi.”
Senyum Andrian muncul pelan. Ia mengatakan pintu tadi dibuka karena ia tidak boleh menahan, bukan karena ia ingin Aline memakainya untuk meninggalkan rumah. Kini keduanya memilih meneruskan perkawinan, dan kesepakatan pribadi untuk berpisah pada usia delapan bulan dapat dicabut bersama.
Mereka membicarakannya sampai tidak ada lagi bagian yang disembunyikan karena takut merusak kelegaan. Aline belum ingin menjanjikan anak. Ia belum ingin berpindah kamar hanya untuk menunjukkan keputusan itu sungguh-sungguh. Andrian menerima bahwa bertahan tidak menghapus percakapan mengenai batas yang masih diperlukan.
Sesudahnya mereka mencoret kesepakatan lama dan tanda pada kalender. Tidak ada proses pengadilan untuk dibatalkan karena tidak pernah diajukan. Yang mereka cabut adalah rencana pribadi, diganti keputusan untuk meneruskan perkawinan tanpa harga pelayanan.
Aline menelepon Mama dan menyampaikan kabarnya sendiri. Ia kemudian berbicara kepada Papa, tanpa meminta restu ulang atau memberi kabar kehamilan yang tidak ada. Andrian menghubungi Amira dengan penjelasan yang sama. Mereka tidak mengundang kerabat datang merayakan hari itu.
Papa hanya berdeham, lalu mengatakan telah mendengar dan tidak akan menambah syarat. Aline tidak memaksanya mengucapkan kalimat yang lebih hangat agar keputusan mereka terasa lengkap.
Menjelang siang ia membongkar tas. Pakaiannya kembali ke lemari, dokumen serta uang ke tempatnya. Tas itu tidak disimpan di dekat pintu untuk dipakai mengancam setiap kali mereka berbeda pendapat.
Andrian berangkat bekerja setelah waktu cutinya selesai. Di depan pintu ia berhenti, seolah masih ingin menanyakan sesuatu, kemudian tersenyum ketika Aline menatapnya.
“Sampai nanti sore.”
“Sampai sore,” jawab Aline.
Ia menutup pintu sesudah kendaraan keluar. Rumah tidak tiba-tiba berubah menjadi tempat tanpa persoalan. Tetapi sore yang ditunggunya kini berbeda: ia ingin menyambut seseorang yang telah dipilihnya untuk tetap berada di dalam hidupnya.