Keputusan bertahan mulai diuji ketika undangan makan siang datang dari Amira. Waktunya Kamis pukul setengah satu, sementara pekerjaan Aline berakhir pukul dua belas dan rumah mertuanya tidak dekat dengan kantor.
Aline ingin datang, tetapi tidak ingin meninggalkan kiriman yang menjadi tanggung jawabnya atau berlari ke meja makan sambil masih memikirkan pekerjaan.
“Aku bisa Minggu,” katanya kepada Andrian. “Kalau harus Kamis, kau boleh datang sendiri. Jangan bilang aku sakit.”
Andrian mengaku ingin istrinya ikut. Ia lalu menelepon Amira untuk meminta perubahan hari, tanpa menyampaikan seolah Aline sedang merajuk. Amira sempat memeriksa jadwal anggota keluarga lain sebelum mengatakan Minggu dapat dipakai. Makan keluarga itu dipindahkan, dan Kamis Aline tetap bekerja seperti biasa.
Tidak semua orang menyukai perubahan tersebut. Ayah Andrian menganggap seharusnya mereka dapat langsung datang seusai kerja. Andrian menjelaskan bahwa perjalanan serta waktu beristirahat tetap diperlukan. Ia tidak meminta Aline mengundurkan diri demi menghindari perdebatan berikutnya.
Pada Minggu, Aline bertemu Papa dan Mama yang juga diundang ke rumah Amira. Ayahnya menanyakan apakah pekerjaan tiga pagi masih dijalaninya. Ia menjawab iya dan menjelaskan hari itu dipilih karena tidak memotong jadwal tersebut.
Papa tidak memuji panjang. Ia hanya mengatakan melihat putrinya tetap datang tanpa perlu diancam. Aline menerima pengakuan kecil itu tanpa berpura-pura semua luka lama telah dilupakan.
“Papa masih tidak suka dengan beberapa pilihanmu,” tambahnya.
“Aline tahu. Aline juga tidak selalu setuju dengan Papa.”
Mama hendak menyela, lalu menahan diri ketika keduanya mengambil sendok kembali. Mereka dapat makan tanpa memaksakan akhir yang seragam pada perbedaan itu.
Tika dan Arian turut datang pada bagian akhir makan. Tika sempat membuka kalimat mengenai masa awal pernikahan, lalu berhenti. Ia menggantinya dengan pertanyaan tentang makanan. Aline tidak memintanya menyelesaikan sindiran yang batal diucapkan. Hari itu cukup bahwa batas yang pernah dibicarakan masih dipegang.
Pulang dari sana, Aline tidak menelepon siapa pun untuk menceritakan bahwa keluarga kini sudah berubah seluruhnya. Pada Senin ia tetap tidak bekerja, sesuai jadwal. Selasa ia kembali ke meja yang berisi tamu dan kiriman. Persetujuan orang tua tidak lagi menjadi satu-satunya tanda bahwa harinya boleh berjalan.
Pada akhir pekan lain ia mengajak Andrian ke mal. Kali ini Andrian mengatakan tidak ingin bernyanyi atau mencoba pakaian berjam-jam. Aline agak kecewa, kemudian menyadari ia sedang meminta kejujuran yang dahulu tidak berani disampaikan pria itu.
Mereka memilih makan dan berjalan singkat. Aline membayar makanan yang dipesannya dari upah sendiri, sementara Andrian menanggung kendaraannya. Ketika ia ingin masuk toko pakaian, Andrian mengatakan kakinya sudah letih dan ingin pulang. Ia tidak menunggu sampai wajahnya kesal lalu menuduh Aline seharusnya mengetahui.
Aline menghela napas, melihat toko sekali lagi, kemudian berjalan ke arah parkir. “Lain kali aku pergi sendiri kalau ingin melihat pakaian lebih lama.”
“Boleh. Aku tidak harus menyukai setiap hal yang kamu suka.”
“Aku tahu. Aku hanya perlu menyesuaikan rasa kecewa sebentar.”
Andrian tersenyum, dan Aline ikut tertawa. Perbedaan itu tidak membuat sore mereka gagal. Dalam perjalanan pulang, ia melihat papan foodcourt yang mengingatkan pada Romi. Ia tidak meminta berhenti untuk menguji apakah perasaan lamanya sudah hilang. Ia telah menyampaikan perpisahan kepada orangnya. Ia tidak perlu menghidupkan kembali harapan hanya untuk memastikan dirinya lebih baik.
***
Pada malam biasa, beberapa waktu sesudahnya, Aline meminta Andrian menutup buku yang sedang dibaca. Ia ingin membicarakan sesuatu tanpa televisi menyela.
“Aku memilih tinggal sebelum mengatakan ini,” ujarnya. “Sekarang aku tahu aku juga mencintaimu.”
Andrian diam. Ia tidak mengatakan akhirnya atau menyebut berapa lama ia menunggu. Aline melihat jarinya berhenti di sudut halaman, lalu diletakkan di meja.
“Perasaanku tidak datang pada makan malam pertama,” lanjutnya. “Aku tidak ingin mengubah hari itu supaya kita mempunyai awal yang sama. Aku tahu kapan aku menyerah karena takut. Yang sekarang berbeda.”
Ia menyukai percakapan yang tidak lagi harus dimulai dengan kemarahan. Ia merindukan cerita kecil Andrian ketika bekerja sampai malam, ingin tahu apakah ia sudah makan karena peduli, dan dapat mengatakan dirinya lelah tanpa khawatir akan dianggap gagal menjadi istri.
Perasaan itu tidak tumbuh dari satu hadiah atau satu sore karaoke. Ia tumbuh pada hari-hari yang dapat dijalani sebagai dirinya sendiri bersama seseorang yang juga berani mengatakan keinginannya.
Andrian meraih tangannya setelah bertanya. Aline membiarkannya. Tidak ada janji pindah kamar malam itu, tidak ada permintaan untuk membuktikan cinta dengan tubuh atau menyiapkan sesuatu yang harus dilakukan sebelum pagi.
“Aku mencintaimu,” balas Andrian. “Aku menerima yang kamu katakan sekarang. Bukan pembayaran untuk bulan-bulan sebelumnya.”
Aline menggenggam tangannya lebih erat. Untuk pertama kalinya ia dapat mendengar kalimat itu tanpa merasa sedang diberi tugas menjawab hal yang sama. Jawabannya telah datang dari dirinya, pada waktu yang tidak ditentukan keluarga.
Pada percakapan lain sesudahnya, mereka membicarakan anak. Aline belum ingin hamil. Ia dapat membayangkan membahasnya lagi ketika keduanya sungguh menginginkan, tetapi tidak menjanjikan bulan atau tahun agar pertanyaan kerabat berhenti.
Andrian menyatakan anak bukan syarat yang menentukan apakah keputusan Aline untuk bertahan dianggap cukup. Jika kelak keinginan mereka berbeda, hal itu perlu dibicarakan sebagai persoalan nyata, bukan disembunyikan dalam janji samar yang ditagih bertahun-tahun kemudian.
Mama masih bertanya pada kunjungan berikutnya. Aline menjawab belum ada kabar dan tidak sedang memberi janji tersembunyi. Papa tampak kecewa, tetapi tidak memakai ancaman lama. Amira pun tidak mengubah jawaban itu menjadi berita bahwa cucu akan segera datang. Mereka belum menjadi keluarga yang selalu sepakat; setidaknya satu penolakan dapat didengar tanpa pengusiran.
Kehidupan rumah terus disesuaikan bersama Bu Dewi. Pekerjaannya serta jam pulang dijelaskan tanpa membuatnya menjadi orang yang harus mengawasi perasaan majikan. Aline tidak menggantikan seluruh tugasnya pada hari tidak bekerja demi membuktikan kesetaraan. Ketika ingin memasak, ia mengatakannya. Ketika lelah, mereka dapat membeli makan atau mengambil yang tersedia.
Pada suatu Selasa pagi, Aline lebih dahulu berada di dapur. Ia membuat minuman untuk dirinya serta Andrian karena air sudah mendidih. Pria itu datang dengan kemeja yang dipilihnya sendiri, mengambil cangkir, lalu duduk.
“Malam ini aku mungkin pulang lebih lambat,” katanya. “Ada pekerjaan yang belum selesai. Aku akan memberi kabar kalau waktunya bergeser.”
“Aku juga ingin menyelesaikan catatan di kantor. Nanti setelah pulang aku mungkin langsung istirahat.”
“Baik. Kita tidak harus menunggu makan kalau jadwalnya tidak cocok.”
Aline mengangguk. Ia tidak mendengar kalimat itu sebagai ketidakpedulian. Mereka dapat mempunyai hari sendiri dan tetap ingin pulang kepada satu sama lain.
Bu Dewi tiba sebelum keduanya berangkat. Mereka menyampaikan keperluan makan serta jam yang diketahui, lalu membiarkannya bekerja tanpa memberi cerita mengenai siapa lebih mencintai siapa. Aline mengambil tas dan kunci mobilnya. Andrian berpamitan lebih dahulu.
Sesaat sebelum keluar, ia melihat bekas tanggal yang dicoret pada kalender lama. Kertas itu belum dibuang. Ia tidak memandangnya sebagai ancaman yang perlu disimpan agar Andrian selalu takut kehilangan, melainkan jejak pilihan yang akhirnya dibicarakan dengan benar.
Tidak ada lagi janji kepada Romi yang menunggu di ujung perkawinan. Tidak ada kewajiban memberi anak untuk membayar jasa orang tua. Ada pekerjaan yang dipilih, rumah yang dibagi, dan pria yang ingin ditemuinya lagi setelah harinya selesai.
Aline menutup pintu depan yang dapat dibuka dari dalam oleh Bu Dewi, lalu berjalan ke mobil. Pagi itu ia pergi bekerja, bukan pergi meninggalkan. Sore nanti ia akan kembali karena menginginkannya. Dilema yang dahulu hanya memberinya dua ketakutan telah berakhir dengan jawaban yang berhak diucapkannya sendiri.
TAMAT