Kuburan itu sedang dibongkar. Beberapa menit yang lalu, kabar tersebut membuyarkan kantuk seorang pemuda. Tanpa menunggu matahari muncul dari balik awan mendung, ia bergegas melewati jajaran makam yang semuanya berlapis rumput khusus, tanpa menghiraukan bau tanah basah bekas hujan tadi malam, lumpur yang mengotori sandal japitnya, atau hawa dingin yang cukup menusuk kulitnya. Pagi itu, ia menghampiri kerumunan orang yang berkasak-kusuk di tengah pemakaman.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu lihat, kan!? Kuburan ini benar-benar sudah tidak ada isinya!” Teriakan seorang pria terdengar dari tengah kerumunan itu.
Si pemuda berhenti di belakang kerumunan, berusaha melongok melalui celah-celah manusia. Karena tak bisa melihat apa pun, ia pun menerobos ke salah satu celah itu.
“Permisi… Permisi…” Meski agak terhalang padatnya orang, pemuda itu akhirnya bisa masuk. Begitu berdiri di hadapan sumber masalah, kekagetan pun menyerangnya.
“Saya sudah ngomong berkali-kali! Tadi malam, saya pulang lewat sini! Saya lihat beberapa orang berkumpul di sekitar kuburan ini!” seru pria paruh baya yang sedang berdiri di tengah lubang makam yang baru digali. Ia mengacungkan cangkulnya ke atas dengan napas ngos-ngosan, tubuh berkeringat, dan baju penuh noda tanah.
Mata si pemuda bergerak mengamati keadaan sekitar. Ada satu tiang besi tempat lampu penerang dipasang seadanya di dekat makam itu, jaraknya kira-kira tiga meter dari tempat si pemuda. Kalau perkataan pria itu benar, maka siapa pun yang datang tadi malam pasti akan terlihat.
“Kenapa Bapak nggak nanyain mereka dulu?” tanya seorang ibu di kerumunan, terdengar begitu sangsi.
Si pria berkacak pinggang, terlihat jengkel. “Bu, saya ulangi lagi ya, mereka itu ada yang bawa golok! Mending saya sembunyi saja di balik pohon, daripada nanti kenapa-napa!”
Si pemuda berjongkok, sekarang pandangannya tertuju ke sekeliling lubang makam. Selain gundukan tanah dan potongan-potongan rumput, ia juga menemukan seonggok batu nisan marmer berwarna hitam. Ya, lubang itu adalah bekas makam seseorang. Dari kedalamannya, seharusnya siapa pun bisa melihat jenazah, tapi nyatanya tidak.
“Terus orang-orang itu ngapain, Pak?” tanya si pemuda, degup jantungnya mulai merambat naik.
“Mereka mengeluarkan jenazah dari kuburan ini. Setelah itu, salah satu dari mereka melihat saya. Wajahnya seram sekali, Mas. Saya takut, jadi saya kabur,” terang si pria, tampak mengingat-ingat. “Waktu tadi saya cek ke sini lagi, kuburannya sudah kembali seperti semula.”
Si pemuda menelan ludah. “Seramnya kayak gimana, Pak?”
“Aduh, pokoknya seram sekali, Mas… Matanya…” Pria itu tercekat, tubuhnya mulai menggigil dan matanya pun membelalak. Seolah di hadapannya ada sesuatu yang begitu mengerikan.
Otak si pemuda langsung memanggil memori enam bulan yang lalu, saat kejadian-kejadian di luar nalar itu hadir dalam hidupnya, ketika teror-teror itu terjadi.