Reno merasa sudah berjam-jam menyenderkan kepala berambut cepaknya ke jendela mobil. Namun, ia yakin itu hanyalah efek dari obrolan membosankan yang terus menyesaki telinganya. Kalau mulut dua orang wanita di jok depan itu bisa menutup sebentar saja, Reno akan sangat bersyukur.
Si pemilik mobil sekaligus sang pengemudi, wanita berambut lurus panjang dengan tubuh gemuk terus berbicara tentang gosip artis. Sepertinya tante Reno yang benarma Cita itu punya kawan yang sepadan kali ini. Biasanya Reno hanya melongo bila Cita sedang berbincang kepadanya, tidak membalas dengan antusias seperti Evelyn, wanita berambut lurus sebahu di jok satunya.
Reno mungkin memanggil Evelyn sebagai ibunya. Akan tetapi, siapa pun tak akan melihat kemiripan di antara mereka. Kalau melihat fisik, Evelyn mungkin lebih pantas disebut sebagai kakak daripada ibu. Wajahnya begitu mulus dan kencang, padahal umurnya sudah hampir empat puluhan.
“Kamu kenapa, Ren?” celetuk Cita, melihat tubuh kerempeng Reno dari kaca spion. “Kamu mikirin temen-temen kamu yang mau kamu tinggalin?”
“Nggak lah, Te. Kan pindahnya masih dalam kota. Aku masih bisa ketemu mereka di sekolah.”
“Nggak ada yang kaget kamu pindah?”
Reno memiringkan kepalanya, berusaha mengingat-ingat. “Aku paling cuma ngasih tahu Joni, Te. Tapi begitu tahu rumah barunya nggak jauh-jauh amat, dia ngerasa biasa aja.”
“Sampe sekarang Tante aja masih kaget keluarga kamu pindah. Rumah kamu yang dulu itu kan udah atas nama papi kamu,” lanjut Cita, lantas melirik kepada Evelyn. “Jadi, kenapa Mas Aksa milih beli rumah itu, Lyn?”
Evelyn yang ditanyai tersenyum lebar. “Kan aku sudah pernah cerita, Mbak. Kata Mas Aksa sih, supaya sekolah Reno tidak terlalu jauh.”
Cita cuma mengangkat bahu, terkesan tak puas dengan jawaban itu. Dan Reno pun mempunyai perasaan yang sama dengan sang tante. Kalau berangkat sekolah dengan mengendarai motor dari rumah barunya, ia memang hanya menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit. Namun, jarak antara rumahnya yang dulu dan sekolahnya juga tak bisa dibilang jauh. Buktinya, selama ini ia jarang sekali terlambat.
Bukannya Reno malas bertanya lebih lanjut, tapi terus-menerus mendapat jawaban yang sama tentu saja membuatnya jengah. Pada akhirnya, ia memilih untuk tak peduli. Toh, kepindahan ini tak akan menganggu kehidupan sehari-harinya.
Mobil yang ditumpangi Reno memelan secara teratur, sebelum akhirnya berhenti. Cita mematikan mesin mobil, lalu turun dengan diikuti Reno dan ibu tirinya beberapa detik kemudian.
Minimalis, besar, dan lega, itu kesan pertama Reno saat melihat rumah barunya. Berbeda dengan huniannya dulu yang hampir memakan semua lahan, rumah itu memiliki halaman. Kendati tampak menjemukan karena hanya dihiasi hamparan rumput jepang dan lampu taman, paling tidak halaman itu terlihat cukup luas.
Hanya ada satu hal yang masih mengganjal di hati Reno. Ia tidak membenci warna gelap, tapi ia merasa kurang sreg dengan cat abu-abu tua yang digunakan untuk membalut dinding rumah tersebut. Menurutnya, warna seperti itu memberi kesan muram.
“Ren, jangan ngelamun aja, bantuin dong,” panggil tantenya dari bagian belakang mobil.
Terbangun dari pikirannya, Reno bergegas membantu Evelyn dan Cita mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil. Hampir tanpa usaha, Reno membawa beberapa gagang sapu, mengapit dua lap pel dengan ketiak, serta menenteng ember berisi botol cairan pembersih. Cita memboyong magic jar dan tikar lipat, sementara Evelyn menggotong rantang-rantang beserta alat makan. Mereka lalu melewati jalanan berpaving yang terhubung dengan teras rumah.
Acara pagi sebelum pindah rumah hari ini adalah bersih-bersih. Seharusnya mereka melakukan pekerjaan itu kemarin. Namun, karena kedua orangtua Reno terlalu sibuk menjamu tetangga-tetangga yang ingin mengucapkan selamat tinggal, mereka baru sempat melaksanakannya sekarang.
“Wah, rumputnya bagus, nih. Terawat banget,” ucap Cita setibanya di depan pintu masuk berwarna hitam.
Reno bisa mendeteksi nada tidak suka dari suara tantenya itu.
“Pemilik sebelumnya baru pindah sekitar dua mingguan lalu, Mbak,” timpal Evelyn sembari berkutat dengan kunci pintu itu.
Cita cuma manggut-manggut, lantas membuntuti Evelyn yang memasuki rumah. Begitu menjejakkan kaki ke dalam, Reno merasa sedikit lega. Kali ini, warna yang terlihat di tembok adalah kuning muda. Meski terkesan agak ketinggalan zaman, tapi paling tidak nuansanya cerah.
“Yuk cepetan, nanti mas Aksa keburu dateng,” celetuk Cita ketika Reno sedang mengamati interior.
Ketiganya segera bagi-bagi tugas. Reno dijatah dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan garasi. Cita mendapat bagian dua kamar tidur lainnya dan ruang tamu. Sementara itu, Evelyn membersihkan ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi yang kedua.
Karena rumah itu belum lama ditinggalkan, beban kerja mereka jadi lumayan ringan. Setelah membereskan garasi yang tak terlalu kotor dengan sapu lidi, Reno beralih membersihkan kamar di dekat dapur. Sama seperti sebelumnya, ia bisa menyelesaikan pekerjaannya itu dengan cukup cepat, hanya menghalau lapisan debu tipis di atas lantai keramik.
“Cepet banget nyapunya. Kamu yakin udah bersih?” tanya Cita setelah Reno membuang debu yang dikumpulkan ke luar. Tante Reno itu terlihat sedikit ngos-ngosan.
“Anak baik, Tante.”
Cita cuma mencibir dan Reno pun tersenyum tipis. Berbeda dengan keluarga Reno yang tak pernah mempekerjakan orang untuk mengurus rumah, Cita malah punya dua pembantu. Reno yakin, adik papinya itu lebih sering pergi ke salon daripada memegang sapu.
Di kamar kedua yang lebih luas, tepatnya di ujung barat rumah, Reno menghela napas. Ia jadi teringat akan pujian-pujian mami kandungnya. Bukan karena nilai-nilai rapor atau prestasi yang ia raih, tapi karena kecekatannya. Maminya itu pernah bilang, kecepatan menyapu Reno itu nomor satu di rumahnya. Mungkin itu bakat, karena pada dasarnya Reno jarang mengurusi pekerjaan rumah, paling-paling kalau maminya sakit atau pergi.
Reno melongok keluar, melihat Evelyn yang tengah menyapu ruang keluarga. Yang memuji Reno tentu saja bukan wanita itu. Sudah tiga bulan Reno tinggal dengan sang ibu tiri, tapi rasa canggungnya belum juga hilang. Bukan berarti Evelyn itu jahat. Hanya saja, orang asing menjadi orangtua baru adalah ide yang begitu aneh bagi Reno.
Sebenarnya, apa yang membuat papi dan mami kandungnya bercerai? Mengapa Reno tak pernah mendengar mereka berdua bertengkar sebelum akhirnya berpisah? Kapan dan di mana papinya mengenal Evelyn? Apakah Evelyn adalah orang ketiga yang membuat pernikahan orangtua Reno bubar?
Berusaha mengusir pertanyaan-pertanyaan itu, Reno mengalihkan perhatian ke sekeliling kamar. Ia mendekati lemari kayu besar di salah satu sudut kamar, satu-satunya barang yang tak diangkut pemilik rumah terdahulu. Mungkin pelitur yang membalut lemari itu baru, tapi ukiran-ukiran bunga yang menghiasinya tampak ketinggalan zaman.
“Ngelamun lagi, kan?”
Reno sedikit berjengit saat mendengar suara tantenya itu. Ia menoleh ke belakang dan menemukan Cita sedang bersedekap sambil tersenyum di dekat pintu.
“Udah selesai nyapunya, Te?”
“Aah, gampang itu,” seloroh Cita dengan nada malas yang dibuat-buat, lantas mendekati Reno. “Kamu bantuin ibumu, gih. Biar Tante yang bersihin kamar ini. Bilang aja kamu udah selesai.”
“Tapi…”
“Udaaah, sana.” Cita langsung mendorong Reno keluar.
Ini adalah usaha Cita yang kesekian kalinya untuk mendekatkan Reno dengan sang ibu tiri. Insting Reno langsung bisa menyadarinya. Meski enggan, Reno tahu usaha melawan adalah hal yang sia-sia. Sepanjang hari, Cita pasti akan terus berusaha sampai Reno mau berhubungan dengan sang ibu tiri.
“Oke deh, Te,” jawab Reno pasrah. Walau kakinya terasa berat, ia tetap menghampiri Evelyn yang tengah membersihkan dapur.
“Bu, bagianku udah selesai,” ujar Reno kepada Evelyn, terdengar agak kaku. “Ada yang bisa aku bantu lagi?”
Evelyn menoleh ke arah Reno dengan gerakan cepat, jelas sekali kalau ia terkejut. “Hmm… Bagaimana kalau kamu membersihkan kaca saja?”
Setelah mengangguk pelan, Reno berbalik pergi, sama sekali tak mempunyai ide untuk sekedar berbasa-basi.
“Tunggu, Ren,” panggil Evelyn, membuat Reno langsung berhenti. “Ibu mau berterimakasih karena kamu sudah setuju untuk pindah ke sini. Ermm… Ibu dan papi kamu pernah bilang alasan kita pindah ke rumah itu agar sekolah kamu tidak terlalu jauh, tapi…”
Kesunyian seketika menyelimuti tempat itu. Meski ingin bertanya, tapi Reno tak bisa merangkai kalimat dengan baik di otaknya. Ia cuma bisa menunggu Evelyn, yang berkali-kali membuka mulut, hanya untuk menutupnya lagi.
”Alasan sebenarnya Ibu meminta papimu pindah itu…” Evelyn menggeleng-gelengkan kepalanya, tampak begitu cemas. “Keluarga kamu kan sudah menempati rumah itu dari kamu kecil. Banyak kenangan… Kenangan dari ibu kandungmu…”
Otak Reno tak bisa memproses perkataan Evelyn dengan baik. Kenangan? Untuk apa ibu tirinya mengurusi hal seperti itu?
“Mungkin ini terdengar tidak rasional. Ibu cuma tidak mau papi kamu… Setelah menikah dengan ibu… Masih teringat dengan ibu kandungmu…”
Kemarahan langsung menggelegak di kepala Reno. Ia baru sadar sekarang, wanita ini benar-benar ingin memutus ikatan terakhir kedua orangtua kandung Reno. Dan gara-gara itu, Reno harus terkena getahnya.
Hal yang wajar kalau Reno bersuara keras demi meluapkan perasaannya. Akan tetapi, ia lebih memilih berdiri membisu. Dan memang seperti itulah dirinya. Waktu mendengar orangtuanya bercerai atau ketika mengetahui papinya akan menikah lagi, ia tak pernah membantah.
“Aku mau bersihin kaca dulu, Bu,” kata Reno akhirnya, meski dengan bibir bergetar.
“Kyaaaaa!!!”
Pekikan itu berasal dari kamar tempat Cita berada. Reno dan Evelyn saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya menemui Cita di kamar itu. Di sana, tante Reno itu tengah duduk di lantai dengan pandangan yang terhujam ke lemari besar di sudut kamar.
Cita menoleh ke arah Reno dan Evelyn sambil mendelik, lantas menunjuk lemari itu dengan tangan gemetar. “A…ada penampakan!”
Reno memberanikan diri untuk mendekati lemari itu dan mengamatinya. Tak melihat hal ganjil di bagian luarnya, ia pun membuka lemari itu dengan perlahan.
Lemari itu kosong. Di dalamnya cuma ada kayu melintang untuk menggantung hangar dan rak-rak untuk pakaian yang dilipat.
“Nggak ada apa-apa kok, Te,” ucap Reno, lantas membantu Cita berdiri.
“Tadi Tante lihat! Di pegangannya ada tangan!” bantah tante Reno itu.
“Ya, sudah. Biar aku saja yang membersihkan kamar ini, Mbak,” sambung Evelyn seraya memijat sebelah pundak Cita. “Mbak istirahat saja dulu.”
Reno segera menutup lemari itu. Sedikit rasa takut memang masih menyarangi hatinya, tapi menurutnya kejadian ini tak perlu dibahas. Bukannya tak percaya akan hal-hal klenik, ia hanya merasa kalau kelewat ngeri dengan satu peristiwa aneh, maka nanti ia tak akan betah menempati rumah barunya itu.