Karena truk yang mengangkut perabot rumah Reno datang terlambat, maka acara pindahan itu dilanjutkan setelah makan siang. Pukul empat sore, hampir semua perabot telah diboyong ke dalam rumah, menyisakan satu meja komputer milik Reno.
“Ren, kamu sebelah sana,” perintah Endru, suami Cita yang berkulit gelap dan berperut buncit.
“Hah? Eh, oke Om.” Reno agak tersentak. Gara-gara tak menemukan satu pun memoar tentang mami kandungnya di antara barang-barang, perhatiannya jadi terganggu. Ia cuma bisa menerima kenyataan itu dengan perasaan nelangsa. Sepertinya sang papi telah menyembunyikan memoar-memoar itu atau malah sudah membuangnya entah ke mana.
Dengan aba-aba Endru, keduanya mengangkut lemari itu dari dekat truk. Meski di dalam rumah ada beberapa tukang angkut barang, Endru mengajak Reno untuk tetap membantu agar pindahan itu cepat selesai.
“Lampu tamannya pake solar panel, tuh,” ucap Endru sambil mengedikkan kepalanya ke lampu berbentuk silinder di dekat jalan berpaving yang menuju teras. “Otomatis, kalau menjelang malam pasti nyala sendiri.”
“Masa sih, Om?” Reno mengamati lampu yang ditopang pasak logam ukuran satu setengah meter itu. Ia baru sadar, di tudung lampu itu terdapat sesuatu yang menyerupai layar sentuh ponsel. Kelihatannya itu adalah solar panel yang dimaksud Endru. “Berarti kalau lagi mati lampu, nggak ikut mati, dong?”
Endru mengangguk mantap. Saat keduanya tiba di teras rumah, Endru memperlambat langkahnya dan tersenyum jahil kepada Cita, yang duduk di kursi teras
“Masih nggak mau masuk?” ledek Endru kepada istrinya itu.
Cita hanya menjawab pertanyaan itu dengan gelengan pelan, raut wajahnya masih menunjukkan ketakutan.
Ketika melewati ruang tengah yang menjadi satu dengan ruang makan, Reno dan Endru didatangi oleh pria tegap berkumis tipis.
“Sudah habis barangnya?” tanya pria itu dengan ekspresi dingin.
“Udah, Mas Aksa,” jawab Endru kepada papi Reno itu.
Setelah mendapat anggukan pelan dari Aksa, Reno dan omnya memasuki kamar yang berdekatan dengan garasi. Dengan ukuran 3x3 meter, kamar itu sudah lebih dari cukup untuk menampung perabot pribadi Reno yang cuma terdiri dari meja belajar, meja komputer, lemari pakaian, rak kecil, serta dipan untuk satu orang. Kendati belum ditata, semuanya telah dibawa masuk.
“Makasih ya, Om,” ucap Reno setelah dirinya dan Endru menaruh meja itu ke salah satu sudut kamar.
“Sama-sama,” timpal Endru, lalu mengeluarkan sapu tangan dan mulai mengelap mukanya yang berkeringat. “Dulu waktu Om pindahan, papi kamu juga bantuin. Yah, kita itu emang harus saling membantu. Jangan kayak tetangga-tetanggamu itu, cuma nganterin doang. Abis makan, pulang.”
Reno langsung terkikik mendengar kalimat jujur khas omnya itu. “Barangkali mereka pulang biar nggak terlalu semrawut di sini, Om. Biar nggak kebanyakan orang.”
“Aah, paling mereka cuma mau makan opor bikinan ibumu .” Endru menjumput kunci motor dan STNK dari saku kemeja, lantas menyerahkannya kepada Reno. Dengan sangat jujur, ia tadi mengaku malas bersih-bersih, sehingga lebih memilih membantu Aksa, sekaligus menawarkan diri membawa motor Reno. “Nih, udah Om isi bensinnya.”
“Wah, makasih banyak, Om,” balas Reno, benar-benar merasa senang.
“Bisa natain semuanya sendirian, kan? Om udah capek.” Tanpa menunggu jawaban, Endru menepuk pundak Reno dan bertolak pergi.
Reno cuma memandangi omnya pergi dengan perasaan geli. Setelah itu, ia menggeser rak bukunya ke salah satu sudut kamar. Dari mulai pernyataan mengejutkan sang ibu tiri, memoar-memoar mami kandungnya yang hilang, sampai kejadian mistis yang dialami tantenya, semua itu membuat pikiran Reno tak karuan. Demi mengalihkan perhatiannya, ia pun mulai menyibukkan diri dengan memindahkan buku-bukunya dari salah satu kardus ke rak.
“Ren, Reno.”
“Ada apa, Pi?” Reno menghentikan kegiatannya, membiarkan begitu saja kumpulan papercraft yang telah digepengkan di dasar dus. Ia lalu menghampiri Aksa yang baru muncul di dekat pintu.
Aksa mengeluarkan satu lembar lima puluh ribuan dari dompetnya dan menyodorkannya kepada Reno. “Tolong belikan lauk. Masakan ibumu habis karena banyak tamu yang datang. Kasihan kalau dia disuruh masak lagi.”
Gara-gara wanita itu, Reno dibebani tugas seperti ini. Pikiran tak rasional itu sempat melintas di otak Reno, tapi ia buru-buru mengusirnya. Ini bukan pekerjaan berat dan yang meminta adalah papinya sendiri.
“Beli apa aja, Pi?” tanya Reno sambil menerima uang itu. “Papi tahu warung deket sini?”
“Kamu cari saja di sekitar sini,” jawab Aksa, masih dengan nada dinginnya. “Semuanya terserah kamu saja. Kalau bisa salah satu sayurnya berkuah.”
Setelah Reno memasukkan uang itu ke sakunya, Aksa pergi begitu saja. Reno menimbang-nimbang sejenak apakah ia perlu mandi atau tidak. Ia ingin semua pekerjaan selesai sebelum mandi, supaya keringatnya tak keluar lagi. Maka, ia pun menyemprotkan parfum ke tubuhnya banyak-banyak dan mulai berangkat.
Di halaman, Reno bertemu dengan om dan tantenya yang tengah mengobrol dengan lelaki paruh baya berkepala plontos. Setelah memperkenalkan diri dengan tetangga barunya yang bernama Badrun itu, Reno mengambil motor matic-nya yang diparkir di dekat halaman.
“Mau ke mana, Mas?” tanya Badrun.
“Beli lauk, Pak. Bapak tahu warung yang deket di mana?
“Ke selatan sebelum pertigaan ada warung nasi di kiri jalan. Bukanya sore. Jam segini sepertinya sudah buka.” Badrun menunjuk ke arah kanan rumah Reno. “Atau mau masak? Ke utara sebelum perempatan ada yang jual bahan mentah. Sayur-sayuran, bumbu-bumbu… Tapi kalau mau beli yang matang ya ke warung tadi, sebelum pertigaan.”
Sehabis berpamitan dengan mereka, Reno memacu motornya ke selatan. Hanya sebentar saja, ia sudah sampai ke lokasi yang dimaksud Badrun, sebuah warung nasi sederhana yang tak terlalu besar, tapi terlihat cukup bersih.
Reno memakirkan motornya dan menghampiri etalase warung, tempat berbagai macam lauk dipajang. Seorang ibu berkerudung berdiri di balik etalase itu, melayani beberapa pembeli dengan cekatan.
Di antara orang-orang itu, ada gadis yang menarik perhatian Reno. Gadis itu tak memakai make-up, tapi tetap saja penampilannya begitu rupawan, rambut ikal selehernya berkilau indah, kulitnya yang putih bersih tampak licin tanpa cela, mata besarnya seolah selalu berbinar, dan bibir mungilnya bak diukir dengan bahan terbaik. Akan tetapi, bukan itu semua yang menyedot atensi Reno. Ia cuma merasa sedikit familiar dengan sosok gadis itu.
Mungkin karena merasa diperhatikan, gadis itu menoleh ke arah Reno dan mendelik kaget. “Reno?”
“Ermm… Kamu satu SMA sama aku, kan? Au… Aurel, ya?” tanya Reno, berusaha terdengar ramah.
Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri dengan kaku, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan wajah penasaran. Reno cuma meringis dan mengangguk, merasa sedikit bingung.
Tak kunjung mendapat jawaban, Reno buru-buru mengulurkan tangannya. “Aah, aku baru pindah deket sini.”
“Aura,” balas si gadis seraya menjabat tangan Reno.
Begitu kulit telapak tangan mereka bersentuhan, Reno merasakan dingin yang seakan menjalar ke dadanya. Sang gadis buru-buru menarik tangannya, lantas menghindari mata Reno, tampak begitu salah tingkah.
“Ooh, yang deket rumahnya pak Badrun ya, Mas?” Ibu pemilik warung ikut nimbrung.
“Iya, Bu.” Reno mengalihkan perhatiannya kepada sang ibu, yang kini tengah membungkus nasi rames.
Tiba-tiba Reno merasakan hembusan nafas halus di pipinya. Betapa tercengangnya ia saat menyadari muka Aura sudah sangat dekat dengan mukanya. Gadis itu menyipitkan matanya, tampak mengamati Reno dengan saksama, sebelum akhirnya mundur beberapa langkah.
“Kamu sering bareng Joni, kan?” tanya Aura sambil memalingkan mukanya lagi.
“Iya,” Reno merasa sedikit terkejut Aura bertanya mengenai teman karib sejak SDnya itu, “emangnya kenapa?”
Gadis itu menggeleng pelan dan membisu. Tak ingin suasana canggung hadir di antara mereka, Reno pun mencari bahan pembicaraan di sudut-sudut otaknya.
“Kamu juga tinggal di deket sini?”
“Rumah itu… Setelah pak Guntur pindah jadi aneh, padahal dulu biasa aja…,” ucap Aura lirih, tapi suaranya tetap bisa masuk ke telinga Reno.
Alih-alih mendapat jawaban, Reno malah mendengar racauan seperti itu. Tentu saja kepalanya kembali dipenuhi tanda tanya. “Eh? Maksud kamu rumahku? Apanya yang aneh?”
“Rumah? Rumah apaan?” Kali ini Aura menoleh ke arah Reno dengan tatapan kosong, terkesan tak memahami pertanyaan Reno.
Reno cuma bisa melongo. Mungkinkah gadis ini termasuk tipe orang yang terkadang tanpa sadar mengutarakan isi pikirannya? Biasanya Reno cuma melihat orang seperti itu di sinetron-sinetron atau film televisi.
“Mbak Aura mau beli apa?”
Aura menghampiri ibu pemilik warung dan mulai menunjuk beberapa sayuran matang. Si ibu langsung menyendok sayur-sayur itu ke kantong plastik tanpa berkata apa pun lagi.
Sebenarnya, Reno ingin bertanya lebih lanjut mengenai maksud dari kata-kata Aura barusan. Barangkali ini berhubungan dengan kejadian aneh yang dialami Cita tadi. Akan tetapi, melihat Aura yang tampak tak sadar mengucapkan hal itu, Reno jadi ragu-ragu.
“Aku pulang dulu… Reno.” Setelah membayar kepada ibu pemilik warung, Aura pergi dengan menenteng tas plastik berwarna putih.
“Oke, ati-ati.”
Baru berjalan beberapa langkah, Aura berhenti dan menoleh ke arah Reno. “Jangan bilang Joni kalau kamu pindah ke deket rumahku, ya.”
Belum sempat Reno bertanya alasannya, gadis itu berlari-lari kecil keluar warung dan menaiki sepeda biru berkeranjang.
“Mbak Aura emang gitu,” terang ibu pemilik warung, yang kini sedang melayani pembeli terakhir sebelum Reno. “Kadang bengong, kadang ngomong sendiri. Kasihan, mungkin gara-gara ibunya meninggal waktu dia masih kecil.”
“Emangnya ibunya kenapa, Bu? Sakit?”
“Kurang tahu, Mas. Mbak Aura pindah ke sini berdua saja sama bapaknya. Sudah lama sekali itu… Hmm… Kalau nggak salah waktu itu mbak Aura baru masuk TK.”
Setelah pembeli terakhir menerima orderannya, Reno membeli beberapa potong tongkol bumbu merah, tempe orek, capcay, sup ayam, serta seplastik kerupuk. Sebelum pulang, ia berbasa-basi sedikit dengan ibu pemilik warung, mengakrabkan diri dengan lingkungan, mumpung belum ada pembeli lain yang datang. Kebanyakan Reno bertanya seputar Aura, tapi si ibu lebih sering menjawab tidak tahu. Reno memang bisa memilih topik lain, tapi sikap Aura tadi membuat hatinya sedikit tergelitik.