Yang bisa dilihat Reno hanyalah kegelapan. Kelopak matanya seolah tengah diganduli sesuatu yang berat. Perlu usaha keras sampai ia mulai bisa membuka matanya itu sedikit demi sedikit. Hal pertama yang disaksikannya adalah sesuatu yang menyerupai lembaran kain hitam. Saat matanya sudah terbuka sepenuhnya, ia baru menyadari kalau lembaran kain itu ternyata adalah sebuah jubah. Sosok yang memakainya tengah membelakangi Reno dari jarak yang agak jauh, seakan sedang memamerkan rambut lurusnya yang melebihi punggung.
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Reno menggerakkan kepalanya ke berbagai arah. Ia hanya melihat dinding-dinding, yang meski sudah tersirami cahaya remang, tetap saja berwarna hitam. Reno baru berhenti saat menemukan tiga obor yang menempel di dinding, tepatnya ada di atas kepala sosok berjubah hitam. Dua di atas, satu di bawah, membentuk rasi segitiga terbalik.
“Shhh .…”
Telinga Reno menangkap desisan aneh. Begitu tinggi, berbeda sekali dengan suara ular, tetapi terkesan tidak dikeluarkan dari mulut manusia. Apa pun itu, yang jelas Reno kini merasa tak nyaman.
Reno sudah membuka mulut, ingin berbicara dengan sosok berjubah itu, tapi pita suaranya seolah mati. Saat berusaha untuk kedua kalinya, ia tercekat. Matanya menemukan sesuatu yang begitu ganjil. Bentuk tangan sosok itu normal, meski kulitnya agak berkerut-kerut sedikit. Yang membuat Reno heran adalah warnanya: hitam legam seperti dinding di tempat itu.
Sosok itu berbalik dengan gerakan pelan. Rasa berat pun lagi-lagi menyerang kelopak mata Reno. Belum sempat ia melihat wajah sosok itu, matanya sudah tertutup sepenuhnya.
Reno kembali membuka matanya. Namun, yang dilihatnya sekarang adalah plafon kamarnya sendiri, diterangi sedikit cahaya lampu jalan yang melewati ventilasi jendela. Ia pun menarik napas panjang, berusaha menekan interval degup jantungnya yang di atas normal.
Menyadari kepala dan punggungnya beralaskan sesuatu yang keras dan dingin, ia pun segera bangun. Ya, saat ini dirinya tidak berada di atas kasur, tetapi di lantai kamarnya. Dengan panik yang mulai menyerang, ia berdiri dan menyalakan lampu.
Di manapun sudut yang ia periksa, kamarnya itu tak menunjukkan keanehan. Ia pun duduk di kasur untuk menenangkan diri. Begitu kedua telapak tangannya menyentuh seprai, kepalanya langsung dipenuhi rasa heran.
Seprai itu dingin. Seolah dirinya sudah lama meninggalkannya.
***
Rasa kantuk masih menyarangi kepala Reno. Setelah bermimpi aneh di tengah malam tadi, ia jadi sulit terlelap. Gara-gara itu, ia sampai membersihkan rumah sebelum fajar dan bersiap-siap hanya untuk menyibukkan diri.
Dan sekarang di sinilah dia, berdiri dekat pintu kelasnya yang baru, di hari pertama masuk setelah libur panjang, memperhatikan pemandangan kosong sekolahnya dengan tubuh sedikit menggigil.
“Eh Ren, pagi banget.”
Reno yang baru menguap langsung menoleh ke arah suara yang tak asing itu. Ada seorang murid laki-laki yang tengah menghampirinya. Dia adalah pemuda terjangkung yang pernah menjadi teman Reno, mungkin juga tertinggi di sekolah ini. Itu kalau ukuran jambulnya juga dihitung.
“Tumben nggak telat, Jon,” jawab Reno ogah-ogahan
“Yah, aku kan udah jadi senior, malu lah sama adek kelas.” Setelah mengatakan hal itu, Joni celingukan. “Ngapain berdiri di sini kayak orang b**o? Kita harus booking tempat duduk yang enak, tahu.”
Perkataan terakhir itu adalah alasan Joni yang asli, Reno yakin sekali. Dan Reno pun setuju.
“Di tengah aja, ya. Guru-guru di sini malah suka merhatiin bangku belakang,” usul Reno. Dengan gerakan seperti orang teler, ia memasuki kelas. Tanpa meminta persetujuan, ia memilih tempat duduk di barisan tengah dan berdekatan dengan tembok.
Reno kembali menguap, lantas menempelkan kepalanya ke meja dan memejamkan mata.
“Kamu kok lemes gitu, sih? Masa depanmu mau dibawa ke mana, Bung? Terakhir kita sekelas itu SD. SMP kita malah beda sekolah. Tahun kemarin kita nggak sekelas. Harusnya momen ini kita rayain. Yuk, semangat, yuk.”
“Mimpi apa aku semalem sampai harus sekelas sama kamu,” gerutu Reno, benar-benar malas meladeni ocehan Joni.
Joni mendengus kesal. “Oh iya, katanya kamu baru pindah rumah, kan? Gimana di sana? Ada tetangga yang cakep?”
Reno memalingkan mukanya dan menguap lagi. “Ya, gitulah ....”
Setelah itu, Reno menanggapi kicauan Joni dengan kata ‘ya’, atau ‘hmm’. Joni tak menyerah dan terus saja bicara, dengan sesekali memberikan tepukan semangat. Namun, Reno tak terpengaruh sama sekali. Bahkan ketika telinganya telah menangkap derap-derap sepatu para murid yang datang, ia tetap pada posisinya.
Reno merasakan goyangan keras dari tangan sahabatnya itu. Ia pun langsung bangkit karena jengah.
“Ada apa sih, Jon?” gumam Reno.
“Cewek paling cakep di sekolah ini ada di kelas kita, tahu!” bisik Joni sambil menunjuk bangku yang letaknya paling dekat dengan meja guru.
Tak ada sesuatu yang benar-benar menarik bagi Reno. Ya, di sana memang ada seseorang, yakni gadis yang Reno temui di warung nasi kemarin. Reno memang sempat penasaran pada gadis itu, tapi sekarang ia merasa biasa saja.
“Oh.” Reno kembali pada posisinya tadi. Mungkin gadis seperti Aura adalah selera Joni, tapi saat ini Reno belum mau mengurusi hal seperti itu.
“Woi! Ini Aura, loh! Aura! Anak kelas X-A itu! Banyak yang suka sama dia, tahu!” kata Joni, masih dengan nada lirih, jelas sekali tak memercayai kelakuan sahabatnya itu.
Lama-lama Reno merasa kasihan kepada Joni yang terus tak digubrisnya. Kendati masih merasa lesu, ia pun mengangkat kepalanya. “Iya, terus?”
Dengan kaku, Aura menoleh ke arah Reno. Baru beberapa detik mata mereka bertemu, gadis itu buru-buru memandang ke depan lagi, tanpa senyum dan sapa. Gara-gara itu, Joni sampai tidak menjawab pertanyaan Reno.
Tiba-tiba kepala Reno merasakan dorongan cukup keras dari tangan Joni.
“Apaan, sih?” sungut Reno sembari mengelus-ngelus kepalanya. Serangan Joni itu tidak membuatnya merasa sakit, ia cuma sedikit kaget. Hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari dalam persahabatan mereka.
“Kamu naksir Aura, ya?” ledek Joni sambil tersenyum jahil. “Masa ngeliat dia sampai segitunya? Udah ada sepuluh menit, nih.”
“Hah?” Kantuk dan bingung langsung membuat otak Reno seolah berhenti bekerja.
“Aura!!!” panggil Joni lantang. Aura dan beberapa murid lainnya langsung memusatkan perhatian kepada Joni.
Sebelum terjadi hal yang tidak-tidak, Reno buru-buru menjejalkan ponsel Joni yang tergeletak di meja ke mulut pemiliknya. Joni langsung tersedak hebat. Para murid pun mengeluarkan kikikan dan tawa keras. Kecuali Aura, yang lagi-lagi memalingkan muka.
Joni memandangi ponselnya yang kini penuh ludah, lantas memberi tatapan protes kepada Reno, yang justru ngeloyor ke toilet.
***
Reno memakirkan motornya di dekat garasi rumah dengan lesu. Hari pertamanya masuk sekolah tadi hanya diisi dengan melamun, baik dalam upacara maupun pelajaran. Ocehan Joni dan obrolan teman sekelas barunya pun tak ia dengarkan. Ia hanya ingin pulang dan tidur, berharap mimpi buruk itu tak menghantuinya lagi.
Setelah menutup pintu pagar, ia segera melepas sepatu di teras, mengetuk pintu depan rumahnya, lalu menunggu. Ia benar-benar tak sabar melemparkan tubuhnya ke kasur.
Tiba-tiba saja Reno merasakan tepukan pelan di pundaknya. Sedikit berjengit, Reno memutar tubuhnya, mendapati Badrun yang langsung tersentak. Raut cemas tergambar jelas di wajah tetangga Reno itu.
“Dari tadi Bapak lihat, Mas Reno berdiri di sini lama sekali. Ada apa? Ibunya sedang tidak ada di rumah?” tanya Badrun.
Reno melongo, otaknya tak mampu memproses informasi Badrun itu dengan baik. “Hah? Maksudnya apa, Pak?”
“Mulai jam dua kurang saya ngintip dari rumah berkali-kali, tapi Mas Reno tetap diam saja di sini. Saya panggil juga tidak menjawab. Ibunya sedang keluar ya, Mas?”
Reno buru-buru mengeluarkan ponselnya. Ia melihat angka 15.35, kira-kira sudah lebih dari satu setengah jam berlalu sejak ia tiba di rumah.
Keterkejutan kembali menyerang Reno, kali ini bersumber dari pintu rumah yang dibuka tiba-tiba.
“Baru pulang, Ren?” tanya Evelyn, lantas melongok melewati pundak Reno. “Eh, Pak Badrun. Ada apa ya, Pak?”
Badrun dan Reno saling berpandangan. Sang tetangga lantas menerangkan kejadian aneh tadi dengan panjang lebar kepada Evelyn. Kesabaran Reno yang sudah sedikit, mulai terkikis lagi. Berdiri sambil mendengar keterangan Badrun yang diulang-ulang benar-benar menyiksanya. Tubuhnya seolah akan rontok karena terlalu letih.
“Pak Badrun benar-benar nggak salah lihat, kan?” Evelyn telah mengajukan pertanyaan yang sama intinya tiga kali.
“Saya yakin sekali, Bu! Mas Reno benar-benar berdiri di situ, tuh. Dekat pintu! Seumur-umur saya di sini, kejadian seperti itu tidak pernah terjadi,” ujar Badrun seraya menunjuk titik tempat Reno tadi berdiri. Ia tampak begitu putus asa dan emosi. Seakan ini adalah sebuah bencana besar. “Kita harus ngomong ke pak Alex, orang pintar di kompleks ini!”
“Aah! Jangan, Pak!” Belum sempat Badrun berbalik, Evelyn keburu mencegahnya. Wanita itu melirik ke arah Reno, yang sudah setengah memejamkan mata. “Biar saya dan suami saya yang urus. Bapak tidak usah sampai memanggil orang pintar segala.”
“Tapi bisa saja Mas Reno ini kesurupan! Lihat, mukanya pucat.”
Reno segera tersadar karena kata-kata itu. “Nggak, Pak. Saya nggak kenapa-napa, kok. Cuma kurang tidur aja.”
“Pokoknya kita harus berbuat sesuatu!” Setelah mengatakan hal itu, Badrun bertolak dengan setengah berlari. Kali ini Evelyn tak sempat mencegahnya.
Ibu tiri Reno itu memegangi keningnya dengan muka cemas. “Kamu makan, terus tidur saja, Ren. Katanya kamu kurang tidur? Biar nanti Ibu saja yang urus masalah ini.”
Reno langsung mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Sebenarnya, ia juga penasaran tentang apa yang terjadi, tetapi kantuknya sudah seperti sakit parah yang perlu segera diobati.