Kata orang, tidur terlalu banyak justru akan membuatmu mengantuk. Namun, hal itu tak berlaku bagi Reno. Ia tidur setelah kejadian aneh itu kemarin sampai pagi tadi, tapi tubuhnya biasa-biasa saja.
Yang ingin Reno dapatkan setelah turun dari dipan adalah penjelasan tentang apa yang terjadi. Sayangnya sang ibu tiri cuma mengutip keterangan tak memuaskan dari orang pintar yang dipanggil. Katanya kejadian itu sulit dijelaskan dan masih perlu pemeriksaan lebih lanjut. Evelyn sendiri tak mau mengatakan siapa orang pintar tersebut, sehingga Reno tak bisa melakukan apa pun.
“Aku duluan, ya.” Setelah menerima pesanan es teh miliknya, Reno meninggalkan Joni yang tengah berjibaku untuk dilayani ibu kantin. Dengan segera, Reno menempati kursi paling pojok. Istirahat pertama adalah waktunya siswa-siswa yang belum sarapan untuk makan, jadi ia harus bergerak cepat.
Tahu-tahu Aura duduk di hadapannya tanpa menyapa.
“Ada apa, Aura?” Reno berinisiatif membuka pembicaraan.
“Orang-orang kompleks kita udah pada tahu cerita kamu. Yang nyebarin pak Badrun,” beber Aura dengan nada cepat.
“Cerita? Cerita yang ma… Oh, yang itu?” Reno langsung bisa menyadari maksud gadis itu. “Yang aku berdiri lama banget di depan rumah?”
“Emangnya yang mana lagi, sih?” gerutu Aura, terdengar tak sabar.
“Eh, emangnya Reno ngapain?” Joni tiba-tiba muncul di belakang Aura sembari membawa sepiring nasi pecel dan segelas es jeruk. Aura langsung berjengit hebat sampai membuat Reno ikut kaget. Gadis itu buru-buru berpindah ke sisi Reno.
Joni memajang senyum tipis, lantas duduk di depan dua remaja itu. “Ada apa sih, Ren?”
Dengan terpaksa Reno mengisahkan peristiwa itu. Bahkan Reno sampai bercerita mengenai durasi tidurnya yang tak nomal, demi menghindari pertanyaan sahabat karibnya itu sepanjang hari. Sambil sesekali menyendok nasi pecelnya, Joni mendengarkan Reno dengan serius. Sementara itu, Aura menghadap ke arah lain seraya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
“Nah, jadi gitu ceritanya.” Reno pun menyeruput es tehnya. Meski hanya beberapa menit, berkata panjang lebar tetap saja membuat kerongkongannya kering. “Aku nggak mau buka sesi tanya-jawab, oke?”
Joni manggut-manggut. “Terus waktu kamu berdiri, nggak ngerasain…”
“Reno udah bilang nggak mau ditanyain, kan?” potong Aura, jelas sekali sedang menahan emosi.
Dengan senyum lebar penuh arti, Joni segera menghabiskan sisa makanannya. Aura melirik pemuda itu dengan tajam, tapi tak mengatakan apa pun lagi. Reno yang kebingungan cuma melihat dua remaja itu secara bergantian.
“Gimana kalau kita bertiga nanti ke rumah kamu, Ren,” ucap Joni seetelah menghabiskan es jeruknya. “Buat meriksa, gitu. Sekalian Aura silaturahmi. Kalian masih satu RT, kan?”
Reno mencibir. “Kata-kata kamu itu termasuk pertanyaan, tahu.”
“Darimana kamu tahu kalau aku itu tinggal satu RT sama Reno?” Aura langsung mencondongkan badannya ke arah Joni.
“Lah, Reno kan pernah cerita ke aku.”
Aura memelototi Reno. “Kemarin aku bilang apa coba?”
Mulut Reno seolah dibungkam tangan yang tak terlihat. Ia benar-benar salah tingkah, antara memilih berkata jujur atau melindungi Joni.
Joni berdehem keras. “Reno nggak ngomong apa-apa ke aku, kok. Aku cuma lihat alamat kamu di f*******:…”
“Aku nggak punya f*******:!” Aura menggebrak meja, membuat perhatian seisi kantin terarah kepadanya. Air muka gadis begitu keras, menandakan kemarahan. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia bertolak dari meja itu dengan langkah cepat.
“Aku anggep jawabannya enggak, deh,” kata Joni kaku, memperhatikan gadis itu keluar kantin
Mendadak Aura mengerem langkahnya, lantas kembali ke meja Reno lagi.
“Reno, minta nomor hape.” Gadis itu mengeluarkan ponsel kecil dari saku. Reno langsung tahu itu ponsel model lama, meski sudah menggunakan layar sentuh. Selain tebal, cat perak ponsel itu juga sudah mengelupas di beberapa bagiannya.
Reno buru-buru mengeluarkan ponselnya. Sehabis mencatat nomor Reno, Aura kembali beranjak pergi.
“Dia kenapa, sih? Kok jutek banget kayak gitu?” tanya Reno setelah Aura hilang dari pandangan.
“Dilarang bertanya,” sahut Joni dengan senyum jahilnya.
***
“Yuk, masuk,” ajak Reno setelah memakirkan motornya di halaman rumah.
Joni turun dari motor sport 2 tak-nya sembari mengamati rumah Reno. Hal itu terus dilakukan Joni. Bahkan saat Reno sudah melepas sepatunya dan berdiri di teras. Tak tahan menunggu Joni yang berjalan seperti siput, Reno mengetuk pintu masuk dan memberi salam. Tak sampai semenit, Evelyn membuka pintu itu.
“Eh Mas Joni, masuk, Mas,” sapa Evelyn ramah.
“Rumahnya bagus, Bu.” Joni berlari-lari kecil menyadari kehadiran ibu tiri Reno itu. “Saya jadi pengen pindah ke sini. Biar saya bisa makan masakan ibu yang top banget.’”
Evelyn terkekeh. “Yah, masih ada kamar kosong tuh kalau mau. Nanti masalah bayaran bisa diatur, lah.”
Reno mencium tangan Evelyn. Hal itu baru ia lakukan sebulan ini, dalam usahanya untuk menerima Evelyn.
“Yuk, ke kamar.” Reno mengedikkan kepalanya ke arah pintu.
Setelah bersalaman dengan Evelyn, Joni pun merendengi Reno. Begitu memasuki kamar, Reno langsung membuang tasnya ke tempat tidur, lantas membuka lemarinya untuk mengambil baju ganti. Joni mengeluarkan ponsel, mengutak-ngatiknya sebentar, kemudian mengarahkan ujungnya ke berbagai penjuru kamar.
“Kamu lagi ngapain, Jon?” tanya Reno sambil menaruh dompet dan ponselnya ke meja belajar. Ia tak habis pikir dengan kelakuan aneh temannya itu.
“Aku tadi baru download aplikasi yang katanya bisa ngedeteksi hantu.”
Reno jadi sedikit merinding, tapi tetap memberanikan diri menengok layar ponsel Joni. Aplikasi itu hanya berupa garis-garis hijau berbentuk target panahan dengan latar hitam, lengkap dengan jarum yang berputar-putar di tengahnya. Reno jadi teringat akan radar di film-film perang.
“Entar keluar titik kelap-kelipnya kalau ada hantu.”
“Ya, ya, ya…” Tak begitu tertarik dengan aplikasi itu, Reno keluar dari kamar, berniat berganti pakaian di kamar mandi. Baru berjalan beberapa langkah, ia berpapasan dengan Evelyn.
“Kamu baik-baik saja kan, Ren?”
Pertanyaan Evelyn itu langsung membuat Reno mengernyitkan dahi. “Aku nggak kenapa-napa, kok. Emangnya ada apa, Bu?”
“Dari kemarin mood kamu kelihatan jelek,” jawab Evelyn ragu-ragu. “Biasanya, kalau Joni main ke sini, kalian becanda terus.”
Ya, kendati tubuhnya baik-baik saja, Reno memang merasa suasana hatinya kurang bagus. Namun, ia merasa Evelyn tak seharusnya bertanya seperti itu.
“Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita sama Ibu, kok.”
“Aku bener-bener nggak kenapa-napa, kok!” Reno berjalan melewati Evelyn dengan geram, tapi beberapa detik kemudian berhenti. Aneh, kemarahan di hatinya terasa begitu meluap-luap, seperti memaksa untuk dikeluarkan, padahal yang dilakukan Evelyn cuma menawarkan bantuan.
Reno menggeleng-gelengkan kepala untuk menyadarkan diri, lantas memasuki kamar mandi dan berganti pakaian.
Setelah beberapa menit, Reno kembali sambil membawa sabuknya. Baru menjejakkan sebelah kaki ke kamar, matanya diserang oleh lampu blitz dari ponsel Joni secara beruntun.
“Ngapain kamu motoin kamarku?” tanya Reno seraya menyelampirkan sabuknya ke gantungan di balik pintu.
“Aplikasinya nggak mempan,” jawab Joni, masih mengabadikan sudut-sudut kamar Reno dengan ponselnya. “Siapa tahu kalau aku motoin kamar kamu, aku bisa dapet penampakan.”
Lagi-lagi Reno menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udah deh, mending maen game aja.”
“Oh, iya! Kayaknya kamera hape kamu bisa pake infrared, deh!” Joni menghentikan kegiatannya, berlagak seperti baru menemukan ide brilian.
“Kata siapa? Nggak ada, tuh.” balas Reno asal-asalan, padahal di kamera ponselnya memang tertanam fitur infrared. Kalau mau, Reno bisa memotret atau mengambil video dalam gelap.
“Buat nangkep penampakan hantu, lah! Kayak di tivi-tivi itu,” timpal Joni antusias. “Masa sih nggak ada? Perasaan aku pernah lihat…”
“Nggak ada!” bentak Reno kesal. Tanpa meminta persetujuan, ia menghidupkan komputernya dan menyiapkan satu pasang joystick.
“Kamu beneran mau main game?” Joni bersedekap dengan ekspresi tak percaya. “Mana naluri berpetualangmu, Bung? Kita juga belum nyoba aplikasi ini di area rumahmu yang lain!”
Reno duduk di kursi belajarnya dan meng-klik logo game sepakbola di komputer. “Coba aja sendiri! Kalau kamu berani!”
Joni berdecak kecewa. “Takut sih enggak. Cuma nggak enak aja keliling-keliling di rumahmu sendirian.”
Akhirnya, Joni memasukkan ponselnya ke saku celana dan mengambil salah satu joystick Reno.
“Kamu kenapa sih, Ren?” tanya Joni dengan nada hati-hati. “Apa gara-gara…”
Reno menengok kepada Joni dengan tatapan tajam. Joni segera mengangkat tangan tanda menyerah.
“Oke, oke kalau kamu nggak mau cerita.”
Merasa sedikit bersalah, Reno menaruh joystick-nya. “Aku nggak tahu, Jon. Waktu… Waktu orangtuaku pisah aku nggak kayak gini-gini banget, kan?”
“Yah, kalau kamu marah… Kalau marahnya serius loh ya, kamu biasanya banyakan diem, tapi masih lumayan bisa diajak ngomong. Nggak ngedumel terus kayak barusan.”
Reno menghela napas panjang. “Nah, waktu itu aku masih bisa nahan emosiku, Jon. Tapi sekarang … sekarang nggak tahu, deh. Aku juga nggak tahu sumber marahnya darimana. Gara-gara ibu tiriku? Gara-gara aku pindah rumah? Gara-gara mami kandungku nggak ngasih kabar? Aku nggak tahu, Jon!”
Tiba-tiba Joni menunjuk muka Reno sambil melotot. “Jangan-jangan kamu marah gara-gara dimarahin Aura! Kalian tadi berduaan, kan? Jatuh cinta emang bisa ngerubah orang!”
“Jon, aku serius,” sergah Reno, heran akan obrolan mereka yang mulai melenceng.
“Sori.” Joni langsung meringis, wajahnya menunjukkan rasa bersalah.
Obrolan mereka terpotong oleh ketukan di pintu kamar. Reno berdiri dan segera membukanya. Yang mendatangi mereka adalah sang ibu tiri.
“Reno, Mas Joni, makan dulu, yuk. Udah ibu siapin.”
“Wah, jadi ngerepotin, Bu!” Joni langsung melompat dari kasur. Ajakan makan memang tak pernah gagal menyulut semangat pemuda itu.
“Ke mana nasi pecel yang tadi? Udah keluar?” cela Reno ketika Evelyn sudah pergi. Ia lantas mengambil ponselnya dari atas meja dan melangkah keluar.
Joni berjalan seperti robot, tanda kalau ia tak memedulikan ejekan Reno itu. Mereka berdua pun menempati meja makan yang kosong tanpa Evelyn.
Ketika Joni mengambil nasi dari tempatnya, ponsel Reno berdering. Ada pesan dari Aura, intinya menanyakan apakah Joni ada di rumah Reno. Gadis itu juga minta dihubungi kembali bila Joni sudah pulang. Merasa tak perlu memberitahukan hal itu kepada Joni, Reno langsung membalas pesan Aura itu apa adanya, sekaligus berjanji akan memberi kabar tentang kepergian Joni.
Hubungan kedua remaja ini jadi membangkitkan rasa ingin tahu Reno kembali. “Jon, kamu udah lama kenal sama Aura, ya?” tanya Reno akhirnya.
Joni yang baru mulai makan langsung berhenti dan menunjuk Reno kembali, kali ini menggunakan garpu. “Tuh, kan. Semuanya emang gara-gara cewek.”
Meski jengkel, Reno tetap berusaha menjaga nada bicaranya. “Nggak, lah. Aku cuma pengen tahu aja.”
“Yah, dulu waktu SMP kita sekelas,” jawab Joni, mulai menyendok makanannya tanpa menunggu Reno. “Hmm… Kamu mau tahu tentang dia? Aku bisa ngasih tahu hobinya, makanan kesukaannya, ukuran sepatunya, merek make-up yang dia pake…”
“Nggak!” Reno buru-buru menolak. Ia kembali merinding, tapi kali ini tidak berhubungan dengan hal mistis. Ada yang janggal dengan teman karibnya itu. “Kok kamu bisa tahu yang kayak gituan, sih?”
Joni menelan makanan di mulutnya, lantas memandang Reno dengan muka grogi. “Dia itu kan terkenal. Siapa aja pasti tahu lah yang kayak gituan.”
Jawaban itu benar-benar tak bisa bertemu dengan akal sehat Reno. “Kayaknya nggak mungkin…”
“Besok aja ya ngomongin Auranya. Aku mau makan, nih.” Joni segera melanjutkan aktivitas bersantapnya.
Reno ingin menginterogasi Joni. Tapi melihat temannya yang terlihat seperti menghindar, Reno memilih untuk melakukannya di lain hari.
***
Reno membukakan pintu depan dan mendapati Aura berdiri di teras, berbalut celana jeans selutut dan jaket hitam bertudung. Seperti Joni tadi, Aura juga mengamati rumah Reno, tapi terkesan tak terlalu antusias.
“Uhm… Masuk, yuk,” tawar Reno dengan kaku. Baru kali ini seorang anak perempuan datang ke rumahnya sendirian. Dulu memang pernah ada, tapi karena sebab khusus, yakni kerja kelompok. Itupun tak cuma satu dan masih diikuti anak-laki-laki.
Dan kali ini Aura mengaku hanya ingin bermain ke rumahnya tanpa memberi alasan yang lebih jelas. Reno tak punya alasan untuk menolak. Ia tidak membenci atau menyukai hal ini. Yang ada di hatinya cuma rasa canggung.
“Bentar.” Bukannya mengikuti perkataan Reno, Aura justru mundur beberapa langkah dan memperhatikan jendela kamar Reno. “Aneh… Ini aneh…”
Berdiri sambil mengamati seorang gadis bergumam tak jelas. Hal itu membuat kadar kebingungan Reno makin menjadi-jadi.
“Ada apa sih…”
Aura mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Reno diam. Reno pun pasrah menurutinya.
Setelah hampir dua menit seperti itu, akhirnya Aura masuk. Belum sempat Reno mempersilahkan gadis itu duduk, Aksa muncul dari ruang tengah, memakai kemeja rapi dan menenteng tas kerja.
“Kenalin, Pi. Ini Aura, teman sekelas Reno. Dia juga tinggal di kompleks ini,” terang Reno.
“Oh, putrinya pak Alex, ya?” tanya Aksa sembari menjabat tangan Aura.
“Iya, Pak.”
“Papi tinggal dulu, ya,” pamit Aksa dengan nada dinginnya yang biasa, lalu keluar rumah tanpa mengatakan apa pun lagi.
“Oh iya, Pi.” Seperti biasa, Reno merasa tak perlu repot-repot bertanya mau ke mana papinya pergi. Hubungan tanpa basa-basi ini merupakan hal normal dalam kehidupan Reno.
“Ibu kamu mana, Ren?” tanya Aura yang sudah duduk di sofa setelah dipersilahkan Reno.
“Lagi pergi,” jawab Reno. “Aku ambil minum dulu, ya,”
“Nggak usah, deh. Aku cuma sebentar aja kok di sini.”
Reno pun menurut. Keduanya duduk berhadapan di ruang tamu itu. Seperti tadi, Aura kembali mengamati keadaan. Reno berusaha mengusir rasa canggungnya dan bertanya, “Kamu… Ada perlu apa, ya?”
Belum sempat Aura memberi jawaban, ponsel Reno yang ada di saku celana berdering. Joni mengirimkan pesan, tapi tidak berupa teks, melainkan foto salah satu sudut kamar Reno, tepatnya di celah antara lemari dan rak buku. Reno sudah akan membalas dengan tanda tanya saat ia menemukan sesuatu di foto itu. Sesuatu yang begitu aneh, tak seharusnya ditangkap kamera ponsel Joni.
Seluruh kepala dan leher Reno seolah disirami air dingin. Sesuatu itu berwarna hitam legam, samar-samar dan sedikit membayang, tapi Reno masih bisa menebak wujudnya sebagai sepotong tangan.
Inikah tangan yang dilihat Cita waktu itu? Ataukah ini tangan dari sosok dalam mimpi Reno kemarin?
Aura menyambar ponsel Reno. Masih syok dengan apa yang baru dilihatnya, Reno cuma bisa membeku.
“Ini di mana?” tanya Aura dengan nada cepat.
“Eh? Oh, anu… Itu di kamarku.” Mulut Reno terganggu oleh pikirannya yang kacau.
Aura meletakkan ponsel Reno ke meja tamu, kemudian berdiri dari sofa. Semuanya itu ia lakukan dengan gerakan begitu cepat. “Kita harus ke sana, sekarang!”
Gadis itu berjalan masuk tanpa meminta izin. Reno buru-buru menguntitnya, masih dengan kepala bingung. Di ruang tengah, Aura memutar tubuhnya, lagi-lagi mengamati keadaan. Ia baru berhenti saat matanya tertuju ke kamar Reno.
“Ka… Kamu mau ngapain, sih?” tanya Reno kepada Aura, yang kini menghampiri kamarnya.
Di depan kamar itu, Aura mengerem langkahnya. Perlahan, matanya membuka dengan lebih lebar, mulutnya pun mulai menganga. Melihat ekspresi yang intens itu, Reno pun dijangkiti rasa ngeri.
“Kamu lihat apaan emangnya?” Reno mendekati gadis itu dengan pelan.
Alih-alih menjawab, Aura malah bertolak dengan langkah luar biasa cepat.
Reno buru-buru menangkap tangan Aura. “Aura! Ada apa, sih!?”
“Aku lihat… Tapi nggak jelas… Aku nggak tahu! Aku mau tanya ayahku dulu!” jawab Aura yang tak bisa melanjutkan langkahnya. Ia pun menatap mata Reno dengan tajam. “Sekarang, lepasin. Aku mau pulang.”
Reno menurut dan membuka cengkeramannya dari tangan gadis itu. Aura kembali berjalan cepat dengan diikuti Reno.
“Nanti kamu kirim foto kamar kamu sebanyak-banyaknya!” pinta Aura saat mereka sudah berada di teras.
“Buat a…”
“Nggak usah banyak tanya, deh!” Aura menaiki sepeda birunya yang diparkir di dekat teras. “Ngomonginnya besok aja di sekolah!”
Gadis itu melesat dengan begitu kencang. Seolah sepeda yang ditumpanginya telah dipasangi mesin motor. Reno cuma bisa mengamati dengan mulut menganga lebar, benar-benar seperti orang linglung.