Reno mengetuk pintu rumah Joni dan berdiri menunggu. Beberapa saat kemudian, seseorang membuka pintu itu. Reno langsung mengenalnya sebagai Tirta, pria jangkung yang agak bungkuk, dengan semburat-semburat abu di kumis tebal dan rambutnya.
“Joni ada, Pak?” tanya Reno kepada ayah sahabatnya itu.
“Ada, kok. Reno langsung masuk saja ke halaman belakang, ya,” timpal Tirta, terdengar sangat gugup, kemudian memberi jalan kepada Reno.
“Makasih, Pak.” Reno masuk dengan agak membungkuk.
Karena sudah sangat akrab dengan keluarga itu, ia berjalan memasuki rumah tanpa diantar. Ketika melewati ruang tengah, ia memergoki sekelebat sosok seorang wanita yang memasuki kamar. Mungkin itu ibu Joni, wanita yang tak pernah menemuinya di rumah itu.
“Eh, Mas Reno,” sapa Sigi, adik Joni yang tengah bersandar di kusen pintu belakang. Berbeda dengan ayah dan abangnya yang semampai, gadis kelas VII SMP itu sangat pendek dan begitu berisi. Saking gemuknya, Joni sering sekali mengejek adiknya itu sebagai bola berbentuk manusia.
“Yo,” balas Reno, ikut bersandar di kusen itu, menyaksikan Joni yang tengah menggiring bola kesana-kemari sendirian, hanya ditemani cahaya lampu seadanya. Napas Joni sudah sangat terputus-putus dan singletnya sampai berubah warna seluruhnya gara-gara diresapi keringat.
“Tolong dinasehatin, Mas. Dari siang tadi sampai sekarang udah malem kerjaannya gitu melulu,” gerutu sang adik.
Reno sudah lupa kapan terakhir kali ia bermain bersama Joni di pekarangan kosong itu. Di usianya yang sekarang, hasrat bermain bola lebih banyak disalurkan di arena futsal, beramai-ramai bersama teman yang lain.
Mendadak Joni menendang keras bola itu ke arah tembok, menimbulkan bunyi yang agak bergaung. Sekejap kemudian, ia meringis dan mulai meniupi jempol kakinya yang telanjang.
“Masih rapi aja nih lapangan.” Reno turun ke pekarangan dan menjejak-jejak ringan tanah yang ada di situ. Rasanya benar-benar tak ada yang berubah, kecuali pohon-pohon pisang di pojokan yang kini sudah ditebang.
Joni mengoper bola kepada Reno. “Kan dua minggu sekali ibuku manggil tukang potong rumput.”
Reno tertawa mengejek, menangkap bola itu dengan telapak kakinya yang juga tak beralas. “Rawat sendiri, dong. Udah besar, juga. Masa beginian aja nggak bisa?”
“Males… Pake banget. Lagian ibuku juga nggak pernah nyuruh,” jawab Joni seraya mengelap keringat di wajahnya dengan kerah baju. “Ada urusan apa kamu ke sini, Bro?”
Mendengar nada serius dari mulut temannya itu, Reno mendapat firasat buruk. “Chat-ku nggak dibales dari tadi siang. Telepon juga nggak diangkat, padahal aku punya kabar penting, Jon.”
“Hush! Hush!” Joni mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir Sigi agar hilang dari pandangan. Meski memasang tampang galak, adik perempuannya itu tetap angkat kaki dari pintu belakang.
Selepas menggiring bola itu sebentar, Reno menendangnya kembali kepada Joni. Alih-alih menerimanya, Joni justru berbaring di rumput dan mengatur napasnya yang tersengal.
“Aku dulu itu gendut sama gede banget, Ren. Pokoknya isinya lemak semua. Nggak bisa lari, nggak pernah diajak main bola sama anak-anak lain. Beda banget sama kamu yang malah disebelin gara-gara main bolanya jago banget.”
Reno yang tengah mengangkat bola dengan ujung kakinya terkekeh. “Tapi aku pengen maen bola banget, makanya aku ngajakin kamu. Tapi yah, kamu aku kadalin melulu. Dulu kamu nendang aja nggak bisa, Jon. Sampai kejengkang.”
Reno merasa geli membayangkan mereka berdua yang masih kecil bermain di pekarangan ini. Anak-anak lain tak bisa mengganggu karena mereka dikelilingi tembok yang tinggi.
“Tapi aku seneng banget main sama kamu, Ren.” Joni mengangkat badannya dan duduk.
“Kamu udah banyak berubah, Jon. Udah langsing. Aku nggak bisa ngebayangin kamu yang gendut bawa motor Ninja.”
Dan Reno tak habis pikir, mengapa temannya yang dulu begitu polos itu bisa menjadi penguntit?
“Padahal makanku masih banyak loh, Ren,” timpal Joni sambil tersenyum geli. “Oh ya, waktu ditanya pengen jadi pemain bola apa nggak, kamu jawab nggak. Soalnya kamu mau jadi presiden. Waktu aku tanya lagi di hari lain, katanya kamu malah pengen jadi dokter,”
“Namanya bocah, Jon. Cita-citanya berubah-ubah. Sekarang malah aku bingung mau jadi apa.”
“Kenapa nggak jadi pemain bola, aja?”
Reno cuma tersenyum dan menggeleng pelan. Ia menikmati sepakbola, mulai dari menontonnya sampai melakukannya, baik secara nyata maupun lewat permainan komputer. Akan tetapi, ia benar-benar tak punya keinginan untuk menekuni olahraga itu. Ya, itu bukan mimpinya.
“Terus… Anu…” Sekarang Joni terdengar ragu-ragu, sebelum akhirnya membisu untuk beberapa detik. Reno pun menunggu dengan sabar.
“Tadi… Aku lihat kamu berduaan sama Aura di deket lab komputer. Sebelumnya sih, dia sempet nanya kamu ada di mana. Aku cuma bilang kamu dipanggil BK, sama waktu itu kamu belum sarapan.” Joni mendesah pelan, tanda kebimbangan semakin jelas terukir di wajahnya. ”Pulangnya juga, aku ngeliat kamu boncengan sama Aura.”
Jantung Reno seperti disiram air es. Mungkinkah Joni merasa curiga karena Reno siang tadi tak segera pulang? Dan karena itu Joni mengintai Reno? Yang jelas, ia harus lebih berhati-hati menghadapi teman baiknya itu. Jangan sampai hal ini menjadi perselisihan tak penting.
“Kamu itu temenku yang paling deket, Ren. Lebih baik kamu terus terang. Masalah ini penting banget buat aku,” lanjut Joni dengan suara tertahan, lantas berdiri dan menatap Reno tegas. “Kamu tenang aja, aku nggak bakal ngapa-ngapain.”
Reno tersenyum, berusaha mengusir rasa tegangnya yang terus tumbuh. “Kamu belum baca chat-ku, ya? Gini nih, tadi bokapnya Aura itu ngundang aku. Dia itu cuma nanya-nanya kejadian aneh di rumah baruku. Nah, aku jadi punya kesempatan buat ngajak Aura ke main ke rumahku besok.”
“Hah? Emangnya kamu mau ngapain?” Joni terperangah.
“Biar dia bisa lihat-lihat rumahku, soalnya dia juga tertarik sama kejadian di sana.” Reno berjalan mendekat dan menepuk pundak kawan karibnya itu. “Kamu jangan sia-siain kesempatan ini. Kamu besok harus ke rumahku, tapi jangan bilang-bilang kalau aku yang ngundang. Biarin aja semuanya mengalir.”
Awalnya Joni membisu, tapi lama-kelamaan ia menyemburkan tawa. Dari intonasinya, Reno tahu kalau Joni merasa begitu lega.
“Nanti ngobrol atau gimana kek sama dia. Bilang aja kamu juga tertarik sama rumahku. Biar kalian bisa berburu hantu bareng.”
“So… Sori udah ngeraguin kamu kayak tadi,” balas Joni gugup. Kini keraguan di wajahnya tergantikan oleh gurat pesimis “Tapi… Gimana kalau waktu lihat aku, dia langsung pulang?”
“Aku bakal berusaha biar dia tetep mau bertahan.” Reno mengacungkan tinjunya kepada Joni. “Asal kamu jangan keceplosan nyinggung hal-hal pribadi dia, aja.”
Joni ikut mengepalkan tangannya dan tersenyum puas. Tinju keduanya pun saling bertemu dengan pelan.