Reno melongok dari dekat toilet. Hiruk-pikuk para siswa sudah jauh berkurang. Hanya sesekali ia mendengar suara anak-anak yang mengikuti ekstrakulikuler. Sedikit was-was akan kehadiran Joni, ia keluar dengan mengendap-ngendap. Setibanya di tempat parkir yang lumayan kosong, ia kembali memeriksa keadaan. Setelah yakin motor sport merah milik Joni sudah tak ada, ia segera mengendarai motornya sendiri.
Dari jarak yang agak jauh, ia mendapati Aura sudah berdiri di dekat pintu gerbang. Reno mempercepat motornya dan berhenti di dekat gadis itu.
“Udah nunggu lama, ya?” tanya Reno, merasa sedikit tak enak.
“Nggak, kok,” jawab Aura, setengah cemberut. Ia memakai helmnya dan membonceng di belakang Reno. “Mood kamu udah normal, kan?”
Saking terkejutnya dengan pertanyaan itu, Reno yang sudah menstater motornya sampai menengok ke belakang. “Hah? Aku nggak kenapa-napa, kok. Emangnya kenapa?”
Gadis itu memang benar, perasaan hati Reno sekarang biasa saja, tanpa beban atau amarah tak jelas. Tapi bagaimana bisa Aura menebaknya? Dari Joni? Bahkan Reno merasa belum bercerita pada teman karibnya itu.
“Dari pagi udah kelihatan… Udah deh! Jalan aja, yuk!”
“Oke…” Reno mulai menjalankan motornya. Bentakan itu membuatnya jadi segan bertanya lebih lanjut, meskipun rasa penasarannya terus berkembang.
Setelah mengaspal selama beberapa menit, Reno dan Aura sampai di depan rumah mungil bercat putih, berdekatan dengan pertigaan yang selalu dilewati Reno ketika berangkat sekolah.
“Masuk, Ren.” Aura turun dan membukakan pintu pagar besi rumah itu.
Reno memasukkan motornya ke halaman berpaving yang tak seberapa. Saat akan turun, ia hampir terpeleset karena lumut yang tumbuh di situ cukup banyak.
“Ati-ati.” Secara refleks Aura memegangi lengan Reno.
Rasa malu diikuti degup jantung yang sedikit naik, dua hal yang ingin Reno buang jauh-jauh. Ia harus membentengi diri dari serangan rasa gugup. Ini adalah kesempatan untuk mengenal Aura dan keluarganya. Barangkali itu bisa menjadi modal berharga untuk membantu usaha pendekatan Joni.
“Yuk.” Aura melepaskan genggamannya, kemudian melepas sepatunya dan masuk.
Reno pun mengikuti gadis itu sambil mengedarkan pandangan. Benar-benar tak ada yang menarik dari rumah tersebut. Semuanya serba standar, dari mulai pintu dan jendelanya yang dicat cokelat tua, keramiknya yang putih tanpa corak, serta halamannya yang kosong tanpa tanaman hias.
“Duduk, Ren.” Aura ngeloyor meninggalkan Reno di ruang tamu begitu saja.
“Eh? Oh, oke.” Reno jadi sedikit kikuk dibuatnya.
Saat menduduki sofa merah tua yang penuh robekan di ruangan itu, ia bisa mendengar derit yang cukup mengkhawatirkan. Seolah ujung per di sofa itu bisa mencuat dan menusuk pantatnya kapan saja.
“Hmm… Jadi ini yang namanya Reno?”
Reno yang tengah memeriksa sofa bermasalah itu langsung mendongak. Ada seorang pria berperawakan sedang tengah berjalan ke arahnya. Nyentrik, itu kata yang terlintas di otak Reno saat melihat pria tersebut. Tentu saja, siapa pun pasti akan heran kalau melihat pria dengan rambut panjang dikucir, memakai kalung tali hitam dengan bandul uang lama, dan membubuhkan celak tebal di sekeliling matanya.
“Saya Alex, Ayah Aura.” Pria itu mengulurkan tangannya dan tersenyum. Terlepas dari gayanya, ia terdengar ramah di telinga Reno.
Berusaha mengusir rasa takjubnya, Reno berdiri dan menjabat tangan Alex. “Saya Reno, Pak. Tinggal di rumah yang …”
“Saya sudah, tahu,” potong Alex dengan nada halus, lantas duduk di hadapan Reno.
Saat Reno ikut duduk, pria itu pun nyengir dan sedikit terkekeh. Reno langsung mematung kebingungan dibuatnya.
“Apa kamu tahu kenapa anak saya mengundang kamu ke rumah ini?” tanya Alex sambil mencondongkan badannya sedikit. “Pasti kamu mencari-cari alasan yang logis mengenai hal itu, kan? Buat apa seorang gadis mengajakmu ke rumahnya? Jawabannya ada banyak, bisa karena ingin dibantu mengerjakan PR, ingin menunjukkan sesuatu, atau mungkin…” Alex terdiam dan kembali tersenyum, cahaya matanya tampak menusuk. “Mungkin juga dia ingin melakukan sesuatu… Misalnya membunuhmu.”
Reno hanya bisa melongo, kesulitan mencerna kata-kata Alex barusan. Sementara itu, si tuan rumah kembali terkekeh.
“Alasan yang logis akan sesuatu yang terjadi di sekelilingnya.” Alex menyenderkan tubuhnya ke sofa dan menempelkan jari telunjuk kirinya ke pelipis. “Banyak manusia yang mencarinya, walau ada beberapa yang memilih untuk tak peduli.”
Alex berdiri dan berjalan menuju pintu masuk. “Kamu tak perlu pusing. Alasan Aura mengundang kamu adalah karena saya yang memintanya. Tapi sekarang muncul satu pertanyaan lagi: kenapa saya meminta hal seperti itu?”
“Kata Aura, Bapak mau…”
Kalimat Reno itu terpotong oleh jentikkan jari Alex yang datang tiba-tiba. “Sekarang kita kembali ke sesuatu yang logis, jawaban yang logis. Kamu tahu kan kalau di dunia ini ada banyak fenomena-fenomena yang sulit dicari penjelasan logisnya? Nah, kamu bisa ada di sini adalah karena fenomena-fenomena seperti itu. Walau pada awalnya tidak seperti itu.”
Otak Reno seolah akan meledak dijejali susunan kalimat yang berputar-putar dari mulut Alex tersebut.
“Aura sering sekali bercerita tentang kamu.” Dengan gerakan halus, Alex menggerakkan pintu masuk rumahnya yang terbuka. “Tapi jangan salah paham dulu.”
Reno cuma mengamati orang aneh itu dengan saksama.
“Aura mendeskripsikannya seperti ada sesuatu yang tak biasa dari kamu. Saya pun jadi penasaran karenanya.” Sekarang Alex menutup pintu itu sepenuhnya. “Terdengar tak logis, kan? Yah, seperti yang saya bilang lagi, tak semua hal di dunia ini ada penjelasan logisnya.”
Tiba-tiba Alex mengunci pintu itu dan melemparkan anak kuncinya keluar lewat celah dibawah daun pintu.
“Bapak ngapain!?” Reno berdiri sambil mendelik tak percaya.
“Saya melakukan hal ini karena ada penjelasan logisnya.” Alex mendekati Reno, yang langsung mundur sampai kakinya menyentuh sofa.
Otak Reno mulai mengira-ngira hal mengerikan apa yang akan menimpanya sebentar lagi.
“Tenang, saya cuma ingin mendengar hal-hal tak logis yang kamu alami akhir-akhir ini. Mengunci pintu ini cuma sebagai jaminan agar kamu mau menceritakannya. Kalau ceritamu sudah selesai, tentu saja kamu boleh pulang.”
Gara-gara kalimat itu, Reno pun menyimpulkan kalau pria di depannya ini adalah orang gila. Saking bingungnya, Reno cuma bisa bergeming. Mulutnya juga cuma membuka sedikit, tak mampu mengeluarkan suara.
“Ngapain lagi sih, Yah?” tanya Aura yang baru muncul dari dalam rumah, menaruh dua gelas berisi sirup berwarna kuning dari nampan ke meja. “Kalau kamu nurutin kemauan ayahku, kamu nanti bisa pulang kok, Ren. Harap maklum, otaknya rada-rada miring.”
Alex memberi isyarat dengan tangannya agar Aura pergi. Aura mendesah kesal, tapi tetap menuruti permintaan ayahnya. Gadis itu meracaukan sesuatu ketika berjalan, terdengar seperti rapalan mantra bagi Reno, begitu samar dan lirih.
Bahkan Aura sendiri tak mempunyai niat untuk membantu Reno. Apakah ini adalah pemandangan biasa bagi gadis itu? Kalau benar, maka di dalam diri Aura pasti juga terdapat sesuatu yang salah.
“Jadi…” Alex kembali duduk dan menenggak minumannya sampai habis. “Kejadian-kejadian tak logis apa yang kamu alami akhir-akhir ini, anak muda?”
Tak ada pilihan lain bagi Reno. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya, ia pun duduk kembali, terdiam sejenak, menyeruput sedikit sirupnya, baru kemudian menceritakan semuanya, mulai dari kejadian di teras dan warung burjo waktu itu, mimpi aneh di ruangan yang gelap, foto penampakan di kamarnya, sampai panggilan aneh yang masuk ke ponsel Joni. Sepanjang cerita, Alex cuma manggut-manggut tanpa menanggapi. Reno sampai harus berhenti beberapa kali, meyakinkan diri kalau Alex masih menyimak.
“Hmm… Seperti itu, ya?” tanya Alex setelah Reno selesai bercerita. Belum juga diberi jawaban, Alex keburu berdiri dan mencondongkan badannya ke arah Reno, yang langsung berjengit kaget kembali. “Kamu yakin hanya itu saja yang kamu alami?”
Sambil menyipitkan matanya, Alex mengamati wajah Reno dalam-dalam. Pandangan Alex kali ini lebih menusuk dari sebelumnya. Dan hal itu membuat hati Reno digerayangi rasa tak nyaman.
Ingin cepat-cepat pulang, Reno terpaksa berkata jujur, “Se… Sejak pindah, mood saja jadi sering jelek, Pak. Saya jadi sering marah-marah tanpa alasan yang jelas… Gara-gara itu, saya sampai pernah bolos, tapi saya sendiri nggak tahu kenapa saya bolos, Pak…”
“Oke, cukup,” sela Alex, tiba-tiba pergi meninggalkan Reno begitu saja. Namun, beberapa langkah kemudian ia berhenti. “Oh ya, tadi saya mengatakan kalau Aura pernah bercerita bahwa ada sesuatu yang tak biasa dari kamu… Tapi setelah bertemu dengan kamu secara langsung, saya lebih setuju mendeskripsikan sesuatu itu sebagai ‘menarik’, daripada ‘tak biasa’.”
Reno sampai memilih untuk tak memikirkan arti dari perkataan ayah Aura itu.
Setelah Alex menghilang ke ruang tengah, Aura muncul sambil membawa kunci cadangan. “Buat lebih jelasnya, maksud ayahku itu… Aku sama ayahku ngerasain ada sesuatu yang aneh kayak memancar dari kamu…”
Itu sama sekali tak membantu Reno. Ia segera menghabiskan minumannya, membasahi kerongkongannya yang mulai kering karena efek dari bercerita panjang lebar. “Aku pulang dulu, deh.”
Ya, karena Aura juga tak sanggup menjelaskan arti kalimat-kalimat Alex, Reno merasa tak ada gunanya berada di tempat itu. Bisa-bisa ia ketularan virus orang aneh.
Baru saja bangkit, Reno teringat akan sahabat karibnya. “Oh, iya. Aura… Gimana kalau besok sore kamu ke rumahku.” Reno menelan ludah, berusaha membenarkan rangkaian kata di otaknya, sementara Aura memperhatikannya dengan serius. “Siapa tahu kamu mau meriksa rumahku lagi.”
Aura manggut-manggut sambil membukakan pintu. Ekspresinya terlihat datar. “Boleh, sih. Sebenernya aku juga mau ngomong ke kamu.”
Sambil membungkuk sedikit, Reno menjejakkan kaki ke luar. “Duluan ya, Aura.”
Baru berjalan beberapa meter di teras, Reno terhenyak saat mendengar suara pintu yang dibanting keras. Ia menoleh ke belakang dan mendapati pintu rumah itu sudah tertutup rapat.