Reno keluar dari kamar mandi sambil memegangi punggungnya yang pegal. Beberapa jam yang lalu, ia bangun tidur dari lantai kembali. Ini adalah kali kedua ia mengalami hal itu sejak pindah rumah. Dan seperti sebelumnya, ia tak bisa terlelap setelah itu, terus terjaga dengan suasana hati yang jelek.
Bahkan ia sampai malas makan pagi, tapi baginya itu adalah kewajiban. Tubuhnya pasti akan lemas tanpa sarapan. Maka dari itu, ia memaksa diri untuk bergabung bersama sang ibu tiri di meja makan.
“Papi mana, Bu?” tanya Reno, melihat kursi yang biasa ditempati sang papi masih kosong.
“Kemarin malam kan papimu pergi ke luar kota.” Evelyn menyendokkan nasi ke piring dan menyerahkannya kepada Reno.
Reno manggut-manggut sembari mengambil lauk-pauk. “Ada kabar dari orang pintar itu?”
“Belum,” jawab sang ibu tiri pendek.
Reno berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Ia ingin semua ini segera dibereskan.
“Kenapa? Kamu merasakan hal aneh lagi seperti waktu di teras?” tanya Evelyn saat Reno mulai menyendok sarapannya.
Reno menurunkan sendoknya dan bersandar di kursi, menimbang-nimbang sejenak. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng dan kembali makan. Buat apa bercerita kalau ibu tirinya itu juga tak mampu menyelesaikan masalah?
Evelyn membentuk kata ‘oh’ tanpa suara dengan mulutnya. “Terus, kamu juga belum cerita lebih detail masalah telepon dari hapemu itu…”
“Terus, kenapa kalau aku nggak cerita?” sela Reno, mulai naik pitam.
Evelyn sudah membuka mulut, hanya untuk menutupnya kembali. Ia lalu menghela napas dan memajang senyum tipis. “Ibu memang belum lama menikah dengan papimu, tapi kita ini sudah menjadi keluarga. Kita harus bersatu untuk melewati masalah ini, Ren.”
Rasa muak kini bercampur dengan amarah di hati Reno. Keluarga? Bersatu? Memang siapa wanita ini sampai berkata seperti itu?
Ia mulai memijat keningnya dengan perlahan. Bukan karena pusing, ia cuma ingin menekan perasaan negatif yang tak punya alasan kuat di hatinya itu.
“Aku berangkat dulu, deh.” Reno bangkit dengan gigi-gigi merapat, meninggalkan makanannya begitu saja.
“Tunggu…” Evelyn ikut bangkit dan menjulurkan tangan. Namun, tak lama kemudian ia kembali duduk. “Ya sudah, hati-hati di jalan.”
Reno mempercepat langkahnya, benar-benar ingin menjauhi ibu tirinya itu.
***
Alih-alih mengisi perutnya yang keroncongan, di istirahat pertama ini Reno justru terdampar di sebuah ruangan kecil. Ia duduk dan berhadapan dengan bu Laras, wanita berkerudung dan berkacamata tebal. Anehnya, beliau tersenyum ramah, berbeda sekali dengan bayangan guru BK di otak Reno.
“Jadi, kemarin kamu membolos karena ada masalah di rumah dan kamu tidak mau menceritakannya?” tanya bu Laras halus.
Reno menggeleng sambil menghindari mata sang guru. Kakinya sudah gatal ingin menjejakkan kaki ke luar. Baru beberapa menit di situ, ia sudah merasa begitu tersiksa. Bu Laras memang terlihat baik, tapi atmosfer di ruangan itu tetap saja menekannya.
“Ya, sudah. Kamu boleh pergi. Tapi ingat, ini karena kamu jarang melanggar peraturan. Kalau kamu melakukan hal seperti ini lagi… Yah, kamu sudah besar kan? Kamu pasti tahu konsekuensinya.”
“Maaf, Bu?” Reno tak percaya akan apa yang baru didengarnya. Tidak ada surat panggilan kepada orangtua atau hukuman lain? Beruntung sekali dirinya.
“Silahkan keluar,” ulang si ibu guru, mengedikkan kepalanya ke arah pintu.
Masih ragu-ragu, Reno beranjak dari kursinya dan melewati pintu keluar. Matanya sempat mengecek jam dinding di ruangan itu. Masih ada sekitar tujuh menit sebelum bel masuk berbunyi, cukup untuk sekedar membeli roti dan minuman.
Baru saja akan mengarahkan haluan ke kantin, Aura datang tiba-tiba dan menarik tangannya. Gadis itu tak mengatakan apa pun dan berjalan cepat, dengan sesekali menengok ke kanan dan ke kiri.
“Ada apaan, sih?” Reno segera menahan langkahnya.
Aura berbalik dan melenguh, “Aku mau ngomongin masalah rumah kamu!”
Gadis itu kembali menarik tangan Reno. Kali ini Reno cuma bisa pasrah dirinya dibawa ke sudut sekolah yang sepi, tepatnya di samping laboratorium komputer, berdekatan dengan pohon besar. Aura mengerem langkahnya, kembali memeriksa keadaan sekitar, sebelum akhirnya menodongkan tas plastik kecil ke d**a Reno.
“Kata Joni kamu belum makan.”
Reno melihat isi tas plastik itu: satu buah arem-arem jumbo, satu potong bakwan ukuran besar, serta dua gelas teh kemasan. Aroma gurih dari bakwan yang masih hangat langsung membangkitkan seleranya.
“Ini buat aku?” tanya Reno, memastikan.
Begitu Aura mengangguk, Reno segera berjongkok di dekat tembok, kemudian mengambil arem-arem dan bakwan. Seperti orang kesetanan, ia mengupas kulit arem-arem itu dan mulai memakannya, disusul dengan bakwan yang digigitnya besar-besar.
Aura bersandar di dinding dan mengamati Reno. “Kamu jadi kelihatan kayak Joni waktu lagi makan, tahu.”
Kata-kata itu langsung membuat Reno tersedak. Ia segera mengambil teh kemasan, membuka segelnya, lalu meminumnya banyak-banyak. “Makasih banget loh, Aura.”
“Kamu itu tipe orang yang harus sarapan, ya? Setiap pagi ibunya pasti masak. Kalau aku sih boro-boro,” lanjut Aura dengan nada datar.
Reno yang sudah mulai makan kembali dengan lebih pelan pun berhenti, benar-benar tak menduga penyataan itu keluar dari mulut Aura. Ia tak tahu harus menanggapi seperti apa, karena faktanya ‘ibu’ yang memasak itu bisa dikatakan tak pernah diharapkan olehnya.
“Jadi, ibumu kenapa? Sakit?” tanya Aura lagi, ikut berjongkok.
“Ya… Gitu,deh,” timpal Reno, enggan membahas hal itu lebih lanjut. “Oh ya, masalah kamarku waktu itu, gimana kata ayah kamu?”
Reno bertanya seperti itu bukan karena ingin atau penasaran, tapi murni untuk mengalihkan topik. Memperbincangkan kejadian-kejadian aneh di rumahnya memang tak menyenangkan, tapi menurutnya lebih baik daripada membahas sang ibu tiri.
“Nah, itu… Aku kan nggak bawa sepeda. Entar kamu harus anterin aku pulang. Jangan sampe ketahuan Joni pokoknya. Aku tunggu di dekat pintu gerbang,” cerocos Aura dengan nada cepat.
“Eh?” Reno tak sanggup memberi tanggapan. Kalimat gadis itu seperti serangan yang membuat otaknya berhenti bekerja.
Aura sedikit menunduk dengan muka cemberut. “Kenapa sih ayah minta aku…”
Reno sudah bisa menduga kalau itu cuma racauan Aura. Tak ada gunanya menimpali.
“Gimana? Kamu mau, enggak? Kok malah diem?” Gadis itu mulai terlihat kesal. “Nanti kamu bisa mampir ke rumahku. Kamu bisa denger jawabannya dari ayahku langsung .”
Reno menggigit potongan terakhir arem-aremnya dan membisu, hendak menolak demi menjaga perasaan Joni. Tapi ia segera ingat pemberian sang gadis baru saja dihabiskannya. Ia benar-benar mati kutu, tak punya pilihan lain. Mau tak mau ia mengangguk.
“Ermm ... nanti pulangnya kalau parkiran udah sepi aja. Nunggu Joni pulang duluan,” usul Reno saat Aura sudah berdiri. “Oh iya, maaf udah marah ke kamu kemarin. Waktu itu…”
“Nggak papa, kok. Udah aku maafin,” sela Aura cepat, buru-buru meninggalkan Reno sendirian.
Bel tanda masuk menggema di seluruh penjuru sekolah. Reno menghabiskan teh kemasan keduanya dengan sekali teguk dan beranjak dari tempat itu.
Hanya satu harapannya: jangan sampai Joni tahu kalau nanti ia akan mengantar Aura.