Reno dan Joni turun dari motor dan berlari menuju teras. Melihat pintu depan rumahnya yang terbuka, Reno melepas sepatunya dengan kaki dan merangsek masuk. Joni tetap berada di luar dengan muka bimbang, segan karena belum dipersilahkan masuk.
“Eh, Ren? Katanya pulang sore?” Evelyn muncul dari ruang tengah, lantas menengok ke arah pintu. “Eh, Mas Joni, masuk dulu, Mas.”
“Tadi ibu nggak nelepon pake hapeku, kan?” serbu Reno.
Setelah mendapat gelengan pelan dari sang ibu tiri, Reno cepat-cepat melesat ke kamarnya.
“Eh, tunggu, Ren!” Joni masuk dan membungkuk kepada Evelyn. “Misi, Tante.”
“Silahkan…”
Reno membuka pintu kamarnya dengan keras. Seketika saja interval degup jantungnya meningkat dengan drastis. Matanya langsung terpaku ke atas lemari pakaian, tempat ponselnya berada, berdiri tegak.
Evelyn dan Joni pun datang. Sang ibu tiri langsung memasang tampang khawatir, sementara Joni cuma bisa melongo.
“Coba kamu ambil, Ren,” usul Evelyn lirih.
Reno menoleh ke arah ibu tirinya itu, menelan ludah, kemudian dengan ragu-ragu mendekati lemari kamarnya. Setelah mengumpulkan cukup keberanian, ia melompat dan meraih ponsel itu.
Telapak tangannya merasakan kehangatan. Seakan ponsel itu baru saja digunakan seseorang. Ia pun mulai memeriksanya, meski tahu itu adalah perbuatan percuma. Ya, tak ada yang berubah dari ponsel itu, ketebalannya masih sama, hanya beberapa mili saja. Benar-benar tak percaya, Reno menaruh ponselnya itu ke meja belajar, dengan posisi seperti di atas lemari tadi.
Tentu saja ponsel itu tumbang.
***
“Ini bener-bener nggak masuk akal, Ren!” ucap Joni yang tengah duduk di kursi teras rumah Reno, masih saja bermain-main dengan ponselnya.
Reno cuma menguap bosan, menunggu temannya itu memainkan keping Othello[1]. Dijejali kalimat-kalimat yang intinya hampir sama seperti itu membuat telinganya capek. Terlebih temannya itu tak henti-hentinya menjelajah internet, mencari jawaban tentang fenomena di kamar Reno tadi siang dan tak serius bermain. Reno sendiri sudah menyerah karena tak menemukan apa-apa.
“Oh, giliranku, ya?” Joni membalik salah satu keping ke warna hitam dengan asal.
Reno benar-benar merasa bermain dengan orang d***u. Tanpa melanjutkan gilirannya, ia sudah tahu keping putihnya akan menang.
“Aku yang menang,” sungut Reno, langsung mengumpulkan keping-keping Othello itu menjadi satu, berharap mendapatkan perhatian Joni.
“Nih, aku lagi nyoba nyari pake ilmu sains. Katanya gravita…”
“Udah, deh.” Rasa jengah Reno sudah tak tertahankan. “Daripada ngurusin itu, mending kita mikirin hal yang lebih penting. Kita harus cari cara biar kamu bisa ngedeketin Aura.
Usaha Reno untuk mengalihkan perhatian Joni sepertinya berhasil. Temannya itu akhirnya beralih dari ponselnya, menghadap Reno dengan gerakan seperti robot.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Reno pun berdehem pelan. “Pokoknya gini, kayak yang aku bilang tadi, langkah pertama kamu hapus dulu foto-foto Aura di ponsel kamu. Takutnya dia mergokin kamu ngeliatin foto-foto itu. Lagian fotonya kamu ambil sembunyi-sembunyi, kan? Nggak minta persetujuan dulu?”
“Wah, sayang banget, Ren.” Joni langsung memasang ekspresi memprotes. “Aku udah ngumpulin…”
“Kalau gitu pindahin ke komputer, deh,” potong Reno.
“Tapi… Laptop di rumahku kan dipake barengan, jadi…”
“Ya udah, kamu simpen di komputerku. Kalau nggak, kamu beli flashdisk. Bisa juga pake DVD yang lebih murah. Pake jasa simpen file online juga bisa,” cerocos Reno panjang lebar, yakin Joni tak bisa menemukan celah untuk membantah.
Dan benar saja, Joni cuma membuka dan menutup mulutnya berkali-kali, tanpa sanggup melemparkan sanggahan.
“Oke, udah jelas?” Pertanyaan Reno itu dijawab Joni dengan anggukan ragu. “Nah, kamu juga harus berhenti nyari informasi pribadi tentang Aura. Itu sama aja ngerusak privasi seseorang.”
Joni langsung menggaruk-garuk rambutnya, tampak begitu gusar. “Aku cuma mau nunjukkin kalau aku perhatian sama dia. Aku cari semua informasi tentang dia, tapi dia malah marah sama aku, Ren.”
Menurut Reno, apa yang dilakukan Joni itu adalah tanda-tanda dari mental penguntit. Namun, Reno tak berniat mengutarakan hal itu secara gamblang. Sebagai teman, ia merasa harus menuntun Joni keluar dari hal seperti itu. Masih ada harapan. Di rental Playstation tadi, Joni sudah berani mengaku salah.
“Joni, Reno, masuk dulu, yuk. Udah Ibu siapin minuman sama makanan kecil,” ajak Evelyn dari pintu depan yang terbuka.
“Oke, Tante.” Dengan semangat, Joni bangkit berdiri, tapi ia segera duduk kembali untuk membantu Reno yang masih merapikan papan Othello.
“Inget, pokoknya jangan sampai ada foto Aura di hapemu.” ulang Reno, berjalan memasuki rumah bersama Joni. “Apalagi yang diambil nggak pake izin.”
“Silahkan duduk, Reno, Joni.”
Dua sahabat itu mematung di ruang keluarga, memperhatikan Aksa yang duduk di sofa sambil membaca buku. Aroma tahu bakso kesukaan Reno tercium dari meja yang ada di situ, bukan di kamarnya seperti yang sudah-sudah. Joni memandang Reno dengan muka penuh tanda tanya. Reno cuma membalasnya dengan mengangkat bahu dan meringis.
“Duduk,” pinta Aksa tegas, tanpa melihat dua remaja itu.
Joni cuma bisa nyengir lebar, jelas tak terbiasa kalau Aksa bergabung bersama mereka. Evelyn yang sudah duduk di samping suaminya pun tersenyum kaku. Menyadari semua itu, Aksa langsung berdehem dan tersenyum lebar.
“Silahkan duduk, Mas Joni, Reno.”
Bukannya menurut, keduanya malah tetap bergeming di tempatnya. Terlebih Reno, yang hampir tak pernah melihat papinya seperti itu, memandangi dirinya dengan senyum yang begitu janggal, seolah hanya ditempelkan asal-asalan.
Evelyn mengedikkan kepalanya, memberi isyarat agar mereka segera duduk.
“Ah, iya, Pi,” jawab Reno, akhirnya duduk di salah satu sofa.
Dengan perlahan, Joni menduduki area kosong di samping Reno. “Ma… Makasih, Pak.”
Aksa terus mempertahankan senyumnya. Rasa ganjil di hati Reno berubah menjadi ketidak-nyamanan. Hal itu masih ditambah dengan suasana sepi karena tak ada yang mau angkat bicara.
“Silahkan dimakan, Mas Joni,” ucap Evelyn memecah kecanggungan.
“Iya, Bu.” Joni mengambil sepotong brownies yang disuguhkan. Berbeda dengan tahu bakso yang masih mengepul karena baru digoreng, Reno tahu brownies itu bertengger di kulkas dari kemarin.
Melihat gerakan Joni yang kikuk dan seolah berkata meminta tolong tanpa suara, Reno menjumput satu tahu bakso dan meniupnya. Sementara itu, dan Aksa mulai meminum kopinya. Semua itu tak luput dari mata Evelyn, yang juga tampak salah tingkah.
“Reno, bagaimana sekolah kamu hari ini?”
Reno sampai hampir tersedak mendengar pertanyaan papinya itu. Secara refleks ia menoleh ke arah Evelyn, yang justru memberi isyarat dengan kedipan sebelah mata. Masih tak tahu menjawab seperti apa, ia melirik Joni, yang buru-buru memasukkan sisa browniesnya dan membuang muka. Dan yang terakhir, Reno menghadap Aksa, yang kini kembali tersenyum. Meski tak selebar tadi, senyum itu masih saja terkesan aneh.
Pasti ini adalah usaha Evelyn untuk mendekatkan dirinya kepada Aksa. Otak Reno akhirnya bisa memunculkan dugaan itu. Hal seperti ini sama sekali tak pernah dilakukan mami kandungnya. Bukannya tak ingin hubungan Reno dan papinya menjadi dekat, mami Reno pernah mengaku bahwa ia menerima Aksa apa adanya, sama sekali tak berniat mengubah sifat suaminya itu.
Ya, selama ini semuanya mengalir begitu saja, Reno tak pernah merasa perlu memprotes sikap papinya yang selalu dingin. Namun, sekarang ada seseorang yang turut campur tanpa tahu apa-apa. Rasa benci di dalam hati Reno pun mulai tumbuh.
“Biasa aja, Pi,” jawab Reno akhirnya, benar-benar tak punya jawaban lain. Ia tak mungkin menceritakan harinya di rental Playstation itu.
“Reno mau jadi mak comblang buat saya, Pak,”seloroh Joni sambil cengengesan.
“Hah? Memangnya kamu mau dicomblangin dengan siapa?” Evelyn langsung terdengar bersemangat.
Joni menunjuk ke arah rumah Aura. “Itu loh, Bu. Anak yang di rumahnya di pertigaan, anaknya Pak Alex.”
“Ooh, Pak Alex,” timpal Aksa dengan nada kaku. “Yah, boleh lah kapan-kapan diajak ke sini. Main di kamar, seperti Mas Joni. Maksudnya, Mas Joni juga ikut main…”
Aksa kembali berdehem dan mulai memakan satu tahu bakso. Untuk kesekian kalinya, Reno dan Joni mematung kebingungan, sementara Evelyn memandangi suaminya itu dengan penuh arti. Merasa diperhatikan, Aksa pun melirik istrinya dan menunjukkan ekspresi setengah kaget, setengah panik.
“Ooh… Yah, maksudnya… Jadi…. Hmm… Yah, asalkan pintu kamarnya dibuka dan papi atau ibumu ada tak jadi masalah.”
Ini pertama kalinya Reno melihat sisi Aksa yang seperti itu. Papinya yang selalu berbicara dengan tertata, ternyata bisa juga terbata-bata.
Joni mengacungkan jempol kepada Reno, yang hanya membalas dengan senyuman tipis. Reno berpikir, barangkali usul Aksa itu bisa membantu Joni untuk mendekati Aura.
Acara minum teh itu masih berlanjut dengan Joni dan Evelyn mendominasi obrolan. Kekehan-kekehan kecil terdengar di antara mereka, tapi terasa begitu tak natural di telinga Reno. Sesekali Aksa ikut tertawa kaku, seperti ingin membaur dalam obrolan itu.
Reno benar-benar ingin kabur dari tempat itu. Keadaan hatinya yang sudah membaik, perlahan mulai turun kembali.
[1] Permainan yang menggunakan papan dengan susunan kotak 8x8, serta keping bidak berbentuk bulat berwarna hitam dan putih. Terkadang disebut juga dengan nama Reversi.