"alhamdulillah kalau setuju mah, gak apa apa adek cuman mastiin aja kok."
"kamu pasti dengerin cerita bibi ya "
" cerita apa orang bibi gak cerita apa apa"
"ya pokoknya cerita jelek jelekin mama"
" gak ada mas, lagian adek belum ada ngobrol sama bibi"
" ya pokonya jangan percaya kalau bibi cerita jelek jelekin mama ya, mas gak suka"
sebenernya ada apa ini jelek jelekin apa maksud mas indra padahal sifat mama sama aku berbeda pas hanya berdua saja. sebaiknya aku cari tau sendiri karna banyak sekali kejanggalan yang ada.
tok.. ..
tok.. ..
tok.. ..
"non aisyah, den indra di panggil bapak di ruang kerjannya" ucap bibi saat pintu kamar aku buka
"ohh iya bi nanti saya suruh mas indra ke ruangan kerja papa ya" jawabku pada bibi
aku menghampiri mas indra di balkon kamar yang sedang menikmati minuman dan cemilan yang aku buat tadi.
"siapa dek" tanya mas indra
"bibi mas, kata bibi mas di panggil papa ke ruangan kerjanya" jawabku
"ohh ya sudah ayo kita kesana, sekalian pamit nanti sore kita pulang ke rumah kita" ucap mas indra yang membawa angin segar termyata suamiku ini tidak menunda nunda untuk pulang ke rumah sendiri
"beneran mas ?" jawabku antusias
"iya sayang, kalau gak di turutin nanti mas gak dapat jatah dong"
"ishhhh mass ternyata ada maunya"
"hahahha kan mintanya sama istri sendiri jadi gak apa apa dong"
"emang kalau gak sama adek, mas berani minta sama siapa"
"ya gak sama siapa siapa sayang, kalau kamu gak mau kasih mas puasa kalau gak mas yang bakalan godain kamu sampai kamu gak tahan sendiri dan akhirnya minta sendiri ke mas hahahahha" jawab mas indra
"ishhhh mulai godain ya kalau adek mah tahan tahan aja paling mas yang gak bisa tahan dari godain ujung ujungnya kegoda sendiri hahah"jawabku tak mau kalah
ya karna selama 3 hari ini aku tau kalau mas indra memang orangnya gak bisa tahan sama begituan hahahhah.
"ahhhh iya iya emang kalau debat sama kamu gak pernah bisa menang ya" jawab mas indra sambil menjawil hidungku
"ya udah ayo kita ke ruangan papa dek"
"iya mas"
akhirnya kamipun sampai di ruang kerja papa, memang orang berada itu setiap ruangan pasti ada saja gunanya, kalau di rumahku kamar ya merangkap hahah bisa buat ruang kerja dan untuk tidur hehe
"salam dulu mas di biasakan, jangan asal masuk takutnya papa sedang sibuk atau sedang apa gitu" ucapku pada mas indra
"heehe iya dek, kebiasaan mas selalu langsung masuk" jawab mas indra sambil terkekeh
"assalamualaikum pa" ucap kami bersama tak lama papapun menjawab salam kami dari dalam
"waalaikumsalam ndra masuk aja" jawab papa
"tumbenan pakek salam biasanya nyelonong masuk aja haha" tanya papa
"ini tadi anak perempuan papa yang nyuruh indra ucapin salam takutnya ganggu ayah" jawab mas indra sambil melilirikku
"memang gak salah kamu pilih istri ndra" jawab papa sambil mengacungkan jempolnya ke arag kami
"alhamdulillah pa, semoga terus sampai jannah nanti" jawab mas indra
"aamiin ya Allah" jawabku sama papa barengan
"ada apa pa kok manggil indra ke sini" tanya mas indra
"duduk lah dulu kalian berdua" perintah papa kepada kami, kamipu berjalan ke arah sofa dan duduk bersama tidak lama papa juga mengikuti kami untuk duduk bersama di sofa.
"ini untuk kalian berdua" ucap papa sambil memberikan sebuah amplop putih kepada kami
"apa ini pa?" tanya mas indra
"bukalah biar kalian tau apa itu" jawab papa
"baca hamdalah dulu mas" bisikku pada mas indra tapi papa masih bisa mendengarkan
"emang gak salah papa nerima kamu sebagai menantu papa" ucap papa sambil tersenyum
"alhamdullillah ya pa, terima kasih karna aisyah di terima di kelurga papa padahal papa tau keluarga aisyah keluarga yang sederhana" jawabku tulus dari hati
"bagi papa tidak masalah selagi indra yang meminta dan bisa merubah indra ke arah yang lebih benar" ucap papa
"bismillah ini indra buka ya pa" tanya mas indra
"bukalah nak" jawab mas indra
akupun ikut melihatnya karna penasaran apa isinya hehe, kami melihat amplop putih itu bersama sama dan ya Alhamdullillah ya Allah aku sampai meneteskan air mata karna saking terharunya dan begitu perhatiannya papa kepada kami.
padahal hanya angankku saja bisa kesana, mas indrapun memelukku mungkin heran kenapa sampai aku menangis tersedu seperti ini.
"sudah sayang jangan menangis lagi, harusnya kamu bahagaikan sayang." ucap mas indra sambil memelukku
ya bagaimana aku tidak bahagia karna pemberian papa adahal harapanku sejak lama
.
.
.
kira kira apa ya isinya sampai aisyah menangis seperti itu.