Di dalam amplop putih itu ada dua lembar tiket. Di bagian atasnya tercetak tulisan Madinah, dan di bawahnya Makkah.
"Umrah?" suara Mas Indra naik setengah oktaf. "Pa, ini beneran?"
"Sembilan hari," kata papa sambil bersandar di sofa, seolah baru memberi tahu jadwal rapat. "Berangkat Senin tiga pekan lagi, pulang Selasa sembilan hari sesudahnya. Visa dan hotel sudah papa urus, kalian tinggal bawa badan."
Aku masih memegang kertas itu dengan dua tangan, takut basah kena air mataku. Dari dulu aku menabung dalam hati untuk bisa melihat Ka'bah, dan dari dulu pula Bapak bilang, "Sabar, Teh, kalau rezekinya ada, Allah yang buka jalannya." Sekarang jalan itu dibukakan lewat laki-laki yang duduk di depanku dan membuatku merasa tidak pantas menerimanya.
"Papa kok tahu Aisyah pengin ke sana?" tanyaku, suaraku serak.
"Papa tidak tahu," jawab papa. "Papa cuma punya janji lama kepada diri sendiri. Kalau Indra menikah dengan perempuan yang menjaga salatnya, papa antar mereka ke Tanah Suci. Barusan papa lihat kamu menyuruh Indra mengucap salam sebelum masuk, dan papa pikir janji itu sudah waktunya ditepati."
Mas Indra tertawa kecil, tapi matanya ikut basah. "Jadi soal Indra suka nyelonong itu ketahuan juga, Pa?"
"Ketahuan sejak kecil," kata papa. "Pintu kamar papa saja tidak pernah kamu ketuk."
Aku ikut tertawa di sela tangis, dan Mas Indra memelukku lagi dari samping, lebih erat. Bau sabun dan parfumnya bercampur dengan bau kertas baru. Aku tidak mau momen ini selesai.
Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.
"Den Indra," kata Bibi dari balik daun pintu yang setengah terbuka, "ditunggu Ibu di bawah, katanya ada yang mau dibicarakan soal makan siang."
Mas Indra mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Mas ke bawah dulu ya, dek. Jangan nangis lagi, nanti papa kira Mas yang bikin."
"Memang Mas yang bikin," balasku. Ia nyengir, lalu keluar bersama Bibi. Suara langkah mereka menjauh di tangga.
Ruang kerja mendadak sepi. Papa menunggu sampai langkah itu benar-benar hilang. Kemudian ia membuka laci mejanya, mengambil selembar kartu nama kecil tanpa logo perusahaan, menulis sesuatu di baliknya, dan menyodorkannya kepadaku.
"Ini nomor pribadi papa. Bukan nomor kantor, bukan nomor yang dipegang sekretaris."
Aku menerimanya. Ada sebelas angka dengan tulisan tangan yang tegas.
"Kalau ada yang tidak bisa kamu katakan kepada siapa pun di rumah ini," lanjut papa, matanya lurus menatapku, "telepon papa. Jam berapa pun."
"Pa, Aisyah..."
"Papa tidak minta kamu jelaskan sekarang." Ia menepuk lututnya sekali, lalu berdiri. "Simpan saja. Siapa tahu tidak pernah terpakai. Papa malah berharap begitu."
Aku melipat kartu itu dan menyelipkannya di balik tiket, di dalam amplop. Entah kenapa tanganku sedikit gemetar. Papa tidak menyebut nama mama, dan aku juga tidak. Tapi kami berdua tahu siapa yang tidak disebut.
***
Pamitan dilakukan di ruang makan, dengan sisa kue dan teh yang sudah dingin di atas meja.
Mama berdiri di dekat jendela, memakai gamis krem dan gelang emas tua di pergelangan kirinya, gelang yang tipis dan sudah agak tergerus warnanya. Begitu aku masuk, ia tersenyum lebar, senyum yang sama persis seperti yang ia pasang di depan para tamu resepsi dua hari lalu.
"Sudah dibuka amplopnya, Nak?" tanya mama kepada Mas Indra, bukan kepadaku.
"Sudah, Ma. Umrah. Papa yang kasih."
"Papa memang begitu, suka kejutan." Mama menoleh kepadaku. "Senang, Aisyah?"
"Senang sekali, Ma. Terima kasih."
"Terima kasihnya ke papa. Mama cuma ikut mendoakan." Ia memutar gelangnya pelan satu putaran, lalu satu lagi. "Di sana doakan ya, supaya rumah kalian cepat ramai. Mama sudah tidak sabar mau gendong cucu."
"Insya Allah, Ma," jawabku. Hanya itu yang bisa kukatakan tanpa terdengar berbohong.
"Ndra, jangan lupa," kata mama sambil merapikan kerah kemeja anaknya, gerakan kecil yang tampak penuh sayang. "Telepon mama tiap hari. Pagi atau malam, terserah. Tapi tiap hari."
"Tiap hari, Ma?" Mas Indra tersenyum. "Ya sudah, Indra telepon."
"Anak baik." Mama menepuk pipinya. "Kalau lagi di mobil jangan sambil telepon, nanti mama marah. Tapi kalau sudah sampai, kabari. Jangan menunggu Aisyah yang mengabari, ya. Istri itu capek, kasihan."
"Iya, Ma."
"Kamu itu dari kecil kalau mama tidak ingatkan suka lupa makan. Sekarang ada Aisyah, tapi tetap saja mama titip." Mama menoleh sebentar kepadaku, hanya sebentar. "Titip yang benar, Aisyah."
"Iya, Ma," jawabku lagi.
Satu kata yang sama, dua kali, dan aku merasa seperti anak sekolah yang sedang menjawab guru. Mama mengangguk puas, lalu ia memeluk bahuku sekilas. Pelukannya ringan, dingin, dan cuma sebentar. Ia tidak berbisik apa-apa kali ini.
Bibi menunggu di dekat pintu dapur, membawa dua kotak bekal untuk kami. Ketika menyerahkannya kepadaku, jarinya menyentuh tanganku sebentar, dingin, dan ia buru-buru menunduk.
"Hati-hati di jalan, Mba," bisiknya.
Papa mengantar sampai halaman. Ia menutupkan pintu mobil di sisiku sendiri, lalu mengetuk kaca dua kali. Ketika Mas Indra menyalakan mesin, kulihat mama masih berdiri di teras, melambaikan tangan dengan senyum yang tidak bergeser sedikit pun.
***
Perjalanan pulang satu setengah jam. Jalanan agak lengang, matahari mulai condong, dan Mas Indra bersenandung sumbang mengikuti lagu di radio. Katanya ia sedang bayangkan wajahku nanti waktu melihat Ka'bah.
"Kamu pasti pingsan duluan," katanya.
"Enak saja, adek kuat kok."
"Kuat apa? Lihat tiket saja sudah banjir."
Aku memukul lengannya pelan, dan ia tertawa lepas.
"Nanti pas sampai rumah, Mas mau lihat dulu barang-barang yang kamu pilih," katanya. "Kata kamu sudah ditata semua sebelum akad?"
"Sudah, Mas. Cuma sofa yang Mas bilang mau diganti. Adek tahan, nunggu Mas lihat."
"Sofanya jelek?"
"Sofanya nanti Mas duduki dulu, baru bilang jelek atau tidak."
"Wah, ada ujiannya." Ia terkekeh. "Mas lulus apa tidak, nih?"
"Tergantung Mas mau makan sayur apa tidak malam ini."
Ia mengeluh keras-keras, tapi tangannya tetap menggenggam tanganku di atas tuas persneling. Setiap kali tertawa begitu, sudut matanya berkerut dan aku merasa aman. Itu suami yang kukenal, dan aku ingin sekali percaya hanya itu yang akan ada.
Lalu ia berhenti bersenandung, menguap, dan menyandarkan kepala sebentar di sandaran kursi saat lampu merah. Aku menatap kaca samping. Pagar rumah-rumah lewat satu per satu.
Dan tiba-tiba, tanpa kuminta, aku mendengar lagi napas mama di dekat telingaku, hangat dan basah, di ruang keluarga semalam, saat ia memelukku di depan semua orang. Pelukan itu sama sekali tidak seperti pelukan di ruang makan tadi. Aku ingat tiap kata yang ia ucapkan waktu itu, kalimat demi kalimat, dan semuanya masih membuat bulu tanganku berdiri.
"Kenapa, dek?" tanya Mas Indra tanpa membuka mata. "Kok diam?"
"Tidak apa-apa, Mas. Cuma ngantuk."
"Tidur saja. Nanti Mas bangunkan kalau sudah sampai."
Aku memejamkan mata, pura-pura menurut. Tapi kata-kata mama tidak mau pergi, dan lampu merah itu terasa lama sekali.