Kalimat-kalimat itu kuputar ulang dengan mata terpejam, seperti kaset yang tidak bisa dihentikan.
Semua orang pasti mengira pelukan mama setelah Mas Indra memutar video itu dan papa angkat bicara adalah pelukan seorang ibu yang menyesal. Aku pun hampir mengira begitu, sampai mama menempelkan bibirnya di dekat telingaku dan berbisik pelan, nyaris tanpa suara.
"Aku merestui kalian hanya di depan suamiku. Kamu kuberi waktu satu tahun. Kalau setahun lagi belum ada cucu untukku, aku sendiri yang akan menyingkirkanmu dari rumah anakku, dan Indra akan menurut. Dia selalu menurut padaku."
Lalu ia melepaskan pelukannya, mengusap air mata yang entah asli entah tidak, dan tersenyum kepada semua orang.
Mobil melambat. Aku membuka mata dan melihat Mas Indra sudah membelokkan setir ke halaman sebuah pasar swalayan.
"Mampir bentar ya, dek. Mas lihat tadi kulkas kita kosong, kan?"
"Iya, Mas," kataku, dan baru sadar suaraku masih serak.
Ia menoleh. "Dek, kamu beneran gak apa-apa? Dari tadi Mas lihat kamu bengong terus."
Ini saatnya. Cukup satu kalimat: Mas, mama membisikkan sesuatu kepada adek. Aku sudah membuka mulut ketika kulihat tangannya yang masih mengusap setir, jari-jarinya yang sedikit tegang. Aku ingat kalimat mama yang terakhir. Dia selalu menurut padaku. Kalau aku ceritakan sekarang, tanpa bukti apa pun, dan Mas Indra menjawab dengan "Mama tidak mungkin bilang begitu", aku akan kehilangan satu-satunya orang yang ingin kupertahankan di rumah ini, di hari ketiga pernikahan kami.
"Gak apa-apa, Mas," kataku akhirnya. "Adek cuma masih terharu soal tiket."
Ia tersenyum lega dan mencubit pipiku. "Kalau begitu bantu Mas pilih sayur. Mas gak mau tahu, pokoknya jangan brokoli."
"Justru brokoli," jawabku. "Sop brokoli, malam ini."
"Dek..."
"Udah, jangan membantah istri di hari pertama masuk rumah. Hahaha, ancaman istri baru."
Aku turun lebih dulu, menutup pintu mobil sedikit lebih keras dari biasanya, dan dalam hati bersumpah: nanti, kalau sudah ada bukti, aku akan ceritakan semuanya, Mas. Sampai hari itu tiba, bisikan ini kusimpan sendiri.
***
Rumah kami berdiri di ujung gang perumahan di pinggir Bandung, dua lantai, bercat putih gading, dengan pagar besi hitam yang catnya masih berbau. Mas Indra menurunkan koper sambil bersiul. Aku membuka pintu depan dengan kunci yang kuterima dari tukang sebelum akad, dan bau cat serta kayu baru langsung menyambut.
"Jadi ini, ruang tamunya," kataku, sambil berdiri di tengah ruangan dan merentangkan tangan. "Sofanya abu-abu muda, karpetnya adek pilih yang warnanya hijau sage, dan lemari bukunya adek minta tukang pasang di sudut itu, yang dekat jendela, supaya ada cahaya pagi."
"Lemari bukumu penuh nanti sama buku apa, dek? Resep?"
"Resep, novel, sama buku tentang menjadi istri yang sabar menghadapi suami yang suka menggoda."
Mas Indra tertawa, lalu mengikutiku dari ruang ke ruang. Dapur dengan meja makan kecil dari kayu jati, kamar tamu yang masih bersih, ruang kerja mungil dengan sofa panjang. Aku menunjukkan semuanya dengan semangat berlebihan, mungkin karena aku ingin menutup gema bisikan di kepalaku dengan suara sendiri. Di lantai atas, di kamar utama, ia merebahkan diri di ranjang dengan tangan terentang.
"Ranjangnya cocok," katanya. "Pilihan istri Mas memang tidak pernah salah."
"Mas jangan tidur dulu, adek mau masak."
"Lima menit, dek."
"Lima menit, sampai adek selesai potong brokoli. Setelah itu Mas harus turun."
Ia mengerang pura-pura, tapi senyumnya tidak hilang.
Sop brokoli itu sederhana: kaldu ayam dari sisa bekal Bibi yang kuencerkan, wortel, kentang, dan brokoli yang kupotong kecil-kecil. Aku meletakkan dua mangkuk di meja makan, dan mangkuk Mas Indra kuisi paling banyak. Aku sudah menyiapkan kalimat ancaman, seperti waktu di rumah mama: kalau tidak dimakan, adek tidak mau bicara dengan Mas sampai besok.
Ternyata tidak perlu. Ia duduk, membaca doa, menyendok, mengunyah, dan menghabiskan setengah mangkuk sebelum aku selesai membaca doaku sendiri.
"Mas?" Aku menatapnya. "Tanpa dipaksa?"
"Masakan istri sendiri, dek." Ia mengangkat bahu. "Dan di rumah ini tidak ada mama yang membandingkan."
Kalimat terakhir itu terlalu cepat keluar dari mulutnya, dan ia sendiri tampak kaget. Ia berdeham, menunduk, menyendok lagi. Aku diam, pura-pura tidak mendengar, dan mengisi mangkuknya sampai penuh lagi.
***
Sesudah mencuci piring bersama, kami duduk di teras depan. Angin Bandung sore sudah mulai membawa dingin, dan lampu jalan satu per satu menyala.
"Mas, soal itu," kataku sambil menunjuk pagar. "Adek mau pasang kamera."
Mas Indra mengangkat alis. "Kamera apa?"
"CCTV. Di pagar sama di teras saja. Adek tidak enak kalau rumah ini kosong dan kita pergi sembilan hari. Lagipula kalau ada kiriman paket atau tamu, kita tahu siapa yang datang."
Itu alasan yang benar, sekaligus tidak sepenuhnya jujur. Aku memandang jalan di depan rumah, dan teringat lagi kalimat mama yang berbisik, "kemanapun kamu pergi aku akan selalu mengikuti kalian." Aku ingin tahu siapa saja yang akan datang mengikuti.
Mas Indra diam beberapa saat. "Boleh," katanya. "Tapi di pagar dan teras saja. Bukan di dalam rumah."
"Kenapa bukan di dalam?"
"Karena ini rumah kita, dek. Kalau mama datang..." Ia berhenti sebentar, mencari kata. "Mama tidak boleh merasa dicurigai. Mama itu perasa. Kalau dia tahu ada kamera di ruang tamu, dia akan sakit hati berminggu-minggu."
"Adek tidak mencurigai Mama, Mas."
"Mas tahu. Makanya Mas bilang boleh." Ia menggenggam tanganku. "Pagar dan teras. Itu saja."
Aku mengangguk. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya sejak kapan permintaan memasang kamera di pagar terdengar seperti pelanggaran terhadap seseorang yang belum tentu datang.
***
Malam itu kami salat Isya berdua di kamar utama, Mas Indra di depan, aku di belakangnya. Setelah salam, ia menoleh dan mencium keningku. Ia bertanya dulu, "Boleh, dek?", dan aku mengangguk.
Aku tertidur lebih dulu daripada yang kuduga. Entah pukul berapa, aku terbangun karena ranjang bergerak. Kamar gelap, hanya ada cahaya tipis dari lampu jalan di sela tirai. Mas Indra berbaring dengan wajah menghadap langit-langit, napasnya cepat, dahinya basah. Bibirnya bergerak.
"Jangan, Ma..." Suaranya serak dan patah. "Jangan bilang ke dia."
Aku menahan napas. Tanganku yang tadinya hendak menyentuh bahunya, berhenti di udara.
"Jangan..." desisnya sekali lagi, lalu kepalanya menoleh ke samping dan napasnya perlahan menjadi tenang, seolah tidak pernah ada apa-apa.
Aku masih menatap wajahnya di remang-remang itu sampai lama. Jangan bilang ke siapa? Dan kenapa dalam mimpinya yang paling jujur, laki-laki yang selalu tertawa itu memohon kepada ibunya?