Pagi itu aku sudah menyapu teras tiga kali, padahal tidak ada debu yang bisa disapu.
"Dek, duduk dulu," kata Mas Indra dari ambang pintu sambil menyeruput kopi. "Bapak sama Mama masih di jalan. Kalau kamu terus menyapu, lantainya nanti tipis."
"Adek cuma gugup, Mas."
"Gugup sama bapak sendiri?"
"Gugup karena ini pertama kali mereka lihat rumah adek." Aku menyandarkan sapu di dinding. "Dan karena Mas belum pernah ketemu Bapak lagi sejak akad."
"Mas sudah minta restunya langsung, dek. Bapak orang yang baik. Mas yang takut, bukan kamu."
Ia mengedip, dan aku tertawa, dan ponselku bergetar di saku daster. Aku mengira itu Bapak yang mengabari sudah sampai di terminal. Ternyata pesan dari nomor yang kunamai "Mama Mertua".
Mama mampir siang ini. Bibi sudah masak.
Hanya itu, tanpa salam dan tanpa tanda tanya. Aku menunjukkannya kepada Mas Indra, dan wajahnya sempat berubah, kerut kecil di antara alisnya.
"Mama pasti dengar dari Papa kalau keluarga adek mau datang."
"Mas yang kasih tahu Mama?"
"Mas bilang tadi malam waktu telepon." Ia menggaruk tengkuknya. "Mama cuma mau menyambut besan, dek. Jangan dipikirkan."
Aku tidak sempat menjawab karena sebuah mobil sewaan berhenti di depan pagar. Pintu belakangnya terbuka dan Bapak turun lebih dulu dengan sarung dan baju koko yang disetrika rapi. Di bahunya ada karung beras kecil yang berisi entah apa. Di belakangnya mamaku turun membawa dua tas anyaman. Dan terakhir, setengah melompat dari kursi depan, adikku Rafi dengan jaket kuliah dan senyum yang sudah melebar sejak jauh.
"Teteh!"
"Rafi, hati-hati, itu bawaan Mama!"
Terlambat. Ia sudah memelukku sampai kakiku nyaris terangkat. Bau jaketnya sama seperti dulu, bau sabun murahan dan debu motor.
"Teteh makin kurus. Mas Indra tidak ngasih makan, ya?"
"Aku gemuk dua kilo, tahu."
"Bohong."
Mamaku menggenggam tanganku tanpa kata, seperti biasa. Mataku langsung panas. Bapak menurunkan karungnya dan menyalami Mas Indra dengan kedua tangan.
"Nak Indra sehat?"
"Alhamdulillah, Pak. Mari masuk, Pak, Bu."
Ruang tamu kecil kami mendadak ramai. Bapak menaruh karungnya di dapur dan membukanya satu per satu: kol, sawi, wortel kecil yang masih ada tanahnya, dua ikat bayam, kacang panjang, dan sebongkah singkong.
"Ini dari ladang, Teh," kata Bapak. "Ladang sayur kita sudah mulai panen. Yang di bawahnya, sepetak sawah itu, Bapak baru tanami lagi. Padi gogo, hasilnya sedikit, tapi cukup buat kita."
"Sawahnya jadi digarap lagi, Pak?"
"Jadi. Dari dulu Bapak mau tapi tidak sempat. Pematangnya tempat enak buat duduk menunggu matahari terbit, atuh. Nanti Teteh pulang, Bapak ajak ke sana."
"Insya Allah, Pak."
Mas Indra ikut mengangkat sayur ke kulkas dengan wajah sungguh-sungguh. Aku memperhatikan caranya mendengarkan Bapak, menunduk sedikit, mengangguk di tempat yang tepat. Itu bagian dirinya yang tidak pernah ia pamerkan, dan aku lebih menyukai bagian ini daripada seribu rayuan.
***
Pukul dua belas lewat sedikit, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Bibi turun lebih dulu dari kursi depan dengan dua kantong besar, lalu sopir membukakan pintu belakang untuk mama.
Mama mertua melangkah masuk seperti sedang menghadiri pembukaan butik. Kerudung sutra abu-abu, tas kulit kecil, gelang emas tua di tangan kiri. Di belakangnya Bibi menenteng bingkisan bertumpuk: buah impor dibungkus kertas cokelat, satu kotak kue dengan pita emas, satu kardus kecil yang di sisinya tertulis nama toko kurma terkenal.
"Assalamualaikum. Selamat siang, Pak, Bu."
"Waalaikumsalam," jawab Bapak sambil berdiri. "Selamat datang, Bu. Maaf tempatnya sederhana."
"Rumah Aisyah dan Indra bukan sederhana, Pak. Ini rumah impian." Mama tersenyum, lalu menaruh bingkisan di meja satu per satu seperti menaruh piala. "Ini sekadar oleh-oleh. Jangan dibilang apa-apa."
Mamaku memandang bingkisan itu, lalu memandang karung sayur di dapur. Aku melihat bahunya turun sedikit.
"Terima kasih, Bu. Kami cuma bawa sayur dari kebun."
"Sayur kampung itu sehat sekali, Bu. Aisyah memang pandai memilih." Mama mertua menoleh kepadaku dengan senyum yang bisa dipotret. "Ya kan, Nak?"
"Iya, Ma."
Aku meminta izin ke dapur untuk menyiapkan teh. Beberapa menit kemudian dua kursi ditarik di belakangku, dan aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri paling dekat.
Mama mertua mengambil cangkir dari rak, pura-pura membantu. Tangan kirinya yang bergelang itu mengetuk meja.
"Keluargamu sederhana sekali," bisiknya tanpa melihatku, suaranya begitu tenang sehingga hampir manis. "Pantas kamu pandai merendah."
Teko di tanganku nyaris bergetar. "Alhamdulillah, Ma."
"Merendah itu bagus. Tapi merendah tidak akan memberi cucu." Ia memutar gelangnya satu putaran. "Sembilan hari di Tanah Suci, pakai baik-baik."
Lalu ia membawa nampan cangkir ke ruang tamu dengan langkah ringan. Aku menarik napas, mengusap dahi, dan menyusul. Di ruang tamu mama sedang duduk menyilang kaki di sebelah mamaku.
"Bu, kalau boleh tanya," katanya dengan nada yang bisa kudengar dari ujung ruangan, ramah dan ringan, "Aisyah ini belum isi ya?"
Mamaku, yang selalu pendiam, menatap cangkirnya sebentar. "Baru beberapa hari menikah, Bu. Itu urusan Allah."
"Ah, tentu saja. Saya cuma ingin tahu apakah Ibu sudah berdoa untuk itu."
"Setiap hari, Bu." Suara mamaku nyaris tak terdengar. "Untuk apa pun yang baik buat anak saya."
Mas Indra memandangku dari seberang ruangan. Aku menggeleng pelan: jangan. Ia menelan kata-katanya dan menyesap tehnya, dan aku tahu itu membutuhkan tenaga.
***
Menjelang Ashar rombongan keluargaku pamit. Terlalu cepat, tapi mereka harus mengejar bus terakhir ke kampung. Bapak menolak diantar Mas Indra ke terminal, hanya setuju mobil sewaan itu menunggu di ujung gang, lalu mereka lanjut naik angkot.
Di halaman, Bapak menggenggam tangan Mas Indra lama sekali.
"Nak Indra, Bapak titip Teteh," katanya. "Bapak tidak minta banyak. Bapak cuma minta Nak Indra ingat bahwa dia anak yang tidak biasa mengeluh. Kalau dia diam, jangan dikira dia tidak apa-apa."
Mas Indra menunduk. "Insya Allah, Pak. Indra jaga."
"Dan sebaliknya juga ya, Nak. Kalau Nak Indra yang diam, Teteh jangan dibiarkan menebak sendirian."
Kalimat itu membuat Mas Indra mengangkat wajah, sedikit terkejut, lalu ia mengangguk lagi, lebih dalam. Aku berdiri di sisinya dan tidak berani menatap keduanya.
Mamaku memeluk aku terakhir. Tubuhnya lebih kecil dari yang kuingat, dan hangat. "Jaga diri, Teh. Jangan lupa salat malam."
"Iya, Ma."
Bapak masuk lebih dulu ke mobil sewaan. Ketika aku hendak melambai, Rafi menarik lenganku ke samping dan merendahkan suaranya.
"Teh."
"Apa?"
"Rafi lihat tadi wajah Teteh waktu ibunya Mas Indra masuk. Teteh pura-pura baik, ya?" Matanya tajam, mata anak muda yang mudah naik darah. "Kalau mereka menyakiti Teteh, telepon Rafi. Jangan ke Bapak. Bapak nanti kepikiran. Telepon Rafi saja."
"Rafi, jangan ngawur. Mereka tidak..."
"Telepon saja." Ia mengacak rambutku seperti dulu, lalu berlari ke mobil.
Aku melambai sampai mobil itu belok di ujung gang. Mama mertua dan Bibi sudah lebih dulu pulang, dan di meja ruang tamu masih ada kotak kurma dengan pita emas, utuh, seperti belum ada yang berani membukanya.