Pesan dari Rafi masuk lagi pukul tujuh pagi, sama seperti tiga pagi sebelumnya.
Teh, sudah sarapan? Jangan lupa makan. Kalau ada apa-apa kabari.
Aku membalas dengan stiker kucing tertawa dan menaruh ponsel di meja dapur. Sejak Sabtu ia mengirim pesan itu tiap hari, kata-katanya hampir tidak berubah. Adikku yang mudah naik darah ternyata tidak lupa cara menjaga. Dan aku tidak berani bilang kepadanya bahwa kotak kurma berpita emas itu masih ada di lemari dapur, belum kubuka.
Di meja makan, Mas Indra sedang menghabiskan telur dadar sambil menempelkan ponsel di telinga dengan bahunya.
"Iya, Ma. Sudah sarapan. Aisyah masak telur... Iya, Ma, enak... Tidak, Ma, Indra tidak lupa minum vitamin." Ia memutar mata kepadaku, setengah geli, setengah meminta maaf. "Nanti siang Indra telepon lagi, ya. Assalamualaikum."
Ia meletakkan ponsel dan mengaduk kopinya lebih lama dari yang perlu.
"Mama tanya apa lagi?" tanyaku.
"Tanya sudah minum vitamin atau belum." Ia nyengir. "Dek, jangan dipikirkan. Mama memang begitu sama Mas dari kecil."
"Adek tidak mikir apa-apa kok."
"Bohong. Alis kamu naik tadi."
"Itu alis adek memang begitu."
Ia tertawa, berdiri, dan mencium keningku dua kali, sekali di pintu, sekali lagi di pagar, sampai aku mendorong bahunya agar berangkat. Sesudah mobilnya hilang, rumah kembali sunyi dan hari-hari mulai punya pola: menyapu, memasak, menyetrika, menelepon Bapak, menunggu bunyi mobil pulang. Pola itu sederhana dan bahagia. Dua kamera di pagar dan teras sudah berkedip merah sejak Selasa, dan aku mulai terbiasa dengan mereka.
***
Pukul sebelas, bel pagar berbunyi.
Aku mengintip dari jendela dan melihat sosok yang kukenal berdiri di sana, menenteng kantong plastik besar, wajahnya menoleh ke kanan-kiri seperti orang yang takut dilihat. Bibi.
"Bi!" Aku bergegas membuka pagar. "Bibi sendirian? Naik apa?"
"Ojek, Mba. Dari gerbang perumahan." Napasnya turun-naik. "Maaf mengganggu. Bibi bawa rendang sama sambal goreng, sisa dari rumah. Kata Ibu, Bibi disuruh belanja ke pasar. Jadi Bibi mampir sebentar."
"Masuk, Bi. Duduk dulu."
Ia menolak duduk di ruang tamu dan lebih memilih dapur, seperti kebiasaan orang yang terbiasa tidak memakai sofa. Aku menuangkan teh ke gelas dan memaksanya duduk di kursi makan. Tangannya gemetar ketika menerima gelas itu.
"Bibi kenapa? Sakit?"
"Tidak, Mba." Ia menunduk menatap teh yang berasap. "Bibi cuma... ada yang mau Bibi ceritakan. Dari kemarin-kemarin. Tapi Bibi takut."
Aku duduk di seberangnya. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. "Bibi tidak usah takut di rumah ini."
"Bibi sempat dengar dari balik pintu, Den Indra bilang ke Mba, jangan percaya kalau Bibi cerita jelek soal Ibu." Suaranya pelan sekali. "Bibi sakit hati, Mba, tapi bukan karena Den Indra. Karena sebenarnya Bibi belum cerita apa pun."
"Aisyah tahu, Bi."
"Bibi mau cerita sekarang." Ia mengangkat wajah. Matanya merah. "Bukan untuk menjelekkan Ibu. Bibi sudah dua puluh tahun di rumah itu, Mba. Bibi sayang Ibu juga. Tapi Bibi lebih sayang Den Indra, dan Bibi tidak mau Mba mengalami yang sama."
"Yang sama dengan siapa?"
Bibi menelan ludah. "Dengan perempuan yang dulu."
Aku diam. Di luar, suara tukang sayur lewat sayup-sayup.
"Waktu kuliah, Den Indra pernah punya pacar. Namanya Bibi tidak boleh sebut karena Ibu melarang semua orang menyebutnya. Anak baik, Mba. Berjilbab, pintar, dari keluarga biasa saja. Den Indra membawanya ke rumah sekali, cuma sekali, buat makan malam."
"Terus?"
"Ibu pura-pura ramah. Setelah makan, Ibu panggil anak itu ke ruang tamu dan bicara, Mba. Di depan Bibi yang sedang membereskan meja." Bibi memejamkan mata. "Ibu bilang keluarganya tidak sepadan, kalau pun jadi menantu nanti akan dibicarakan orang, dan cucu dari rahim seperti itu tidak akan dipandang di keluarga ini. Ibu bilang semua itu sambil tersenyum."
Dadaku sesak. "Dan Indra?"
"Den Indra berdiri di pintu, Mba. Bibi lihat sendiri." Air mata menetes di pipinya, dan ia menghapusnya dengan punggung tangan. "Den Indra diam. Seperti patung. Tidak membela, tidak membantah. Anak perempuan itu menatap Den Indra lama sekali, menunggu, lalu pergi dan tidak pernah kembali."
"Bibi..."
Tenggorokanku tercekat. Aku hampir bertanya apakah gadis itu menangis, apakah Mas Indra mengejarnya, apakah ia pernah mencari. Tapi dari cara Bibi menggigit bibir, aku tahu jawabannya tidak akan membuatku lebih tenang.
"Sejak itu Den Indra berubah, Mba. Dia tidak pernah lagi membawa perempuan ke rumah. Bibi kira dia sudah lupa. Tapi waktu Mba datang, Bibi lihat dia tertawa lagi." Bibi meraih tanganku dengan kedua tangannya yang kasar. "Bibi takut sejarah itu terulang. Mba Aisyah anak baik. Jangan kasih Ibu kesempatan."
Aku membeku. Terbayang di kepalaku sosok gadis itu berdiri di ruang tamu yang sama dengan karpet tebal dan lampu kristal, menunggu satu kalimat dari laki-laki yang ia cintai, yang tidak pernah datang. Kata-kata mama dalam bisikan itu, Indra akan menurut, tiba-tiba punya latar belakang yang lebih gelap dari yang kubayangkan. Dan igauan semalam di kamar itu, jangan bilang ke dia, mendadak terasa seperti sepotong kecil dari teka-teki yang jauh lebih besar.
"Ada lagi, Mba." Bibi menarik napas. "Soal Najwa."
"Najwa kenapa?"
"Ibu rutin menjenguk dia di kontrakannya, dua pekan sekali, sering bawa makanan. Bibi yang menyiapkan. Dan kontrakan itu..." Ia ragu. "Uang sewanya Ibu yang bayar. Dari uang belanja yang Ibu pisahkan sendiri."
"Mama masih menjenguk Najwa setelah semuanya terbongkar?"
"Iya, Mba. Bibi tidak tahu kenapa. Bibi cuma menduga." Bibi mengecilkan suaranya meski di dapur itu hanya ada kami. "Cadangan. Kalau-kalau Ibu tidak sabar menunggu Mba."
Kata terakhir itu jatuh seperti batu ke dalam air. Aku mengambil gelas dan meminum tehku yang sudah dingin, hanya untuk memberi tanganku pekerjaan.
"Kenapa Bibi cerita ke saya?"
"Karena Bibi sudah terlalu lama diam, Mba." Ia menunduk lagi. "Waktu di rumah dulu, Bibi sempat bilang 'kasihan Den Indra dan istrinya', dan Bibi lihat Mba mendengarnya. Bibi minta maaf kalau saat itu terdengar seperti Bibi menakuti. Dan Bibi minta maaf juga karena waktu Den Indra marah, Bibi diam saja, tidak membela Mba."
"Bibi tidak salah."
"Bibi salah, Mba. Tapi sekarang Bibi tidak mau salah lagi." Ia menegakkan duduknya. "Mba jangan bilang Ibu, ya. Jangan bilang Den Indra juga. Kalau Ibu tahu Bibi cerita, Bibi tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Aisyah janji, Bi." Aku menggenggam tangannya balik. "Aisyah tidak akan bilang siapa pun."
Bibi mengangguk, mengusap matanya, dan tersenyum tipis. Ia bangkit hendak memindahkan rendang ke wadah, ketika dari luar terdengar bunyi klakson dua kali, panjang dan tidak sabar.
Kami berdua menoleh ke jendela dapur. Di balik pagar besi hitam, sebuah mobil hitam yang sangat kukenal sudah memasuki halaman, lampu depannya masih menyala.