"Cepat, Bi, rendangnya taruh di wadah. Jangan tutup rapat."
Bibi mengangguk tanpa suara dan memindahkan rendang ke wadah kaca dengan tangan yang masih gemetar. Aku merapikan gelas teh, membuang ampas, dan menghapus bekas air di meja. Baru saja aku menegakkan badan ketika pintu depan digedor dari luar, tiga kali, dengan telapak tangan yang tidak biasa menunggu.
"Assalamualaikum! Aisyah!"
"Waalaikumsalam, Ma." Aku membuka pintu dengan senyum yang kutarik dari tempat terdalam. "Mama datang sendiri?"
"Sama sopir." Mama mertua melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan, melepas sandal dengan satu gerakan dan memandang berkeliling. Gamis biru tua, kerudung rapi, dan gelang tua di tangan kiri yang berdenting pelan. "Mama lewat. Kebetulan ada urusan arisan di dekat sini."
Aku tidak tahu ada arisan di perumahan ini, dan sepertinya Bibi juga tidak, sebab wajahnya langsung pucat. Mama menoleh ke dapur, dan senyumnya tetap terpasang rapi.
"Bibi di sini rupanya."
"Iya, Bu." Bibi menunduk dalam-dalam. "Bibi cuma..."
"Bibi tadi kusuruh belanja ke pasar, kenapa sampai ke rumah anak-anak?" Nadanya halus seperti kain sutra, tetapi di baliknya ada sesuatu yang membuat leherku dingin. "Datang tanpa izin, ya? Tanpa sepengetahuan Mama?"
"Ma, Aisyah yang minta," kataku cepat.
Mama menoleh perlahan. "Kamu yang minta?"
"Aisyah yang minta Bibi mengantar rendang, Ma. Aisyah kangen rendang buatan Bibi." Kalimat itu keluar lebih lancar dari yang kukira, dan aku nyaris tidak mengenali suaraku sendiri. "Aisyah telepon Bibi tadi pagi. Maaf, Aisyah lupa bilang ke Mama."
Mama menatapku lama sekali. Di belakangku Bibi menahan napas.
"Oh," katanya akhirnya, nadanya naik setengah nada. "Anak Mama manja juga ya. Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi Bi, lain kali minta izin dulu. Kamu itu bukan pembantunya Aisyah."
"Baik, Bu. Maaf, Bu."
"Sudah, sana, tunggu di mobil."
Bibi mengangkat tas dan memberiku satu pandangan cepat, hanya satu, tetapi di dalamnya ada rasa terima kasih sekaligus ketakutan. Setelah pintu menutup di belakangnya, rumah mendadak terasa lebih sempit.
"Kita lihat-lihat dulu ya," kata mama. "Mama belum sempat melihat rumah ini sejak kamu mengatur semuanya."
Ia tidak menunggu jawabanku. Ia berjalan ke ruang tamu dan menyentuh sandaran sofa dengan ujung jari, lalu memeriksa ujung jarinya. Ia membuka kulkas, mengangkat alis ketika melihat sayur kiriman Bapak, menutupnya lagi tanpa komentar. Ia mengetuk dinding ruang makan dengan buku jarinya seperti mencari bagian yang kosong. Ia menarik tirai jendela dan memeriksa sambungannya, menggeser vas bunga dua jari ke kiri. Ia melongok kamar tamu, lalu ke ruang kerja kecil, lalu menaiki tangga sementara aku mengikutinya seperti pembantu yang tertinggal di belakang.
Di lantai atas ia mengintip kamar utama, melihat ranjang yang rapi, sejadah yang terlipat, dan kemeja Mas Indra di gantungan. Lalu ia membuka pintu kamar sebelah, yang masih kosong, hanya ada lantai dan dinding putih yang baru dicat.
Mama berdiri lama di ambang pintu. Cahaya siang masuk lewat jendela dan jatuh di lantai yang belum berisi apa-apa.
"Ini kamar cucu," katanya pelan.
"Ma, itu masih kosong. Rencananya buat tamu atau ruang..."
"Ini kamar cucu, Aisyah." Ia mengatakannya sekali lagi, kali ini sambil menoleh kepadaku. Senyum itu tetap menempel di wajahnya, tetapi matanya sudah lain. "Mama sudah lihat tempatnya. Cukup besar buat ranjang bayi dan lemari kecil."
Aku tidak menjawab. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi mulutku terasa seperti dikunci.
***
Kami turun lagi ke dapur. Mama duduk di kursi makan yang tadi didudukkan Bibi, seolah ingin memastikan tidak ada hangat yang tersisa. Aku menyuguhkan teh, dan ia tidak menyentuhnya.
"Duduk."
Aku duduk.
"Kamu cepat belajar berbohong, ya," kata mama dengan suara yang hampir terlalu pelan untuk kudengar. "Bagus. Kamu akan perlu."
Dadaku seperti dipukul. "Mama..."
"Mama bukan marah. Mama justru senang melihatnya." Ia mengambil cangkir, memutar-mutarnya di jari. "Tapi jangan kamu kira Mama tidak tahu Bibi bukan datang karena rendang. Orang itu sudah dua puluh tahun di rumah Mama, dan dia tidak pernah bisa bohong. Kalau mau ada rahasia, ajak yang pintar."
"Aisyah tidak berbohong untuk menutupi sesuatu yang jahat, Ma." Entah dari mana keberanian itu datang. "Aisyah cuma tidak mau Bibi dimarahi."
Mama mengangkat satu alis, tampak benar-benar tertarik. "Nah. Itu baru menarik. Berani juga kamu menjawab." Ia tertawa kecil, tanpa suara. "Tapi berani saja belum cukup."
"Sudahlah." Ia menaruh cangkirnya. "Mama mau bicara hal lain. Sembilan hari di Tanah Suci itu bukan cuti dari hitungan, Aisyah. Kamu paham maksud Mama?"
"Hitungan apa, Ma?"
"Jangan pura-pura bodoh." Gelangnya berputar satu kali. "Sebelas bulan lebih sedikit. Mama bukan orang yang suka mengulang."
Pintu depan terbuka sebelum aku sempat menjawab. Suara langkah sepatu, lalu suara yang kukenal.
"Assalamualaikum, dek, Mas pulang cepat karena... lho, Mama?"
Mama berdiri, menyambut anaknya dengan wajah berseri-seri. "Ndra! Mama kebetulan lewat. Kamu pulang cepat, Nak. Wah, ganteng sekali anak Mama."
Aku memandangi pemandangan itu dengan kebas, melihat wanita yang beberapa detik lalu mengucapkan kalimat paling dingin dalam hidupku sekarang memeluk anaknya sambil menepuk-nepuk pundaknya. Mas Indra membalas dengan senyum yang kuhapal sejak hari pertama, tetapi mataku menangkap sesuatu yang lain: bahunya sedikit menegang saat mama menyentuhnya, seolah tubuhnya tahu lebih dulu apa yang akan diminta.
***
Mereka duduk di ruang tamu, sedangkan aku membawa pisang goreng dari dapur. Mama menaruh tas kecilnya di pangkuan.
"Ndra, Mama mau tagih janji kamu."
"Janji apa, Ma?"
"Akhir pekan. Kamu bilang di rumah Papa setiap akhir pekan, kan, waktu Aisyah minta pindah ke sini. Sudah Sabtu kemarin kamu tidak datang."
"Kemarin keluarga Aisyah datang, Ma."
"Ya sudah, kemarin diizinkan. Minggu ini?"
Mas Indra menggaruk alisnya. Aku melihat bagaimana ia mencari jalan tengah, bagaimana matanya menoleh sekilas kepadaku sebelum kembali ke mama. "Dua minggu sekali ya, Ma? Indra juga banyak kerjaan di kantor. Kasihan Aisyah kalau tiap akhir pekan ke sana."
Hening yang tidak terlalu panjang, tetapi cukup untuk membuat pisang goreng di piring jadi dingin.
"Dua minggu sekali," ulang mama. Lalu mendadak wajahnya lunak, sehangat roti baru dibelah. "Ya sudah, tidak apa-apa. Mama mengerti. Yang penting kalian bahagia. Sini, Ndra, peluk Mama dulu."
Ia memeluk Mas Indra lagi, dan anak itu membalas dengan lengan yang sedikit kaku. Dari balik bahu anaknya, mama menatapku sekilas dan mengedipkan mata, seolah kami berdua sedang berbagi lelucon lama.
Aku memegang piring pisang goreng sampai ujung jariku memutih. Satu wajah di depan Mas Indra, satu wajah di belakangnya. Dan aku adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang melihat keduanya.