Reza tiba dari Singapura dengan satu koper kecil dan wajah yang selalu tampak kurang tidur. Teknisi kontra-surveilans itu satu-satunya orang di luar Sekar yang Alana percaya sepenuhnya.
Mereka bertemu bukan di kantor, melainkan di sebuah kafe sederhana di Menteng, di sudut yang bising di mana percakapan mereka tenggelam dalam dengung mesin kopi.
"Alat masih terpasang semua?" tanya Reza.
"Semua empat. Aku tidak menyentuhnya." Alana mengaduk kopinya. "Aku ingin mereka tetap mendengar. Tapi aku ingin mengendalikan apa yang mereka dengar."
Reza tersenyum tipis. "Kau mau menjadikan telinga musuh sebagai mulutmu."
"Persis." Alana mengeluarkan secarik kertas. "Begini permainannya. Surya pikir aku panik. Ia pikir aku akan berlari ke bank dan investor dengan ketakutan, menjual aset murah, menyerah di sale-and-leaseback dengan harga buruk untuk dapat uang cepat. Aku ingin ia terus berpikir begitu. Karena selama ia mengira aku lemah, ia tidak akan menyerang penuh."
"Jadi apa yang ingin kau bocorkan lewat penyadap?"
"Dua hal." Alana menatapnya. "Pertama, di kantor, lewat telepon yang disadap, aku akan 'kebetulan' membahas dengan Sekar bahwa bank ketiga menolak. Bahwa restrukturisasi utang nyaris gagal. Bahwa aku terpaksa mempertimbangkan menjual gudang pelabuhan dengan diskon untuk menutup utang. Itu kabar buruk—palsu. Kalau Surya percaya bank ketiga menolak, ia tidak akan repot-repot menyabotase bank ketiga. Ia akan menunggu kita kolaps sendiri."
Reza mengangguk lambat. "Sementara itu—"
"Sementara itu, di dunia nyata, di luar gedung, aku mengunci bank ketiga. Diam-diam. Tanpa satu kata pun yang lewat telepon kantor." Alana melipat kertasnya. "Kedua: aku ingin ia mengira tiga suara yang ia beli masih utuh. Aku tidak akan menyebut Pak Sutarno sama sekali di dalam gedung. Biar dia kejutan di hari RUPS."
"Berbahaya," kata Reza. "Kalau dia sadar kau tahu soal penyadap, seluruh disinformasi runtuh. Lebih buruk lagi, dia akan tahu kau lebih pintar dari yang dia kira, dan dia akan main lebih hati-hati."
"Itu sebabnya aktingnya harus sempurna." Alana menyesap kopinya. "Aku tidak boleh terlalu putus asa—itu mencurigakan. Aku harus tampak seperti direktur muda yang mencoba keras tapi kewalahan. Tepat seperti yang dia harapkan."
Reza mengeluarkan tablet kecil dari kopernya dan memutarnya ke arah Alana. Di layar, sebuah peta jaringan dengan garis-garis yang menjalar dari satu titik pusat. "Aku melacak ulang sinyal dari empat alat itu kemarin malam, dari luar gedung. Datanya masih mengalir ke server yang sama—Garda Prima. Dari sana, dikemas ulang dan dikirim mingguan ke satu alamat penerima. Aku belum bisa menembus penerima akhirnya, tapi polanya teratur. Setiap Jumat sore, ada paket data dikirim. Seseorang membaca laporanmu sekali seminggu, bukan setiap saat."
Alana mencerna itu. "Berarti aku punya jendela. Kalau aku ingin sebuah dusta sampai ke Surya tepat sebelum keputusan penting, aku menanamnya Kamis—sehari sebelum paket Jumat dikirim. Dan kalau aku ingin sebuah kebenaran tetap rahasia, aku melakukannya di luar gedung, kapan pun aku mau."
"Tepat." Reza mematikan layarnya. "Tapi jangan terlalu rapi, Alana. Kalau setiap dusta sampai persis di waktu yang menguntungkanmu, dia akan curiga. Sesekali biarkan bocor hal yang benar tapi tidak penting. Buat campurannya kotor, seperti kebocoran nyata. Kebenaran palsu yang paling meyakinkan selalu punya sedikit kebenaran asli di dalamnya."
Alana menatapnya, lalu tersenyum tipis untuk pertama kalinya hari itu. "Kau seharusnya jadi penipu, Reza, bukan teknisi."
"Aku ini teknisi yang menangkap penipu." Ia menutup kopernya. "Lebih bayarannya, lebih bersih tidurnya."
Sore itu, kembali di lantai dua puluh enam, Alana mengangkat gagang telepon kantornya—yang ia tahu pasti merekam setiap kata. Hari itu Kamis.
"Sekar," katanya, suaranya terdengar lelah, sedikit gemetar, persis cukup. "Bank Mahardika belum konfirmasi yang ketiga. Kalau sampai akhir minggu belum ada, kita... kita mungkin harus lepas gudang pelabuhan. Aku tahu, aku tahu ayah pasti tidak setuju. Tapi aku tidak punya pilihan kalau utang itu jatuh tempo dan kasnya tidak cukup."
Hening sejenak. Di seberang, Sekar—yang sudah diberi naskah—menjawab dengan nada cemas yang meyakinkan. "Bu, jangan dulu. Beri saya waktu menghubungi calon pembeli."
"Cepat ya. Aku... aku sudah hampir di ujung."
Alana menutup telepon. Lalu, dalam keheningan ruangan, ia menatap detektor asap di langit-langit yang menyembunyikan sebuah kamera. Ia membiarkan bahunya merosot, wajahnya muram, seperti perempuan yang nyaris kalah.
Di suatu tempat, seseorang sedang menonton. Dan Alana memberi mereka pertunjukan yang persis mereka ingin lihat.
Lalu ia mengambil ponsel pribadinya, berjalan ke balkon, dan mulai bekerja—sungguhan.