Sekar menemukan ketiganya dalam dua hari, dengan cara kuno: menyilang catatan perubahan kepemilikan saham di biro administrasi efek dengan tanggal RUPS.
"Tiga transaksi besar tercatat di pagi yang sama," katanya, meletakkan map di meja Alana. "Sebelum jam sembilan. Pembelinya entitas berbeda-beda, tapi semuanya menggunakan kuasa hukum yang sama untuk pelaporan."
"Biar kutebak," kata Alana. "Situmorang dan Rekan."
"Tepat."
Alana membuka map. Tiga nama. Ia mengenali dua di antaranya.
"Koperasi Karya Sejahtera," bacanya. "Dua setengah persen. Ini koperasi karyawan, Sekar. Dana pensiun. Mereka memegang saham Wijaya sejak zaman ayahku karena percaya pada perusahaan ini." Rahangnya mengeras. "Surya membeli rasa percaya mereka."
"Yang kedua, Pak Sutarno," lanjut Sekar. "Tiga persen. Pengusaha tekstil, kenalan lama Pak Bramantyo. Yang ketiga, sebuah reksa dana—tujuh persen. Itu yang terbesar."
"Total dua belas setengah persen." Alana mengetuk meja. "Dengan dua puluh tujuh persen miliknya dan Hendra, Surya sudah di angka tiga puluh sembilan setengah. Ia perlu sepuluh setengah persen lagi untuk lewat lima puluh."
Ia berdiri dan berjalan ke jendela. "Pertanyaannya bukan berapa. Pertanyaannya kenapa mereka mau menjual suara mereka, bukan hanya sahamnya."
Sekar mengernyit. "Apa bedanya? Kalau saham sudah dibeli Surya, suaranya jadi suara Surya."
"Reksa dana, ya—pembeli memang menguasai suara." Alana berbalik. "Tapi Pak Sutarno dan koperasi itu masih mencatat sebagian saham atas nama mereka. Lihat angkanya. Yang dijual penuh hanya sebagian. Mereka tidak menjual semua—mereka menjanjikan suara. Itu artinya Surya tidak membeli mereka habis. Ia membeli komitmen. Dan komitmen bisa berubah."
Ia menemui Pak Sutarno keesokan harinya, di pabrik tekstilnya yang berdebu di Tangerang, tanpa pengawal, tanpa mobil perusahaan.
Lelaki tua itu menerima dengan kikuk. "Nona Alana. Maaf. Saya... sudah berjanji pada orang itu."
"Saya tidak datang untuk memaksa Bapak, Pak Tarno." Alana duduk di kursi plastik di antara mesin-mesin yang menderu. "Saya datang bertanya. Apa yang Surya janjikan pada Bapak?"
Sutarno menunduk. "Pesanan kain. Kontrak besar untuk pabrik saya. Tiga tahun. Pabrik saya sekarat, Nona. Saya punya tiga ratus pekerja. Kalau bukan karena itu, saya tidak akan..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Alana menatap mesin-mesin tua itu, para pekerja yang berkeringat, lantai semen yang retak. Ini bukan keserakahan. Ini orang yang tenggelam dan Surya melemparkan tali.
"Bapak masih kenal ayah saya," kata Alana pelan. "Apa ayah saya pernah menjanjikan sesuatu lalu mengkhianatinya?"
Sutarno menggeleng pelan. "Tidak pernah. Bramantyo orang keras, tapi janjinya emas."
"Surya menjanjikan kontrak yang ditandatangani direktur masa depan yang ia pasang—setelah saya digulingkan. Janji dari orang yang belum berkuasa. Saya—" Alana menatapnya. "Saya bukan menjanjikan. Saya menawarkan kontrak yang bisa Bapak tanda tangani minggu ini. Wijaya Group butuh pemasok kain untuk lini ekspor. Harga pasar, tenor dua tahun, dengan uang muka. Hitam di atas putih, sebelum RUPS. Bapak bisa pegang."
Mata Sutarno berkaca-kaca. "Kenapa?"
"Karena ayah saya tidak akan membiarkan tiga ratus keluarga jadi alat tukar dalam permainan dendam." Alana mengeluarkan satu lembar dari mapnya. "Saya sudah siapkan draftnya. Bapak tidak perlu memihak siapa-siapa di RUPS. Cukup tarik komitmen suara yang Bapak janjikan, dan kembalikan suara itu pada hak Bapak sendiri."
Sutarno meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Tapi ia tidak langsung menandatangani. "Nona. Orang itu... Surya. Dia bilang kalau saya mengingkari janji, dia akan pastikan tidak ada pabrik tekstil mana pun di Jawa yang mau bekerja sama dengan saya lagi. Dia bisa melakukan itu?"
Alana menatap lelaki tua itu, dan untuk sesaat amarah membara di dadanya—amarah pada orang yang mengancam pengusaha sekarat seperti ini. Tapi suaranya tetap tenang. "Pak Tarno, ancaman itu hanya berlaku kalau Surya berkuasa. Kalau dia kalah di RUPS—dan dia akan kalah—dia tidak punya kuasa atas siapa pun. Yang dia tawarkan pada Bapak adalah perlindungan dari badai yang dia sendiri ciptakan. Saya menawarkan kontrak yang berdiri sendiri, tidak tergantung siapa yang menang. Bahkan kalau saya kalah besok, kontrak Bapak tetap sah, ditandatangani oleh Direktur Utama yang sah hari ini."
Itu meyakinkannya. Pena bergerak. Tanda tangan mengering di atas kertas.
Saat ia pulang malam itu, satu nama berpindah dari kolom Surya ke kolom mengambang. Tiga persen. Dan di kursi belakang mobilnya, Alana membuka berkas reksa dana tujuh persen itu sekali lagi, menandai nomor telepon manajer investasinya. Besok ia akan menelepon, dengan satu pertanyaan sederhana tentang kewajiban fidusia yang ia tahu hanya punya satu jawaban jujur.
Dua puluh satu persen tersisa untuk dijaga. Tapi Alana belajar sesuatu yang lebih berharga: Surya tidak membeli dengan uang. Ia membeli dengan keputusasaan orang. Dan keputusasaan, tidak seperti uang, bisa dilawan dengan harapan yang nyata.