Kembali di lantai dua puluh enam, Alana membentangkan satu lembar kertas besar di meja rapat kecil di sudut kantornya. Di tengahnya, sebuah lingkaran. Ia membaginya seperti memotong kue.
"Empat puluh satu persen kita," katanya, menggambar irisan terbesar. "Sentra Abadi—Surya—delapan belas persen. Hendra sembilan persen pribadi." Pena hitamnya mengetuk sisa lingkaran. "Tiga puluh dua persen sisanya. Inilah medan perang."
Sekar duduk di seberangnya dengan tumpukan daftar pemegang saham. "Tiga puluh dua persen itu tersebar di mana-mana, Bu. Reksa dana, investor ritel, beberapa nama lama yang dulu kenal Pak Bramantyo. Tidak ada satu blok besar."
"Justru itu kelemahan Surya," kata Alana. "Ia tidak bisa membeli semuanya. Terlalu mahal, terlalu mencolok, terlalu lama. Yang ia butuhkan hanya cukup untuk menyeberangi garis lima puluh persen bersama suaranya sendiri dan Hendra. Dua puluh tujuh persen sudah di tangannya. Ia perlu menambah dua puluh empat persen lagi dari yang mengambang."
Ia menulis angka itu dan melingkarinya. Dua puluh empat persen. Itulah jurang yang harus ia jaga.
"Dari tiga puluh dua persen itu," lanjut Alana, "tiga sudah dibeli Surya pagi RUPS kemarin. Kita harus tahu yang tiga itu siapa. Sisanya, dua puluh sembilan persen—aku ingin tahu setiap nama, setiap nomor telepon, setiap alasan mereka memegang saham ini."
Sekar mengangguk, tapi raut wajahnya menyiratkan keraguan. "Banyak dari mereka tidak peduli siapa yang duduk di kursi direktur. Mereka peduli harga saham dan dividen. Dan jujur saja, Bu, sejak kabar utang dua ratus dua puluh miliar bocor, harga saham kita turun. Mereka takut."
"Maka kita tidak menjual mereka mimpi." Alana menyandarkan diri. "Kita menjual mereka angka. Surya menawarkan apa? Pergantian kepemimpinan ke tangan orang yang akan memecah perusahaan dan menjual asetnya. Kalau aset dijual murah-murah dalam tekanan, harga saham mereka hancur. Aku menawarkan rencana yang menutup utang tanpa membongkar perusahaan. Investor yang berpikir panjang akan memilih yang menjaga nilai, bukan yang menguras."
"Kalau mereka percaya rencana itu berhasil."
"Itu sebabnya," kata Alana, "bank ketiga, sale-and-leaseback Sudirman, dan audit vendor harus jalan sebelum RUPS lanjutan. Bukan janji. Bukti. Aku ingin masuk ke rapat itu bisa berkata: utang sudah direstrukturisasi, likuiditas sudah masuk, pendarahan sudah berhenti. Lalu aku tanya pada para pemegang saham: kalian mau menyerahkan perusahaan yang sudah diselamatkan kepada orang yang ingin mencabik-cabiknya?"
Sekar tersenyum tipis untuk pertama kalinya hari itu. "Itu pertanyaan yang sulit dijawab 'ya'."
"Buat daftarnya," kata Alana. "Urutkan dari pemegang saham terbesar di kelompok mengambang. Aku akan temui mereka satu per satu. Sendiri kalau perlu. Dan Sekar—" Ia menahan asistennya yang sudah berdiri. "Jangan email. Jangan telepon dari kantor. Anggap setiap dinding di gedung ini punya telinga. Karena memang begitu."
Sekar mengerti. Penyadap Garda Prima masih terpasang di langit-langit dan di bawah meja, tepat seperti yang Alana inginkan. Mereka akan mendengar apa yang Alana izinkan mereka dengar. Tidak lebih.
"Satu hal lagi," kata Alana sebelum Sekar pergi. "Reksa dana yang tujuh persen itu. Dananya dikelola siapa?"
Sekar membuka kembali berkasnya, menelusuri dengan jari. "Manajer investasi independen. Tapi—" Ia berhenti, mengernyit. "Investor terbesar di reksa dana itu adalah dana pensiun dari beberapa BUMN. Pengelolanya tidak benar-benar memiliki saham itu. Mereka cuma menjaganya untuk para pemilik dana pensiun."
"Berarti suara tujuh persen itu tidak sepenuhnya milik Surya," kata Alana pelan, dan sesuatu menyala di matanya. "Pengelola reksa dana punya kewajiban fidusia—mereka harus memilih demi kepentingan pemilik dana, bukan demi siapa yang membayar mereka. Kalau aku bisa tunjukkan pada mereka bahwa rencana Surya menghancurkan nilai perusahaan, mereka tidak boleh secara hukum memilih Surya. Mereka akan melanggar kewajiban pada nasabah mereka sendiri."
Sekar menatapnya. "Bu, itu tujuh persen. Itu... itu hampir sepertiga dari yang kita butuhkan."
"Catat itu paling atas daftar." Alana melingkari angka di kertasnya. "Tujuh persen yang dikira Surya sudah di sakunya, padahal sebenarnya tergantung pada satu pertanyaan hukum sederhana: kepada siapa manajer investasi itu berutang loyalitas?"
Malam itu Alana menatap lingkaran di kertas yang kini penuh coretan. Dua puluh empat persen memisahkannya dari kehilangan segalanya. Empat belas hari memisahkannya dari ujungnya.
Ia mengambil ponsel pribadinya—bukan telepon kantor—dan mulai menelepon dari balkon, di bawah langit Jakarta yang berkabut polusi dan cahaya.