Notaris mengangkat palu kayunya. Ruangan menahan napas.
Alana tahu ia hanya punya hitungan detik. Bukan untuk berdebat—debat akan kalah oleh aritmatika suara. Yang ia butuhkan adalah celah. Dan celah, dalam dunia yang dijalankan oleh prosedur, selalu ada bagi orang yang membaca aturannya lebih teliti dari lawan.
"Notaris," kata Alana, suaranya jernih memotong kegaduhan. "Sebelum palu itu turun, saya minta tercatat dalam berita acara."
Notaris—lelaki tua bernama Pak Gunadi—menahan tangannya di udara.
"Mosi tidak percaya," lanjut Alana, "adalah agenda yang mengubah susunan pengurus perseroan. Menurut anggaran dasar perusahaan ini, Pasal Dua Puluh Tiga, dan menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas, agenda semacam itu wajib dicantumkan dalam pemanggilan RUPS paling lambat empat belas hari sebelum rapat, lengkap dengan materinya."
Ia membuka map kulit hitamnya, mengeluarkan satu lembar.
"Ini surat pemanggilan RUPS hari ini. Saya bacakan agendanya: satu, pengesahan rencana penyelamatan keuangan. Dua, pemberian wewenang khusus kepada Direktur Utama." Ia mengangkat kertas itu tinggi-tinggi. "Tidak ada satu kata pun di sini tentang pemberhentian Direktur Utama. Tidak ada mosi tidak percaya. Tidak ada."
Bonar Situmorang berdiri. "Pemegang saham berhak mengajukan agenda tambahan dalam rapat."
"Mengusulkan, ya. Memutuskan, tidak." Alana menatapnya lurus. "Keputusan atas agenda yang tidak diberitahukan kepada seluruh pemegang saham adalah cacat hukum, Pak Situmorang. Anda tahu itu lebih baik dari siapa pun di ruangan ini. Ada pemegang saham yang tidak hadir hari ini justru karena mereka membaca agenda dan menilai tidak ada yang menyangkut hak suara mereka. Memaksakan pemberhentian sekarang berarti merampas hak mereka untuk hadir dan memilih."
Ia memutar tubuhnya ke arah para wartawan di belakang.
"Dan kalau keputusan yang cacat itu tetap diambil, saya akan menggugatnya ke pengadilan dan ke regulator pasar modal pagi besok. Berita acara hari ini akan jadi barang bukti. Silakan diketuk, kalau Bapak-Ibu ingin keputusannya dibatalkan sebulan lagi dan seluruh proses ini diulang dari nol—di depan publik."
Keheningan menggantung. Pak Gunadi, notaris yang reputasinya dibangun selama tiga puluh tahun, jelas tidak ingin namanya tercantum di akta yang akan dibatalkan pengadilan.
Surya tidak kehilangan senyumnya. Tapi Alana melihat sesuatu bergeser di matanya—pengakuan tipis, seperti pemain catur yang baru melihat lawannya membuat langkah yang tidak ia hitung.
"Notaris," kata Alana, "saya mengusulkan rapat ini diskors. Agenda pemberhentian, bila pihak Sentra Abadi tetap menginginkannya, dijadwalkan ulang dalam RUPS lanjutan dengan pemanggilan yang sah, agar seluruh pemegang saham bisa hadir dan memilih dengan adil. Itu yang diatur undang-undang."
Pak Gunadi menurunkan palunya perlahan ke meja. Tidak diketuk untuk pemungutan suara. Diketuk untuk menutup.
"Berdasarkan keberatan prosedural yang sah," kata notaris dengan hati-hati, "rapat ini saya nyatakan diskors. Agenda pemberhentian akan dibahas dalam RUPS lanjutan dengan pemanggilan sesuai ketentuan."
Palu mengetuk satu kali. Suaranya, bagi Alana, terdengar seperti tarikan napas pertama setelah hampir tenggelam.
Para wartawan di belakang ruangan mengetik kalut, tapi cerita yang mereka tulis sekarang berbeda dari yang Surya inginkan. Bukan "Direktur Muda Digulingkan". Melainkan "Surya Danuatmaja Muncul Setelah Tiga Puluh Tahun, Coba Rebut Wijaya Group". Alana sengaja membiarkannya begitu. Kalau ia tidak bisa mengendalikan suara di ruangan ini hari ini, setidaknya ia bisa mengendalikan kalimat pertama yang akan dibaca pasar besok pagi.
Surya berjalan mendekat sekali lagi, masih tersenyum, masih tenang.
"Pintar," bisiknya. "Ayahmu pasti bangga." Ia merapikan manset jasnya. "Tapi kau hanya menunda. Empat belas hari, Nona Alana. Aku menunggu tiga puluh tahun. Aku bisa menunggu dua minggu lagi."
"Empat belas hari," ulang Alana, menatapnya lurus untuk pertama kalinya tanpa gentar. "Dalam dua minggu, Pak Surya, bank bisa berubah pikiran. Investor bisa berubah pikiran. Bahkan orang yang Anda kira sudah Anda beli bisa berubah pikiran. Anda baru saja memberi saya empat belas hari. Anda mungkin akan menyesalinya."
Untuk sepersekian detik, senyum Surya menegang—hanya sepersekian detik, lalu pulih. Tapi Alana melihatnya. Dan ia menyimpannya.
Ia berbalik dan keluar, diikuti Bonar.
Sekar muncul di samping Alana, wajahnya pucat. "Kita menang?"
"Tidak," kata Alana pelan, menatap pintu yang menelan punggung Surya. "Kita bernapas. Sekarang kita harus belajar berenang—dalam empat belas hari."