Ruang RUPS jauh lebih besar dari ruang rapat dewan. Hari itu penuh. Para pemegang saham, kuasa hukum, notaris, dan—di barisan belakang—beberapa wartawan ekonomi yang entah bagaimana mencium ada drama besar yang akan terjadi.
Alana berdiri di podium, mengenakan jas hitam, jam tangan ayahnya di pergelangannya. Ia merasakan ketegangan di seluruh ruangan seperti listrik.
Di kursi depan, Hendra duduk dengan ekspresi tenang yang terlalu sempurna. Di sebelahnya, kursi yang diperuntukkan bagi perwakilan PT Sentra Abadi masih kosong.
Alana membuka rapat. Ia memaparkan agenda: pengesahan rencana penyelamatan dan pemberian wewenang khusus kepada direktur utama. Ia bicara dengan jelas, percaya diri, mengubah angka-angka rumit menjadi cerita yang bisa dimengerti. Ia melihat anggukan di beberapa wajah pemegang saham publik.
Lalu tibalah saat pemungutan suara.
Saat itulah pintu di belakang ruangan terbuka.
Seorang lelaki masuk. Tidak muda, tetapi tidak terlihat setua yang seharusnya—rambut perak rapi, setelan jas gelap yang sempurna, langkah tenang seorang yang terbiasa membuat ruangan diam saat ia masuk. Ia tidak datang sebagai kuasa hukum. Ia datang sebagai prinsipal.
Pengacara Bonar Situmorang berdiri dan berkata, "Perkenankan saya memperkenalkan pemilik dan pengendali utama PT Sentra Abadi, yang hari ini memutuskan untuk hadir secara langsung."
Lelaki itu berjalan ke depan ruangan. Matanya menyapu seluruh ruang, lalu berhenti di wajah Alana. Dan ia tersenyum—senyum yang membuat dada Alana mendingin, karena senyum itu bukan senyum orang asing. Senyum itu mengandung pengenalan, kepuasan, dan sesuatu yang sangat lama dipendam.
"Selamat siang," kata lelaki itu, suaranya dalam dan tenang. "Nama saya Surya Danuatmaja. Saya yakin ayah Anda pasti pernah menyebut nama saya. Mungkin tidak dengan kata-kata yang baik."
Ruangan riuh oleh bisik-bisik. Hendra menoleh dengan ekspresi yang—untuk pertama kalinya—tampak terkejut. Bahkan Hendra tidak tahu bahwa bos rahasianya akan muncul.
Surya berjalan mendekat ke podium, berhenti tepat di depan Alana, cukup dekat sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.
"Kau sangat mirip dengannya," bisik Surya, menatap mata Alana. "Sayang sekali. Tiga puluh tahun aku menunggu hari ini. Membeli sahammu sepotong demi sepotong. Menanam orang di dewanmu. Mengawasi setiap napas ayahmu sampai napas terakhirnya."
Sampai napas terakhirnya.
Darah Alana membeku. Ia menatap mata lelaki itu, mencari kebohongan, mencari kejujuran—dan menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk: keyakinan total seorang yang merasa berhak atas balas dendamnya.
"Ayahmu mengambil hidupku tiga puluh tahun lalu," lanjut Surya, masih tersenyum untuk para penonton, sementara kata-katanya seperti racun. "Sekarang aku akan mengambil semua yang ia bangun, di depan mata putri kesayangannya. Dan kau, Nona Alana, tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena setelah pemungutan suara hari ini, dengan suaraku, suara Hendra, dan tiga pemegang saham yang sudah kubeli pagi tadi..."
Ia mundur selangkah, mengangkat suaranya agar semua orang mendengar, dan tersenyum lebar.
"...saya mengajukan mosi tidak percaya terhadap Direktur Utama saat ini, dan menuntut pemungutan suara untuk pemberhentiannya, di sini, hari ini juga."
Ruangan meledak dalam kegaduhan. Para wartawan mengetik kalut. Hendra tersenyum tipis, akhirnya memahami permainan yang lebih besar dari yang ia kira.
Alana berdiri di podium, jantungnya berdebar keras, tangan menggenggam jam tangan ayahnya.
Tiga puluh tahun dendam berdiri di depannya, menuntut kursinya saat ini juga.
Dan saat notaris meraih palu untuk membuka pemungutan suara pemberhentian, Alana menyadari satu hal dengan jelas yang dingin:
Ia punya waktu beberapa menit untuk menyelamatkan segalanya—atau kehilangan semua yang diperjuangkan ayahnya.