Pakde Wira—Wirasena Wijaya—adalah satu-satunya saudara ayah Alana yang masih hidup. Ia sudah pensiun lama, tinggal di sebuah rumah tua di pinggiran Bogor, dan jarang muncul dalam urusan keluarga maupun bisnis.
Alana mengunjunginya tanpa pemberitahuan.
Lelaki tua itu menerimanya di teras, di antara pot-pot anggrek. Wajahnya yang keriput menyimpan kemiripan samar dengan ayah Alana, dan melihatnya membuat dada Alana sesak oleh rindu.
"Alana," kata Pakde Wira, matanya berkaca. "Kau semakin mirip ibumu. Tapi matamu... matamu mata Bram."
"Pakde," kata Alana setelah basa-basi secukupnya, "saya datang karena butuh tahu sesuatu. Tentang tahun 1998. Tentang sesuatu yang terjadi di keluarga kita waktu itu."
Senyum Pakde Wira memudar. Tangannya yang sedang menuang teh berhenti di udara.
"Siapa yang menyuruhmu menanyakan itu?"
"Ayah. Dalam suratnya. Sebelum beliau meninggal." Alana mencondongkan badan. "Pakde, perusahaan sedang diserang. Oleh seseorang yang ayah yakini berasal dari masa lalu keluarga. Ayah menulis: periksa kembali perpecahan tahun 1998. Saya butuh tahu apa yang terjadi."
Pakde Wira meletakkan teko. Lama ia diam, menatap kebun anggreknya seolah melihat hantu masa lalu.
"Tahun 1998," ia memulai akhirnya, suaranya serak. "Tahun krisis. Negara ini hancur, dan banyak perusahaan ikut hancur. Wijaya Group waktu itu masih kecil, baru dibangun ayahmu bersama dua orang lain."
"Dua orang lain?" Alana mengerutkan kening. "Saya selalu mengira kakek yang mendirikan, lalu ayah yang membesarkan."
"Itu cerita yang dipilih untuk diceritakan." Pakde Wira menghela napas. "Sebenarnya, Wijaya Group modern didirikan oleh tiga orang. Ayahmu, Bramantyo. Lalu aku, kakakmu yang tua dan tak berguna ini. Dan orang ketiga—sahabat ayahmu sejak kuliah, partner bisnisnya, namanya Surya Danuatmaja."
Alana belum pernah mendengar nama itu.
"Saat krisis 1998, perusahaan nyaris bangkrut. Kami harus membuat keputusan keras untuk bertahan. Surya menginginkan kita menjual sebagian besar perusahaan kepada investor asing untuk menyelamatkan diri. Ayahmu menolak keras. Ia bilang lebih baik mempertahankan kendali walau kecil daripada menjadi besar tapi dikuasai orang lain."
Pakde Wira menatap Alana dengan tatapan menusuk.
"Mereka bertengkar hebat. Lalu terjadi sesuatu. Ada dana perusahaan yang hilang dalam jumlah besar di tengah kekacauan itu. Ayahmu menuduh Surya menggelapkannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Surya bersumpah ia tidak bersalah, bahwa ayahmu menjebaknya untuk menyingkirkannya dari perusahaan. Sampai sekarang, aku tidak tahu siapa yang benar."
"Apa yang terjadi pada Surya?"
"Ia dipaksa keluar. Sahamnya dibeli dengan harga yang ia anggap perampokan. Reputasinya hancur. Tidak ada yang mau berbisnis dengannya lagi setelah desas-desus penggelapan itu." Pakde Wira menunduk. "Ia menghilang. Sebagian orang bilang ia bangkrut total. Sebagian bilang ia pindah ke luar negeri dan memulai dari nol. Yang pasti, hari ia keluar, ia berdiri di lobi dan berkata kepada ayahmu di depan kami semua: 'Bram, kau ambil semuanya dariku hari ini. Tapi suatu hari nanti, aku akan kembali, dan aku akan mengambil semua yang kau punya. Bukan hanya perusahaan ini. Tapi juga apa yang paling kau cintai.'"
Bulu kuduk Alana berdiri.
Apa yang paling kau cintai.
"Pakde," suara Alana hampir berbisik, "apakah Surya Danuatmaja masih hidup?"
"Aku tidak tahu, Nak. Sudah hampir tiga puluh tahun. Tapi kalau ayahmu menyebut masa lalu sebelum ia meninggal..." Pakde Wira meraih tangan Alana, menggenggamnya erat. "Maka berhati-hatilah. Surya orang paling cerdas yang pernah kukenal. Lebih cerdas dari ayahmu, kalau boleh kuakui. Dan kalau ia benar-benar tidak bersalah waktu itu, maka selama tiga puluh tahun ini dendamnya hanya tumbuh semakin dalam."
Alana pulang dengan kepala penuh.
Surya Danuatmaja. Partner yang dikhianati—atau pengkhianat yang pantas dibuang. Entah yang mana, tetapi seseorang dengan motif, kecerdasan, dan tiga dekade kesabaran untuk membalas dendam.
PT Sentra Abadi.
Apakah Sentra adalah Surya?
Dua hari lagi, RUPS Luar Biasa. Dua hari lagi, ia mungkin akan menatap wajah masa lalu ayahnya.