Alana tidak bergerak.
Setiap insting menyuruhnya berlari, mencabut kabel kamera, menutupi layar. Tetapi otaknya bekerja lebih cepat dari instingnya. Jika ia bereaksi, siapa pun yang menonton akan tahu ia sudah sadar. Dan keuntungan satu-satunya yang ia miliki sekarang adalah: mereka belum tahu bahwa ia tahu.
Dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, Alana menutup laptopnya. Ia mengusap air mata, lalu pura-pura menguap, mengemasi beberapa kertas biasa di atas meja, dan mematikan lampu. Ia memasukkan kartu memori dan surat ke dalam tas, tetapi melakukannya di bawah meja, tersembunyi dari sudut kamera.
Ia berjalan keluar dengan langkah santai, seolah baru menyelesaikan kerja lembur biasa.
Baru setelah masuk ke mobilnya di basement, jauh dari pandangan apa pun, Alana mengeluarkan ponselnya dan tangannya gemetar hebat.
Kantornya disadap. Sejak kapan? Oleh siapa? Apa yang sudah mereka lihat?
Keesokan paginya, Alana datang lebih awal. Ia membawa seorang teknisi—bukan dari perusahaan, melainkan kenalan pribadi dari masa kerjanya di Singapura, orang yang ia percaya sepenuhnya.
"Ada empat alat," kata teknisi itu setengah jam kemudian, menaruh empat benda kecil di atas meja. "Dua kamera tersembunyi, satu di detektor asap, satu di sudut langit-langit. Dua perekam suara, satu di bawah meja, satu di gagang telepon. Ini bukan barang murah. Pemasangnya profesional."
Alana memandangi alat-alat itu. "Sejak kapan kira-kira terpasang?"
"Sulit dipastikan. Tapi modelnya keluaran tahun lalu. Jadi paling lama setahun."
Setahun. Itu artinya alat-alat ini sudah ada bahkan sebelum ayahnya meninggal. Seseorang sudah mengawasi ayahnya di kantor ini, mendengar setiap percakapannya, mungkin mengetahui setiap rencananya.
Termasuk, mungkin, mengetahui kondisi kesehatannya. Mengetahui kapan ia paling rentan.
Alana menelan ludah. Pikiran tentang kematian ayahnya kembali menghantuinya. Tetapi ia menahannya. Satu hal pada satu waktu.
"Jangan dilepas dulu," kata Alana akhirnya.
Teknisi itu mengernyit. "Anda mau membiarkan mereka tetap menyadap Anda?"
"Tidak. Saya mau mengubah penyadap menjadi alat saya." Mata Alana berkilat. "Selama mereka mengira saya tidak tahu, saya bisa memberi mereka informasi yang saya mau mereka percayai. Pasang ulang seperti semula. Tapi catat persis ke mana sinyalnya dikirim. Saya ingin tahu siapa yang menonton di ujung sana."
Teknisi itu tersenyum tipis, jenis senyum seorang profesional yang mengenali profesional lain. "Anda perempuan yang berbahaya, Bu Wijaya."
"Saya belajar dari orang yang tepat."
Sepanjang hari itu, Alana berakting. Ia mengadakan beberapa panggilan telepon palsu di kantornya yang disadap, sengaja menyebut bahwa ia "masih mempertimbangkan tawaran Adiwangsa" dan bahwa ia "belum menemukan apa pun yang mencurigakan di laporan keuangan." Ia ingin musuhnya tetap merasa di atas angin. Orang yang merasa menang adalah orang yang ceroboh—prinsip yang sama yang ia pegang sejak hari pertama.
Sore harinya, teknisi itu mengirim pesan terenkripsi: Sinyal kamera dikirim ke server di sebuah alamat IP. Kupalsukan jejaknya. Ujungnya ada di kantor sebuah perusahaan keamanan swasta bernama Garda Prima. Tapi yang menarik—Garda Prima dibayar bulanan oleh satu klien tetap untuk "jasa pengamanan eksekutif." Nama kliennya disamarkan, tapi nomor rekening pembayarnya bocor di satu transaksi: atas nama PT Sentra Abadi.
Sentra Abadi lagi.
Lingkaran itu mengetat. PT Sentra Abadi mengawasi kantor ini. PT Sentra Abadi memegang delapan belas persen saham. PT Sentra Abadi, kata ayahnya, dikendalikan oleh seseorang dari masa lalu keluarga. Seseorang dengan dendam.
Alana menatap ke luar jendela. RUPS Luar Biasa yang ia jadwalkan tinggal lima hari lagi. Di hari itu, perwakilan Sentra Abadi harus hadir dan memberi suara.
Untuk pertama kalinya, ia akan melihat wajah—atau setidaknya, wakil resmi—dari musuh yang membayangi keluarganya selama ini.
Tetapi sebelum itu, ia harus mencari tahu tentang satu hal yang terus mengganggunya.
Perpecahan tahun 1998.
Dan ia tahu persis kepada siapa harus bertanya.