Damar Adiwangsa tidak menyembunyikan keterkejutannya saat Alana yang menghubunginya kali ini.
Mereka bertemu di restoran yang sama dengan pertemuan pertama mereka—pilihan Damar, mungkin sengaja, untuk mengingatkan Alana siapa yang memegang kendali. Restoran sunyi, mahal, dengan jarak antarmeja yang cukup jauh sehingga tak ada percakapan yang bisa didengar.
"Beberapa minggu lalu Anda menolak tawaran saya dengan keras," kata Damar, memutar gelas anggurnya. "Sekarang Anda yang mengundang. Apa yang berubah, Nona Wijaya?"
"Yang berubah," kata Alana, "adalah kita berdua kini punya musuh yang sama. Surya Danuatmaja."
Damar tidak bereaksi. Tapi ia juga tidak menyangkal. Itu sudah cukup.
"Pengacara Anda, Bonar Situmorang, juga pengacara Sentra Abadi," lanjut Alana. "Saya tidak menuduh Anda bersekongkol dengan Surya. Tapi saya yakin Anda tahu lebih banyak tentang dia daripada yang Anda akui. Dan saya yakin Anda tidak nyaman dengan apa yang dia rencanakan."
Damar meletakkan gelasnya. "Kenapa Anda berpikir begitu?"
"Karena kalau Surya berhasil mencaplok Wijaya Group, ia tidak akan berhenti di sana." Alana menatapnya lurus. "Surya bukan pebisnis biasa yang ingin tumbuh. Ia orang yang menunggu tiga puluh tahun untuk membalas satu dendam. Orang seperti itu tidak puas. Dengan aset Wijaya di tangannya—lahan Sudirman, gudang pelabuhan, lisensi tekstil ekspor—ia akan jadi pesaing langsung Anda di properti dan logistik. Anda menawar saya enam puluh persen karena Anda menginginkan aset itu, Pak Damar. Surya menginginkannya juga. Hanya saja Surya tidak akan membayar Anda. Ia akan menggilas Anda."
Untuk pertama kalinya, Alana melihat sesuatu yang jujur melintas di wajah Damar. Sebuah perhitungan ulang.
"Anda merangkai cerita yang menarik," katanya pelan.
"Saya merangkai aritmatika," balas Alana. "Adiwangsa Holdings dua kali lebih besar dari Wijaya. Tapi Surya bermain dengan dendam, bukan akal sehat bisnis. Dan dendam tidak peduli pada neraca. Anda lebih aman dengan Wijaya yang merdeka di bawah saya—pesaing yang bisa Anda prediksi—daripada Wijaya di tangan orang yang akan menghancurkan apa pun untuk menang."
Damar diam lama. Pelayan datang, mengisi ulang gelasnya, pergi.
"Misalkan," katanya akhirnya, "hanya misalkan, saya tertarik. Apa yang Anda minta?"
"Sekarang? Tidak banyak. Informasi." Alana mencondongkan tubuh. "Bonar Situmorang adalah benang yang menghubungkan Anda dan Surya. Saya ingin tahu apa yang dia ketahui tentang Surya—tentang Sentra Abadi, tentang tahun 1998, tentang seberapa dalam rencananya. Anda klien lamanya. Anda punya akses yang saya tidak punya."
"Dan sebagai imbalan?"
"Sebagai imbalan, kalau Surya jatuh, Anda berhadapan dengan Wijaya Group yang merdeka, sehat, dan berutang budi pada Anda. Bukan tawanan, tapi mitra. Itu jauh lebih berharga daripada memiliki bangkai perusahaan yang Anda beli dalam tekanan."
Damar tersenyum tipis—senyum lelaki yang terbiasa menimbang risiko. "Anda tahu," katanya, "ayah Anda dulu juga seperti ini. Tajam. Berani. Selalu tahu kartu apa yang ada di tangan lawan."
"Anda kenal ayah saya?"
"Semua orang seusia saya di dunia ini kenal Bramantyo Wijaya." Damar mengangkat gelasnya, isyarat tanpa kata. "Saya tidak menjanjikan aliansi, Nona Wijaya. Belum. Tapi saya akan... mendengarkan. Dan mungkin, sesekali, berbagi apa yang saya dengar."
Alana hampir berdiri ketika Damar menambahkan satu kalimat, pelan, seolah baru teringat. "Satu nasihat gratis, sebagai pembuka. Surya tidak pernah bermain sendiri. Tiga puluh tahun lalu, saat ia keluar dari Wijaya, ada orang lain yang ikut diuntungkan dari kejatuhannya—atau dari penyingkirannya. Saya tidak tahu siapa. Tapi kalau saya jadi Anda, saya tidak hanya akan bertanya 'apa yang Surya inginkan'. Saya akan bertanya 'siapa lagi yang dulu ada di ruangan itu pada 1998, dan ke mana mereka sekarang'."
Alana menyimpan kalimat itu seperti menyimpan koin di saku—belum tahu nilainya, tapi yakin suatu hari akan berguna. Petunjuk pertama bahwa kisah 1998 lebih ramai dari dua orang yang berseteru.
Bukan persekutuan. Bukan janji. Tapi sebuah pintu yang terbuka sedikit.
Saat Alana pulang malam itu, ia tahu ia baru saja berjabat tangan dengan pisau. Damar bukan kawan. Ia hanya musuh dari musuhnya—untuk sekarang. Tapi dalam perang melawan tiga puluh tahun dendam, musuh dari musuh adalah hal paling dekat dengan sekutu yang bisa ia dapatkan.