Kantor Direktur Utama berada di sudut lantai dua puluh enam, lantai tertinggi Menara Wijaya, dengan dinding kaca yang menghadap garis langit kota Jakarta.
Alana berdiri di tengah ruangan itu, masih merasa seperti tamu di rumah orang lain. Meja kerja ayahnya terbuat dari kayu eboni gelap, besar dan kokoh. Di atasnya masih tergeletak kacamata baca Bramantyo, seolah pemiliknya hanya pergi sebentar mengambil kopi.
Pintu diketuk. Seorang perempuan muda masuk membawa map dan laptop.
"Selamat pagi, Bu Alana. Saya Sekar, asisten eksekutif. Saya dulu asisten almarhum Pak Wijaya."
Alana menatapnya. Sekar berusia awal tiga puluhan, rapi, dengan mata yang waspada. Pertanyaan pertama yang muncul di benak Alana bukan tentang jadwal, melainkan: apakah perempuan ini loyal kepadaku, atau kepada salah satu orang di ruang rapat tadi?
"Terima kasih, Sekar. Saya butuh tiga hal hari ini." Alana duduk di kursi ayahnya untuk pertama kalinya. Kursi itu terasa terlalu besar. "Pertama, seluruh kontrak yang ditandatangani perusahaan dalam dua belas bulan terakhir. Kedua, daftar lengkap pemegang saham dan persentasenya. Ketiga, jadwal pertemuan dengan setiap kepala divisi, satu per satu, mulai besok."
Sekar mencatat dengan cepat. "Untuk kontrak, sebagian disimpan di brankas Pak Hendra di divisi keuangan."
"Kenapa kontrak di divisi hukum disimpan di brankas keuangan?"
Sekar berhenti menulis. Sejenak ada keraguan di wajahnya. "Saya... tidak tahu, Bu. Itu sudah berlangsung lama."
Alana menyimpan informasi itu di kepalanya. Setiap kejanggalan adalah benang. Tarik cukup banyak benang, dan kau akan menemukan simpul.
"Satu lagi, Sekar. Siapa pemegang saham terbesar setelah keluarga Wijaya?"
Sekar membuka laptopnya. "Keluarga Wijaya, dalam hal ini Anda, memegang empat puluh satu persen. Lalu ada PT Sentra Abadi dengan delapan belas persen. Pak Hendra Salim secara pribadi memegang sembilan persen. Sisanya tersebar di antara investor publik dan anggota dewan lain."
"PT Sentra Abadi." Alana mengernyit. "Siapa pemiliknya?"
"Itu... perusahaan investasi. Pemiliknya tidak terlalu jelas. Selalu diwakili oleh seorang kuasa hukum."
Empat puluh satu persen. Itu artinya Alana, meski pemegang saham terbesar, tidak memegang kendali mutlak. Jika Hendra dengan sembilan persennya bersekutu dengan PT Sentra Abadi yang delapan belas persen, dan menarik beberapa investor lain, mereka bisa mengumpulkan suara untuk menggulingkannya dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Itulah sebabnya mereka begitu percaya diri di ruang rapat tadi.
Mereka tidak butuh ia mengundurkan diri. Mereka hanya butuh ia tampak tidak kompeten cukup lama, sampai pemegang saham kehilangan kepercayaan dan memilih mendepaknya.
"Sekar," kata Alana, "apakah ayah saya pernah menyebut PT Sentra Abadi kepadamu? Apa pun. Kekhawatiran, kemarahan, apa saja."
Sekar terdiam lama. Lalu, dengan suara pelan, "Seminggu sebelum beliau meninggal, beliau menelepon seseorang di ruangan ini. Saya tidak sengaja mendengar dari luar. Beliau marah sekali. Beliau bilang... 'Kau tidak akan mendapatkan perusahaan ini selama aku masih bernapas.'"
Bulu kuduk Alana berdiri.
"Seminggu sebelum beliau meninggal," ulang Alana pelan.
"Ya, Bu."
Untuk pertama kalinya, kemungkinan yang mengerikan menyusup ke pikiran Alana. Serangan jantung ayahnya mendadak. Terlalu mendadak untuk lelaki yang baru menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap tiga bulan sebelumnya dan dinyatakan sehat.
Tapi Alana adalah perempuan yang menjalankan hidupnya dengan data, bukan dengan curiga buta. Ia mendorong pikiran itu ke samping—untuk sekarang.
"Terima kasih, Sekar. Mulai sekarang, semua yang kau dengar di ruangan ini, kau ceritakan hanya kepadaku. Apakah kau bisa melakukan itu?"
Sekar menatapnya. Sesuatu berubah di wajahnya. Mungkin rasa hormat, mungkin kelegaan karena akhirnya ada orang yang serius. "Pak Wijaya orang baik, Bu. Beliau yang menyekolahkan adik saya. Saya tidak akan mengkhianati keluarga ini."
"Bagus." Alana berdiri dan menghadap dinding kaca, menatap kota di bawah. "Karena tiga hari lagi, saya harus berdiri di depan tiga belas serigala dan meyakinkan mereka saya bisa menyelamatkan kapal yang sedang tenggelam. Dan untuk itu, saya butuh setidaknya satu orang yang berdiri di pihak saya."
Di balik kaca, matahari pagi Jakarta menyinari menara-menara baja para pesaing.
Salah satu dari menara itu, Alana belum tahu, adalah markas musuh terbesarnya.