Selama dua hari berikutnya, Alana nyaris tidak tidur.
Ia mengunci diri di kantornya, dikelilingi tumpukan kertas dan layar laptop yang berkedip hingga dini hari. Sekar membawakan kopi dan makanan, lalu pulang larut, lalu datang lagi pagi-pagi sekali.
Alana lulusan magister keuangan dari sebuah universitas di London. Tetapi selama lima tahun terakhir, ayahnya tidak pernah membawanya ke dalam bisnis keluarga. "Kau belajar dulu di tempat lain," kata ayahnya dulu. "Kalau kau masuk lewat pintu belakang sebagai anak pemilik, kau tidak akan pernah dihormati."
Maka Alana bekerja di sebuah firma konsultan restrukturisasi di Singapura selama empat tahun, menangani perusahaan-perusahaan yang sekarat. Ia tahu rupa perusahaan yang sedang mati. Ia sudah melihat puluhan.
Dan Wijaya Group menunjukkan semua gejalanya.
Tetapi ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Alana menyandarkan punggung dan memijat pelipisnya. Di depannya terbentang laporan keuangan tiga tahun terakhir. Pendapatan perusahaan turun bertahap, itu wajar di tengah lesunya pasar tekstil. Tetapi penurunan kas jauh lebih cepat daripada penurunan pendapatan.
Uang bocor. Ia hanya belum tahu lewat mana.
"Sekar," panggil Alana. "Bisa minta tolong cari data pengeluaran divisi logistik tiga tahun terakhir? Khususnya kontrak sewa armada dan pergudangan."
Tak lama, Sekar kembali dengan map tebal. Alana membukanya dan mulai menelusuri baris demi baris. Lalu jarinya berhenti.
"PT Bahari Logistik Nusantara," gumamnya. "Sewa gudang. Empat miliar per bulan."
Ia membandingkan dengan harga pasar. Gudang sebesar itu, di lokasi seperti itu, harusnya disewa paling mahal satu setengah miliar per bulan. Wijaya Group membayar hampir tiga kali lipat.
Alana menelusuri lebih jauh. Kontrak itu sudah berjalan dua tahun. Selisihnya, jika diakumulasi, mencapai puluhan miliar.
"Siapa yang menandatangani kontrak ini?" tanya Alana.
Sekar mencondongkan badan. "Itu... tanda tangan Pak Hendra. Tapi diketahui dan disetujui Pak Wijaya."
Alana mengernyit. Ayahnya bukan orang ceroboh. Ia tidak mungkin menyetujui sewa tiga kali lipat harga pasar tanpa alasan.
Kecuali ia tidak benar-benar tahu.
"Sekar, siapa pemilik PT Bahari Logistik Nusantara?"
Sekar mengetik di laptopnya, menelusuri data perusahaan. Beberapa menit kemudian, wajahnya pucat.
"Bu... pemegang saham mayoritas PT Bahari adalah sebuah perusahaan cangkang di luar negeri. Tapi salah satu komisarisnya... namanya Wirawan Salim."
Alana mengangkat alis. "Salim?"
"Adik kandung Pak Hendra Salim, Bu."
Hening sejenak. Alana merasakan potongan-potongan teka-teki mulai bergeser menempati tempatnya.
Hendra menandatangani kontrak sewa gudang dengan harga tiga kali lipat, kepada perusahaan yang dikomisarisi adiknya sendiri. Setiap bulan, selisih dua setengah miliar mengalir keluar dari Wijaya Group—dan kemungkinan besar, sebagian kembali ke kantong Hendra.
Inilah salah satu lubang di neraca. Mungkin bukan satu-satunya.
"Ini namanya penggelapan lewat pihak terkait," kata Alana pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Disamarkan sebagai biaya operasional yang sah."
"Apa yang akan Ibu lakukan?" tanya Sekar, suaranya hampir berbisik. "Pak Hendra orang yang... berbahaya, Bu. Banyak orang di perusahaan ini berutang budi padanya. Atau takut padanya."
Alana menatap kontrak itu lama-lama. Insting pertamanya adalah membawa temuan ini ke rapat dewan, membongkar Hendra di depan semua orang, mempermalukannya.
Tetapi ia menahan diri.
Itulah yang dilakukan amatir. Membakar kartu trufnya terlalu cepat hanya untuk kepuasan sesaat.
Hendra punya sembilan persen saham dan sekutu di seluruh perusahaan. Jika Alana menyerang sekarang, sebelum ia punya kendali, Hendra hanya perlu memutarbalikkan fakta—mengatakan kontrak itu disetujui Bramantyo, bahwa Alana yang baru datang ini sok tahu dan menuduh tanpa bukti kuat.
Tidak. Bukti ini terlalu berharga untuk dipakai sembarangan.
"Kita tidak akan melakukan apa-apa," kata Alana akhirnya.
Sekar terkejut. "Tapi, Bu—"
"Belum. Kita kumpulkan semuanya dulu. Setiap kontrak, setiap aliran dana, setiap nama. Kita biarkan Pak Hendra terus merasa aman. Orang yang merasa menang adalah orang yang paling ceroboh." Alana menutup map itu dan menguncinya di laci mejanya. "Sekarang, fokus kita adalah rapat besok. Saya harus menyelamatkan perusahaan ini dulu, sebelum saya bisa membersihkannya."
Ia menatap angka empat puluh tiga miliar di layar.
Sembilan puluh hari. Dua ratus dua puluh miliar utang jatuh tempo.
Mustahil bagi kebanyakan orang.
Alana tersenyum tipis. Ia bukan kebanyakan orang.