Ruang rapat kembali penuh. Tiga belas pasang mata kembali menatap Alana, kali ini dengan rasa ingin tahu yang dibungkus skeptisisme.
Alana berdiri di depan layar proyektor. Ia memakai jas abu-abu gelap, rambut diikat rapi, tanpa perhiasan selain jam tangan ayahnya yang kebesaran di pergelangannya.
"Saya tidak akan basa-basi," ia memulai. "Perusahaan ini punya utang dua ratus dua puluh miliar yang jatuh tempo dalam tiga bulan. Kas kita empat puluh tiga miliar. Aritmatika sederhana mengatakan kita akan gagal bayar dalam sembilan puluh hari."
Ia mengeklik. Slide pertama muncul: tiga kolom besar.
"Rencana saya punya tiga pilar. Satu, restrukturisasi utang. Dua, penghentian pendarahan. Tiga, suntikan likuiditas."
Hendra menyilangkan tangan. "Restrukturisasi utang. Maksud Nona, kita memohon kepada bank untuk menunda pembayaran? Itu akan menghancurkan reputasi kredit kita. Tidak ada bank yang akan—"
"Saya tidak bicara soal memohon kepada bank," potong Alana. "Saya bicara soal mengubah utang menjadi obligasi konversi dengan tenor lima tahun, ditawarkan langsung kepada kreditor utama kita. Saya sudah bicara dengan dua dari tiga bank pemberi pinjaman terbesar kita kemarin malam."
Ruangan terdiam. Bahkan Hendra tampak terkejut.
"Nona bicara dengan bank? Tanpa melalui divisi keuangan?"
"Saya Direktur Utama. Saya bicara dengan siapa pun yang saya perlu ajak bicara." Alana mengeklik slide berikutnya. "Bank Arta Sentosa dan Bank Mahardika bersedia mempertimbangkan konversi, dengan syarat kita menunjukkan rencana pemulihan yang kredibel dan—ini penting—pemangkasan biaya yang serius. Mereka tidak mau menaruh uang di kapal yang bocor."
Ratna, Direktur Pemasaran, mencondongkan badan. "Pemangkasan biaya. Maksud Anda PHK?"
"Tidak." Jawaban Alana cepat dan tegas. "Saya tidak akan memecat karyawan operasional yang menjalankan roda perusahaan ini sementara kebocoran sebenarnya ada di tempat lain. Pemangkasan yang saya maksud adalah kontrak-kontrak vendor yang dihargai jauh di atas pasar."
Ia melihat sesuatu berkelebat di mata Hendra. Sebuah kewaspadaan baru.
"Kita akan mengaudit ulang seluruh kontrak vendor besar dan menegosiasikannya kembali ke harga pasar," lanjut Alana, sengaja tidak menyebut nama. "Estimasi penghematan: empat puluh delapan miliar per tahun. Itu pilar kedua kita."
"Dan pilar ketiga?" tanya seorang direktur tua di ujung meja. "Suntikan likuiditas. Dari mana? Nona mau menjual aset?"
"Sebagian." Alana mengeklik lagi. Muncul foto sebuah gedung. "Kita memiliki gedung perkantoran kosong di kawasan Sudirman yang sudah tiga tahun tidak menghasilkan apa pun selain biaya perawatan. Nilainya sekitar seratus dua puluh miliar. Kita jual dengan skema sale and leaseback—kita jual, lalu sewa kembali bagian yang kita perlukan. Kita dapat suntikan kas segar tanpa kehilangan operasional."
Hening panjang.
Alana melihat wajah-wajah di sekelilingnya berubah. Sebagian masih skeptis. Tetapi beberapa—terutama direktur-direktur tua yang sudah lama bekerja dengan ayahnya—mulai memandangnya dengan ekspresi berbeda. Bukan lagi memandang anak manja pewaris.
Memandang seorang ahli strategi.
"Rencana ini," kata Hendra, suaranya berusaha terdengar tenang tetapi Alana mendengar ketegangan di baliknya, "terdengar ambisius. Tapi terlalu berisiko. Menjual aset di harga rendah karena terdesak, menegosiasi ulang kontrak yang sudah berjalan—itu bisa memicu sengketa hukum. Saya usulkan kita lebih berhati-hati."
Tentu saja kau ingin berhati-hati, pikir Alana. Karena kalau aku mengaudit kontrak vendor, aku akan menemukan gudangmu.
"Saya menghargai kehati-hatian Bapak," kata Alana lembut. "Tapi orang yang sedang tenggelam tidak punya kemewahan untuk berenang pelan-pelan. Kita ambil suara. Siapa yang mendukung rencana penyelamatan tahap satu?"
Satu per satu, tangan terangkat. Mula-mula ragu, lalu lebih mantap. Tujuh tangan. Delapan. Sembilan.
Mayoritas tipis. Tetapi mayoritas.
Hendra tidak mengangkat tangan. Begitu pula Ratna dan dua orang lain yang Alana curigai sebagai sekutu Hendra.
"Rencana disetujui," kata Alana, menahan diri agar tidak tersenyum. "Kita mulai besok. Terima kasih, Bapak dan Ibu sekalian."
Saat semua orang berdiri dan keluar, Hendra menghampirinya. Ia mendekat, dan dengan suara yang hanya bisa didengar Alana, berkata:
"Permainan yang bagus, Nona. Tapi ayah Nona juga pintar. Dan lihat di mana dia sekarang."
Alana menatap mata lelaki itu, tidak berkedip.
"Hati-hati, Pak Hendra," balasnya, juga berbisik. "Kalimat seperti itu bisa terdengar seperti ancaman. Dan ancaman selalu meninggalkan jejak."
Senyum Hendra membeku. Ia berbalik dan pergi.
Alana berdiri sendiri di ruang rapat yang kini kosong, jantungnya berdebar keras.
Babak pertama selesai. Ia menang tipis.
Tetapi ia tahu, setiap kemenangan kecil hanya akan membuat musuhnya lebih nekat.